
Zizi semakin mendekati sumur yang ditunjuk hantu Dewi semakin merasa harus menutup hidungnya.
Aromanya sangat menyengat dan membuatnya ingin muntah.
Merasa tak kuat dengan aromanya, Zizi akhirnya memilih Shane saja yang melanjutkan melihat ke dalam sumur bahwa memang benar ada mayat Dewi di sana.
Hantu Dewi terlihat begitu sedih sekaligus terharu begitu Shane menyingkirkan semua yang menutupi sumur.
Aroma tak sedap semakin tercium jelas, Shane memakai senter hp nya untuk melihat ke dalam sumur.
Tak begitu jelas akhirnya Shane melompat turun, Zizi menutup hidungnya dengan jaket.
Ia kembali mendekati sumur.
"Kak Seeeeng, benar ada mayat Dewi?"
Tanya Zizi dari atas.
Shane tak lama melompat naik lagi, ia meraih tangan Zizi dan membawanya menjauh dari sumur.
"Ada apa?"
Tanya Zizi menatap Shane.
"Aromanya bisa mengganggu pernafasan."
Kata Shane.
Aaah aku pikir apa. Batin Zizi.
"Ya ada mayat perempuan memakai setelan baju tidur di dalam sumur."
Kata Shane.
Hantu Dewi melayang mendekati Zizi.
Zizi menatap hantu Dewi.
"Kamu kok bisa pakai seragam hotel zombie, padahal kamu pakai baju tidur mayatnya."
Ujar Zizi.
"Kuntilanak juga pada pakai baju beda-beda, tapi mereka akhirnya pakai seragam."
Sahut hantu Dewi.
"Heh sialan, ghibahin gue."
Tiba-tiba dari atas pohon Nangka, sendulit kuntilanak duduk santuy di dahan.
Zizi cekikikan.
"Noh hantu baru, nantangin Mbak."
Kata Zizi.
Hantu Dewi yang dari masih hidup takut kuntilanak langsung kabur melayang kocar-kacir.
"Jiaaah dia kabur."
Zizi geleng-geleng kepala.
"Itu si Dewi anak kos sekitar sini, dia masuk sumur itu empat hari lalu, diseret sama hantu baru, ngga tahu dari tadi dia ngga nongol, padahal empat hari ini seliweran."
Kata kuntilanak penunggu pohon Nangka sambil turun ke bawah.
"Jadi benar dia dibunuh hantu?"
Tanya Zizi pada mbak kuntilanak.
"Iya dia dimasukkan sumur."
Kata mbak kunti.
"Kenapa ngga ditolongin?"
Tanya Zizi.
"Aku terlalu sibuk nyari kutu, ni rambutku penuh kutu."
Kuntilanak beralasan.
Haiiish... Zizi mendesis.
"Sekali kali berbuatlah kebaikan, sapa tahu nanti banyak manusia jadi mau berteman."
Kata Zizi.
"Maleslah, manusia kalau berteman ujungnya minta nomor togel."
Kata Kunti.
Jiaaaah... Zizi tepuk jidat.
"Nona, sebaiknya menghubungi Papa agar nanti bisa menghubungi pihak polisi."
Ujar Shane mengingatkan Zizi supaya cepat memberikan kabar pada Zion terkait penemuan mayat Dewi.
Zizi pun mengangguk.
Zizi lekas meraih hp nya lalu menghubungi Papanya.
"Ya sayang, kamu di mana?"
Tanya Zion begitu mengangkat panggilan sang putri kesayangan.
"Di tempat mbak Dewi dibunuh Pa, mayatnya ada di sini, Papa laporkan saja ke polisi."
Kata Zizi.
"Di mana?"
Tanya Zion.
"Di tempat yang didatangi Paman Dimas dan Kak Arya, selebihnya biar Paman Dimas saja yang urus ya Pa."
Kata Zizi.
"Ah ya, baiklah, ini Arya baru saja masuk ruang rawat inap, dia tidak apa-apa, Papa akan segera ke sana dengan Dimas, kamu kembalilah ke Rumah Sakit menemani Mama dan Ali."
Kata Zion.
"Oke Pa, siap, laksanakan!"
Sahut Zizi.
Panggilan mereka pun berakhir.
Zizi memasukkan hp nya ke dalam saku jaket dan segera mengajak Shane pergi dari sana.
"Mbak Kunti."
Zizi memanggil mbak kunti yang asik nyari kutu di rambutnya.
"Ya sist."
Sahut mbak kunti.
"Titip mayat Dewi."
Kata Zizi.
"Titip kok mayat."
"Ya kalau titip cilok juga percuma kamu ngga bisa beliin."
Sahut Zizi membuat kuntilanak itu tertawa.
Hihihihihi... hihihi...
Dan suara tertawanya di tengah malam yang dingin, hening dan sunyi terdengar ke mana-mana.
**--------------**
Zizi dan Shane menuruti perintah Zion akhirnya kembali ke Alpha Hospital.
Sampai di sana, Zion sudah bergerak menuju TKP bersama sebagian pengawal dan juga Dimas.
Sementara Zia dan Ali tetap berada di Rumah Sakit menunggui Arya yang dalam perawatan.
"Benar dia dibunuh?"
Tanya Zia begitu Zizi sampai.
Tampak Zizi mengangguk.
"Kenapa dia sampai dibunuh?"
Gumam Zia.
Zizi menghela nafas.
"Biasalah, salah faham, perselingkuhan dua sahabat rebutan cowok nggak keren."
Kata Zizi.
Ali tersenyum mendengar jawaban Zizi.
"Kak, kamu bisa lompat begitu kayak superhero."
Kata Ali.
Zizi duduk di samping Ali.
"Nggak tahu, kalau lagi begitu Kakak kayak nggak sadar."
Ujar Zizi.
"Iyalah, kamu kan berbagi raga dengan Nenek Retnoasih."
Zia menyela.
"Oh iya, bener."
Kata Zizi.
"Barangkali Nyonya lelah, tidak apa Tuan Arya nanti saya yang jaga Nyonya, anda istirahat saja di rumah dengan Nona Zizi dan Tuan muda Ali."
Kata Shane.
Zizi mengangguk setuju.
"Iya kita pulang saja yuk Ma, kita juga ngga jadi makan tadi."
Kesal Zizi.
"Ah iya, Ali juga belum makan ya jadinya."
Zia tepuk jidat.
"Tak apa Bik, Ali tadi di rumah Kemang sudah makan kok."
Kata Ali.
"Berarti Zizi yang belum makan, ayuklah Ma, pulang."
Zizi berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Mamanya.
Zia akhirnya berdiri, diikuti Ali pula.
"Kamu ngga jenguk Kak Arya sebentar?"
Tanya Zia pada Zizi.
Zizi terlihat menoleh ke arah Shane yang hanya tersenyum tenang.
Meski dadanya bergemuruh begitu mendengar Zia meminta Zizi menjenguk Arya, tapi Shane selalu tak menampakkan sikap marah dan semacamnya.
Ia tetap terlihat tenang dan tak membuat semuanya jadi masalah.
"Ya Zizi jenguk Kak Arya sebentar, Mama sama Ali tungguin."
Kata Zizi.
Zia dan Ali terlihat mengangguk.
"Mama tunggu di mobil."
Ujar Zia, lalu mengajak Ali beranjak dari sana.
"Hati-hati Kak Shane."
Kata Zia menepuk bahu Shane.
Tampak Shane mengangguk seraya menyunggingkan senyuman khasnya.
Ali berjalan mengikuti Bibi nya, sesekali Ali menyempatkan diri menoleh ke arah Shane yang terlihat berjalan ke arah kamar Arya dan berdiri di depan pintunya.
Ali menghela nafas.
Vampire itu sangat tampan dan loyal dengan atasannya, kadang Ali nyatanya iba melihatnya.
Mungkin jika dia manusia biasa, dia bisa berkarir di perusahaan milik Ali di Kuala Lumpur dan akan cepat naik karirnya karena Ali tahu Shane juga cerdas dan sangat rajin.
"Kenapa Kak Shane menjadi bodyguard Kak Zizi, Bi? Bukankah dia juga sekolah dan kuliah saat di Inggris? Dan Ali dengar dari cerita Kak Zizi, kalau Kak Shane selalu peringkat satu sejak sekolah dasar."
Ali mulai gali-gali sembari berjalan mengiringi sang Bibi menuju lift untuk turun ke parkiran.
Dua pengawal yang menjaga di dalam mengikuti mereka pula.
"Karena tadinya Zizi hanya mau pulang ke Indonesia jika Shane ikut, dia ingin Shane yang jadi pengawal pribadinya."
Kata Zia.
Lalu...
"Harusnya biarkan dia masuk perusahaan Bi, atau Ali minta kak Shane masuk perusahaan Ali saja? Ali kan sekarang diberi dua puluh lima persen saham perusahaan Ibu di Kuala Lumpur."
Kata Ali.
Zia tertawa kecil.
"Ali, nanti soal itu bicarakan dengan Paman saja yah, Bibi sungguh tidak tahu soal perusahaan, Bibi berbeda dengan Ibumu, Ali, yang memang berasal dari keluarga pengusaha besar juga, yang paham betul dunia bisnis dan semacamnya. Sementara Bibi hanya perempuan biasa, yang sekolah saja hanya SMA, itu sebabnya Bibi tak bisa banyak membantu Paman."
Kata Zia seraya merangkul bahu keponakannya.
Ali tersenyum sekilas, lalu...
"Tapi Paman dan kami semua mencintaimu Bi, karena hatimu baik."
Kata Ali.
**--------------**