Zizi

Zizi
199. Salah Menu


Zizi tampak kembali berdiri. Matanya tajam menatap ke arah sosok yang datang mendekat, yang ternyata tak lain adalah Shane.


"Kak Seng."


Zizi senang bukan main.


Maria mendengus.


"Biasa saja kali, baru juga berapa jam.


Kata Maria julid.


Tapi kali ini Zizi tak sempat membalas julidan Maria, karena Shane lebih dulu melompat ke atap di mana semua berkumpul di sana.


"Mata-mata itu bukan Vero."


Kata Shane.


Mendengar Shane langsung bicara demikian, tentu saja semua jadi menatapnya bingung.


"Ada apa?"


Tanya Marthinus.


"Pengawal kita yang bertugas jaga di depan, dia mata-matanya, dia bagian dari ular jelmaan."


Ujar Shane.


Maria yang mendengarnya berdiri menghadap Shane.


"Mustahil, kenapa bukan Vero? Dia sudah jelas mencurigakan dari siapapun."


Kata Maria.


"Aku berhadapan dengannya di hutan kota Aunty, ia hampir menelan korban lagi."


Kata Shane dengan wajah yang teramat serius.


"Kak Seng yakin itu dia?"


Zizi memastikan.


Shane menatap Zizi seraya mengangguk.


"Aku yakin sekali itu dia. Aku melihat wajahnya dengan jelas saat menggelepar di atas tanah. Aku membunuhnya tadi, dan dia lenyap."


Tutur Shane.


Zizi dan Maria saling berpandangan.


Shane kemudian menceritakan semuanya dengan detail.


Saat ia baru berangkat, lalu akhirnya ia sampai di hutan kota, lantas tak sengaja mendengar sayup suara perempuan meminta tolong dan begitu ia cari ke arah asal datangnya suara, shane menemukan sosok perempuan itu yang tengah dibelit seekor ular besar.


"Kenapa kita tak bisa mendeteksi keberadaan mereka di sekitar kita? Ini belum pernah terjadi sebelumnya."


Gumam Zizi.


Shane kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.


Saputangan yang membungkus sesuatu, Shane memberikannya pada Zizi.


Zizi menerimanya dan tiba-tiba tangannya bergetar.


"Apa ini Shane?"


Tanya Maria.


"Aku kembali ke hutan kota untuk mengambil barang-barang milik perempuan yang hampir jadi korban, lalu aku melihat ada sesuatu yang aneh dari tanah bekas menghilangnya pengawal yang kubunuh."


Zizi lantas membuka saputangan berisi tanah yang Shane bungkus.


"Ada energi mirip milik Paman Jaka Lengleng yang aku rasakan."


Kata Zizi.


Shane mengangguk.


"Ya benar, namun ada energi lain juga yang menutupnya, dan energi itulah yang tak mampu ditembus oleh kita untuk mendeteksi keberadaan orang-orang Jaka Lengleng."


Ujar Shane.


Martinus tampak menyeringai.


"Karena mereka sudah bercampur dengan manusia, energinya tak lagi murni dan kita sulit mendeteksi."


Kata Marthinus menyela.


Semua memandang ke arah Marthinus.


"Tapi Paman, jika ada hantu yang masuk ke dalam raga manusia, Zizi bisa dengan mudah merasakan keberadaan mereka."


Ujar Zizi.


"Juga saat ada yang mencoba menjelma menjadi manusia, Zizi juga akan dengan mudah pula tahu mereka bukanlah manusia."


Tambah Zizi pula.


"Ya karena saat hantu merasuki manusia, sebetulnya ia hanya ikut hidup seperti parasit, saat ia menjelma maka ia seperti hanya memakai kostum, tapi kasus yang sekarang kita hadapi itu adalah mereka bercampur manusia."


Marthinus lalu membenani posisi duduknya lagi.


"Ibaratnya begini, Shane tidur dengan Nona, lalu lahirlah anak-anak dan jadilah percampuran itu."


Kata Marthinus menjelaskan macam Guru biologi gagal.


Zizi garuk-garuk kepala, sementara Shane yang paham malah otaknya jadi tak karuan ke mana-mana.


"Jadi dengan kata lain, semua yang tak bisa kita deteksi itu adalah karena dari hasil percampuran jaka lengleng dengan perempuan bangsa manusia?"


Tanya Maria.


Marthinus mengangguk.


"Dan dari keturunan itu akan bisa melahirkan mahluk yang jauh lebih kuat jika sampai bisa bercampur lagi dengan manusia yang memiliki energi kuat lain."


Ujar Mathinus.


"Misalnya manusia seperti Zizi?"


Tanya Maria pula.


Marthinus mengangguk.


"Minimal, yang pernah berada di alam para siluman dalam waktu sebentar maupun lama, dan mereka bisa keluar dengan selamat."


Kata Marthinus.


Maria mengangguk.


Maria bergumam.


Lalu...


"Apa yang seperti Arya, Zi?"


Tiba-tiba entah kenapa Maria ingat Arya.


Zizi menoleh ke arah Maria.


"Ada apa dengan Kak Arya?"


Tanya Zizi jadi heran karena Maria mengungkit soal Arya.


"Arya, dia kan pernah masuk dunia siluman Kelabang, kau ingat saat masih kecil dulu?"


Maria pada Zizi.


Shane di tempatnya tampak menatap Zizi, jika bicara soal masa lalu ketika Zizi masih kecil di Indonesia sebelum bertemu Shane dan dia lebih dulu dekat dengan Arya, rasanya Shane selalu jadi tak enak hati.


Ia seperti jadi merasa telah jahat merebut Zizi dari Arya.


Tapi...


Bukankah Zizi yang memilih dirinya kemudian? Batin Shane selalu untuk meredam perasaannya.


"Ah, siluman kelabang."


Gumam Zizi akhirnya ingat peristiwa yang telah terjadi cukup lama itu.


Maria mengangguk.


"Ya, Arya dulu juga sempat dibawa ke dunia mereka, dan akan dijadikan tumbal atau semacamnya bukan? Lalu setelah itu ia pun kadang bisa melihat hantu, meskipun tak bisa selalu."


Kata Maria.


Zizi mengangguk.


"Ya Aunty, Zizi ingat."


Kata Zizi.


"Manusia-manusia yang pernah terseret ke dunia gaib akan diincar mahluk percampuran untuk nantinya mereka melahirkan generasi mereka."


Kata Marthinus lagi.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi mereka?"


Tanya Zizi pada Marthinus.


"Yang bisa merasakan keberadaan mereka haruslah dari manusia yang dalam tingkatan di atas mereka Nona, dan itu hanya akan terjadi jika nanti anak Nona Zizi dan Shane lahir."


"A... Anak?"


Zizi langsung merasa kepalanya jadi onde-onde setiap kali harus dipaksa membicarakan soal anak.


Dan Shane langsung terbatuk-batuk.


Maria yang melihat pasangan calon pengantin yang sama-sama bloon itu akhirnya jadi tertawa.


"Haiiish... kenapa Aunty tertawa?"


Omel Zizi.


"Lho, apa... Aunty lagi ingin tertawa saja, masa tidak boleh."


Kata Maria di sela tawanya.


"Ya Aunty ketawain Zizi udah pastilah."


Kata Zizi membuat Maria tambah terpingkal-pingkal.


Tidak terbayangkan bagaimana nanti dua anak ini menikah dan kemudian melewati hari pertama mereka tidur bersama.


Entah ada berapa hantu yang akan kepo, sungguh mengerikan.


Maria benar-benar tertawa dibuatnya meski hanya sekedar membayangkannya saja.


"Ah Shane."


Marthinus tiba-tiba bersuara.


"Kau seharusnya mulai belajar hidup selayaknya manusia, karena kau sebetulnya bisa hidup seperti itu."


Ujar Marthinus.


"Aku?"


Shane menunjuk dirinya.


"Aku sudah pernah menjelaskan padamu tentang keberadaanmu yang bukan murni seorang vampire. Kau mahluk dengan darah Ruthven dan juga darah manusia naga yang bercampur menjadi satu. Kau tak hanya perlu darah, kau bisa makan apapun."


Kata Marthinus.


Tapi Shane menggeleng.


"Aku sudah pernah mencoba Paman, dan aku muntah. Hari itu, di mana aku tiba-tiba merasa lapar mencium aroma makanan manusia, aku mencoba mencicipinya tapi aku tak bisa, aku muntah."


Ujar Shane.


Zizi menatap Shane.


"Jadi Kak Seng sebelumnya sudah pernah mencoba makanan manusia?"


Tanya Zizi.


"Ya Zizi, sudah, dan aku muntah."


Jawab Shane.


"Memangnya apa yang kau makan waktu itu?"


Tanya Maria penasaran.


Shane diam sejenak, mengingat...


Lalu...


"Sop Iga, aku baru makan potongan wortelnya, dan aku tidak kuat."


Haiiiish... Maria dan Marthinus sama-sama mendesis.


"Shane... Shane, sekalipun kau ini bisa seperti manusia tetap saja kau ini adalah monster, jadi kau ini pemakan daging, bukan makan wortel."


Kata Marthinus tepuk jidat.


**---------------**