Zizi

Zizi
77. Menyampaikan Pesan


Zizi setelah mandi akhirnya menuju rumah makan yang juga masih di sekitar Pombensin.


"Kak Seng pura-pura pesan ya, biasa Zizi bisa makan dua porsi."


Kata Zizi.


Maria geleng-geleng kepala.


"Kamu perut apa gentong sih."


Gumam Maria seraya melayang ke arah rumah makan yang masih cukup ramai orang makan.


Kebanyakan dari mereka adalah para pelancong yang memang sengaja beristirahat.


Zizi tampak celingak-celinguk mencari tempat yang enak untuk makan, hingga kemudian ia melihat meja di sudut rumah makan yang ada seorang perempuan duduk dengan posisi kepala di letakkan di atas meja.


"Dia pikir kepalanya itu helm kali."


Kata Zizi sambil berjalan menghampiri meja itu.


"Kamu cari tempat nongkrong lain sana, aku pengin duduk di sini."


Kata Zizi.


Maria tampak di sana juga, begitupun dengan Shane.


Kepala di atas meja itu matanya muter-muter, melihat ke arah Maria, Zizi dan Shane.


"Tiga mahluk aneh."


Kata si kepala di atas meja.


Plak!!


Maria menabok kepala itu hingga jatuh dari atas meja.


Dan langsung ditendang Zizi keluar dari rumah makan.


Tubuh si kepala langsung panik mengejar kepalanya.


Zizi yang sama sekali tak merasa bersalah kemudian duduk di bangku yang ia sudah kudeta.


Shane yang terlihat tak mau berpartisipasi menabung dosa memilih menyusul duduk saja dan tak mau komentar apa-apa.


Maria juga duduk di kursi yang kosong.


Zizi terlihat melihat menu.


"Sop iga Zi, biar aromanya seger."


Pinta Maria.


"Oke."


Sahut Zizi.


"Bagus, anak pinter."


Maria mengacungkan jempolnya.


Seorang pelayan menghampiri mereka, menanyakannya pesanan Zizi.


Zizi memesan banyak makanan, ia harus isi energi lebih untuk berhadapan para Gendruwo dan juga Paman Jaka Lengleng.


"Oke Ka, tunggu sebentar ya, nanti kami siapkan pesanannya."


Kata si pelayan.


Zizi mantuk-mantuk.


Saat pelayan pergi Zizi meminta air mineral di botolnya yang masih tersisa sedikit di ransel yang dibawa Shane.


Shane mengambilkannya untuk Zizi.


Zizi membuka tutupnya, tapi karena terlalu terburu-buru, airnya malah tumpah ke meja.


"Haiiish, Zizi..."


Maria tampak berpindah tempat karena meja yang ada di depan Maria yang basah tersiram air.


Zizi nyengir pada Maria.


Zizi baru akan mengelap meja dengan tisu, namun tisu di mejanya habis.


Malas Zizi berdiri, kebetulan hantu yang tadi mengejar kepalanya terlihat kembali ke tempat mereka.


Zizi menarik hantu itu, lalu memakai ujung gaunnya untuk mengelap meja.


"Makasih."


Kata Zizi setelah mejanya kering.


Hantu itu terlihat begitu pasrah, ia kemudian duduk di meja seberang Zizi dan kembali meletakkan kepalanya di atas meja.


"Aneh banget, kenapa kepalanya harus di taruh di atas meja sih? Gaya apa bagaimana?"


Zizi julid.


Kepala si hantu menoleh pada Zizi.


"Urus urusan kita masing-masing, nggak usah sok akrab."


Kata hantu itu pada Zizi.


"Huuu... Zizi caosin baru tau."


Kesal Zizi.


"Sudah Zi, kamu mah tiap hantu diajak ribut. Udah kayak artis yang ono, semuanya diajak ribut."


Maria cekikikan.


Zizi menatap Shane yang juga menatapnya.


"Aunty ternyata ngikutin acara gosip artis, hahahaha..."


Zizi terpingkal.


"Sialan, bukan gitu Zi, soalnya kadang nemenin Mama mu."


Kata Maria membela diri.


Zizi dan Maria terlihat masih sibuk bicara ke sana ke mari sambil sesekali cekikikan.


Sementara Shane berbeda dengan keduanya.


Shane tampak terus memperhatikan hantu yang kepalanya di letakkan di atas meja.


Mata kepala hantu itu terlihat memandangi seorang wanita paruh baya yang duduk di belakang meja kasir.


Pasti ada sesuatu yang terjadi. Batin Shane.


Tak lama seorang pelayan datang ke meja di mana Zizi duduk.


Pelayan itu membawakan pesanan air minum dan juga nasi lebih dulu.


Zizi dan Maria yang begitu ada pelayan datang membawa pesanan terlihat menghentikkan acara berkicau mereka masing-masing.


Sepeninggal pelayan rumah makan yang mengantar air minum pesanan Zizi, tampak Zizi yang baru akan meneguk wedang jeruk anget miliknya tanpa sengaja matanya melihat Shane yang memperhatikan kepala hantu yang ada di atas meja.


"Aunty."


Zizi memberikan isyarat pada Maria soal Shane yang terus melihat ke arah kepala hantu yang tak henti-hentinya menatap wanita paruh baya di belakang meja kasir.


Maria yang paham maksud Zizi akhirnya menyenggolkan lengannya ke arah lengan Shane.


Shane pun terkejut, ia menoleh pada Maria lalu ke arah Zizi yang manyun.


"Maaf Nona, saya hanya merasa hantu itu sebetulnya ada sesuatu yang ingin disampaikan pada wanita di belakang meja kasir."


Zizi yang mendengar Shane bicara demikian akhirnya mau tak mau jadi memperhatikan kepala hantu di atas meja.


Tak mau nanti ia makan jadi tak tenang karena memikirkan hantu itu, akhirnya Zizi mendekati si hantu.


Plak!


Zizi menabok ubun-ubun kepala hantu.


"Whoiii."


Sapa Zizi pula.


"Sudah dibilang ini bukan urusanmu, kita urus urusan kita masing-masing."


Kata hantu tersebut.


Zizi duduk di kursi di dekat hantu pemilik kepala.


"Ini memang bukan urusanku, tapi aku sekedar menawarkan bantuan, kalau ngga mau ya udah, kebeneran aku ngga capek."


Kata Zizi.


Tampak kepala hantu itu menatap Zizi.


"Bantuan apa yang kau tawarkan? Aku sudah muak bolak-balik meminta tolong pada manusia yang mengaku para indigo, tapi sebagian mereka yang memang melihatku hanya menjadikan aku narasumber tak terlihat di media sosial mereka, sementara permintaan tolongku mereka abaikan dan lupakan."


Zizi menghela nafas.


"Memangnya kamu minta tolong apa?"


Tanya Zizi akhirnya.


Tubuh si kepala di atas meja tiba-tiba mengangkat tangannya, lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arah seorang wanita paruh baya di belakang meja kasir.


"Ibuku. Dia tidak tahu aku sudah mati."


Ujar hantu itu.


Zizi menatap wanita di belakang meja kasir.


"Tolong sampaikan padanya, jika aku sudah tidak akan pulang."


Kata hantu itu.


Zizi garuk kepala.


Lalu...


"Namamu siapa?"


Tanya Zizi.


"Sari."


Kata hantu itu.


"Sari Dewi Kusumaningrum."


Hantu itu kemudian menyebutkan semuanya untuk nanti Ibunya bertanya macam-macam.


"Kau mati di mana? Kau dibunuh ya?"


Tanya Zizi.


Hantu itu menjelaskan kronologis kematiannya secara singkat, padat dan jelas.


Zizi mantuk-mantuk.


"Baiklah."


Zizi akhirnya berdiri dari duduknya.


Tanpa ba-bi-bu, Zizi langsung berjalan ke arah meja kasir di mana wanita paruh baya itu yang semula mengantuk langsung kembali bersemangat manakala Zizi menghampirinya.


Zizi kemudian memanggil salah satu pelayan yang baru mengantarkan pesanan pada pelanggan.


"Ada pulpen sama kertas ngga?"


Tanya Zizi.


"Ada Non."


Pelayan itu terlihat buru-buru memberikan pulpen dan kertas pada Zizi.


Wanita paruh baya yang duduk di belakang meja kasir jadi bingung menatap Zizi yang kini malah sibuk menulis di depannya.


Setelah menulis dengan tulisan ceker ayamnya, Zizi memberikan kertas itu pada wanita paruh baya tersebut.


[Ibu, jangan menungguku lagi, jangan mencariku lagi, aku sudah mati, Sari Dewi Kusumaningrum. Lahir Selasa Kliwon. Jam 10.45 siang. Anak dari...]


Zizi menulis seperti petugas sensus.


Tangan wanita paruh baya yang kini membaca tulisan ceker ayam Zizi tampak gemetaran.


"Kamu... Bagaimana kamu kenal Sari?"


Tanya wanita itu menatap Zizi.


"Dia selama ini duduk memandangi mu Nyonya, dia khawatir anda terlalu capek. Dia ingin anda istirahat cukup dan jangan terlalu memforsir tubuh sendiri."


"Dia duduk di sudut ruangan ini."


Kata Zizi.


Membuat wanita itu terkesiap, begitu juga pelayan yang meminjami Zizi pulpen miliknya.


**---------------**