Zizi

Zizi
224. Pertarungan Di Hutan Gaib


Brak!!


Brakk!!


Terdengar berisik pohon-pohon ambruk seperti ditebas pedang di belakang Alex di dalam hutan di mana ia lari membawa Nadia.


Tujuannya adalah pintu gaib yang menghubungkan hutan itu dengan rumah Attala.


Ia harus menyelamatkan Nadia, hanya itu yang bisa ia pikirkan.


Mungkin Attala juga akan membunuhnya jika tahu semua kekacauan ini karena ia tak mau mendengarkan perintah Attala agar berhenti menyusupkan orang ke dalam Alpha Centauri.


Attala yakin jika di dalam Alpha Centauri terlalu banyak orang dengan kekuatan tak biasa. Jika mereka tak hati-hati, maka semua akan sama saja seperti Kakek mereka Hery Sapta, yang tak mendapatkan apapun selain malu karena ditendang dengan tidak hormat.


Alex hampir sampai di pintu gaib yang berbentuk pohon besar yang berongga, saat kemudian mata kepalanya melihat seekor Naga terbang melesat dan menyemburkan api ke hutan itu.


Alex melompat ke arah rongga pohon. Nadia terlempar ke dalam, dan saat Alex akan menyusul seseorang menariknya dari belakang.


"Mau ke mana kau!!"


Suara seorang gadis terdengar.


Alex menoleh ke arah belakangnya, dan tampak Zizi menyeringai ke arahnya.


Zizi lantas menarik Alex dan menghantamnya dengan keras.


Ular-ular besar berduyun-duyun datang.


Seekor Naga yang tak lain adalah Nenek petakilan menyemburkan api lagi ke arah mereka.


Hutan gaib itu terbakar luar biasa, Alex dan cengkraman Zizi berusaha lepas, ia menendang Zizi hingga gadis itu sempat terpental ke belakang.


Zizi mengangkat pedangnya, kilau cahayanya menembus ke atas langit.


Kilau cahaya itu berpendar.


Zizi menatap marah Alex yang kini terlihat payah berdiri, ia menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Mata Alex mendelik merah ke arah Zizi, membuat keduanya kini saling menatap seperti sama-sama melihat mangsa.


"Kau yang lebih dulu mengganggu kami, jangan salahkan aku kini mengganggu balik kalian!"


Teriak Zizi.


Pada saat menerjang, Alex berubah menjadi ular besar.


Ular hitam yang sangat besar itu menyabetkan ekornya dengan keras ke arah pohon di mana ada di dekat Zizi.


Pohon-pohon itu tumbang, Zizi melompat dengan lincah menghindari pepohonan yang bertumbangan.


Alex terus berusaha menghadapi Zizi, ia kembali berusaha menyabetkan ekornya ke arah Zizi, berharap gadis itu bisa terkena sabetan ekor dan kemudian pergi untuk selama-lamanya.


Jika itu terjadi, pasti bukan hanya Jayapada yang bisa ia rebut dan berikan pada Kakek Jaka Lengleng, tapi juga seluruh keturunan ular yang ada pasti akan takluk di bawah perintahnya. Batin Alex.


Namun, di saat Alex berusaha menyerang Zizi lagi, tampak Zizi tiba-tiba melompat ke arahnya, meski Alex dengan gerakan yang sama cepatnya bisa menghindar dan bahkan berhasil menarik Zizi dan membelit tubuh Zizi, namun pada akhirnya Zizi justeru leluasa menyerangnya dari dekat.


Tebasan pedang itu langsung terarah ke tubuh Alex, membuat belitan tubuh ular Alex pada Zizi seketika terlepas.


Zizi melompat ke atas dan mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya.


Cahaya putih menyilaukan keluar dari mata pedang sang Naga.


Cahaya itu menembus ke atas langit, dan membuat gemuruh di atas sana langsung terdengar.


Angin besar bergulung-gulung bersamaan dengan hujan yang turun begitu deras.


Naga Bandapati masih terbang di angkasa menyemburkan api ke arah para ular yang datang berduyun-duyun.


Ular-ular anak buah Jaka Lengleng tampak terbakar.


Tapi...


Wuuuuuuuzz...


Bandapati terbang menerobos hujan, sambil menyemburkan api yang berkobar-kobar di angkasa, tapi apinya malah belok karena angin yang datang dari arah lain di tambah hujan juga turun deras, walhasil api semburan Naga jadi padam.


Haiiish... Bandapati mendesis kesal.


Gara-gara cicitnya memakai Jayapada bukan pada waktu yang tepat, Bandapati jadi gagal keren.


**-----------------**


(Besok lagi y gaes, ngantuk banget sumpah)