Zizi

Zizi
60. Syok


Di tengah hutan yang gelap dan sunyi, di mana pohon-pohon tua yang berukuran besar tumbuh kokoh dan menjulang tinggi.


Tampak sesuatu bergerak pelahan di atas tanah, menggesek daun-daun kering yang dilewatinya.


Angin bertiup kencang, pohon-pohon di dalam hutan terlihat bergerak-gerak, gemerisik daunnya yang tertiup angin seolah beriringan dengan suara mahluk melata berukuran besar yang bergerak menembus pekatnya malam.


Mahluk itu, seekor ular hitam yang berukuran sangat besar, terlihat terus bergerak menuju telaga yang ada di dekat hutan.


Begitu sampai di dekat telaga, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang laki-laki gagah dengan rambut panjang melewati bahu.


Tubuhnya yang tegap dan atletis terlihat dipenuhi bekas luka yang cukup mengerikan.


Laki-laki gagah itu kemudian berjalan menyusuri tepian telaga, hingga kemudian dia menemukan batu pipih besar di dekat pohon tua dengan akar-akarnya yang besar menjuntai di sekitar batu itu, laki-laki gagah itupun mendekati batu pipih tersebut dan kemudian duduk bersila di sana.


Tampak ia kemudian menyatukan dua telapak tangannya tepat di depan dadanya, matanya terpejam, mulutnya komat-kamit seolah membaca mantera.


Dan...


Semakin lama, angin yang semula bertiup tak terlalu kencang kini pelahan terasa seperti mengamuk. Tak hanya itu, hujan deras tiba-tiba saja turun.


Air telaga yang semula tenang kini mulai meriap-riap, dan bermunculan kemudian ular-ular dalam berbagai ukuran.


Mereka terlihat memenuhi telaga, beberapa diantaranya merayap naik ke atas tanah, ada juga yang merayap ke arah laki-laki gagah yang kini duduk bersila di atas batu pipih di dekat pohon tua yang akarnya menjuntai ke arah telaga.


Ular-ular yang merayap pada batu dan juga laki-laki yang tengah bertapa itu makin lama makin banyak, bahkan hingga akhirnya laki-laki yang duduk sila itu tak terlihat lagi karena dipenuhi ular.


Sementara hujan terus mengguyur deras, suara guntur terdengar memenuhi setiap sudut langit, di telaga dan hutan gelap itu kini yang terdengar adalah suara desisan ular yang sangat banyak.


**-----------**


Zizi tampak menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, nafasnya tersengal-sengal, sementara tubuhnya tampak seperti menggigil.


Maria yang berdiri di dekat sofa di mana kini Zizi ketiduran setelah kenyang makan tampak menepuk jidatnya.


Semetara itu Shane yang sedari ia kembali lagi ke kamar dan mendapati Zizi sudah ketiduran hanya duduk saja di sofa dekat Zizi dan terlihat mengulum senyum saja.


"Mana ada gadis seperti ini kan Shane? Sudah tahu di dalam kamar ada laki-laki, tidur seenaknya tanpa jaim sama sekali."


Maria mendekati Zizi yang terus mengigau sepanjang tidurnya, entah mimpi apa bocah itu hingga terus saja mengigau seolah tak ada hentinya.


"Zi, bangun Zizi."


Maria akhirnya menepuk pipi Zizi.


Zizi yang dibangunkan terlihat masih tetap tidur dan sama sekali tak bangun.


Memang sejak kecil Zizi begitu, jika tidur, ia akan langsung seperti Sapi kekenyangan makan ampas tahu.


"Zizi banguuuuuuuuun!!!!"


Maria tak sabar lagi, di taboknya pipi Zizi dengan sedikit keras, membuat Shane sampai kaget dan Zizi melompat.


"Ular, banyak ular, aku harus membunuh semuanya!"


Kata Zizi masih meneruskan acara mengigaunya.


"Zizi, ular apa? Mana ular?"


Maria menarik kerah belakang kaos Zizi.


Zizi menoleh pada Maria lalu kemudian Shane yang menatapnya dengan tatapan memabukkan seperti biasa.


"Ah ya, aku mimpi lagi."


Zizi akhirnya sadar jika ia baru saja mimpi ular.


Zizi kemudian duduk di sebelah Shane, lalu mengambil air minumnya di atas meja yang masih tersisa.


"Ular apa? Kau mimpi ular yang dulu berhadapan dengan Mama?"


Tanya Maria.


Zizi mengangguk.


"Ular itu berubah menjadi laki-laki, tubuhnya tegap, tinggi dan atletis. Rambutnya gondrong dan wajahnya tampan. Laki-laki yang sangat gagah."


Kata Zizi yang seketika membuat Shane terbatuk-batuk.


Haiiish... Maria mendesis.


Dasar Zizi tak bisa menjaga perasaan Shane barang sedikit.


Zizi kemudian tampak seperti berpikir, lalu...


"Aunty, jika hutan pertama kita masuk dekat Gunung Salak, lalu hutan kedua ada di sekitar pelabuhan ratu, kira-kira di mana hutan ke tujuh di mana ular yang disebutkan silukman lintah saat ini menunggu Zizi?"


Tanya Zizi.


"Aunty, sudah tidak usah bolak-balik, kabur semua nanti itu seprei segala."


Kata Zizi.


"Aah ya, maaf soalnya ini masalah yang sangat sulit dipikirkan jadi Aunty harus cepat."


"Yang cepat itu harusnya otaknya, bukan bolak baliknya, huuu gimana sih."


Zizi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Shane yang melihat keduanya dari dulu selalu saja ada bahan untuk ribut jadi tersenyum.


Zizi tiba-tiba memegang lengan Shane.


"Kak Seng."


Zizi menatap Shane.


Shane balas menatap Nona nya yang cantik meskipun petakilannya Naudzubillah.


"Zizi sudah tahu jawabannya."


Kata Zizi tiba-tiba.


"Jawaban apa Nona?"


Tanya Shane bingung.


"Jawaban pertanyaan kak Seng."


kata Zizi.


Shane mengerutkan kening.


Zizi mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalian ngomongin apa sih? Ngomongin kuis apa cerdas cermat ada tanya jawan segala."


kata Maria.


Haiiish... Zizi mendesis ke arah Maria.


"Aunty, ini urusan darah muda, Aunty udah tua, jangan ikut es campur."


Kata Zizi.


"Ikut campur Zizi, ngga usah pake es, dasar dodol."


Maria menggelengkan kepalanya sambil akhirnya mengalah melayang ke balkon kamar lebih dulu.


Entah apa sebetulnya yang sedang mereka bicarakan, tapi sepertinya sesuatu yang menyangkut hubungan mereka berdua.


Setelah Maria pergi, Zizi berdiri menghadapi Shane yang masih bingung duduk di tempatnya sambil menatap Zizi dengan beribu tanya.


"Kak Seng ingin jawaban Zizi kan? Apa kita bisa bersama?"


Tanya Zizi pada Shane akhirnya.


Shane seketika terkesiap, tak menyangka Zizi akan membahasnya.


Shane pikir Zizi tak menganggap pertanyaan itu, atau bahkan tak mengingatnya sama sekali.


Tapi, ternyata...


Shane menatap Zizi dengan mulai berharap lebih lagi, mencoba berharap jika Zizi akan memberikan jawaban yang akan membuat hati Shane berbunga-bunga untuk pertanyaan itu.


Zizi menarik nafas dalam-dalam, ia meraih tangan Shane lalu menggenggamnya dengan erat.


"Zizi akan menjawabnya, nanti, setelah kita pulang dari Merapi."


Kata Zizi akhirnya, membuat Shane yang semula sudah hampir berharap begitu besar, tiba-tiba jadi menciut lagi.


Ah benar, gadis yang Shane sukai adalah Zizi, gadis yang tak sama dengan gadis lainnya.


Shane akhirnya mengangguk dengan sabar.


"Ya Nona, tidak apa, apapun jawaban Nona, saya tetap di sini bersama anda, menjaga dan melindungi anda, memastikan anda tak akan terluka dan bisa kembali dengan selamat ke rumah."


Ujar Shane tabah.


Zizi tersenyum senang, lalu dengan cepat mendekatkan wajahnya ke arah Shane dan mencium pipi Shane.


Shane sekian detik seperti ngeheng saking syok nya, bahkan saat kemudian Zizi ngeloyor ke kamar mandi menghilang dari pandangan Shane tampak masih terbengong-bengong.


**------------**