Zizi

Zizi
128. Kenapa Eh Kenapa?


Di zombie hotel, di kegelapan malam, sebutir mahluk merayap di dinding gedung hotel. Ukurannya yang cukup besar, membuat beberapa orang di apartemen seberang hotel yang sempat bisa melihat langsung geger.


"Ada mahluk aneh... Ada mahluk aneh."


"Apa itu?"


"Seperti orang tapi tidak mungkin sebesar itu.".


Orang-orang penghuni apartemen di lantai tiga hingga sepuluh yang letaknya persis di seberang zombie hotel heboh.


Sementara di dalam hotel sendiri, suasana justru sudah kembali seperti biasa.


Tak ada keluhan gangguan yang terjadi, bahkan akhirnya hingga berhari-hari kemudian, meskipun berita para penghuni apartemen di seberang jalan hotel akhirnya viral.


Ya...


Hari berlalu tanpa terasa, Ali yang menginap di rumah Zizi dan jadi bisa istirahat setelah sekian lama diganggu mahluk yang mengikutinya kini merasa sudah lebih baik.


Arya juga sudah pulang dari Rumah Sakit dan sudah bisa beraktivitas meskipun belum diperbolehkan oleh Zia masuk kerja.


Arya diminta istirahat dulu di rumah hingga nanti kondisinya benar-benar pulih.


Pagi ini, semua seperti biasa kumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan menemani Zion yang akan berangkat.


Zizi dan Ali yang berencana ke Kemang menjenguk uyut mereka juga akan berangkat bersama Zion nanti.


Zizi tampak meneguk susu buatan Mbak Ning yang sudah mulai tak begitu panas, sedangkan Ali yang memiliki kebiasaan yang sama dengan Zion suka makan alpukat di pagi hari terlihat mulai menikmati alpukatnya.


"Ada berita di internet tentang mahluk aneh di zombie hotel, apa benar Om?"


Tanya Arya pada Zion di sela acara sarapan mereka.


Zion menoleh ke arah Arya.


Dengan semua kesibukannya, Zion memang ketinggalan berita viral, apalagi Dimas juga sama sekali tak memberitahu.


"Benarkah ada berita begitu?"


Tanya Zion.


"Lagi dan lagi."


Zia rasanya jadi mau darah tinggi.


Zizi dan Ali tiba-tiba bertanya pada Arya.


"Mahluk aneh apa?"


Keduanya juga tak mengikuti berita semacam itu karena beberapa hari ini sibuk ke tempat Zanuba untuk bicara dengan Ayah Zanuba tentang kekuatan Ali yang kenapa jadi berubah-ubah.


Ayah Zanuba menyarankan Ali pergi ke hutan siluman yang tak jauh dari rumah Kakeknya di Kuala Lumpur.


Di sana bisa jadi Ali akan mendapatkan jawaban, kenapa Ali memiliki kekuatan aneh seorang diri di rumahnya, sedangkan yang lain tidak ada yang memilikinya.


Pun juga dengan dengan saudara-saudara dari Ibunya maupun juga keluarga besar yang lain.


"Mahluknya tidak ada video dan gambar, hanya cerita saja dari orang-orang yang tinggal di apartemen sebrang zombie hotel."


Terang Arya.


Zizi dan Ali saling pandang.


"Baca saja di internet, sudah banyak kok yang bahas."


Kata Arya lagi.


Zia menatap Zion yang terlihat kembali tak tenang.


Jelas kabar kepulangan salah satu keturunan Hery Sapta membuat Zion cukup khawatir dengan masa depan bisnis nya, ditambah sekarang zombi hotel yang merupakan gebrakan Alpha Centauri justeru bolak balik diganggu.


Zion khawatir jika ini lama-lama akan mengganggu semua bisnisnya.


"Jangan terlalu dipikirkan Pa, mungkin hanya kabar iseng saja."


Kata Zia mencoba menenangkan Zion,


Tapi...


"Kalau perkiraan Zizi benar, sepertinya itu mahluk yang ganggu Ali."


Kata Zizi menyela.


Semua jadi melihat ke arah Zizi.


"Maksudnya? Ali..."


Zion beralih memandangi Ali.


Zizi menghela nafas.


"Kan Ali ke sini memang karena dia lagi ada masalah sama mahluk aneh Pa, Zizi sempat lihat dia di Zombie hotel waktu kami makan malam sepulang dari Rumah Sakit beberapa hari kemarin."


Ujar Zizi.


"Ah Zizi lupa akan mengajak kak Seng menangkapnya."


"Apa harus selalu Shane?"


Tiba-tiba Arya menyela.


Zizi menoleh pada Arya, pun juga begitu dengan yang lain.


Arya yang dipandangi semua orang di ruang makan terlihat mencoba tenang.


"Aku juga bisa Zi kalau memang hanya untuk menangkap mahluk itu."


Kata Arya berusaha percaya diri.


Ali di tempatnya mesem tipis.


Bagaimana bisa? Lawan hantu krocoan saja kepalanya dipentogin pohon.


Zizi menggeleng.


"Ini bukan penjahat Kak Arya, ini mahluk yang nggak mempan di tembak, dan nggak bisa Kak Arya borgol tangannya."


Kata Zizi akhirnya.


"Tapi setidaknya..."


"Sssttt..."


"Jangan memaksakan diri Arya, fokus saja dengan kesembuhanmu."


Kata Zion akhirnya.


Zizi lalu mengambil sandwich miliknya sambil berdiri.


"Zizi ke zombie hotel dulu saja pa."


Kata Zizi.


"Aku ikut Kak."


Kata Ali.


Zizi mengangguk.


"Katanya mau ke rumah Uyut?"


Zia mengingatkan.


Zizi mengangguk.


"Ya Ma, nanti, setelah dari zombie hotel."


Sahut Zizi.


Zia mengurut belakang kepalanya.


"Ah lama-lama aku bisa stroke kalau begini terus."


Keluh Zia.


Zion membantu Zia mengurut tengkuknya.


Zizi sendiri beranjak pergi dengan Ali diikuti tatapan mata Arya yang terlihat mulai putus asa melihat Zizi yang seperti memang sudah benar-benar melupakannya.


Vampire itu, semua karena vampire itu.


**----------**


"Sungguh... Apa kau benar-benar sudah yakin?"


Tanya Maria.


Shane mengangguk.


"Kau sudah mengatakannya pada Zizi?"


Tanya Maria lagi.


Shane tampak diam.


Shane dan Maria sedang duduk di atap menikmati udara dan cahaya matahari pagi yang berkilau keemasan.


Maria menatap jauh ke langit lepas.


"Kenapa kau tiba-tiba begitu Shane?"


Tanya Maria.


"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir jika mungkin itu yang baik."


Ujar Shane.


"Tapi itu terlalu berbahaya Shane, alih-alih berhasil, mungkin kau justeru akan meregang nyawa."


Lirih Maria.


Shane terdiam.


Ia tahu jika keputusannya akan berat untuk dirinya, tapi bagaimana lagi, ia toh tak bisa memilih terus menjadi Vampire jika ingin tetap bersama Zizi.


Meskipun taruhannya mungkin ia akan gagal dan justeru ia akan mati, tapi...


"Kak Seeeeng... Kak Seeeng..."


Sayup panggilan Zizi terdengar dari dalam rumah.


Belum apa-apa Zizi sudah mencari Shane.


Setiap kali Shane tak terlihat sebentar saja, pasti gadis itu kelimpungan mencari Shane.


Lalu, bagaimana jika nanti Shane tidak ada?


Apa mungkin dia akan baik-baik saja?


Maria terlihat melirik Shane.


"Kau dengar itu? Zizi mencarimu, padahal dia hanya sarapan dan tak mendapatimu lewatz sudah berisik begitu."


Kata Maria.


Shane tersenyum tipis.


"Kaaak Seeeng, kau di manaaaa..."


Suara Zizi terdengar lagi.


"Aku tak bisa membayangkan jika kau benar-benar pergi nantinya, bagaimana gadis itu akan hidup nanti jika kau pergi."


Kata Maria.


"Hanya sebentar, katakan padanya untuk menunggu."


"Bagaimana jika dia sudah menunggu lalu kau tak kembali? Apa dia nanti tidak gila? Membayangkannya saja aku sudah mau gila."


Kesal Maria.


"Tolonglah Aunty, apa yang aku akan lakukan adalah juga untuk Zizi. Aku bukan melakukannya untuk diriku sendiri."


Lirih Shane.


Haiiish... Maria mendesis.


"Tentu saja aku tahu, tapi Zizi mana mau tahu. Aku bukan bicara tentang penilaian siapapun, tapi gadismu itu."


Kata Maria.


**-----------**