Zizi

Zizi
157. Kabar Masa Depan


Matahari baru menepi ke sebelah barat. Warna lembayung di langit terlihat macam sapuan kuas.


Ziyan berdiri di dekat danau, menatap nanar ke arah danau di mana di sana terlihat seorang perempuan tengah menggendong bayi.


Perempuan itu tubuhnya setengah ular, ia melingkar di atas air danau.


Angin berhembus pelahan, Ziyan tak bergeming di tempatnya. Tatapannya masih saja terpaku pada sosok di sana.


Wajahnya...


Wajah itu...


Tentu saja Ziyan tak asing dengan wajah itu.


Ya...


Wajah Ibunya.


Perempuan itu berwajah Ibunya yang telah lama wafat meninggalkannya.


Perempuan yang dipandangi Ziyan itu tiba-tiba menoleh, ia terlihat tersenyum, namun, meski wajahnya cantik, senyumnya membuat bulu kuduk Ziyan merinding.


Perempuan bertubuh ular itu lantas bangkit dari posisinya melingkar di atas air danau.


Ia lalu merayap naik ke atas daratan, tubuh ularnya mendekati Ziyan yang terpaku tak mampu ke mana-mana.


Hingga akhirnya, perempuan setengah ular itu berada persis di depan Ziyan, ia lantas kembali tersenyum.


Kedua tangannya terulur kepada Ziyan.


Dua tangan yang membawa bayi.


Ziyan menatap bayi di tangan perempuan setengah ular itu.


Tubuh Ziyan bergetar.


Tubuh ular perempuan itu pelahan melingkar mengelilingi Ziyan.


Mereka lantas beradu pandang.


"Bayi ini akan tumbuh menjadi penguasa alammu dan alam kami, jika kau mampu, bunuhlah dia sekarang, hahaha..."


Perempuan setengah ular itu tertawa.


Tawanya semakin lama semakin nyaring.


Langit senja yang semula terlihat indah dengan sapuan warna lembayung tiba-tiba menggelap, hujan turun deras disertai suara guntur yang bergemuruh.


Ziyan tubuhnya basah kuyup.


Saat kemudian perempuan setengah ular itu seolah hendak membelit Ziyan, tiba-tiba Ziyan terbangun.


**----------**


"Perempuan setengah ular berwajah Nenek, bayi calon penguasa dua alam?"


Zizi bergumam saat Pamannya bercerita soal mimpinya.


Paman Ziyan menghela nafas.


"Mimpi itu terasa nyata, bahkan rasanya sampai sekarang Paman bisa merasakan saat sisik ular itu menyentuh tubuh Paman."


Ujar Ziyan.


Zizi mengangguk.


"Karena itu bukan mimpi biasa Paman, itu kabar."


Kata Zizi.


Lalu...


"Paman, apakah Paman hanya sekali itu mimpi tentang danau dan hutan?"


Tanya Zizi.


Paman Ziyan menggeleng.


"Ada beberapa kali lagi Zi."


Jawab Paman Ziyan.


"Boleh Zizi tahu?"


Zizi memandangi Pamannya.


Tampak Paman Ziyan mengangguk untuk mengiyakan.


"Tentu saja."


Kata Paman Ziyan.


Paman Ziyan lalu terlihat menenangkan diri sejenak, sebelum akhirnya ia memulai ceritanya lagi.


"Ini saat mimpi yang bisa dikatakan cukup sering Zi."


Ujar Paman Ziyan.


Zizi menunggu sang Paman melanjutkan ceritanya dengan sabar.


"Paman melihat tiga pemuda tampan dan satu perempuan muda berwajah sangat cantik. Mereka berdiri di dekat danau, dan dari dalam danau muncul banyak sekali ular dalam segala macam ukuran dan warna. Anehnya, ular-ular itu tak ada yang mengganggu mereka, tak ada satupun yang menggigit, ular-ular itu hanya mengelilingi mereka."


Kata Paman Ziyan.


"Itu mereka."


Tiba-tiba Zizi bersuara.


"Mereka? Siapa?"


Tanya Paman Ziyan.


"Paman Jaka Lengleng memiliki isteri dari bangsa manusia, perempuan itu berhasil melahirkan seorang anak manusia, anak itu dipelihara dua ekor ular dan berhasil beranak pinak di alam kita."


Tutur Zizi.


"Maksudnya, anak dari keturunan ular?"


Paman Ziyan menatap Zizi.


Zizi mengangguk.


"Ya Paman, seperti Mama dan Zizi, yang lahir dari Naga."


Kata Zizi.


Paman Ziyan terkesiap.


Lalu...


"Lucunya, bekas isteri Paman Jaka Lengleng juga akhirnya jadi nenek moyang kita Paman. Nenek moyang dari pihak Nenek, Ibunya Paman dan Papa."


Paman Ziyan semakin terperangah, rasanya sulit ia percaya jika semuanya berkaitan serumit itu.


"Anak keturunan Paman Jaka Lengleng pastinya juga membawa ambisi dan tujuan yang sama jahatnya seperti Paman Jaka Lengleng, bisa jadi, inilah kenapa Zizi dan Ali diberi kekuatan yang tak biasa. Meski Zizi benar dari keturunan Naga, tentu Zizi juga butuh saudara yang sama kuatnya untuk menghadapi keturunan Paman Jaka Lengleng di bumi."


"Apa kau tahu siapa mereka?"


Tanya Paman Ziyan.


Zizi menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja belum tahu Paman, kan Zizi juga baru tahu setelah dari hutan itu, ada yang memberitahu kami soal hal tersebut. Tapi..."


Zizi tampak terdiam sejenak.


"Tapi apa Zi?"


Tanya Paman Ziyan.


Zizi menatap Paman Ziyan dengan wajah serius.


"Mereka sudah ada di sekitar Kakek sejak dulu, Zizi tidak yakin mereka siapa, tapi Zizi rasa, bisa jadi mereka adalah salah satu pemegang saham atau bisa juga yang ada di jajaran direksi perusahaan."


"Kenapa kau menyimpulkan demikian Zizi?"


Tanya Paman Ziyan.


Zizi tersenyum.


"Tentu karena jika ada di sekitar Kakek Uyut, itu berarti tak akan jauh dari lingkup bisnisnya. Paman tahu sendiri, jika hidup Kakek Uyut hanyalah tentang perusahaan, sama seperti Papa."


Kata Zizi.


Paman Ziyan jadi tersenyum.


Zizi tampak menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa yang super empuk di ruang perpustakaan milik sang paman.


Tiga laki-laki dan satu perempuan, apa mereka yang akan berhadapan dengan anak-anak Zizi. Batin Zizi.


Paman Ziyan kemudian terlihat menguap, ia sepertinya mulai terserang kantuk.


Jam di dinding telah mendekati pukul tiga dini hari.


Paman Ziyan akhirnya bangun dari posisi duduknya.


"Kita istirahat saja Zizi, kamu juga pasti lelah seharian menemani Ali."


Kata Paman Ziyan akhirnya.


Zizi mengangguk.


"Ya Paman, Zizi akan mandi dulu lalu akan pergi tidur."


Ujar Zizi.


Paman Ziyan mengangguk.


Laki-laki itu melangkah menuju pintu ruang perpustakaan dan keluar mendahului Zizi.


Zizi sendiri baru akan bangun dari posisinya manakala Maria menghampirinya.


Maria yang sedari tadi hanya menguping tanpa berani ikut nimbrung kali ini akhirnya baru membuka suara.


"Zi."


Panggil Maria.


Zizi mengangguk, sambil berjalan ke arah pintu perpustakaan juga.


"Bayi dan ular itu, aku pernah melihatnya."


Kata Maria.


Zizi menoleh ke arah Maria.


"Sungguh?"


Tanya Zizi menatap Maria tajam.


Maria mengangguk.


"Aku pernah melihat seorang perempuan datang ke danau di dekat hotel wisata. Jauh sebelum hotel itu dibeli Tuan Zion."


"Siapa wanita itu?"


Tanya Zizi.


Maria menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu Zi, tapi yang jelas ia kemudian bertemu Jaka Lengleng dan mereka seperti bicara tentang sesuatu. Wanita itu membawa seorang bayi laki-laki."


"Kau ingat kapan kejadiannya Aunty?"


Tanya Zizi.


Maria mencoba mengingat dengan otaknya yang sudah keriput.


"Sepertinya saat Indonesia belum lama merdeka."


Kata Maria.


Zizi terdiam lagi,


Seperti berpikir atau malah mules.


"Ah..."


Tiba-tiba Zizi bersuara,


"Jika benar begitu, berarti anak bayi yang digendong wanita itu seusia Kakek Uyut bukan?"


Tanya Zizi pada Maria.


Maria mengangguk.


"Ya Zi, sepertinya kau benar."


Kata Maria.


"Berarti itu salah satu petunjuk, bahwa keturunan paman Jaka Lengleng saat ini adalah yang seusia Kakek Uyut Zizi."


"Dan keturunan dia yang Paman Ziyan lihat dalam mimpi, yang kelak akan berhadapan dengan kelima anakmu. Ah pantas anakmu banyak sekali Zi, itu karena tugasnya berat. Kupikir karena kau dan Shane terlalu giat membuat."


Seloroh Maria yang tentu saja langsung ditabok Zizi.


**---------------**


(Tidur lagi aaaaah... huaaahm 😪😪😪)