Zizi

Zizi
234. Tempat Persembunyian


Di tengah kegelapan malam yang hanya dihiasi bulan sabit macam alis baru dikerik, tampak berkelebat bayangan-bayangan menembus hutan.


Tujuan mereka adalah sebuah kastil tua di ujung berung yang tidak bisa dijangkau dengan ojol.


"Kau yakin akan bersembunyi di sana? Apa kau gila?"


Terdengar suara Natalie di tengah hening malam.


"Diamlah, kau sangat cerewet."


Kata Attala yang terlihat menggendong seorang gadis di bahunya.


Ah yah, tentu saja, siapa lagi jika bukan Nadia.


Nadia dibuat tak sadarkan diri, manakala begitu sadar ia tiba-tiba menjerit dan berusaha melarikan diri.


Alex berada di belakang Attala dan Natalie, lukanya yang cukup serius membuat gerakannya menjadi lemah.


"Ini sungguh ide paling gila yang pernah aku tahu, bersembunyi di kastil anak Ruthven, kita sama saja memancing peperangan besar lagi."


Kata Natalie.


Attala yang mendengar omelan Natalie tak mau menggubris.


Jelas ia sudah memperhitungkan semuanya, bahkan jika perlu ia ingin membangunkan Rosalia Ruthven.


Mungkin, mereka akan bisa mendapatkan tambahan kekuatan bukan?


Attala terus bergerak cepat, Natalie mulai lelah dan ingin mengumpat pada Attala lagi, ketika di kejauhan kini tampak sebuah kastil besar berdiri.


Attala menyeringai, ia semakin mempercepat gerakannya menuju kastil itu.


Butuh beberapa waktu untuk berada di sana, sambil memikirkan cara kembali muncul di tengah manusia.


Attala kali ini akan sungguh-sungguh mempersiapkan peperangan yang sesungguhnya, tentu tanpa melibatkan Alex yang bodoh lagi.


"Nadia bagaimanapun adalah manusia, jika Rosalia Ruthven kemudian mencium aroma darah dan dia bangun, kau akan kubunuh Attala."


Kata Alex dengan susah payah mengejar Attala yang membawa Nadia.


Attala tak menggubris.


Tahu apa si Alex bodoh. Begitu pikir Attala.


Attala melompati pagar yang menjulang tinggi di depan kastil besar yang sangat menyeramkan itu.


Dengan gerakannya yang sangat cepat, Attala membawa tubuh Nadia mendekati kastil yang kini tampak begitu kosong dan sunyi.


Natalie menyusul melompati pagar tinggi itu, sampai kemudian Alex juga berusaha sekuat tenaga untuk melakukan hal yang sama.


"Kau baik-baik saja Lex?"


Tanya Natalie.


Alex mengangguk dan berusaha memaksakan diri tersenyum.


Natalie yang berdiri menunggu Alex sampai di dekatnya karena tertinggal cukup jauh menatap saudaranya itu dengan iba.


"Aku tak percaya Attala memilih tempat ini dari sekian puluh tempat persembunyian yang kita miliki."


Ujar Alex lebih mirip keluhan.


Natalie mendengus.


"Kakakmu memang gila, siapapun tahu itu, bahkan Kakek dulu menjulukinya si gila."


Kata Natalie.


Alex mengangguk.


Tampak Alex kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sepenjuru luar bangunan kastil.


"Sangat gelap, di mana-mana yang terlihat hanya semak belukar dan tanaman rambat."


Kata Alex.


"Dia berusaha mencari dukungan, tapi kurasa ini seperti bunuh diri."


Natalie di samping Alex yang juga sambil ikut memandangi bangunan Kastil yang begitu gelap.


Tak lama...


Di dalam kastil tiba-tiba muncul cahaya.


Alex dan Natalie saling berpandangan.


"Attala sudah di dalam."


Kata Natalie.


Alex dan Natalie pun segera menyusul Attala masuk ke dalam kastil.


Ruangan di dalam kastil satu demi satu mulai terang karena Attala menyalakan penerangan ruangan yang masih memakai api.


"Di mana Nadia?"


Tanya Alex begitu masuk ke dalam kastil dan ia mendapati Attala sudah berjalan ke sana ke mari tanpa Nadia.


Attala menoleh pada Alex, tampak Attala menyeringai.


Laki-laki macho dengan tampang maskulin itu menyeringai.


"Dia di kamar, kamar yang di bawahnya adalah ruangan bawah tanah di mana Rosalia Ruthven sedang tertidur."


Kata Attala.


Alex mengepalkan tinjunya.


"Kau sengaja bukan?"


Alex suaranya bergetar.


Attala mengerutkan kening.


"Sengaja apa?"


Tanya Attala sok tak berdosa dan tak tahu apapun.


"Kau membawa kami ke sini, terutama Nadia untuk membangunkan Rosalia Ruthven? Ya kan?"


Suara Alex meninggi.


"Ck ck ck ck..."


Attala geleng-geleng kepala sambil berdecak.


"Tampaknya kau benar-benar jatuh cinta ternyata pada manusia itu, dasar bodoh!"


Ejek Attala.


Alex rasanya ingin segera melompat menerjang Attala, jika saja Natalie tak segera meraih lengan Alex dan berusaha menahannya.


"Lebih baik kau temani Nadia, jika ia bangun dan ada kau, pasti dia akan lebih tenang."


Kata Natalie.


"Aku akan membawanya pergi dari sini."


Kata Alex.


"Jangan coba-coba, kau sudah membuat semuanya kacau dan kini akan mengulangi? Kau benar-benar tak ada otaknya!"


Geram Attala.


"Hey, bicaramu terlalu kasar!"


Natalie nyaris mendelik ke arah Attala.


"Kau juga sama saja Nat, kalian bahkan sekarang tak akan bisa membereskan semua kekacauan yang telah kalian buat."


Natalie terdiam, begitu juga Alex, meskipun telinga dan dadanya panas bukan main.


"Kalian diamlah, tak usah banyak protes! Paling tidak, malulah sedikit dengan apa yang sudah kalian lakukan. Biarkan aku yang membereskan semuanya dengan caraku sendiri tentunya!!"


Marah Attala yang lantas berbalik memunggungi Natalie dan Alex, yang kemudian Attala pun pergi ke arah ruangan lain kastil tersebut.


Natali mendengus, lalu menoleh ke arah Alex.


"Pergilah temani Nadia."


Kata Natalie.


Alex mengangguk.


Pemuda itu lantas mencari ruangan di mana Nadia tadi dibawa Attala.


"Nadia... Tenanglah, aku ada di sini... Nadia...tenanglah, aku ada di sini."


Kata Alex sambil menuju ruangan di mana ia dengan jelas merasakan keberadaan Nadia di sana.


**--------------**