Zizi

Zizi
125. Merah-Merah Semangka


Zia yang merasa tak enak hati dengan keponakannya, akhirnya menawari makan di resto hotel zombie saja sebelum pulang ke Bogor.


Tentu saja Zizi justeru yang paling semangat karena makan di resto hotel sama dengan makan masakan Chef Rasya.


Dari semua chef yang dimiliki Alpha Centauri, Chef Rasya memang salah satu chef yang olahan masakannya termasuk paling cocok di lidah Zizi.


Mereka masuk hotel disambut oleh para staf, karena tujuan mereka hanya ingin menikmati makan malam yang kemalaman, akhirnya para staf hotel pun mengantar Zia dan Ali serta Zizi menuju resto.


Chef Rasya pun langsung menyambut sendiri kedatangan sang Nyonya dengan Zizi dan Ali.


Menawarkan beberapa menu andalan baru, Chef Rasya tampak begitu semangat saat Zia setuju saja.


Mereka pun diminta menunggu sebentar.


"Kalian tunggu saja di sini, Mama akan bicara dengan beberapa staf hotel untuk menanyakan apakah masih ada gangguan dan semacamnya dari hantu hari ini."


Kata Zia pada Zizi dan Ali.


Keduanya mengangguk, dan hanya mengiringi Zia yang keluar dari resto hotel dengan tatapan mata mereka.


"Kak Zizi, kenapa hotel zombie di Indonesia sedikit berbeda rasanya dengan yang ada di Jepang dan di Inggris?"


Tanya Ali.


"Berbeda kenapa?"


Zizi balik tanya.


"Seperti energinya sedikit sulit digambarkan, bercampur sekali, mungkin karena saking banyaknya mahluk astral yang masuk dan tinggal."


Kata Ali.


Zizi cekikikan.


"Ya bagaimana tidak, hampir semua hantu sekarang ikut numpang tidur di sini, hotel lain jadi aman."


Kata Zizi.


"Paman salah startegi sepertinya kali ini."


Ujar Ali.


"Ya mungkin pikir Papa tadinya karena biasanya orang Indonesia kan suka hal yang berbau mistis, tapi ternyata hantu juga eksis. Kalau di Inggris dulu, mereka juga suka mampir, tapi ngga ganggu tamu, mereka ya numpang aja. Memang tadinya juga sama, pas belum diambil alih Papa, tapi begitu akhirnya papa yang kelola mereka aman saja."


"Mungkin karena kalian tinggal di sana."


Ujar Ali.


"Iya juga, mungkin, dan lagi ada banyak mahluk lain di dalam, ada om Timus dan juga Bibi Nancy."


Kata Zizi.


Zizi baru akan bicara lagi manakala ia tanpa sengaja melihat sekelebat bayangan yang lewat di belakang Ali.


Bayangan kurus panjang yang melesat begitu saja.


Zizi menatap Ali.


"Kau merasakannya?"


Tanya Zizi seraya berdiri.


Ali mengangguk dengan wajah sedikit takut.


"Energi itu, yang aku ceritakan kak, yang mengikutiku, dia sering berusaha masuk ke tubuhku saat aku tidur."


Kata Ali dengan suara lirih.


Brak!


Tiba-tiba Zizi menggebrak meja, membuat asisten Chef Rasya yang baru saja keluar dari dapur untuk membawakan menu pembuka jadi melompat saking kagetnya.


Zizi terlihat menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan resto, dan...


Bayangan itu tampak merayap di dinding, lalu menghilang di dekat pintu keluar.


Zizi akhirnya memilih mengejarnya.


"Kita habisi sekarang saja Ali, biar dia tak mengganggu kamu lagi."


Kata Zizi sambil berlari keluar dari Resto.


Ali tentu saja langsung mengikuti kakak sepupunya.


Ia berlari di belakang Zizi.


Zia yang sedang mengobrol dengan beberapa staf hotel begitu melihat Zizi berlarian bersama Ali langsung teriak-teriak.


"Ziziiiii... Aliiiii, ada apaaaa?"


Tapi mana sempat mereka menjawab.


"Aduuh kepalaku."


Zia memegangi belakang kepalanya yang sakit.


Staf perempuan sigap meraih tubuh sang Nyonya lalu membantu Zia yang memilih duduk di resto saja.


"Bisa ambilkan air putih? Saya harus minum obat."


Kata Zia.


Staf hotel itupun mengangguk.


Dengan menaiki anak tangga, Zizi terus memacu kakinya berlari naik.


Ali bahkan sampai heran dengan kekuatan dan kecepatan lari Zizi, yang sudah jelas di atas manusia rata-rata, bahkan sepertinya seorang atlet juga belum tentu bisa lari secepat itu saat harus menaiki anak tangga.


"Berhenti...!!"


Teriak Zizi.


Mahluk itu merayap ke atap, lalu ia mawujud seperti kakek tua yang kurus kering. Tubuhnya panjang, kaki dan tangannya juga.


Zizi menatap mahluk itu, keningnya berkerut.


Mahluk apa dia?


Batin Zizi.


Zizi cepat kembali berlari, namun mahluk itu menyeringai dan kemudian menghilang seolah menembus langit-langit.


Kesal dibuatnya karena dikerjai, Zizi menghantam dinding hotel Zombie dengan penuh emosi.


Ali menghampiri Zizi dan menyentuh bahunya.


"Nanti lagi saja Kak, kamu sudah capek tadi mengurus dua hantu, jika sekarang mengurus mahluk itu juga, energi mu akan banyak terkuras habis."


Kata Ali.


Zizi menatap Ali.


"Tapi kau nanti susah tidur lagi, kau pasti tak pernah tidur nyenyak selama ini."


Kata Zizi.


Ali tersenyum, lalu mengangguk.


"Semula kupikir gangguan itu tak akan berlangsung lama, tapi semakin hari ia justeru semakin kuat menempel, itu sebabnya aku ke sini, aku menunggumu pulang dari Merapi."


Kata Ali.


Zizi merasa iba dengan Ali.


Ya tentu saja, sekalipun Ayah Ali jago berkelahi, dan Ibunya Ali memiliki pasukan khusus di barisan pengawalnya, tapi semua itu nyatanya tak berfungsi apapun manakala yang harus dihadapi adalah mahluk halus.


Zizi merangkul Ali dan mengajaknya kembali turun menuju resto lagi.


"Nanti, aku akan minta Aunty Maria menjagamu agar kamu bisa istirahat, atau kalau kamu canggung ada perempuan di dalam kamar, nanti aku minta tolong kakak Zanuba."


Ujar Zizi.


Ali mengangguk.


Ia tahu jika bersama Zizi, pasti Zizi bisa memberikan solusi.


Ali dan Zizi pun kembali ke resto di mana sajian sudah disiapkan Chef Rasya.


Zia tampak duduk di meja yang kini tampak banyak menu istimewa disajikan, terlihat matanya mengawasi Zizi dan Ali yang baru saja muncul.


"Berapa kali Mama bilang, kamu itu gadis Zizi, jangan asal lari-lari di tempat umum, apalagi di hotel seperti ini, mana sudah malam."


Zia mengomel kesal.


Para pengawal yang semula menemani Zia mengulum senyum dan memilih menyingkir.


Zizi dan Ali mendekati Mama Zia dan kemudian duduk di sana.


"Sori Mam, tadi Zizi ngejar yang ganggu Ali, sepertinya dia akan tinggal di sini, besok atau lusa Zizi akan ajak Kak Seng memburunya."


Kata Zizi.


Zia menghela nafas.


"Kalian ini mau jadi pasangan pemburu hantu seperti di film The Conjuring?"


Tanya Zia yang kemudian meminum air putih lagi.


Lalu...


"Ali, makan dulu Ali."


Kata Zia pada Ali.


Tampak Ali mengangguk.


Zizi yang ditanya Mamanya terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Apa? Kenapa lihat Mama begitu?"


Tanya Zia pada Zizi yang malah melihat ke arahnya dengan cara yang aneh.


"Mama memangnya tahu Zizi sama Kak Seng..."


Zizi tak berani melanjutkan, ia entah kenapa malu bicara hal begitu di depan Mama.


Ali ber ehm ehm...


"Siapapun juga bisa tahu melihat kalian Kak."


Kata Ali akhirnya mewakili Zia, membuat Zizi untuk kali pertama wajahnya merah seperti semangka.


**-------------**