Zizi

Zizi
133. Ancaman Untuk Ali


Hari telah benar-benar gelap, suara sirine polisi mulai terdengar keluar dari parkiran zombie hotel.


Zizi melongok ke bawah, di mana benar mobil polisi satu persatu meninggalkan hotel Papanya.


"Apa hotel ini akan tutup akhirnya?"


Gumam Zizi.


Ali menghela nafas.


"Jika Zombie hotel tutup, maka ini adalah hotel kedua Papa yang gagal eksis di negara sendiri."


Ujar Zizi.


"Tapi Ali dengar di Jepang sukses besar."


Kata Ali.


"Karena hantu di sana tidak selincah di sini."


Sahut Zizi.


Ali nyengir.


"Tapi Ali rasa, karena di Jepang juga orang-orangnya cuek dengan penampakan, andai hantu itu lewat pun, orang Jepang lebih memilih sibuk dengan pekerjaannya atau fokus dengan belajarnya."


Mendengar itu Zizi jadi cekikikan.


"Bener juga, bisa jadi mereka penampakan tapi nggak di gubris akhirnya capek sendiri."


Kata Zizi.


Ali dan Zizi masih memilih bertahan di atas atap hotel, sampai kemudian...


Sesosok mahluk aneh merayap di gedung zombie hotel.


Ia seperti kakek-kakek tua dengan jari panjang dan kurus seperti ranting. Matanya dan lidahnya merah.


Ia bergerak di kegelapan malam hingga seperti siluet hitam yang bergerak-gerak di tengah kegelapan.


Maria melayang sambil teriak.


"Zizi, di sanaaaaa."


Zizi dan Ali melompat dan melesat cepat ke arah pintu masuk hotel di atas, demi mengejar mahluk aneh yang sepertinya menginginkan korban baru.


Maria yang ternyata memburu si mahluk sendirian dari tadi terlihat sangat bersemangat, Shane melesat ke arah Maria untuk membantu mengejar.


"Ada orang di lantai empat yang sepertinya ia buru, cepat!"


Kata Maria pada Shane.


Shane dan Maria memburu mahluk itu.


Sang mahluk yang kini terlihat begitu cepat merayap itu, tiba-tiba menghilang begitu sampai dekat balkon sebuah kamar yang jendela balkonnya terbuka.


Tak lama kemudian terdengar suara...


"Aaaaaaaaa...!!"


Suara seorang perempuan menjerit histeris.


Shane cepat melompat masuk ke dalam kamar yang mahluk itu kemungkinan masuk, Maria juga menyusulnya.


Benar saja, mahluk itu tampak tengah mencekik seorang perempuan dan mengangkatnya ke atas.


Perempuan itu terlihat kesakitan, Shane segera menerjang mahluk itu, sementara Maria menghambur ke arah si perempuan yang terlihat terjerembab di lantai.


Melihat Maria mendekat, perempuan itu menjerit histeris lagi.


"Aaaaaaaaa...!!"


Tentu saja Maria kesal, mau ditolong malah menjerit ketakutan, walhasil Maria pun menempong perempuan itu.


Plak!!


Perempuan itu pingsan.


Tepat bersamaan saat Maria akan mengangkat tubuh perempuan itu, pintu kamar hotel di mana perempuan itu menginap di dobrak dari luar.


Zizi dan Ali terlihat berdiri di sana, yang tak perlu menunggu lama langsung melompat masuk.


Ali menolong perempuan yang dibuat pingsan Maria, sedangkan zizi langsung membantu Shane menghajar mahluk aneh yang sepertinya makin sengaja membuat ulah.


Shane menarik paksa mahluk itu keluar dari kamar melewati jendela menuju balkon hotel.


Dengan kekuatan dan kecepatannya sebagai vampire muda, mahluk aneh itu di bawa Shane melesat.


Mahluk itu masih berusaha melakukan perlawanan, tapi Shane menghantamkan tinjunya berkali-kali ke wajah mahluk yang seperti hanya kulit pembungkus tulang saja.


Hantaman Shane membuat tulang wajah mahluk itupun hancur.


Shane membawanya ke lautan dan segera melemparkannya ke sana.


Saat Shane akan melemparkannya, mahluk itu bicara sambil menggeram...


"Aku tak akan menyerah, tubuh anak itu adalah milikku. Aku akan kembali, camkan itu."


Mahluk itu dilempar Shane ke lautan.


Shane kemudian melompat ke atas pohon, dan berdiri di sana menatap langit yang hitam pekat.


Angin laut berhembus cukup kencang, Shane kemudian menatap ke seberang lautan di kejauhan sana.


Ya... Di sana, jauh di sana, Nancy pasti merindukannya, sama sebagaimana Shane juga sangat menyayangi Nancy.


Shane juga ingat Paman Marthinus, ya dia... Bisa jadi ia bisa membantu Shane, jika iya, maka Shane akan mencari Paman Marthinus.


Di hotel Zizi berdiri di balkon hotel, menatap ke arah di mana mahluk aneh itu dibawa Shane.


Zizi tak tahu di bawa ke mana mahluk aneh itu, tapi yang jelas Zizi berharap Shane kini baik-baik saja.


Zizi kemudian melihat bayangan mendekat menuju hotel, bersamaan dengan itu staf hotel berdatangan juga untuk memberi pertolongan pada perempuan penghuni kamar hotel yang pingsan ditampar Maria.


"Apa lagi ini Zizi?"


Zia yang darahnya sudah hampir muncrat dari ubun-ubun memandangi pintu kamar hotel yang lagi-lagi hancur dan itu pasti ulah Zizi.


"Zizi berusaha menolong perempuan itu."


Kata Zizi pada Mamanya.


"Zizi... Menolong oke, tapi jangan dengan cara yang tidak lazim, ini bukannya mereka terimakasih malah jadi ketakutan."


Marah Zia.


Zizi terdiam.


"Itu kan sama pingsan Mbak nya..."


Kata Zia menunjuk perempuan yang tak sadarkan diri kini tengah digotong keluar.


Zizi mengurut keningnya.


Niatnya baik, tapi selalu saja disalahkan. Heran Zizi.


"Itu orang pingsan karena aku tabok Nyonya, bukan karena melihat Zizi berulah."


Kata Maria.


Zia menghela nafas sambil mengurut tengkuknya, rasanya makin hari makin tambah-tambah saja keruwetan di sekitarnya.


Shane yang baru kembali terlihat mendarat di balkon dan kemudian masuk ke dalam kamar.


Begitu masuk kamar lalu mendapati Zia dan Zion berada di sana, tampak Shane membungkuk memberi salam.


Zion menatap Shane.


"Mahluk apa lagi yang mengganggu hotel kita Shane?"


Tanya Zion.


Shane mendekati Zion.


"Saya tidak yakin Tuan, tapi tadi saya membuangnya ke lautan."


Kata Shane.


Lalu...


Shane menoleh pada Ali.


"Jika Tuan muda Ali mengatakan mahluk itu mengikutinya selama ini, saya rasa mahluk itu cukup jahat dan bisa melakukan apapun yang berbahaya pada Tuan Muda Ali."


"Dia menginginkan tubuh Ali."


Kata Ali menyela.


Membuat Zion dan Zia beralih menatapnya.


"Ada janji nenek moyang Ali kepada mahluk itu yang harus dibayar, dan kemungkinan Ali yang dijanjikan untuk mahluk itu."


Zia terbelalak tak percaya.


"Nenek moyang? Maksudnya dari pihak Ibu?"


Tanya Zia.


Ali terdiam.


Mahluk itu tak menjelaskan dari pihak siapa.


"Zizi mencoba menolong Ali, Ma. Cuma itu yang Zizi pikirkan."


Kata Zizi.


Zia mengurut keningnya.


Zion tersenyum, meski ia kepalanya pusing tujuh keliling, tapi nyatanya ia tetap berusaha legowo karena melihat putrinya yang hanya berusaha menyelamatkan sepupunya dan juga melindungi banyak orang.


Perkara saat mengeksekusi caranya memang tak bisa serapi Zia saat dulu, Zion merasa harus maklum karena Zizi memang karakternya berbeda jauh dengan Zia.


Zion merentangkan tangannya...


"Kemarilah."


Kata Zion pada Ali dan Zizi.


Zion kemudian memeluk keduanya setelah Zizi dan Ali menurut menghampiri Zion.


"Tak apa, pintu bisa diperbaiki, yang penting kalian tak apa-apa."


Kata Zion.


Shane terlihat tersenyum, Maria bahkan berkaca-kaca.


Maria mendekati Shane dan berdiri mengambang di sampingnya.


"Aunty, mahluk itu mengancam akan datang lagi memburu Tuan Muda Ali, sepertinya Tuan Muda Ali harus dijaga ekstra, tapi aku tak bisa melakukannya."


Kata Shane.


Maria mengangguk paham.


Mereka sudah membicarakannya sebelumnya.


Dan Maria...


Mengerti.


**-------------**


Udah ah maghriban dulu... dadaaaaaah