
"Aku tidak bisa mengantar sampai Bandara, tidak apa-apa kan Kak?"
Tanya Zion.
Kak Ziyan menepuk bahu Zion dua kali.
"Santai, urus saja yang ada di sini, aku bantu Kakek kita pindah ke tempat yang lebih aman."
Ujar kak Ziyan.
Zion mengangguk.
"Aku percayakan Kakek padamu."
Kata Zion.
Kak Ziyan tersenyum.
"Sama hal nya kami mempercayakan Alpha Centauri padamu juga Zion."
Zion kembali mengangguk memastikan Alpha Centauri akan baik-baik saja.
Kakek Ardi Subrata keluar dari dalam kamar dengan kursi roda di dorong oleh Joni.
Sementara kepala pengawal Kak Ziyan dari Kuala Lumpur melaporkan bahwa mobil telah siap, begitupun pesawat pribadi mereka di Bandara.
Kak Ziyan berpelukan sebentar dengan Zion, berpamitan sambil saling menguatkan satu sama lain.
"Hati-hati Kak."
Kata Zion begitu pelukan mereka terlepas.
Joni mendorong pelan kursi roda Tuan Ardi Subrata keluar dari rumah dekat Bandara.
Zion berjalan beriringan dengan Kak Ziyan mengikuti di belakang.
"Aku akan kembali ke Kuala Lumpur sore ini."
"Bagaimana kondisi di rumah?"
Tanya Zion.
"Aku rasa semua sudah ditangani police dengan baik, yang jelas tak ada yang akan boleh ke sekitar danau dalam waktu dekat."
Zion mantuk-mantuk.
"Seperti yang Zizi bilang, danau itu memiliki hubungan dengan danau wisata, Paman ular itu juga ada di sana."
"Ya, mungkin itu yang menyebabkan ada reaksi juga pada danau di dekat rumahmu Kak."
"Pastinya."
"Aku harap setelah ini tak ada hal aneh lagi, kadang aku lelah karena rasa khawatir berlebih pada Zia dan Zizi, kau pasti juga begitu pada Ali."
Kata Zion.
Kak Ziyan mengangguk.
"Tapi pastinya tak sebesar kau kekhawatiranku, karena Ali tak diberi warisan pusaka leluhur."
"Ya, Zizi memiliki takdir yang berat."
Lirih Zion.
"Jangan lupa Zizi kapan-kapan ke rumah Kemang lagi."
Tiba-tiba Kakek Ardi Subrata bersuara dari depan Zion dan Kak Ziyan tanpa menoleh.
Bersamaan dengan sampainya mereka di depan rumah, dan tampak beberapa pengawal sigap membukakan pintu mobil untuk Tuan Ardi Subrata.
Joni membantu Tuan Ardi berdiri begitu sudah ada di dekat mobil, dan memegangi Kakek saat masuk ke dalam mobil.
Zion membungkuk ke arah sang Kakek.
"Ya Kakek, nanti setelah menikah, mungkin Zizi yang akan tinggal di Kemang."
Kata Zion.
"Nah yah, kau benar, tinggalah di sana, aku akan tinggal di Jepang sampai masa hidupku berakhir."
Ujar Kakek.
"Jika ada apa-apa dengan perusahaan, kalian berdua salinglah bersinergi, kelak pasti Kakek tak akan ada lagi, belajarlah dari sekarang membuat Alpha Centauri berjalan tanpa Kakek."
Ujar Kakek.
Zion mengangguk.
"Berikan dua puluh persen saham Kakek untuk menantumu Zion, hubungi Tuan Yandik kuasa hukum kita dan Bu Dewi Notaris yang rekanan dengan perusahaan kita."
Zion kembali mengangguk.
"Setelah semua surat siap, bawa ke Jepang, Kakek akan tandatangani."
"Ya Kek."
Sahut Zion.
"Nanti Kakak sekeluarga akan datang dua hari sebelum pesta pernikahan, jika butuh rapat umum pemegang saham, jadwalkan saja sebelum itu, jadi kita bisa urus."
Kata Kak Ziyan menepuk punggung Zion.
Tampak Zion mengangguk ke arah sang kakak.
"Oke, aku pergi Zion."
Kak Ziyan pamit.
"Kabari begitu sampai Hokaido kak."
"Pasti, jangan khawatir."
Kak Ziyan melangkah menuju mobil yang sama dengan sang Kakek.
Begitu Kak Ziyan masuk mobil, pintu mobil ditutup para pengawal Zion.
Dua mobil yang membawa pengawal pribadi Kak Ziyan dan juga pengawal Kakek bergerak di depan dan belakang mobil Kakek dan Kak Ziyan.
Zion mengantar kepergian mereka dengan tatapan mata hingga mobil keluar dari gerbang utama.
"Joni."
Panggil Zion begitu akhirnya mobil Kakek tak terlihat lagi.
Joni membungkuk.
Tanya Zion.
"Ya Tuan, Dimas kembali ke zombie hotel."
Zion mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kita ke Bogor saja. Hari ini di kantor tak ada yang terlalu penting untuk aku urus, nanti aku akan minta pak Rizal saja yang menemui Tuan Yandik dan Bu Dewi."
Kata Zion.
Joni mengangguk.
"Saya siapkan mobil nya."
Kata Joni.
Zion mengangguk.
Zion baru akan berbalik ke dalam rumah, manakala dilihatnya di sudut teras ada pocong berwajah pelayan rumah lagi.
Zion yang kaget sampai melonjak.
"Ada apa Tuan?"
Joni yang selalu sigap dan siaga langsung melindungi Zion.
"Po... pocong Jon."
"Waduh."
Joni yang mendengar lawannya bukan manusia langsung memilih kabur dengan pura-pura akan menyiapkan mobil segera.
Zion yang tak mau ditinggal mengikuti Joni saja.
"Lho Tuan tidak ganti baju?"
Tanya Joni heran dengan Zion yang malah mengikutinya.
"Sudah tidak usah ganti, biar saja di rumah banyak baju."
Kata Zion tak peduli hanya pakai celana pendek dan kaos oblong.
Pocong berwajah pelayan langsung sedih melihat Zion menjauh.
"Aku kan hanya ingin bilang, kalau pelayan berwajah aku itu bukan orang."
Gumam pocong.
**-------------**
Mobil yang dikendarai Zizi akhirnya memasuki pintu utama komplek perumahan di mana ia tinggal.
Tepat saat mobil Zizi masuk, mobil lain dari arah yang berbeda juga masuk ke sana.
Zizi melirik mobil di belakangnya dari arah kaca spion di samping kanannya.
Mobil yang jelas tak asing lagi.
"Kak Arya ya Zi?"
Tanya Maria.
Zizi mengangguk.
"Kebetulan kamu ajak dia bicara gih, dari hati ke hati, biar sama-sama lega."
Kata Maria memberi saran dan pendapat.
"Zizi udah lega."
Sahut Zizi.
"Kamu lega, Arya belum. Gimana sih."
Maria menabok Zizi.
"Bagaimanapun kamu juga salah karena pernah kasih dia harapan."
Ujar Maria sok bijak.
Zizi garuk-garuk hidungnya yang gatal.
"Supaya hubungan kalian ke depannya tetap baik, supaya Kak Arya tak sampai benci sama cewek dan malah ganti suka sama cowok."
Kata Maria lagi sembarangan.
Zizi tertawa mendengarnya.
"Aku bilangin Kak Arya."
Kata Zizi.
"Hus, ini kan misal, kan banyak orang begitu, saking sukanya kecewa jadi aneh-aneh."
"Iya... Iya..."
Zizi akhirnya mengiyakan.
"Biar dia bisa membuka hatinya lagi untuk cewek lain, pasti suatu hari kan dia juga harus menikah dan memiliki keluarga sendiri, punya anak dan sebagainya."
"Kak Arya ganteng, pasti banyak cewek suka."
Kata Zizi.
"Ya mau segunung banyaknya cewek yang suka, kalau dianya tidak mau buka hati ya tidam berguna."
Maria gemas sekali dengan Zizi.
Ingin jitak tapi sudah pasti akan balik jitak juga.
Zizi mana mau dijitak tanpa membalas.
Mobil melaju ke arah rumah, dua penjaga gerbang rumah terburu membukanya begitu melihat mobil Zizi dan mobil Arya.
Dua mobil itu lantas memasuki halaman rumah, dan parkir bersebelahan.
Maria melayang keluar menembus lewat atap mobil.
Arya juga terlihat keluar dari mobil, hampir berbarengan dengan Zizi.
Tapi...
**------------**