
Hari terakhir di London, Zizi minta ijin pada Mamanya pergi berdua dengan Shane.
"Jangan cuma berdua Zi, ajaklah pengawal."
Kata Zia saat Zizi minta ijin.
"Baiklah, nanti Zizi akan ajak Aunty Maria."
Ujar Zizi.
Zia mengangguk.
"Ya, baiklah, ajak juga sekalian Paman Marthinus jika ada serangan yang terlalu berbahaya. Lagipula, laki-laki dan perempuan jangan suka berdua saja, nanti yang ketiganya setan."
Ujar Zia.
"Kan Zizi ajak Aunty, dia setannya, jadi aman."
Sahut Zizi.
Haiiish... Zia mendesis sambil geleng-geleng kepala.
Jawaban Zizi selalu saja bisa membuat darah Zia naik, tapi herannya bener.
Dan akhirnya, keputusan diambil Zizi dan Shane pergi dengan ditemani Maria yang akan mengawal bersama Marthinus.
"Mau ke mana?"
Tanya Shane.
"Ke mana saja, asal Zizi bisa bicara panjang lebar dengan Kak Seng."
Jawab Zizi saat menemui Shane di kamarnya.
Shane yang beberapa hari ini tenggelam dalam acara belajarnya, akhirnya demi Zizi, ia pun menutup bukunya.
"Baiklah, tunggu sebentar di luar Nona, saya harus membersihkan diri dan ganti baju."
Kata Shane.
Zizi mengangguk, lalu keluar dari kamar Shane.
Tepat saat keluar dari kamar Shane, Nancy ternyata sudah berdiri di sana, seolah sengaja menunggu Zizi.
Zizi jadi salah tingkah, takut calon mertuanya menganggap Zizi dan Shane baru saja melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan sebelum menikah.
"Zizi, kamu anak manusia, jadi harus hidup seperti manusia. Jangan melakukan sesuatu yang tidak dibolehkan sebelum menikah, kalau sampai begitu, Mama akan berdoa kamu jadi kucing saja."
Begitulah nasehat Mamanya pada Zizi.
"Ngg... Zizi cuma habis bicara sama Kak Seng, cuma mau jalan-jalan saja, Kak Seng juga tadi lagi belajar, sungguh."
Kata Zizi pada Nancy dengan gugup.
Nancy tersenyum.
"Tidak apa Nona, saya percaya kalian berdua tidak akan melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan."
Ujar Nancy.
Zizi nyengir lega.
Ya tentu saja, Zizi tak akan melakukannya, lagipula jangankan melakukannya, memikirkan saja Zizi tidak suka.
"Nona."
Panggil Nancy yang kemudian sambil mengulurkan satu kotak berukuran sedang ke arah Zizi.
Kotak berwarna biru muda yang dihias sebuah pita cantik berwarna putih itu diterima Zizi.
"Untuk Nona, pakailah jika Nona dalam perjalanan."
Kata Nancy.
"Apa ini Bu?"
Tanya Zizi yang sekarang mulai memanggil Nancy dengan sebutan Ibu.
Ah yah, Zizi masih ingat bagaimana juga dulu Nancy menyelamatkannya saat hampir terbunuh manakala dalam pertempuran melawan Ruthven dan pasukannya.
Zizi berhutang nyawa pada Nancy dan Shane, jadi Zizi tentu tak akan melupakan itu.
"Boleh Zizi buka di sini?"
Tanya Zizi.
Nancy tersenyum sambil menggeleng.
"Nanti saja Nona, simpan saja dulu di kamar, saya terlalu malu."
Ujar Nancy sambil menepuk-nepuk tangan Zizi.
"Mohon jangan melihatnya dari harga yang pastinya tak akan seberapa dibandingkan semua hadiah yang justeru telah keluarga Nona Zizi berikan pada Shane."
Lanjut Nancy.
Zizi nyengir.
"Zizi tak pernah menilai sesuatu dari harga, Zizi tak diajari begitu."
Kata Zizi.
Nancy tersenyum lagi.
Nancy akhirnya undur diri karena harus menyiapkan makan untuk para pengawal.
Zizi juga akan kembali ke kamar untuk menyimpan hadiah dari Nancy, lalu bersiap pergi bersama Shane.
Maria melayang dari lantai atas menuju lantai satu manakala Zizi akan naik lagi.
"Zi, katanya kita mau kemon."
Ujar Maria.
Zizi mengangguk.
"Iya ini Zizi mau ke kamar, nyimpen hadiah dari Ibu Kak Seng, sekalian ambil jaket."
Kata Zizi.
"Oke beb."
Sahut Maria yang lalu memakai kacamata hitamnya.
Jiaaah pake gaun pake kacamata hitam. Batin Zizi melihat penampilan Maria.
Turun ke lantai satu, di sana tampak ada Paman Nicx yang baru saja datang untuk menemui Mama terkait beberapa dokumen penting Paman Marthinus.
"Zizi pergiiii..."
Kata Zizi ke arah ruang keluarga di lantai satu di mana ia tahu Mamanya ada di sana sedang menunggu Nicx.
"Pergi dulu Paman."
Kata Zizi pula pada Nicx.
Tampak Nick mengangguk.
"Ya, hati-hati Nona."
Kata Nicx.
"Okay."
Zizi mengacungkan jempolnya.
Shane muncul dari arah belakang, membungkuk sebentar ke arah Nicx, lalu menggandeng tangan Zizi keluar dari rumah.
"Zizi yang bawa mobil ya Kak Seng."
Pinta Zizi.
Shane menggeleng.
"Tidak boleh Nona, saya yang akan bawa."
Kata Shane tegas.
Zizi menghela nafas.
"Ya...h, baiklah."
Zizi mengalah, ia tak berani mendebat Shane karena dari jaman dulu, Shane tiap bicara dalam nada serius maka tak pernah suka dibantah dan diajak debat pula.
Daripada jalan-jalannya gagal, jadi lebih baik manut saja.
Di luar rumah ada dua mobil yang sudah disiapkan pengawal.
Satu mobil untuk Zizi dan Shane, sedangkan satu lagi untuk Paman Marthinus yang juga akan ditumpangi Maria.
Maria sendiri bahkan sudah siap di dalam mobil yang akan dikendarai Marthinus, dengan tetap memakai kacamata hitamnya pasti.
Marthinus dari dalam rumah juga terlihat muncul menyusul Zizi dan Shane.
Dengan setelan baju pengawal Alpha Centauri, Marthinus keluar dengan tongkat dan kacamata hitam juga.
Zizi menatap Marthinus dengan mengerutkan kening.
"Anda pasti terkesima bukan Nona? Melihat penampilan Paman mu ini yang makin mirip dengan Papa?"
Marthinus kepedean.
Zizi cekikikan.
"Paman pakai tongkat dan kacamata hitam, kalau di Indonesia nanti dikira tukang pijat."
Ujar Zizi.
Mendengar itu Shane mesem dan Paman Marthinus melongo.
"Tapi tak apa Paman, anggap saja Paman adalah tukang pijat keren.
Kata Zizi menghibur.
Marthinus tersenyum sambil mengangguk.
Ya, yang penting ada kerennya juga sudah lumayan.
Shane menuju mobil bersama Zizi, saat keduanya masuk, sepasang mata mengawasi dari tempat yang tak mereka semua sadari.
Cepret.
Cepret.
Pret.
Tiga foto diambil dari sepasang mata daripada mata-mata.
Shane duduk di belakang kemudi, Zizi duduk disampingnya dan mulai memakai sabuk pengaman.
Mereka membuka bagian atas mobil. Zizi memakai kacamata hitam, begitu juga Shane.
"Kita pergi sekarang."
Kata Shane.
Zizi mengangguk.
Mobil pun melaju.
Di belakangnya mobil Shane dan Zizi, tampak Marthinus yang telah siap di belakang kemudi juga bersiap menyalakan mesin mobilnya dan...
Wuuuuss...
Melesat.
"Sepertinya hari ini mendung."
Kata Maria.
"Ya, kau benar, sepertinya akan hujan, dua anak muda itu harusnya tak usah membuka atap mobilnya."
Ujar Marthinus.
"Ya anak muda memang aneh, sudah tahu mendung malah atap mobil dibuka."
Kata Maria pula.
Ya keduanya merasa Zizi dan Shane benar-benar konyol.
Tak merasa jika langit sangat cerah hari ini. Tak mereka jika suasana temaram yang mereka lihat bukan karena mendung, namun karena kacamata hitam mereka.
Tak merasa jika Zizi dan Shane juga tengah membicarakan kekonyolan dua pengawal nya itu.
Dan keempat nya belum merasa jika ada sesosok yang mengawasi mereka.
**------------**