
Gubrak!!
Terdengar sesuatu terjatuh di dalam gudang, Dave pengawal senior Zion yang kali ini memimpin pengawalan Tuannya ke Jepang sigap masuk ke dalam gudang bersama pengawal lain yang memang berjaga di sana.
Kosong!
Tak ada siapa-siapa, dan juga tak ada apa-apa. Aneh.
Mereka celingak-celinguk bingung, hanya terlihat cermin tua yang dikeramatkan dan diminta oleh Zia untuk dijaga siang malam itu bergerak.
"Laporkan pada Nyonya, cepat!!"
Kata Dave pada salah satu pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu.
"Laksanakan!"
Kata pengawal itu semangat.
(Sudah makan pasti, tidak macam othor lapar nulis demi kalian, hiks... Curhat)
Pengawal itupun langsung melaksanakan tugasnya dengan berlari ke arah bangunan utama rumah Tuannya di mana Nyonya Zia kini berada.
Nyonya Zia tengah menemani Nyonya Aisyah yang mulai sakit, berbaring di tempat tidur di kamarnya dalam keadaan lemah karena memikirkan nasib Ali.
"Saya mau melapor."
Kata pengawal yang dikirim Dave kepada pengawal perempuan yang menjaga kamar Nyonya Aisyah.
Pengawal itu adalah pengawal yang dibawa sendiri oleh Ziyan dan Aisyah dari Malaysia.
Pengawal perempuan itu mengangguk, ia kemudian mengetuk pintu kamar Nyonya Aisyah, setelah terdengar suara Nyonya Zia dari dalam mempersilahkan masuk, barulah pengawal itu masuk ke dalam.
Tampak pengawal itu membungkuk.
"Nyonya, pengawal anda akan melapor."
Kata Pengawal perempuan itu.
Zia mengangguk.
"Aku pergi sebentar Kak."
Kata Zia pada Aisyah.
Tampak Aisyah, perempuan cantik itu mengangguk.
Zia kemudian beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju pintu untuk keluar dan segera menemui sang pengawal.
"Ada apa?"
Tanya Zia.
Hari ini Zion memang tak ada di tempat, ia bersama Ziyan mau tak mau harus terbang ke Malaysia dan Indonesia lagi, ada banyak hal yang tetap harus diurus.
Kalian tahu? Jika seorang pengusaha aslinya jauh lebih sibuk dari kita, yang pengusaha cuma duduk saja itu perusahaannya sebentar lagi bangkrut, hihihi...
"Ada sesuatu di gudang, terdengar seperti benda jatuh, atau orang jatuh, tapi tak ada siapa-siapa."
Zia mengerutkan kening.
Ah jangan-jangan...
Zia tanpa bertanya apa-apa lagi langsung bergegas menuju gudang, saking tak sabarnya ia bahkan setengah berlari ke sana.
Hingga kemudian...
"Maria... Maria..."
Begitu sampai gudang, Zia memanggil nama si hantu bule yang sejak Zizi kecil meminta ikut dengannya.
Semua pengawal membungkuk pada Zia, termasuk tentu saja Dave.
Zia hanya sekilas menganggukkan kepalanya, fokusnya adalah mencari hantu Maria.
Dan...
"Ah ya Tuhan."
Zia kaget bukan main, begitu Maria tiba-tiba muncul dengan kepala terbalik, menggelantung di atas plafon macam spiderman.
"Kamu pulang sendirian Maria?"
Tanya Zia.
Dave mengajak para pengawal keluar dari gudang, urusan hantu sudah jelas itu hanya Zia yang bisa.
Maria kemudian melayang turun untuk kemudian berdiri menghadap sang Nyonya.
"Saya dilempar raksasa Nyonya, benjol pala aku."
Maria curhat sambil usap kepalanya.
"Ali, Zizi bagaimana? Shane, mba pocong?"
Zia menatap Maria menuntut jawaban yang membuatnya bisa lega.
"Mereka masih di dunia peri Nyonya."
Jawab Maria.
"Peri? Peri apa?"
Tanya Zia bingung.
"Ya peri, semacam Tinkerbell, Peterpan."
Kata Maria.
Zia menatap cermin tua milik mertuanya.
"Di sana ada dunia peri, ada desa-desa peri yang memiliki hutan bunga, mereka sedang dikutuk oleh peri bernama Shilba Dolores yang sakit hati karena diperlakukan berbeda."
Kata Maria.
"Shilba Dolores?"
"Ya Shilba Dolores, peri yang selalu tersisih, merasa diperlakukan tak adil, ia menuntut balas dengan merebut kekuasaan Oracle pemimpin mereka, dan mengutuk semua yang ada di sana."
Zia menatap Maria.
"Ali juga ada di sana?"
Tanya Zia.
Maria mengangguk.
Kata Maria pula.
Sungguh informasi yang sangat melegakan.
"Lalu saat ini kenapa mereka belum pulang?"
Tanya Zia.
"Saya ini pulang karena dilempar raksasa Nyonya, yang lain masih bertarung dengan para raksasa yang menjaga istana Oracle, mereka harus merebut kembali istana dan juga tongkat sakti milik oracle yang direbut Shilba Dolores."
Terang Maria.
Zia mengangguk mengerti.
"Tapi nyonya..."
Maria seperti ragu mengatakannya pada Zia.
"Ada apa Maria, katakanlah, aku harus segera mengabarkan pada Kak Aisyah tentang kondisi Ali, supaya ia tak lagi merasa lemah."
Kata Zia.
Maria mengangguk.
Hantu itu semakin mendekat ke arah Zia, lalu...
"Nona Zizi, jika ia terlalu banyak membunuh mahluk jahat dengan pedang jayapada miliknya sebelum dibersihkan, saya khawatir energi jahat itu akan menumpuk dan kemudian juga merasuk pada Nona Zizi setiap kali memakainya."
Kata Maria.
"Semakin ke sini, Nona Zizi seperti semakin haus membunuh Nyonya."
Kata Maria.
Zia menatap Maria dengan perasaan mulai dilanda kecemasan.
"Aku akan mengurus ini setelah kita pulang ke Indonesia, Maria, aku akan coba temui Nenek Bandapati."
Ujar Zia mencoba menenangkan diri sendiri dan juga Maria.
"Saya hanya khawatir, Nona Zizi akan membunuh semua mahluk yang energinya dirasanya berbeda, lalu akan ada ketidakseimbangan alam manusia dan alam para lelembut lagi."
Kata Maria.
"Ya aku paham, terimakasih Maria, aku akan temui Kak Aisyah dulu untuk mengatakan Ali tak apa-apa."
"Saya rasa tak akan lama lagi mereka pulang, tenang saja Nyonya."
Zia mengangguk dan tersenyum.
Lega ia mendengar kabar soal Ali, namun cemas ia akan kondisi Zizi.
Sejak awal Zizi memang berbeda dengan dirinya, dari jahilnya yang luar biasa pada mahluk gaib, kadang juga kelewatan, hingga kemudian Zia sadar jika Zizi memiliki percampuran dari garis darah yang tak biasa.
Ia seperti mempertemukan banyak energi negatif dan juga positif dalam wadah yang sama.
Kini tinggal mana yang kuat yang akan menguasai Zizi.
Akan lebih dominan pada apa kiranya Zizi nanti.
Zia melangkah keluar dari gudang, diikuti Maria yang melayang di belakangnya.
Sementara di dunia cermin, tanpa mereka sadari, Zizi kini membantai semua raksasa yang ia temui.
Matanya yang merah berkilat-kilat laksana memancarkan kemarahan yang teramat sangat.
Ia melesat menerobos istana Oracle di mana Shilba Dolores bersembunyi.
"Shilba Dolores!!! Keluar kau!!"
Teriak Zizi sambil kemudian berlari mendobrak dan menghantam pintu istana dengan pedang jayapada hingga langsung hancur.
Shilba Dolores yang mendengar suara menggelegar di istananya terlihat panik, ia langsung menuju tempat di mana ia menyembunyikan tongkat sakti oracle.
Zizi menatap tajam ke sepenjuru istana, ia tahu banyak mata menatapnya di persembunyian mereka.
Shane di lantai tiga istana yang juga mendengar suara Zizi terlihat terbangun, ia mencoba berdiri lagi.
Bersamaan dengan itu ia melihat Lori dan Ali yang berlari melewati ruangan di mana ia ada di sana.
"Tuan Muda Ali "
Panggil Shane.
Ali yang mendengar suara Shane langsung menoleh.
Ia menghentikan larinya hingga Lori jadi ikut berhenti.
"Tuan Shane."
Ali mendekati Shane.
"Kau baik-baik saja Tuan Shane?"
Tanya Ali.
Shane mengangguk.
"Saya dengar suara Nona Zizi."
Kata Shane.
Ali mengangguk.
"Ya, kami juga. Kami masuk lewat pintu menara."
Kata Ali.
Shane mengangguk.
"Shilba Dolores!! Keluarlah!!"
Terdengar Zizi berteriak lagi.
Shane, Ali dan Lori terlihat saling berpandangan.
Lalu mereka akhirnya bersama bergerak menuju ke arah di mana suara Zizi berasal.
**------------**