
Pagi-pagi sekali saat Zion baru selesai joging, Shane tiba-tiba menemuinya.
Zion yang merasa Shane tak biasanya pagi-pagi sekali sudah menemuinya, akhirnya mengajak Shane ke ruang kerjanya.
Zion tahu jika Shane pasti ada hal yang sangat penting hingga akhirnya harus menemui Zion sepagi ini.
"Duduk Shane."
Kata Zion pada Shane.
Shane dan Zion duduk di satu set sofa yang ada di ruangan kerja sekaligus perpustakaan Zion di rumah Bogor.
Shane tampak sangat tegang berhadapan dengan Zion.
Ya, tentu saja, menyadari jika ia hanyalah anak dari seorang asisten rumah tangga yang sudah menumpang hidup di keluarga Zion sejak kecil, di sekolahkan lalu diberi pekerjaan sekarang tiba-tiba mencintai putrinya adalah hal yang sungguh membuat Shane sebetulnya tak enak hati.
Ditambah pula Shane bukanlah manusia seutuhnya sekarang, ia adalah vampire, yang separuh di dalam dirinya jelas adalah monster.
"Ada apa?"
Tanya Zion akhirnya.
Shane terlihat membungkuk.
"Maafkan saya Tuan... Maafkan saya sebelumnya."
Kata Shane.
Zion mengangguk,
"Katakan saja, aku akan dengarkan."
Ujar Zion.
Shane akhirnya memberanikan diri menatap Zion.
Laki-laki tampan yang berwibawa saat dengan catatan tak sedang bersama isterinya itu duduk dengan tenang.
Matanya menatap Shane yang duduk di depannya.
"Tuan, saya ingin meminta ijin untuk kembali ke London."
Kata Shane.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba ingin pulang ke London?"
Tanya Zion.
"Saya ada keinginan menemui Paman Marthinus dan tentu saja saya rindu dengan Ibu."
Kata Shane.
"Nyonya Zia juga akan pergi ke Inggris dengan Maria Minggu depan, pergilah bersamanya."
Kata Zion.
Tapi Shane menggeleng.
"Saya harus ke sana sebelum purnama lusa Tuan."
Lirih Shane.
"Ada apa Shane? Apa ada masalah?"
Tanya Zion jadi khawatir.
Shane sejenak terdiam, lalu...
"Saya ingin jadi manusia lagi Tuan."
Lirih Shane sambil menunduk.
Raut wajahnya terlihat sedih.
"Saya pernah dengar ada vampire yang berhasil menjadi manusia lagi, saya ingin tanya dan minta bantuan Paman Marthinus."
Ujar Shane.
Zion menghela nafas.
Sedikit banyaknya Zion tentu paham apa yang memotivasi Shane ingin jadi manusia lagi, tapi...
"Tuan..."
Shane tiba-tiba berdiri lalu membungkuk.
"Ada apa Shane?"
Zion terkejut karena Shane tiba-tiba begitu formal.
"Maafkan saya jika saya mencintai Nona Zizi."
Kata Shane.
Zion yang bahkan tak menyangka Shane akan segantle itu mengakui perasaannya pada Zizi anaknya, sampai dibuat melongo sebentar.
"Saya dengan segala kekurangan saya, tentu saja saya harus minta maaf, pasti saya dianggap sangat tidak tahu diri dan..."
"Shane..."
Zion cepat memotong kalimat Shane.
"Sudahlah, duduklah lagi."
Kata Zion.
Shane menatap Zion.
Zion kembali menyuruh Shane duduk, maka Shane pun menurut duduk lagi.
Zion menghela nafas, lalu...
"Kau sungguh mencintai Zizi dan karena itu kau ingin jadi manusia?"
Tanya Zion.
Shane mengangguk.
Zion tersenyum.
"Aku tak pernah melarang Zizi memilih siapa yang akan jadi pasangannya, selama dia memang mencintai Zizi dengan tulus."
Ujar Zion.
"Tapi..."
Zion kemudian menatap Shane lebih dalam dari sebelumnya.
"Aku butuh menantu yang bisa membantuku di perusahaan, aku lebih baik bicara jujur Shane, anggap ini syarat dariku."
Kata Zion.
Shane terdiam, lalu...
"Kau pergilah ke London, urus apa yang ingin kau urus, setelah itu kembalilah ke kampus, selesaikan gelar Master mu, dan bantu aku urus perusahaan. Mulailah belajar pada Nick, nanti aku akan hubungi dia."
Ujar Zion.
Shane seketika matanya berkaca-kaca.
"Dengan Nancy, itu urusan Mamanya Zizi yang akan bicara."
Kata Zion pula.
Shane mengangguk.
Tak ada kalimat dan kata-kata yang Shane coba katakan lagi, semuanya seolah tertelan di dalam kerongkongan.
Shane terlalu terharu...
Ia tahu jika Zion memang sangat baik sejak dulu, tapi hari ini, ia semakin meyakini kebaikan hati laki-laki yang kini duduk di hadapannya.
Shane akhirnya pamit undur diri, Shane mengatakan akan berangkat hari ini juga dan sudah pesan tiket sejak kemarin saat ia masih menunggui Arya di Rumah Sakit.
Benar kata-kata Arya sangat menyakitkan hati Shane, tapi justeru karena itulah nyatanya Shane malah jadi lebih bersemangat untuk memperjuangkan cintanya pada Zizi.
Shane yang sama sekali tak memiliki ambisi apapun selain ingin bersama Zizi, kini benar-benar ingin berjuang menjadi manusia.
**-------------**
Zizi baru saja pulang dari Kemang bersama Ali. Semalam ia memang menginap di rumah Uyutnya setelah dari zombie hotel.
Zizi yang baru pulang melihat Zia duduk di ruang makan sedang makan salad buah kesukaannya.
Hari sudah cukup siang.
"Ali mau makan?"
Tanya Zia pada Ali.
Ali duduk di salah satu kursi ruang makan itu, tampak di meja makan tersaji banyak lauk enak dan lezat.
Zizi juga duduk.
"Zizi tidak ditawari Ma? Pasti Mama masih marah pada Zizi."
Ujar Zizi.
Zia menghela nafas.
"Kamu kamu kan tidak usah ditawari juga bakal makan."
Kata Zia.
Zizi tampak memanyunkan bibirnya.
Zia nyengir saja.
Bersamaan dengan itu, tampak Lesti muncul di ruang makan untuk menanyakan Ali dan Zizi akan minum apa.
Zizi minta dibuatkan jus jeruk, sementara Ali meminta air putih saja.
Tak lama Kak Arya juga turun dari lantai dua, ia terlihat memakai seragam polisinya.
"Loh, mau ke mana Kak Arya?"
Tanya Zia.
Arya tersenyum lalu bergabung di ruang makan.
"Hari ini ingin ke kantor sebentar Tante."
Kata Arya.
Zizi celingak-celinguk, ia ingat tak melihat Shane di depan rumah bersama Daniel.
Zia menatap Zizi, sementara Arya tampak diam saja dan pura-pura menyibukkan diri dengan piring dan nasi untuk makan siang.
"Memangnya Shane tidak pamit padamu?"
Tanya Zia.
Zizi memandangi Mamanya, keningnya berkerut.
"Pamit apa Ma?"
Tanya Zizi.
"Hari ini Shane pergi ke London."
Zizi yang mendengar tampak terkejut luar biasa, ia sontak berdiri dari duduknya.
Ali dan Arya juga sana terkejutnya, namun ekspresi mereka berbeda.
"Kak Ziziiii..."
"Ziziiii..."
Ali dan Zia hampir bersamaan memanggil Zizi yang langsung lari keluar rumah.
Ia meminta kunci mobil pada Daniel.
"Nona... tapi... Nona..."
Zizi berlari ke arah salah satu mobil yang ada di halaman rumahnya, Zia dan Ali yang mengejar dari dalam rumah tak dipedulikan Zizi.
Tentu Zizi kali ini hanya ingin cepat menyusul Shane ke bandara.
Tak habis pikir Zizi pada Shane, kenapa ia meninggalkan Zizi tiba-tiba dan tanpa pamit.
Ada apa?
Kenapa?
Zizi tanpa terasa untuk pertama kalinya meneteskan air mata.
Sambil menyetir super cepat, Zizi terus berusaha menelfon Shane.
Di belakangnya dua mobil pengawal mencoba mengejar.
Zizi ngebut seperti orang gila.
Sementara itu...
**-------------**