
Alex terlihat sedang menikmati makan siangnya di apartemennya.
Hari ini ia memang tak berniat ke kantor dan lebih memilih berada di apartemennya saja.
Meskipun Atala, kakak sulungnya terus menghubunginya, tapi Alex tak peduli.
Alex duduk di kursi meja makannya, satu porsi Mozzarella Chicken Burger telah selesai ia santap.
Kini fokusnya adalah barang tentu ke arah layar laptop di depannya.
Alex memeriksa banyak sekali pesan baru masuk, terutama dari para mata-mata yang telah ia sebarkan seperti bunga.
"Hmm..."
Alex tampak tersenyum miring seperti otak othor belakangan ini karena kebanyakan halu.
Alex menatap layar laptopnya, di mana di sana ada satu pesan berisi foto pewaris dari Tuan Zion.
"Siapa namanya? Sisi?"
Gumam Alex.
[Gadis ini akan menikah juga seperti anda sekitar satu bulan lagi. Laki-laki bule itu calon suaminya]
Alex mengklik foto Zizi dan Shane, memperbesar foto itu,
Zoom...
Zoom...
Zoom...
Ah malah jadi buram.
Alex mengurangi zoom nya lagi.
Lalu...
[Sepertinya dia bukan dari kalangan borjuis. Tak ada data pasti soal calon suami putri tunggal Tuan Zion. Tapi yang jelas ia berada satu rumah.]
Alex nyengir.
"Jadi bukan dari kalangan borjuis, pantas aku tak pernah melihat wajah ini."
Gumam Alex lagi.
(ah kamu juga tidak pernah kelihatan setiap ada peluncuran UFO baru)
Alex lalu melihat pesan berikutnya.
Pesan dari seorang mata-mata lain.
[Shane. Namanya Shane. Sepertinya ia bukan dari kalangan jet zet karena sama sekali tak tahu merk jam tangan mewah. Selain itu, tak ada yang mencolok lagi selain ia tampan.]
Alex melihat foto Shane ketika di toko jam tangan mewah langganan Zion.
[Tapi, sepertinya ia calon menantu yang sangat disayang. Bisa dilihat dari bagaimana Tuan Zion berulangkali menghubungi owner toko kami dan kami para pelayan diminta memberikan pelayanan terbaik.]
Alex mantuk-mantuk membaca laporan.
Alex membuka pesan lainnya lagi.
[Belum ada pergerakan yang harus diwaspadai, kesibukan di dalam rumah mereka hanya soal rencana pernikahan Nona Zizi dan calon suaminya yang hanyalah anak pembantu]
Alex kali ini membelalakan matanya.
Apa?
Anak pembantu?
Alex tentu saja terkejut.
Bagaimana bisa seorang pengusaha sekelas Zion mengambil menantu anak pembantunya?
Ada apa?
Kenapa?
Apa Zion mulai tidak waras?
Alex mengerutkan keningnya.
Yah, ada yang tak beres.
Sebagai keturunan pengusaha besar dan ia juga salah satu pewaris tahta perusahaan sekaliber Andromeda Putra Corporation, tentu saja cara berpikir sesama pengusaha kurang lebihnya pasti adalah sama.
Bahwa pernikahan tak akan jauh juga dari bisnis.
Sesuatu yang dipertimbangkan untung dan ruginya.
Imbas dari pernikahan itu untuk perusahaannya.
Kepercayaan para pemegang saham atas siapa yang akan meneruskan pengelolaan perusahaan juga akan sangat ditentukan dari siapa calon pasangan dari sang pewaris.
Alex benar-benar tak habis pikir, karena setahunya, Zion sendiri juga menikah dengan anak ajudan Ayah dan kakeknya.
Dan kini anaknya lebih parah akan menikah dengan anak pembantunya.
Alex geleng-geleng kepala.
Ah yah, tentu saja.
Jika isteri Zion, semua sudah tahu bahwa ia memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain, maka calon menantu Zion kali ini juga pasti...
Brak!!
Alex menggebrak meja tiba-tiba.
Tapi karena ia menggebrak meja tak melihat dulu posisinya, maka ia salah menggebrak tepat di pinggir piring bekas makannya.
Piring itu melompat, termasuk garpunya.
Tung!!
Jatuhlah di atas kepalanya.
**---------------**
"Jadi, Vero itu dulu bernama Veri?"
Zia terperangah mendengar kabar dari Zion.
Semalaman hingga siang ini, Zia sudah sangat tidak sabar untuk ditelfon lagi oleh Zion, dan kini barulah Zion sempat menelfonnya.
"Ya, dia juga dulu adalah seorang pawang ular mengikuti jejak kakeknya."
Kata Zion pula lewat sambungan telfon.
Zia yang menerima telfon suaminya di dalam kamar tampak sambil mondar-mandir.
"Apa tidak ada yang mencurigakan lagi selain itu Pa?"
Tanya Zia.
"Mendengar laporan Dave rasanya hanya itu saja, tidak kurang tidak lebih."
Ujar Zion.
Tanya Zion akhirnya.
"Aku sudah bilang dia agak mencurigakan, meskipun aku belum tahu pasti."
Kata Zia.
"Ya nanti kita pantau terus, jika ada kesalahan yang ia buat dan itu fatal, kita bisa mengeluarkannya."
Ujar Zion pula.
"Ngg... Bagaimana? Besok jadi pulang? Kau harus bertemu dengan EO nya, ini terlalu mepet sebetulnya, tapi kekuatan nama Kakek untungnya masih sangat berpengaruh besar."
"Ya besok aku pulang dengan Zizi dan Tuan Marthinus."
Kata Zia.
"Ah yah, Marthinus, dia bersedia ikut rupanya, kau bisa sedikit lega bukan?"
Tanya Zion.
"Ya, ini cukup meringankan beban kekhawatiran ku. Meskipun, untuk urusan perusahaan mungkin Marthinus tak akan banyak membantu Pa."
Ujar Zia.
Zion terdengar terkekeh.
"Tidak apa, aku akan bicarakan dengan Kak Ziyan pekan depan. Aku akan ke Malaysia dan membicarakan semuanya dengannya."
Ujar Zion.
"Ah yah baiklah."
Sahut Zia.
Lalu...
"Ma."
Panggil Zion.
"Yah."
"Andromeda juga akan menikahkan salah satu ahli warisnya, calon mempelai putrinya, kenapa aku sepertinya tidak asing dengan namanya ya."
Tiba-tiba Zion membahas soal Alex.
"Maksudnya, yang memesan gaun pengantin di tempat yang sama dengan Zizi?"
Tanya Zia.
"Ya, dia."
"Memangnya, siapa nama calon mempelai putrinya? Kemarin aku tak sempat menanyakannya pada pemilik butik."
Ujar Zia.
Zion terdengar seperti mengacak berkas di mejanya, lalu...
"Ah ini dia..."
Zion seperti menemukan sesuatu yang ia cari, lalu...
"Namanya, Nadia Velia..."
"Hah?"
Belum lagi Zion melanjutkan membaca nama calon isteri Alexander Sapta Wijaya, tiba-tiba saja Zia sudah langsung main cut.
"Kenapa Ma?"
Zion jadi kaget.
"Nadia Velia?"
Zia mencoba memastikan.
"Ya, Nadia Velia. Aku coba cari informasi di internet, ternyata dia adalah seorang pemain biola."
Zia mendengar penuturan Zion rasanya kakinya langsung terasa lemas.
"Pa, apa kau lupa tentang Nadia? Sungguh kau lupa?"
Tanya Zia seraya terduduk di sisi tempat tidur.
"Aku lupa-lupa ingat, makanya aku tanya padamu, aku merasa tak asing dengan namanya, tapi aku tak bisa ingat ia siapa."
"Pa..."
Zia rasanya nafasnya langsung saja terasa sesak.
"Nadia Velia, jika benar itu adalah dia, maka dia adalah anak perempuan yang kita selamatkan beberapa waktu silam."
Kata Zia.
"Anak perempuan, maksud..."
Zion seolah langsung merasa seperti disambar UFO.
Mak Peeeeeeng!!
Saat kemudian otaknya yang biasanya cerdas tapi kini mulai agak lemot itu akhirnya bisa mengingat momen dirinya dan Zia masuk ke alam siluman Kelabang.
Nadia Velia, anak yang hilang dibawa siluman, lalu diselamatkan Zia dan dirinya bersama Arya.
Dan...
"Kita sekian puluh tahun melupakannya Pa."
Kata Zia lirih, Zia benar-benar syok.
"Ah yah... Pantas aku merasa tak asing dengan nama itu, sudah lama sekali sejak kita menitipkannya di rumah dokter lalu kita pindah ke Inggris."
Zia terdiam, tak terasa air matanya mengalir.
Ia menyesali semua waktu yang bergulir begitu cepat dan membuatnya melupakan seorang anak yang ia selamatkan.
"Kupikir Dimas mengurusnya dan memasukkannya di yayasan Alpha Centauri."
Terdengar suara Zion lagi.
Zia tak lagi sanggup berkata apa-apa lagi.
Ia syok.
Sangat syok.
Bagaimana ini?
Kenapa takdir justeru membuat mereka harus mengingat Nadia begitu malah mereka akan bertemu sebagai musuh?
**-------------**