
"Kak Seng, kau kah itu?"
Zizi berjalan mengendap-endap menyusuri koridor yang gelap tanpa penerangan.
Sesosok laki-laki berdiri di ujung koridor membelakangi Zizi.
Tubuhnya tinggi mengenakan setelan jas rapi dan tampak tetap tak bereaksi apapun begitu Zizi semakin mendekat.
"Kak Seng, berbaliklah, aku tahu itu kau."
Kata Zizi.
Sosok itu masih diam saja.
Zizi berjalan semakin dekat, namun begitu Zizi semakin dekat, tiba-tiba laki-laki yang ada di depan Zizi itu ambruk ke lantai, sementara yang kini berdiri di depan Zizi adalah sosok perempuan bergaun hitam dengan rambut panjang hitam dan wajah putih pucat yang terlihat samar saja karena tak ada cahaya yang membuatnya terlihat jelas.
Satu-satunya cahaya yang saat ini ada hanyalah dari cahaya bulan yang masuk lewat jendela besar di dekat ujung koridor.
"Siapa kau?"
Tanya Zizi dengan suara keras begitu melihat laki-laki yang benar adalah Shane kini sekarat di lantai sementara sepertinya ia terluka parah di sekujur tubuhnya.
Perempuan bergaun hitam itu menyeringai, dan tanpa menjawab apapun langsung melompat ke arah Zizi.
Kukunya yang tajam-tajam berusaha melukai tubuh Zizi.
Zizi melompat cepat menghindar dan dengan gerakannya yang tak kalah cepat langsung melakukan serangan balik.
Tapi...
Gubrak!!
Aww!
Zizi terbangun dari tidurnya saat ia ternyata melompat dari atas tempat tidur.
Sial, mimpi apa itu? Batin Zizi.
Gadis itu kemudian bangun dari posisinya, lalu menatap jendela menuju balkon yang tirainya memang sengaja tidak Zizi tutup.
Hujan tampak turun deras di luar sana, kilatan petir menyambar di kaki langit.
Zizi berjalan menuju jendela balkon, menatap guyuran hujan yang macam ditumpahkan begitu saja ke bumi.
Kak Seng, apa dia sedang dalam bahaya? Batin Zizi.
Perempuan itu, dia pasti vampire.
Kenapa dia melukai Kak Seng?
Siapa dia?
Kenapa seringainya membuatku seperti ingat sesuatu?
(Martabak apa Zi? hihihi)
Jedeer!!
Terdengar kembali suara petir di langit setelah kilatannya menyambar bagai cambuk api yang sangat panjang.
Zizi menghela nafas.
Sepertinya Zizi harus tetap menyusul Kak Seng, Zizi tak bisa duduk diam menunggu Kak Seng sedangkan dia berjuang untuk bisa jadi manusia adalah demi Zizi.
Tidak!!
Zizi akan membantunya.
Tekad Zizi.
Yah, baiklah, setelah nanti Zizi menyelesaikan membantu Ali, Zizi akan menyusul Kak Seng, secepatnya Zizi akan menyusul Kak Seng.
Dan begitulah Zizi, tak bisa jika harus macam patung selamat datang di tugu pembatas antar kota.
Ia tak terlahir untuk menjadi gadis yang hanya tinggal terima beres perjuangan kekasihnya.
Tidak!
Zizi tidak begitu.
Jika harus menghadapi hal berbahaya, Zizi juga harus mendampinginya, begitulah pikir Zizi.
Tak apa nanti dimarahi Aunty Maria, toh sudah biasa untuk Zizi.
**---------------**
Sementara itu, di kamar Ziyan dan Aisyah, tampak Ziyan baru saja menyelesaikan lemburnya di depan meja kerja yang ada di ruangan kamar pribadinya bersama Aisyah.
Tampak Aisyah mendekat sambil membawa segelas susu hangat.
"Lanjutkan besok lagi saja."
Kata Aisyah.
Ziyan mengangguk.
"Ini memang sudah selesai honey."
Kata Ziyan.
Aisyah mengangguk seraya tersenyum.
Diletakkannya segelas susu hangat di atas meja depan Ziyan.
Kata Aisyah seraya duduk berdiri di samping kanan Ziyan dan memijat dua bahu Ziyan dengan lembut.
Ziyan meraih gelas berisi susu hangat yang disediakan Aisyah.
"Zizi begitu berbeda dari biasanya, dia sedang dalam masalah sepertinya."
Lirih Aisyah sambil tetap mengurut bahu Ziyan.
"Shane pergi ke London."
Kata Ziyan.
"Aah Shane, ya, pantas dia tidak ikut kali ini."
Aisyah mantuk-mantuk.
Ziyan meneguk habis susu hangat yang disediakan sang isteri, lalu meletakkan gelas kosong ke atas meja lagi.
"Shane sepertinya sedang berusaha untuk bisa menjadi setara dengan Zizi, atau setidaknya ia akan terlihat pantas mendampingi Zizi."
Kata Ziyan.
Aisyah menghela nafas.
"Apa Zia dan Zion mempersoalkan statusnya? Kenapa sampai bicara soal pantas dan tidak pantas?"
Tanya Aisyah.
Ziyan terlihat mendongakkan wajahnya, menatap sang isteri yang bertanya begitu polos.
"Tentu saja ini bukan masalah Zia dan Zion honey, ini masalah dalam diri Shane yang merasa tak pantas bersanding dengan Zizi, merasa dia berbeda dalam segala hal membuatnya tak percaya diri dan itu mengganggu."
Kata Ziyan.
Tampak kemudian Ziyan meraih tangan Aisyah yang ada di bahunya, menariknya lembut untuk kemudian membawa Aisyah duduk di atas pangkuannya.
Aisyah pun melingkarkan dua tangannya ke leher Ziyan.
"Sama sepertiku saat semakin hari semakin mencintaimu lalu aku selalu sadar aku berangkat dari bukan siapa-siapa."
Kata Ziyan.
Aisyah menatap Ziyan dengan kedua mata beningnya.
Seketika muncul dalam bayangan saat-saat dulu saat mereka baru dekat.
Ziyan yang selalu merasa tak sesempurna Zion, yang selalu merasa begitu rendah diri di hadapan Aisyah.
Ya, Aisyah masih ingat saat dulu Ziyan mengajaknya makan di sebuah restoran mewah di Korea Selatan ketika sama-sama melakukan perjalanan bisnis mewakili perusahaan keluarga masing-masing.
Ziyan hari itu mencoba mengatakan semua masa lalunya yang kelam kepada Aisyah karena merasa ingin bisa lega.
Ya akan melegakan jika calon pasangan mengetahui kekurangan kita lebih awal, selain untuk tahu seberapa jauh calon pasangan menerima kita, juga kita tak perlu pencitraan sok tanpa kekurangan.
Dan...
"Narkoba? Kau... Kau pernah terjerat narkoba dan menjadi pengedar narkoba?"
Aisyah menatap Ziyan, saat laki-laki tampan itu menceritakan semuanya di masa lalu pada Aisyah.
Ziyan tampak mengangguk.
"Masa laluku sangat berbeda dengan Zion, aku tak sebaik dan seberuntung dia. Masih maukah kau menerimaku Aisyah?"
Tanya Ziyan memutuskan jujur.
Salju turun di luar sana, sementara daging panggang di depan mereka kini telah matang.
Aisyah matanya berkaca-kaca, gamang, namun cintanya jelas jauh lebih besar.
Dengan tangan tergetar ia meraih sumpitnya lagi, mengangkat daging panggang untuk kemudian diletakkan di piring Ziyan.
"Aku akan memikirkannya, beri aku waktu."
Lirih Aisyah.
Tapi Ziyan meraih tangan Aisyah dan menggenggamnya dengan lembut.
"Terimakasih jika kamu tetap menerimaku Aisyah, namun jika akhirnya kamu memutuskan untuk tak lagi bersamaku pun aku tak masalah, itu karena pastinya untuk gadis baik sepertimu butuh pendamping yang jauh lebih baik dalam segala hal daripada aku."
Kata Ziyan.
Aisyah menggeleng pelan.
Tatapannya ke arah Ziyan.
"Jangan terlalu rendah diri, kau istimewa Tuan Ziyan, syukurilah itu."
Ya begitulah Aisyah terkenang masa lalu bersama Ziyan.
"Aku bisa mengerti bagaimana perasaan Shane, karena aku pernah berada di posisinya setiap kali ada di depanmu honey."
Aisyah mengusap wajah Ziyan lembut sekali.
"Padahal, apa yang aku pikirkan tak seperti yang kamu pikirkan, aku rasa Zizi juga sebetulnya sama."
Kata Aisyah.
**--------------**