Zizi

Zizi
71. Balik Ke Hutan


"Kami sungguh tidak tahu dia cucu anda."


Kata salah satu dari mereka lagi.


Retnoasih terkekeh.


"Ya dia memang sedikit berbeda, dia lebih mirip Ibuku."


Kata Retnoasih tertawa.


Zizi kini berdiri, menatap para dayang yang sungkem pada Neneknya.


"Tuman."


Kata Zizi.


"Hmmm..."


Nyai Retnoasih terlihat melirik Zizi di sebelahnya.


Zizi nyengir lagi.


"Kembalilah ke hutan dan teruskan perjalananmu, melewati hutan ke lima, sama halnya kamu melewati Gunung Ceremai, terus berjalanlah mengikuti jalan setapak dari hutan itu, kelak kamu akan menemukan bukit di mana di sanalah hutan ke enam dan ke tujuh berada. Setelah itu, kamu akan mendengar debur ombak segara kidul, teruslah berjalan mengikuti arah bulan, hingga nanti ada batu-batu yang sangat besar, di dekatnya ada mata air yang sangat jernih. Naiklah ke bebatuan itu, setelah sampai di atas, kamu pasti akan bertemu Eyang Sapujagad."


Nyai Retnoasih memberikan petunjuk


Zizi mantuk-mantuk.


Sekarang pertanyaannya, bagaimana ia masuk hutan lagi?


Tadi ia dimasukkan kurungan lalu tiba-tiba ia ada di tanah lapang.


"Kalian sih, asal lempar saja."


Kesal Zizi jadinya pada para dayang prekayangan.


"Issh salahmu main tinju saja."


Kata mereka jelas tak mau kalah.


"Sudah, kenapa ribut lagi, memang Zizi... Kamu yang salah, harusnya kamu minta maaf."


Kata Nyai Retnoasih.


"Zizi pikir mereka mau makan gadis itu."


Zizi menunjuk seorang gadis yang kini duduk di bangku dekat tempat kurungan berada. Ikatannya sudah dibuka.


Nyai Retnoasih jadi terkekeh lagi.


Memang dasar cucunya itu grusa grusu tidak jelas juntrungnya.


Sudah secantik itu para dayang, masih saja tega dia tonjok.


Nyai Retnoasih menghampiri laki-laki berpakaian hitam.


"Bantu cucu saya kembali ke hutan. Maafkan acaramu jadi rusak."


Kata Nyai Retnoasih.


Laki-laki berpakaian hitam itu mengangguk saja.


Nyai Retnoasih sangat cantik, tapi tetap saja, secantik apapun dia bukan manusia, salah sedikit saja langsung bisa bikin kesambet.


Mending kalau cuma demam, panas dingin, kalau sampai komplikasi migren sama sakit gigi dan diare bagaimana? Kan Naudzubillah.


Dan walhasil, laki-laki berpakaian hitam itu akhirnya mempersilahkan Zizi masuk ke dalam kurungan.


"Zizi masuk kurungan?"


Tanya Zizi pada laki-laki berpakaian hitam itu.


"Iya Nona, tidak usah cerewet, ikuti saja, mau masuk hutan lagi tidak?"


"Ya, masuk hutan lari ke pantai, nyusul Rangga."


Kata Zizi sambil melenggang ke arah kurungan lalu menendangnya hingga terguling.


"Haduh, bisa lembut sedikit tidak, jadi perempuan kok macam Hulk."


Kesal laki-laki berpakaian hitam.


"Lembut kayak ubun-ubunnya bayi."


Gumam Zizi.


Tampak Zizi kemudian duduk sila di atas terpal yang digelar di atas tanah lapang. Laki-laki berpakaian hitam itu memberikan isyarat agar asistennya mengambil kurungan yang tadi di tendang Zizi untuk kemudian di tutupkan pada Zizi.


Orang-orang kampung yang masih banyak berkumpul terlihat menonton Zizi di masukkan ke dalam kurungan.


"Mau diapakan itu bocah pembuat onar."


"Mungkin di kembalikan ke habitatnya."


"Siapa sih dia?"


"Seperti sulap ya."


"Iya, ini acara sintren apa sulap sih jadi campur aduk."


Para warga kasak kusuk tak jelas.


Zizi sudah di dalam kurungan, menunggu keajaiban Zizi bersikap seperti orang bertapa.


Ia memejamkan mata.


Tapi bukannya konsentrasi, begitu memejamkan mata malah Zizi ingat Iga bakar.


Ah sial! Aku lapar. Batin Zizi.


Pelahan aroma kemenyan dari luar kurungan terasa semakin pekat tercium, bercampur dengan aroma bunga tujuh rupa yang juga semakin jelas.


Zizi merasakan pelahan kepalanya menjadi berat, semakin lama semakin bertambah berat, sementara tubuhnya justeru semakin lama jadi semakin ringan, seperti kapas yang bisa melayang jika ditiup angin kecil saja.


Suara musik kini kembali terdengar, seiring dengan suara riuh penonton dari kejauhan.


Lamat-lamat semua menjadi sepi, hanya aroma kemenyan dan bunga tujuh rupa saja yang masih bisa tercium oleh hidung Zizi.


Zizi kemudian membuka matanya, dilihatnya sekelilingnya dan ia masih di dalam kurungan.


Tapi...


Zizi berdiri, lalu kurungan itu ia tendang lagi.


Kurungan itu menggelinding entah ke mana.


Zizi berhasil dikembalikan ke dalam hutan, dan...


"Dasar bocah tengik."


Kesal Maria yang duduk bersama Shane di tepi tanah lapang menunggunya dengan bete.


Maria rambutnya terlihat acak-acakan karena dijambak para dayang prekayangan saat tawuran tadi.


Zizi cengar-cengir.


"Sudah dibilangin jangan bikin ulah, tetap saja berulah."


Omel Maria.


"Zizi kan cuma mau nolongin, siapa yang nyangka itu ternyata penari."


Kata Zizi cekikikan.


"Untung tadi ada Nenekmu, para dayang itu jadi lepasin Aunty dan Shane."


Kata Maria.


"Iya, tadi sebagian dayang yang ngejar Zizi juga pada ketemu Nenek."


Ujar Zizi.


Zizi mendekati Shane lalu duduk di sampingnya dan malah merebahkan diri di atas batu yang dekat tanah lapang hutan itu.


"Rehat sebentar ah, Zizi capek."


Kata Zizi.


Maria kemudian melayang seraya membetulkan rambutnya.


Ia juga terlihat memandang ke arah jalanan di mana nantinya mereka akan melewatinya.


"Kita akan melewati jalanan depan sana kan?"


Tanya Maria sambil masih merapihkan rambut blondenya dengan jari jemarinya.


Zizi kemudian bangun untuk duduk, melihat ke arah yang di tunjuk Maria.


"Zizi sudah dikasih petunjuk Nenek, kalau kita mempercepat perjalanan, kita akan bisa menyelesaikan misi ini lebih cepat."


Kata Zizi.


Maria mengangguk.


"Ya, asal kamu jangan bikin ulah lagi seperti tadi, ini harusnya kita sudah keluar dari hutan ke lima kan?"


"Iyaaa iyaaa... cerewet deh Aunty."


Zizi kemudian menoleh pada Shane yang sedari tadi memilih diam saja dan jadi pendengar.


"Kak Seng kok diam saja? Sariawan?"


Tanya Zizi.


"Dia lagi nyesel punya pacar bolot."


Kata Maria sambil kemudian tertawa.


Zizi melempar Maria dengan batu kecil di dekatnya.


"Sama orangtua kamu mau kurang ajar."


Maria ngomel lagi.


"Orangtuanya juga minta dihajar, hihihi."


Kata Zizi sambil membuat gerakan dua jari membentuk V dan juga love.


Maria jadi susah mau marah lagi.


Shane tampak tersenyum saja.


"Tidak apa-apa Nona, saya hanya sedang berpikir dua hutan berikutnya adalah hutan yang mungkin akan cukup berat untuk kita lalui. Saya takut anda akan kehilangan kendali hingga akhirnya terpaksa menggunakan Jayapada lagi."


Kata Shane.


"Ah soal itu."


Zizi mantuk-mantuk.


Benar juga kata Shane.


Tadi saja, sebelum Zizi terpental masuk ke dunia manusia, ia hampir kehilangan kendali.


Karena pedang itu memang selalu ingin muncul manakala Zizi dalam keadaan sulit dan bahaya.


Tapi jika digunakan untuk membunuh makhluk-makhluk jahat, energi jahat mereka juga ikut terserap, dan inilah masalahnya.


Jadi memang seperti buah simalakampret, dipakai salah atau tidak dipakai sama-sama bisa ada masalah.


Berbeda dengan pegadaian yang menyelesaikan masalah tanpa masalah.


Hihihi...


**--------------**


Selamat pagi jelang siang, Othor lagi tak enak badan, jadi sori sori jek, up nya alon alon macam cacing lagi kurang darah.