
Bang Dimas tampak terheran-heran melihat suasana rumah Bogor juga kini kacau balau.
Beberapa pengawal ruang depan sedang dibantu petugas medis yang sengaja ditelfon Zia untuk segera datang ke rumahnya.
Beberapa orang lagi, yang sepertinya dari agen jasa bersih-bersih tampak sibuk membersihkan dan merapihkan bagian rumah yang kacau balau karena pertarungan dua ular dan Marthinus.
Mbak Ning dan Lesti sudah siuman, meskipun mereka masih terlihat syok di dalam kamar Lesti.
Marthinus sendiri duduk santai di atas atap, ia terlihat asik mengobrol dengan Ayahnya Zanuba yang baru pulang dari Padang Pasir.
"Jadi aslinya dari padang pasir Bapake?"
Tanya Marthinus yang auto medok begitu sampai di Indonesia.
Ayah Zanuba mengangguk.
"Ya saya aslinya dari padang pasir, pindah ke sini karena dulu ikut seorang saudagar yang baik sekali, pemilik pertama tanah ini jauh sebelum kemerdekaan."
Kata Ayah Zanuba.
"Oooh, jangan-jangan kita seumuran."
Kata Marthinus.
Ayah Zanuba terkekeh.
"Ya bisa jadi kita seumuran, tapi bedanya, saya sudah beranak pinak banyak sekali, sementara Mister sepertinya masih jones."
Kata Ayah Zanuba julid.
Marthinus terlihat muram.
"Ya, saya belum menemukan perempuan yang cocok di perut."
Kata Marthinus.
Ayah Zanuba mengerutkan kening.
"Kenapa harus yang cocok diperut?"
Tanya Ayah Zanuba heran.
"Ya aku mengukur cinta dari suara perut."
Kata Marthinus.
Ayah Zanuba mantuk-mantuk.
Ya wislah karepmu Tetanus, aku ora urus. Batin Ayah Zanuba.
Bang Dimas di lantai satu yang masuk ke dalam rumah Zion terlihat celingak-celinguk, dan kemudian mendapati Zia yang baru keluar dari kamar Lesti untuk memastikan kondisi Mbak Ning dan Lesti baik-baik saja.
"Bagaimana Kakek?"
Tanya Zia.
"Karena perintah mendadak Tuan Ziyan, kami akhirnya membawa Tuan Ardi Subrata ke rumah dekat Bandara."
Kata Dimas.
"Apa Kak Ziyan akan datang?"
Tanya Zia.
Dimas mengangguk.
"Kabarnya Tuan Zion sudah mencegah, tapi Tuan Ziyan memaksa untuk tetap ke Indonesia menjemput Tuan Ardi agar kembali tinggal di Jepang."
Ujar Dimas.
"Di Jepang? Siapa yang akan jaga? Rumah itu juga ada pintu menuju dunia peri."
Zia tampak cemas.
"Nanti Nyonya tanyakan kepada Tuan Zion atau Tuan Ziyan langsung saja, saya sendiri hanya menuruti perintah."
"Kakek di rumah dekat Bandara bersama siapa?"
Tanya Zia.
"Ada Agung, Bagas, Pandu dan sepuluh pengawal lama. Semua ditarik ke sana. Rumah Kemang akan digunakan Nona Zizi untuk melakukan introgasi besar-besaran pada pengawal baru, sementara pelayan semua dipindahkan ke zombie hotel."
Terang Dimas melaporkan.
Zia mengurut keningnya.
"Isteri saya bagaimana Nyonya, apa dia..."
Bang Dimas tampak cemas,
Zia duduk di sofa besar yang ada di ruangan depan yang memang tak menjadi tempat pertarungan.
"Mbak Ning baik-baik saja, tadi hanya sempat pingsan saja, dia ada di kamar Lesti."
Kata Zia.
Bang Dimas menghela nafas lega, lalu pamit untuk bergegas menuju kamar Lesti karena ia tentu saja sangat khawatir dengan kondisi sang isteri.
**---------------**
Di rumah Kemang, Zizi duduk di kursi didampingi Dave.
Tampak pengawal junior yang hampir dua puluh orang berbaris berjejer menghadap ke arah Zizi yang mengamati mereka satu persatu.
Para pengawal yang usianya masih seumuran Zizi itu tampak bertubuh tinggi, tegap dengan rambut cepak macam para abdi negara.
"Zi."
Maria berbisik ke arah Zizi.
"Coba itu yang paling kiri, Aunty merasa dia sangat mencurigakan."
Ujar Maria.
Mendengar bisikan Maria, Zizi pun jadi melihat ke arah pengawal yang ada di sebelah kiri.
Pengawal berkulit sawo matang, rambut cepak dan wajahnya cukup tampan.
"Apanya yang mencurigakan?"
Gumam Zizi.
"Matanya, dia matanya kedip-kedip terus."
Kata Maria.
Zizi mantuk-mantuk.
Ah yah, benar.
Zizi lantas ke arah Dave.
Kata Zizi.
"Oh si Ronald."
Dave mengangguk mengerti, lalu...
"Ronald, sini kamu!"
Perintah Dave dengan suaranya yang tegas dan lantang.
Ronald yang dipanggil oleh Dave sang pemimpin, langsung ngacir mendekat.
"Berdiri di situ."
Dave menunjuk tempat untuk Ronald berdiri.
Ronald terlihat begitu gugup terus-menerus dipandangi oleh Zizi dengan pandangan mata tajam dan sedikit mengintimidasi.
Ah'... selain itu, Zizi juga sangat cantik sebetulnya, jadi rasanya membuat Ronald antara takut dan juga jadi salah tingkah.
"Buka baju!"
Kata Zizi.
Ronald membelalakan matanya, semua juga sama.
Dave menatap Zizi, tak terkecuali juga Maria.
"Zi, kamu kenapa mesum?"
Tanya Maria.
Haiiish... Zizi mendesis.
"Apanya yang mesum!! Zizi cuma suruh buka baju!"
Kata Zizi yang merasa keseriusannya jadi terganggu.
"Buka!"
Dave akhirnya mengulang perintah Zizi pada Ronald.
Ronald membuka jas nya, lalu kemejanya, menunjukkan badannya yang atletis persis orang militer.
Lalu sepatu, kaos kaki, ikat pinggang, celana dan...
"Stop!!"
Zizi cepat bicara begitu Ronald akan membuka kolor.
"Siapa yang suruh!!"
Bentak Zizi.
Ronald nyengir karena dibentak.
Ia lalu berdiri tegap lagi.
Zizi mengamati Ronald dari atas sampai bawah, Zizi ingat Kak Seng sempat bicara soal tatto ular.
Mungkin tatto itu adalah salah satu tanda mereka adalah bagian dari kelompok Andromeda.
"Bagaimana Nona?"
Tanya Dave.
Zizi menggeleng.
"Bukan Paman, dia bersih."
Kata Zizi.
Dave mengangguk lega.
Dulu Ronald termasuk pengawal junior yang saat masa pelatihan adalah dalan pengajaran Dave, tentu saja jika ternyata Ronald adalah bagian dari mereka, Dave sangat merasa bersalah.
Maria tampak mantuk-mantuk begitu Ronald dinyatakan bersih.
Ah Maria pikir, mata Ronald kedip-kedip karena dia sebetulnya ular.
Zizi kemudian meminta orang berikutnya, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Pokoknya satu persatu semua di panggil.
Sudah hampir dua puluh orang pengawal baru yang ada di sana diperiksa dan semuanya bersih tak bertato.
Zizi juga meminta Paman Dave menanyakan soal asal usul mereka secara lisan, dan beberapa pertanyaan acak untuk mengorek soal dari daerah mana mereka berasal, nama orangtua, jumlah saudara, nama sekolah dan lain sebagainya.
Tapi...
Lagi-lagi semua terlihat normal dan lancar saja.
"Sepertinya mereka yang di sini semuanya bersih Nona."
Kata Dave.
Zizi mengangguk.
Zizi lantas menengok jam tangan sport mewah miliknya yang melingkar di pergelangan.
"Sudah hampir Maghrib, sebaiknya Zizi ke hotel saja, Paman Dave bisa handle di rumah ini kan, banyak barang rusak di kamar Papa dan lantai tiga."
Kata Zizi.
"Ah, juga guci dari sahabat Uyut."
Tambah Zizi lagi.
Dave nyengir.
Ya, guci seharga lebih dari satu milyar itu, yang konon peninggalan dari jaman Dinasti Ming, di mana dulu di Nusantara masih dalam kekuasaan Majapahit.
Zizi berdiri, lalu merentangkan kedua tangannya sejenak.
"Zizi akan ke hotel sekarang, memastikan semuanya aman, dan mengawasi yang terjadi di apartemen Andromeda dari dekat."
Kata Zizi pada Dave yang menyusul berdiri dan membungkuk.
"Saya tidak usah dikawal."
Ujar Zizi pula.
"Tapi Non..."
Dave khawatir.
"Tadi di plafon ada kulit ular dengan ukuran besar, masih ada di kamar Uyut. Jadi akan lebih baik dua puluh pengawal ini menemani dan membantumu Paman Dave."
Ujar Zizi membuat Dave tersenyum keki.
**---------------**