
Zizi dan Putri Arum Dalu kini berdiri di sebuah ruangan yang megah, di tengahnya tampak seperti sebuah kolam dengan air yang tenang.
Putri Arum Dalu mengulurkan tangannya dan mengusapkan telapak tangannya di atas air yang seketika memperlihatkan seperti sebuah tempat yang gelap.
"Nanti, Nona Zizi akan diantar oleh kuda dari Tanah Dalu hingga perbatasan. Setelah itu, anda dan teman-teman turun di sana dan bisa melanjutkan perjalanan langsung menuju Merapi. Sebetulnya tak akan jauh berbeda dengan perjalanan melewati jalan alam manusia, hanya saja jika Nona Zizi lewat alam kami, anda sudah jelas akan langsung bertemu Eyang Sapu Jagad."
Kata Putri Arum Dalu.
"Hanya saja..."
Putri Arum Dalu kemudian mengusap air yang tenang di kolam itu kembali, dan kini terlihat hutan-hutan belantara yang gelap dan terlihat wingit.
"Jalan yang akan dilewati hampir semuanya adalah jalan setapak di tengah hutan yang gelap dan tentu saja banyak penunggu di sana. Ada yang bersahabat, tapi banyak pasti yang juga mengganggu."
Ujar Putri Arum Dalu.
Zizi mengangguk.
"Tak masalah, aku bisa mengatasinya."
Kata Zizi tak gentar sama sekali.
Buatnya hantu apapun tak jadi soal, satu-satunya yang ia pikirkan hanyalah di hutan mana nanti kira-kira ia akan bertemu Jaka Lengleng.
"Ada berapa hutan kira-kira yang akan aku lewati?"
Tanya Zizi.
"Mungkin sekitar tujuh Nona. Dari tujuh hutan itu, ada penunggu yang mungkin tidak akan mengijinkan anda lewat."
Ujar Putri Arum Dalu.
Zizi menghela nafas.
Bagaimana caranya menghadapi mereka tanpa Jayapada. Batin Zizi.
"Baiklah, setelah urusanku selesai dengan eyang sapu jagat, aku akan penuhi janjiku membawa pulang Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak. Aku ingin tahu, bagaimana caranya aku memastikan dia orangtua mu."
Kata Zizi.
Putri Arum Dalu kemudian tersenyum, ia lantas melepas satu gelang pada lengannya.
"Bawalah Nona, gelang ini adalah milik ibunda, ia akan mengenali pemilik aslinya."
Kata Putri Arum Dalu.
Zizi meraih gelang dengan bentuk dua bunga yang bertemu di tengah.
"Baiklah aku mengerti."
Kata Zizi.
Putri Arum Dalu kemudian memberikan gambaran apa saja kelak yang mungkin akan berhadapan dengan Zizi.
Termasuk ada kemungkinan bertemu dengan pasukan Gendruwo lagi, yang sebelumnya juga telah Zizi hadapi saat membantu para penghuni tanah Dalu mendapatkan tanah mereka kembali.
Mencegah peperangan besar lagi antara penguasa cermai dan merapi yang berusaha mendapatkan dua Naga yang bersemayam dan mengunci gerbang tanah Dalu.
"Dua naga itu, ke mana mereka sekarang?"
Tanya Zizi pada Putri Arum Dalu.
"Mereka dibawa Bandapati, kemungkinan dikembalikan ke segara kidul.
Zizi menghela nafas.
"Apa itu tidak jadi masalah besar nantinya?"
Tanya Zizi lagi.
"Entahlah Nona Zizi, kita belum tahu kedepannya akan seperti apa, tapi semoga nanti setelah Ayahanda dan Ibu kembali ke kerajaan, beliau akan bisa banyak membantu bila ada peristiwa besar kembali terjadi."
Zizi terdiam.
Ada yang mencoba keluar dalam dirinya, dorongan yang tak biasa.
Zizi kemudian mencari Shane.
Tanya Putri Arum Dalu heran, karena Zizi tiba-tiba seperti panik sendiri tanpa alasan.
Zizi tak bisa menjelaskan, ia hanya mencoba mencari Shane.
"Kak Seeeng... Kak Seeeng..."
Zizi memanggil Shane.
Shane tengah melihat ke arah barisan bukit di kejauhan yang tampak dipenuhi hutan belantara.
Di sampingnya Maria terlihat sama menatap barisan bukit itu.
"Setelah mengantar Zizi menyelesaikan misi besarnya, aku akan ke Inggris."
Kata Maria.
Shane menoleh pada Maria.
"Kenapa?"
Tanya Shane.
"Zombie hotel di sana, aku merasa nyaman di sana."
Ujar Maria.
Shane terdiam.
Kata-kata Arya kembali seolah terdengar.
Apa aku juga harus seperti Aunty Maria? Meninggalkan Indonesia dan kembali ke asalku?
"Kak Seeeeng... kak seeeng..."
Panggilan Zizi terdengar.
Shane dan Maria tampak menoleh dan melihat Zizi yang berlari ke arah mereka.
"Nona Zizi ada apa?"
Zizi berlari menghambur ke arah Shane dan tiba-tiba memeluknya.
Shane bingung setengah mati, kenapa Zizi tiba-tiba melakukannya.
"Ku mohon diam saja, aku tak ingin mereka keluar dan menguasai ku... mereka akan diam saat Kak seng bersamaku."
Kata Zizi.
Mendengarnya Shane rasanya begitu tersentuh.
Mereka?
Para bayangan Zizi yang jahat itukah?
Ah yah...
Tentu saja, Shane tak akan membiarkan mereka menguasai Zizi lagi.
Shane melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Zizi.
"Tenanglah, saya akan melindungi Nona, apapun caranya, meski saya harus berkorban nyawa, saya akan pastikan anda baik-baik saja Nona."
Lirih Shane.
Zizi mengangguk.
Ia tahu, ia yakin, dan ia percaya.
Zizi sejak kanak-kanak sangat tahu jika Shane menjaganya dengan sangat baik dan tulus.
**-------------**
Gaes hari ini dikit dulu ya... wkwkkw
nanti semoga bisa up dua bab lagi... cayooo