Zizi

Zizi
158. Laporan Ke Mama


Salju kembali turun pagi ini, Paman Marthinus berdiri di depan kastil kecilnya.


Hutan tempat nya kini tampak sepi karena para Lycan berada di tempat persembunyian mereka.


Ia menatap salju yang turun.


Semalaman ia telah mengobati luka Shane.


Ada yang aneh pada diri vampire itu, dan Paman Marthinus tak tahu apa penyebabnya.


Ya, Shane memiliki energi panas yang keluar dari lukanya, itu tak pernah ada sebelumnya.


Baik Lycan maupun Vampire, Paman Marthinus tak pernah menemukan hal semacam itu.


"Mr. Marthinus."


Tiba-tiba terdengar suara Katerina di belakangnya.


Marthinus menoleh, menatap Katerina yang mendekatinya.


"Shane masih belum sadar?"


Tanya Marthinus.


Katerina mengangguk, wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran dan kepedulian.


Marthinus tersenyum.


"Jangan diteruskan, perasaan itu akan melukaimu kelak."


Kata Marthinus seraya kembali menatap salju yang turun.


Katerina menunduk.


Sejelas itukah perasaannya tergambar di wajahnya?


Batin Katerina.


"Zizi bukan gadis biasa, dia juga telah bersama Shane hampir dua puluh tahun. Mereka bersama sejak masih kanak-kanak. Orangtua Shane dan orangtua Zizi memiliki hubungan yang dekat. Kau tak akan bisa berada di tengah hubungan mereka."


Kata Marthinus.


Katerina hanya diam mendengar kalimat Marthinus.


"Zizi, nona kecil itu pemilik Victorious Sword, bahkan sekelas Ruthven saja tak mampu mengalahkan pedang itu."


Marthinus lantas kambali menatap Katerina.


"Aku tahu Shane sangat tampan, tapi lupakanlah, dia sudah milik gadis lain, yang tak akan bisa kamu singkirkan meski dengan cara ekstrim."


Ujar Marthinus.


Katerina tampak semakin menunduk.


Marthinus berbalik dan menepuk bahu Katerina dengan tangan kirinya, lalu setelah itu ia memilih masuk ke dalam kastil kecil miliknya lagi.


Ia akan melihat keadaan Shane untuk memastikan obat yang ia berikan pada luka Shane berkerja dengan baik.


Katerina sendiri sepeninggal Marthinus memilih melayang ke atas kastil, duduk di sana seorang diri dan membiarkan salju berjatuhan di atasnya.


Katerina butuh mendinginkan diri, mendinginkan dadanya yang panas dan terbakar karena kalimat Marthinus yang memintanya tak banyak berharap tentang Shane.


Zizi, ia memang tahu nama itu.


Nama yang jelas tak asing untuk banyak mahluk seperti dirinya.


Namun...


Katerina menatap salju yang berjatuhan dari langit.


Kenapa harus Zizi? Batin Katerina.


Sementara Katerina galau memikirkan Zizi, di dalam kastil Shane terdengar mengigau memanggil nama Zizi saat Marthinus mendatangi ruangan di mana Shane terbaring.


Marthinus mendekati Shane, yang dilihatnya luka di tubuhnya kini mulai menutup sempurna.


Marthinus duduk di sisi tempat tidur Shane terbaring.


Ia menatap pemuda yang kini terus memanggil nama Zizi.


Shane mulai setengah sadar, ia seperti dalam posisi orang tidur yang tengah memimpikan sesuatu.


"Zizi, jangan, bahaya Zizi."


Kata Shane lagi.


Marthinus geleng-geleng kepala.


Mimpi apa ini Vampire, apa mimpi mau naik rollercoaster?


**----------------**


"Kak Seeeeng..."


Zizi terbangun dari tidurnya.


Ia duduk di atas tempat tidur.


Matahari di luar sana telah bersinar cerah, bahkan sudah berada di ubun-ubun menandakan hari telah benar-benar siang.


Maria melayang menghampiri Zizi, menatap anak asuhnya dengan kening berkerut.


"Apa? Kau mimpi apa Zi?"


Tanya Maria.


Zizi menatap Maria.


"Kau tidur seperti orang pingsan, Paman Ziyan bahkan sampai menengok tiga kali ke kamar karena kau tak bangun-bangun."


Ujar Maria.


Zizi melongo, lalu ia melihat jam dinding di kamar yang menunjukkan angka satu siang.


Haiiish... Zizi mendesis.


"Kenapa Zizi tidak dibangunkan Aunty?"


Tanya Zizi malah setengah menyalahkan Maria.


"Lah, kamu pikir bangunin kamu gampang apa? Masih gampang bangunin ular kekenyangan daripada bangunin kamu tahu nggak?"


Plak!


Zizi menabok Maria.


"Hey, kenapa nabok Aunty?"


Maria protes.


"Lah Aunty ngehina Zizi."


"Itu bukan ngehina, itu adalah realita yang harus diungkap."


Zizi melet pada Maria sambil menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Pasti tadi Paman Ziyan yang menyelimutinya, karena seingat Zizi ia tidak sempat memakai selimut saat tidur.


"Hp ku mana Aunty, aku mau telfon Mama."


Lalu begitu ketemu, Zizi langsung berjalan ke arah jendela yang berfungsi sebagai pintu menuju balkon agar udara baru masuk ke dalam kamar.


Ia menelfon Mamanya di Indonesia.


"Anak bandel, sudah dibilangin jangan suka banget bikin khawatir Bibi Aisyah."


Mama langsung mengomel manakala telfon Zizi diangkatnya.


Zizi sampai harus menjauhkan hp nya agar suara Mamanya yang mengomel tak langsung mengorek telinganya.


Zia di Indonesia mengomel panjang lebar sampai hampir lima menit, setelah akhirnya omelannya mulai berkurang barulah Zizi bersuara.


"Tapi Zizi dan Ali jadi tahu sesuatu Ma."


Kata Zizi akhirnya.


"Sesuatu apa? Mahluk yang mengikuti Ali? Siapa dia?"


Tanya Zia.


"Dia penghuni lembah Narawitri, dia ingin hidup di tanah manusia di tubuh manusia Ma."


"Lembah Narawitri?"


"Hu um."


"Kenapa dia memilih Ali?"


Tanya Zia akhirnya, setelah mengomel akhirnya malah mendengarkan laporan anaknya.


Ya biasalah emak-emak kan begitu, yang penting mengomel dulu, baru urusan lain ketemu belakangan.


"Karena Ali lahir di waktu yang sama dengan Nenek Sekar Ayu."


"Sekar Ayu?"


Zia mengerutkan kening.


"Mama tahu, dia siapa?"


Tanya Zizi.


"Miss World?"


Zia asal jeplak.


Haiiish... Zizi mendesis.


Bagaimana mungkin Zizi tidak koplak, Mama dan Papanya saja absurd.


"Bukan Ma, dia bakwan udang."


Kesal Zizi.


Maria yang mendengar pembicaraan keduanya jadi mengurut kening.


"Dasar anak bandel, mana ada bakwan dikasih nama."


Zia mengomel lagi di Indonesia.


Zizi pun kemudian melanjutkan ceritanya.


"Sekar Ayu itu selir Paman Jaka Lengleng Ma, di rumah Paman Ziyan dan Bibi Aisyah ada danau dan hutan yang sangat mirip dengan danau dan hutan di Hotel Wisata milik Papa dulu Ma."


"Oh ya? Kok Mama tidak tahu?"


Zia terkejut.


"Lah Mama kan kalau berkunjung ke Malaysia hanya tiduran saja di rumah, Zizi juga baru sih jalan sampai ke danau dan hutan yang letaknya lebih dekat dengan rumah Nenek dan Kakek Ali."


"Hmm pantas saja, Mama malu lah kalau harus ke wilayah rumah orangtua Bibi Aisyah."


Zia mantuk-mantuk.


Zizi juga.


Lalu...


"Zizi kemarin sempat melihat ke masa lalu, diajak Nenek Retnoasih melihat apa yang sebetulnya pernah terjadi di wilayah kekuasaan Paman Jaka Lengleng."


"Jadi danau dan hutan itu terhubung dengan hutan dan danau di Hotel Wisata?"


Tanya Zia.


"Iya Ma, bahkan juga hutan dan danau di hutan kelima yang Zizi lewati saat akan ke Merapi."


"Ah ya, baiklah."


Zia mengerti.


"Lalu, apa yang kamu lihat Nak?"


Tanya Zia meminta Zizi melanjutkan ceritanya tentang Pamannya yang lenglang lengleng.


"Zizi melihat Sekar Ayu, perempuan itu dibawa ke kerajaan Paman Jaka Lengleng, di sana ada kolam besar yang dipenuhi telur ular yang sangat banyak, mungkin ada ribuan ular yang bahkan sudah menetas Ma."


Zia mendengarnya jadi ingat dulu saat ia ditarik paksa masuk ke wilayah mereka dan diminta menemukan sukmaning ulo.


"Paman Jaka Lengleng berkata yang intinya ia ingin Sekar Ayu bisa melahirkan anaknya yang dari jenis manusia."


Zia terperangah.


"Anaknya? Anak ular?"


"Iya Ma, keturunan Paman Jaka Lengleng."


"Lalu kamu melihatnya?"


Tanya Zia.


Zizi terdiam sejenak.


Bingung mau menjawab apa.


"Zizi, Mama tanya kamu lihat anaknya?"


Tanya Zia.


"Tidak Ma, Zizi langsung berhenti saat melihat Paman Jaka Lengleng dengan Sekar Ayu di atas tempat tidur melakukan..."


"Hah? Apaaaaa? Kamu lihat begituan!!!"


Zia meledak.


"Tidak Ma... itu Nenek... Bukan Zizi."


Zizi panik bukan main.


"Ziziiiiiiiiiiii..."


Duaaaaaaarrr !


Duaaaaaaaar !!!


Suara Zia macam kembang api tahun baru.


**----------------**