
"Lima pengawal tetap di sini, lima yang lain ikut kami."
Kata Dimas memerintah.
Lima pengawal yang ada di depan, yang sebelumnya ikut Dimas dalam penjemputan Zia dan Zizi langsung cepat sigap mengikuti Dimas.
Maria yang melayang di balkon kamar Zizi karena menunggu Zizi tak masuk kamar juga tampak melongok mendengar suara ramai di halaman rumah.
Melihat Zizi juga berada di sana akhirnya ia pun melayang menuju Zizi yang akan masuk ke dalam mobil yang akan dikemudikan Dimas.
"Zi, ada apa?"
Tanya Maria.
"Ada hantu."
Sahut Zizi sambil masuk ke dalam mobil.
Maria ikut masuk.
"Mana?"
Tanya Maria.
Zizi mengacungkan telunjuknya ke arah Maria.
"Tuh."
Pok!
Haiish... Maria menabok tangan Zizi sambil mendesis.
Zizi nyengir.
"Salah satu pelayan di rumah Uyut melihat ular besar di halaman belakang."
Kata Zizi akhirnya.
"Paman Jaka Lengleng?"
Tanya Maria.
Zizi mengangguk.
"Mungkin bukan dia sendiri yang datang, tapi suruhan anak keturunannya."
Kata Zizi.
Mobil mulai bergerak keluar dari halaman rumah, Maria akhirnya memilih duduk dan pergi menemani Zizi.
"Jadi kalian akan ke Kemang kan?"
Tanya Maria.
"Ya, aku ingin menangkapnya, satu saja tertangkap, ini akan membantu."
Kata Zizi.
Maria mengangguk.
"Aunty akan temani, ayo kita tangkap."
Ujar Maria.
Dimas melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya.
Tentu saja, Tuan Ardi Subrata haruslah tak boleh terluka sama sekali.
"Paman."
Panggil Zizi.
"Ya Nona."
Sahut Dimas daro balik kemudi, Zizi yang duduk di belakang Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa bicara dengan Dimas tanpa harus menambah volume suaranya.
"Paman, mulailah selidiki semua tentang Andromeda Putra Corporation, perusahaan itu sejak menjadi milik keluarga Heri Sapta, siapa yang duduk di jabatan paling tinggi."
Kata Zizi, lalu...
"Zizi penasaran, kenapa baru sekarang ular-ular itu muncul, apa karena Paman Jaka Lengleng merasa sudah cukup aman. Apa yang membuatnya merasa cukup aman untuk melakukan penyerangan. Apa karena ia sudah kuat secara kekuasaan yang secara tidak langsung membuat ia memiliki banyak budak di dunia manusia."
Lanjut Zizi.
"Kalau soal petinggi di Andromeda, saya tahu Nona, dia salah satu cucu Heri Sapta, namanya Attala. Dia Direktur Utama, dan hampir semua bisnis milik Andromeda dia handle."
Kata Dimas.
"Attala?"
Zizi macam bergumam.
"Adiknya akan menikah minggu depan, undangannya sudah sampai pada Tuan Zion."
Kata Dimas pula.
"Aaah, yang pesan gaun di London itu Zi."
Maria nimbrung.
lZizi mengangguk.
"Alex."
Kata Zizi mengingat nama itu.
"Ya Alexander Sapta Wijaya, anda kenal Nona?"
Tanya Dimas.
"Tidak, hanya dengar namanya disebutkan pemilik Butik."
Kata Zizi.
"Alex tak terlalu berpengaruh banyak di perusahaan, tapi dia juga ada di antara jajaran petinggi Andromeda, hanya saja Attala yang paling berpengaruh."
Ujar Dimas.
"Alex di mana dia tinggal selama di Jakarta?"
Tanya Zizi.
"Di apartemen Andromeda, di depan hotel zombi."
"Apartemen depan hotel..."
Zizi macam bergumam lagi, ia mencoba mengingat posisi apartemen yang berdiri di depan hotel Papanya.
Zizi menoleh pada Maria yang mengangguk.
"Jelas, tujuan apalagi ia tinggal di sana, jika bukan untuk itu?"
Maria menanggapi.
"Zizi akan tinggal di hotel nanti, Alex, akan Zizi awasi."
"Zi, kamu akan menikah."
"Nona, anda akan menikah."
Maria dan Dimas kompak mengingatkan Zizi atas rencana pernikahan yang akan segera dilaksanakan.
"Tidak masalah, semuanya kan EO yang urus."
Kata Zizi.
"Tapi anda harus memastikan dalam posisi aman Nona."
Dimas benar-benar khawatir.
Zizi menghela nafas.
"Zizi hanya ingin tahu pergerakan Alex, antara Alex dan Attala, siapa dari mereka yang sebetulnya bertanggung jawab atas ular-ular besar yang mulai ada di mana-mana."
Kata Zizi.
"Pasti Attala dong Zi, Bang Dimas jelas mengatakannya tadi, jika Attala paling berpengaruh di perusahaan."
Kata Maria.
Zizi diam, hati kecilnya tak sependapat.
Entahlah, entah kenapa Zizi justeru lebih curiga dengan Alex.
"Zizi akan minta ijin Mama dan Papa tinggal di hotel selama satu minggu. Cukup satu minggu, bukankah Paman Dimas bilang kita sedang tahap seleksi karyawan baru untuk hotel?"
"Ya Nona."
"Bantu Zizi bilang ke Papa, kalau Zizi bantu Paman urus hotel."
Kata Zizi.
Dimas diam.
Bingung.
"Ini demi semuanya Paman, percayalah pada Zizi."
Kata Zizi lagi.
"Saya khawatir anda akan kenapa-kenapa."
Ujar Dimas.
Zizi cepat menggeleng.
"Zizi akan pastikan semuanya baik-baik saja."
Kata Zizi.
Dimas akhirnya mau tak mau mengangguk.
"Setidaknya Zizi ingin teror ular ini berhenti, mereka sengaja membuat manusia mulai ketakutan, mereka senang menyerap energi manusia yang takut."
Dimas yang mendengar Zizi bicara begitu terdiam, ia selama ini baru tahu jika para mahluk itu memang sengaja melakukannya.
"Jika tak dihentikan, mereka akan semakin menggila Paman, bisa jadi ular-ular besar akan muncul di seluruh Jakarta, Bogor dan daerah yang lain. Mengincar Uyut, pasti karena mereka ingin mendapatkan keuntungan paling banyak."
"Kejatuhan Alpha?"
Tebak Dimas.
Mobil meluncur di atas jalan tol semakin cepat.
"Bukan."
Sahut Zizi.
"Ah ya, sekarang yang berada di puncak pimpinan jelas adalah Tuan Zion, jika mereka menginginkan jatuhnya Alpha Centauri tentu harusnya Tuan Zion lah yang diincar."
Kata Dimas.
Zizi mengangguk.
"Papa dan Paman Ziyan yang memiliki saham terbesar milik Uyut."
Kata Zizi.
Dimas menganggukkan kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
Ia sama sekali tak menyangka, jika Zizi yang selama ini kelihatannya acuh tak acuh pada perusahaan ternyata cukup tahu dan peduli sejauh itu.
"Jika mereka mendapatkan Uyut, mereka secara tidak langsung mengguncang berita dalam negeri, yang sudah jelas ini akan lebih mudah memancing kepanikan."
Kata Zizi.
"Itu sebabnya, pindahkan Uyut ke Bogor, Paman. Di rumah Papa, penjagaan lebih baik."
Tambah Zizi lagi.
Dimas mengangguk mengerti.
Sementara itu, di Kemang, terdengar kembali suara teriakan salah satu pelayan rumah yang ada di lantai tiga di mana sedang akan mengganti bed cover tempat tidur Zion.
Seekor ular yang sangat besar merayap turun dari atas tempat tidur, matanya menyala merah, lidahnya menjulur.
Kepala ular yang sangat besar itu terlihat begitu mengerikan.
Pelayan yang membawa bed cover itu berteriak sambil berusaha keluar dari kamar, dijatuhkannya bed cover yang ia bawa di atas lantai.
Pelayan itu berlari menuju pintu, kakinya yang lemas sayangnya tak mampu ia paksa berlari lebih jauh, ia terhuyung dan terjatuh ke lantai diluar kamar Zion.
Terdengar suara desisan ular besar itu mendekat di belakangnya.
Ular itu terus merayap, si pelayan menengok ke arah ular dan kembali berteriak.
Para pengawal berlarian menuju lantai atas.
"Toloooooong..."
Teriak si pelayan yang kemudian disambar sang ular dari dalam kamar.
**--------------**