Zizi

Zizi
217. Lawan Sang Paman


Flashback,


Lima puluh tahun silam.


Langit malam itu sedikit mendung, entahlah, karena awan mendung juga sebetulnya tak bisa dilihat di saat matahari sudah berganti sif dengan bulan.


Tapi...


Melihat bulan yang malam ini tak bertengger di langit, maka Ardi Subrata muda menyimpulkan bahwa langit sedang mendung.


Ardi Subrata duduk termangu di teras belakang rumahnya, tak ada kopi maupun rokok yang menemani, karena memang ia tak menginginkan keduanya.


Ah bukan...


Bukan karena ia memang hidup sehat, tapi karena ia sedang tak berselera dengan apapun.


Tiga bulan...


Ya tiga bulan sudah isterinya meninggalkan dunia yang fana fani ini, membuatnya resmi menjadi Duda muda kaya raya, tajir melintir dan bisa mencari isteri lagi.


Tapi, Ardi Subrata sama sekali tak memikirkan hal itu.


Baginya cukup dua saja wanita yang ada dalam hidupnya, kekasihnya dulu, dan juga sang isteri, yang keduanya juga kini telah sama-sama tiada.


Ardi Subrata termangu, memikirkan kehidupannya yang begitu sepi.


Anak satu-satunya kini telah kembali ke Jepang untuk melanjutkan studinya, sedangkan saudara-saudaranya entah pergi ke mana.


Ardi Subrata kehilangan mereka sejak ia mulai terfokus membangun perusahaan Alpha Centauri, kesibukannya yang begitu luar biasa membuatnya lupa keberadaan keluarganya, yang sadar-sadar semuanya tiba-tiba telah menghilang.


Angin bertiup sepoi-sepoi, terlihat dedaunan pohon Akasia yang tumbuh di halaman belakang rumah bergerak-gerak kecil.


Ardi Subrata muda menghela nafas, rasanya dadanya begitu sesak, ingin menangisi kesepiannya sebagai seorang manusia yang sejatinya membutuhkan kehadiran keluarga dan orang terdekat.


Hingga...


Tanpa sengaja mata Ardi Subrata muda melihat ada cahaya keemasan bergerak di antara bunga-bunga yang tumbuh di sudut halaman.


Ardi Subrata yang terkejut sampai berdiri dari duduknya karena melihat cahaya itu cukup aneh.


Ardi Subrata yang penasaran beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah cahaya yang bergerak-gerak itu.


Makin dekat cahaya itu makin terlihat seperti berpendar dari sesuatu, Ardi Subrata pun semakin mempercepat langkahnya.


Hingga...


Ardi Subrata muda nyaris terlonjak, kaget bercampur takut melihat seekor ular sebesar paha orang dewasa ada di sana.


Ular sebesar paha orang dewasa itu tiba-tiba berhenti, dan pelahan ular itu mengangkat kepalanya keluar dari balik rerimbunan bunga.


Kepala dengan mahkota di atasnya, mahkota kecil dengan batu permata di tengahnya.


Ular dengan sisik keemasan yang bercahaya itu merubah arah menuju Ardi Subrata yang terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk ke atas paving blok.


"Ardi..."


Ular itu bersuara, menyebutkan nama Tuan Ardi Subrata.


Mendengar itu, tentu saja Ardi Subrata muda semakin ketakutan.


Ia terus bergerak mundur menghindari sang ular.


"Ardiii... Ini Ibu Naaak... Ini Ibuuu..."


Suara itu terdengar lagi.


"Tidak... Tidak!! Tidak mungkin!!"


Ardi Subrata ketakutan setengah mati, ia terus mundur-mundur menghindari sang ular yang terus bergerak ke arahnya.


"Percayalah Ardi... Percayalah, ini Ibumu Nak, semua saudaramu juga telah bersama Ibu sekarang."


Kata si ular.


"Bohong!! Tidak mungkin!!"


Ardi Subrata tegas menolak percaya dengan kata-kata si ular.


"Kau pasti mahluk jahat yang hanya ingin membodohiku, enyahlah!! Enyahlah!!"


Ardi Subrata yang kemudian teringat akan batu merah delima pemberian kekasihnya yang ia jadikan batu cincinnya lantas mengarahkan batu itu ke arah sang ular.


Ular dengan sisik keemasan itu terpental ke belakang begitu Ardi Subrata muda mengarahkan batu merah delima pada cincinnya.


"Ardi, kenapa kau tega menyakiti Ibumu dengan batu merah delima itu!!"


Marah sang ular.


Ardi Subrata seketika mengalihkan pandangan matanya ke arah kolam renang yang ada di dekatnya karena matanya silau melihat cahaya itu.


Hingga cahaya itu kembali meredup, dan...


"Lihat kemari Ardi! Lihat kemari!!"


Suara itu terdengar memerintah.


Tapi Ardi Subrata tentu saja tak mau menuruti perintah itu, alih-alih memandang kembali ke arah sang ular, Ardi Subrata justeru berusaha berdiri untuk cepat lari dari sana.


Namun...


Srrrrtttttt...


Selendang keemasan menyambar kaki Ardi Subrata, membuat Ardi Subrata yang hampir berdiri terjatuh kembali, dan posisinya yang dekat dengan kolam renang membuatnya terpeleset dan jatuh ke dalam kolam.


Saat jatuh itulah, Ardi Subrata tanpa sengaja melihat bayang perempuan yang persis Ibunya.


Perempuan itu mengenakan kain dengan corak sisik berwarna keemasan dan mahkota kecil di atas kepalanya.


"Kau adalah satu-satunya yang terlahir murni menjadi manusia, kupikir kau akan jadi anak yang berbakti, ternyata kau sama dengan Ayahmu, tak mau menerima keadaan Ibu dan menolak bersama Ibu."


Suara itu masih terdengar di telinga Ardi Subrata muda saat ia pelahan tenggelam ke dasar kolam.


"Kelak anak keturunan mu akan bertemu ular-ular jahat, jangan salahkan Ibu jika tak bisa membantu."


Ardi Subrata lantas kehilangan kesadaran.


Entah berapa lama ia tenggelam, atau justeru begitu ia tenggelam dan tak sadarkan diri, ia langsung diselamatkan para pengawalnya.


Tapi yang jelas, Ardi Subrata sadar-sadar sudah ada di Rumah Sakit.


Dokter mengatakan ia tak sadarkan diri lebih dari lima hari.


Flashback berakhir.


**--------------**


Zion menatap Kakeknya, matanya nanar, ekspresinya seperti menyiratkan antara percaya dan menolak percaya.


"Sekian lama Kakek berusaha meyakinkan diri jika Kakek hanya bermimpi, dan lambat laun akhirnya Kakek memang bisa melupakannya Zion. Tapi..."


Kakek tangannya terlihat gemetar.


Zion yang melihat sang kakek sepertinya ketakutan akhirnya meraih kedua tangan sang kakek.


"Jangan takut Kek, aku akan berusaha sebisa mungkin menjaga kakek."


Kata Zion.


Kakek terlihat tersenyum.


"Mereka ternyata benar ada Zion, ruang lemari baju kakek, mintalah Zizi ke sana."


"Maksud kakek?"


"Jika nanti ular-ular jahat itu tak mampu kalian hadapi sendiri, mintalah bantuan pada Ibunya kakek, mungkin, jika Zizi yang datang, ia akan bisa diterima dengan tangan terbuka."


Ujar Kakek.


"Sejak kapan Kakek tahu pintu menuju dunia mereka ada di ruangan itu?"


Tanya Zion.


"Baru pagi tadi, saat seekor ular besar hitam tiba-tiba berada di dalam kamar, lalu begitu melihat seekor ular lain dengan sisik emas muncul dari arah ruangan lemari, ular hitam tadi tiba-tiba berubah jadi pelayan."


"Pelayan? Siapa Kek?"


Kakek menggeleng.


"Kakek tak melihat wajahnya karena langsung mengalihkan wajahnya dan berlari cepat keluar dari ruangan."


Zion menghela nafas.


"Tapi ada tiga pelayan yang bertugas masuk ke kamar. Septi yang membawakan makan, Erna yang membawakan obat, yang ketiga Tini, dia yang biasanya mengambil cucian dan mengganti bedcover."


"Tiga orang itu, salah satunya adalah ular."


Zion bergumam.


Ardi Subrata menghela nafas.


"Ular keemasan itu masuk dan hilang di ruangan lemari begitu ular hitam jelmaan pelayan itu pergi."


**---------------**