Zizi

Zizi
178. Energi-energi Hitam


Shane di kamarnya tampak sudah selesai merapikan semua barang yang baru dibelikan Tuan Zion untuknya.


Setelah itu ia mulai menata beberapa buku tentang bisnis yang diminta Tuan Zion membacanya.


Beberapa buku itu dibelikan oleh Nicx atas perintah Tuan Zion.


"Sisanya kau bisa mencarinya di perpustakaan, ini adalah buku-buku yang Tuan Zion baca saat dulu ia juga baru akan mulai bergabung di Perusahaan."


Begitu kata Nicx.


Buku yang Tuan Zion bawa ke Indonesia itu, kini Nicx diminta untuk membelinya lagi, membeli edisi terbitan terbaru yang untungnya masih ada sebagai pegangan Shane yang baru akan mulai perjalanan karirnya.


Marthinus tampak duduk di atas tempat tidur menatap Shane yang begitu sibuk.


Bagi Marthinus, melihat Shane demikian rasanya ia merasa benar-benar takjub.


Shane yang notabene tak sepenuhnya manusia, namun juga tak sepenuhnya vampire itu, kini hidup selayaknya manusia utuh dan langsung berada di level yang tinggi.


"Kau akan sangat sibuk mulai sekarang Shane, kau harus siap hidup dengan kepenatan yang tak berakhir."


Ujar Marthinus.


Shane tersenyum.


Senyuman yang tenang.


Shane duduk di kursi depan meja belajarnya.


"Aku suka kesibukan Paman, kau pasti ingat sejak kecil aku suka belajar."


Kata Shane.


"Ya tentu aku ingat, semua aku masih ingat, bahkan bagaimana kau selalu ketakutan didekati Nona Zizi juga aku masih ingat."


Marthinus lalu tertawa.


Shane jadi sedikit tersipu mendengarnya.


Ah gadis itu, Shane jadi ingat bagaimana konyolnya dia tadi di ruang perpustakaan.


Melempar kunci saat baru masuk dengan wajah angker, lalu berakhir dengan heboh mencarinya sendiri karena tak bisa keluar ruangan.


Zizi, begitulah ia dari dulu.


Polos, petakilan, absurd, tapi melihat tingkah Zizi membuat Shane selalu ingin tersenyum, bahkan mengingatnya selalu membuat Shane rasanya ingin tersenyum terus.


"Kenapa malah senyum-senyum begitu?"


Marthinus curiga melihat Shane senyum-senyum sendiri tak jelas.


Shane menoleh pada Paman Marthinus.


"Tidak ada apa-apa Paman."


Marthinus menyeringai.


"Jangan-jangan kau membayangkan sesuatu yang tak pantas bersama Nonamu."


Ujar Marthinus membuat Shane jelas langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak, aku sama sekali tidak berani."


Shane gugup sekali dituduh memikirkan hal seronok dengan Zizi.


Marthinus yang melihat Shane gugup malah jadi ingin menggodanya lagi.


"Ah, aku melihatmu menciumnya saat baru pulang, bagaimana itu tadi di perpustakaan, jangan-jangan kalian..."


"Ah tidak Paman, aku tidak begitu, aku tidak akan melakukan hal yang seperti itu, sungguh. A... Aku waktu itu juga hanya karena terlalu rindu dan haru, aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, hingga aku menciumnya, itu saja... Sungguh."


Shane berusaha keras menjelaskan pada Paman Marthinus dan membuatnya percaya.


Marthinus pun semakin tertawa.


"Kau ini, sudahlah, aku hanya bercanda, tidak usah sampai ketakutan seperti itu."


Marthinus tertawa terbahak-bahak.


Shane mengusap wajahnya yang rasanya sudah macam kepiting rebus saking paniknya.


"Ah sebaiknya aku cuci muka."


Shane berdiri dari duduknya dan akan beranjak menuju kamar mandi di kamarnya, saat Marthinus tiba-tiba memanggil nya.


"Ya Paman..."


Shane menoleh ke arah Marthinus lagi.


"Aku lupa akan mengatakan sesuatu padamu."


Kata Marthinus.


"Soal apa?"


Tanya Shane.


"Pelayan di toko jam tangan mewah yang kita kunjungi tadi, tempat langganan Tuan Zion."


Marthinus membenahi posisi duduknya.


Shane mengerutkan kening.


"Ada apa Paman?"


Tanya Shane.


"Seorang pemuda yang menjadi pelayan di sana, yang pertama kali membawakanmu koleksi jam tangan mewah, dia memiliki tatto aneh."


Kata Marthinus.


"Tatto?"


Tanya Shane.


"Bukankah sudah biasa pemuda jaman sekarang mentatto tubuhnya? Itu bukan hal aneh, apalagi di sini?"


Lanjut Shane pula.


Marthinus menggeleng.


"Bukan itu masalahnya, tapi tatonya, yang menjadi masalah adalah gambar tatto itu."


Ujar Marthinus.


(Hmm... gambar apa? Keripik? Telor ceplok, Gorengan tahu? Atau mungkin martabak?)


"Tatto itu bergambar ular hitam, kepalanya ada di tengkuk, aku hanya bisa melihat bagian kepalanya saja Shane, dan mata ular itu, hidup."


Tutur Marthinus.


"Hidup?"


Shane terperangah.


"Aku yakin, dia bukan manusia sembarangan, atau bisa jadi dia adalah anggota sebuah kelompok yang bisa membahayakan Tuan Zion dan keluarganya, dan kau... Sekarang akan menjadi bagian dari keluarga Tuan Zion, kuharap kau hati-hati."


Kata Marthinus.


Shane terdiam.


Ular hitam, seketika ia entah kenapa teringat pertemuan dengan seekor ular besar di hutan ke tujuh.


Ular yang konon masih satu garis keturunan dengan Tuan Zion sebetulnya.


Siapa namanya?


Jaga Kalen?


Jaka Kaleng?


Jangan Kacang?


Ah Shane lupa.


Tanya Shane.


Marthinus menggeleng.


"Aku baru mengatakan ini kepadamu, aku hanya mengawasinya tadi, karena ia tak melakukan apapun yang membahayakan kalian, jadi aku pura-pura saja tak tahu."


"Pantas dia sempat keluar dari ruangan seperti gugup dan sempat digantikan temannya."


Marthinus mengangguk.


"Ya, dia sempat melihat ke arahku saat aku melihat tatonya yang aneh. Mata ular itu sangat merah dan mata itu jelas sekali mengawasiku."


Shane yang mendengar penuturan Marthinus semakin terbayang ular di hutan ke tujuh.


Apakah ada kemungkinan semua berhubungan dengannya?


Batin Shane pula.


**--------------**


Bogor,


Mbak Ning meletakkan lauk makan malam di atas meja makan di halaman belakang rumah Zion.


Lauk untuk Dimas, suaminya dan juga untuk Arya.


Keduanya tengah duduk di sana, berbincang serius sejak satu jam lalu.


"Makanlah dulu."


Kata Mbak Ning sambil menyajikan makanannya.


Dimas mengangguk.


Tapi tidak dengan Arya.


Wajahnya sejak tadi tampak semakin muram.


"Sebaiknya aku kembali ke kantor sekarang saja Paman."


Ujar Arya.


Dimas mengerutkan kening.


"Kenapa?"


Tanya Dimas.


"Tidak apa, nanti aku makan di luar saja."


Ujar Arya pula, lalu pamit pergi


Mendung bergelayut di wajah gantengnya.


Sudah jelas, apa yang baru dikatakan Paman Dimas padanya telah mengguncang Arya sepenuhnya saat ini.


Zizi akan menikah dengan Shane. Tuan Zion sudah merestui dan bahkan Kakek Ardi Subrata juga telah memberikan restunya.


Shane akan segera ditarik ke perusahaan membantu Zion mengelola Alpha Centaury. Bibi Zia ke London secara khusus untuk menyiapkan rencana pernikahan Zizi dan Shane yang akan segera dilangsungkan.


Semua itu rasanya kini membuat kepala Arya berputar-putar, dadanya sesak dan nyaris ingin meledak karena cemburu.


Shane...


Shane...


Shane...


Kenapa ia harus muncul di tengah hubungannya dengan Zizi.


Dulu, Arya lah yang ada di posisi anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini yang spesial.


Tuan Zion sangat menyayanginya. Bibi Zia sangat menyayanginya. Bahkan Kakek Ardi Subrata, sampai Tuan Ziyan dan Nyonya Aisyah juga sama.


Arya adalah bintangnya.


Tak ada yang lebih diistimewakan selain Arya di rumah ini setelah Zizi.


Tidak!


Tidak ada!


Tapi...


Shane...


Kenapa semua tiba-tiba berubah sejak ada Shane?


Ini tidak adil!


Ini tidak adil Othor!!


Arya sangat kecewa.


(Ish aku maneh sing salah)


Arya melangkah terburu keluar dari rumah Zion. Mengabaikan sapa dan senyum pengawal yang ada di depan rumah, Arya menuju mobilnya yang terparkir di luar.


Mobil yang sejatinya juga adalah fasilitas dari Zion.


"Bulan besok Paman dan Bibi akan pindah dan mulai menempati rumah baru di Jakarta, kau ikutlah pindah Kak Arya, kita tinggal saja di rumah kita sendiri, ini akan jauh lebih baik untukmu."


Kata-kata Paman Dimas saat mengajaknya pindah terngiang lagi.


Arya menginjak pedal gas mobilnya hingga mobil itu melaju sangat kencang.


Tak peduli ia akan jalanan yang sedang padat-padatnya, Arya seolah benar-benae kesetanan di jalanan.


Ini sangat menyakitkan!


Ini sangat tak bisa aku terima!


Bagaimana bisa semua berakhir begitu saja?!


Hingga kemudian di jalanan dekat patung kujang, mobil yang ditumpangi Arya nyaris bertabrakan dengan sebuah mobil mewah.


Untunglah keduanya sama-sama bisa mengerem dan mobil lainnya bisa menghindar.


Sang pengemudi dan juga Tuannya di mobil mewah itu turun dengan wajah marah.


Arya yang juga dalam kondisi kesal, turun dari mobilnya.


"Tuan Alex, biar saya saja yang mengurus."


Kata si supir mobil mewah.


Arya yang serang tak mengenakan seragam itu langsung menghampiri si supir yang belum apa-apa sudah terlihat sengak buat Arya.


"Kau bisa mengemudi tidak hah!!"


Arya membuat keonaran, meraih kerah kemeja si supir dan langsung menghajarnya.


Tentu saja ini memancing keributan.


Tuan Alex yang melihat kedua orang itu berkelahi akhirnya menelfon pihak kepolisian untuk datang ke TKP.


"Aku terlalu malas mengurus orang gila yang tiba-tiba mengamuk di jalanan dan memukuli supirku!!"


Tuan Alex marah-marah.


Banyak orang berhenti di sekitar tempat itu dan mulai berusaha menolong memisahkan Arya dan supir Tuan Alex.


Setelah keduanya akhirnya bisa dipisahkan, terdengar sirine mobil polisi mendekat.


Arya nafasnya tersengal-sengal, ia rasanya ingin membunuh satu orang saja hari ini.


Dan kemarahan Arya yang meledak-ledak itu membuat energi Arya yang hitam itupun kini terlihat begitu jelas di mata Tuan Alex.


**---------------**