Zizi

Zizi
233. Dari Hati Ke hati


Arya dan Zizi sejenak saling berpandangan, namun hanya sekilas lalu saat kemudian Arya lebih dulu memalingkan wajahnya dan kemudian cepat berjalan mendahului Zizi menuju ke dalam rumah.


Maria yang duduk di atas atap mobil menggelengkan kepalanya.


"Kejarlah Zi, bicara dengan baik dan benar."


Kata Maria.


Zizi menghela nafas.


Rasanya untuk Zizi berurusan dengan hantu atau siluman jauh lebih mudah dibandingkan manusia.


Zizi akhirnya berjalan meninggalkan mobilnya untuk menyusul Arya.


"Kak."


Panggil Zizi.


Tapi Arya seolah berpura-pura tak mendengar, ia terus saja berjalan tanpa menoleh apalagi berhenti.


Arya menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana kamar dia dan Zizi ada di sana.


Kamar yang sejak mereka masih kecil bersebelahan.


"Kak Arya, tunggu..."


Kata Zizi sambil berlari menaiki anak tangga untuk mengejar Arya.


Tapi, Arya tetap acuh tak acuh. Sepertinya Arya enggan bicara lagi dengan Zizi karena ia takut akan semakin sulit melupakan kenangan mereka.


Hingga akhirnya Arya sampai di depan pintu kamar dan membukanya, Zizi barulah bisa mendapatkannya.


"Kak, kenapa pura-pura tidak dengar?"


Tanya Zizi saat Arya akhirnya masuk ke dalam kamar, membiarkan pintu kamarnya terbuka dan Zizi ikut masuk ke sana.


Tampak dua koper pakaian dan juga dua tas ransel serta tiga dus besar entah berisi apa saja ada di dalam kamar Arya.


Zizi celingak-celinguk,


"Kak Arya mau ke mana?"


Tanya Zizi pada Arya yang tampak duduk di tepi tempat tidur.


"Pindah."


Jawab Arya.


Zizi mengerutkan kening.


"Pindah? Kenapa?"


Zizi menghampiri Arya sambil menatap semua bagian kamar itu yang kini telah benar-benar bersih dari barang-barang milik Arya.


"Kenapa kamu harus tanya sesuatu yang kamu tahu jawabannya?"


Arya balik tanya.


Zizi menatap Arya.


"Memangnya kenapa? Zizi memang tidak tahu kenapa Kak Arya harus pindah."


Sahut Zizi.


(Ar, cewek ini bolot, be o el o te, bolot... boloooot)


Arya menghela nafas.


"Aku tidak mau melihatmu lagi Zizi."


Kata Arya akhirnya.


Mendengarnya tentu saja Zizi terkejut.


Apa?


Tidak mau melihat Zizi?


Kenapa?


"Kamu akan menikah dengan Shane, alasan apalagi yang aku butuhkan untuk lebih baik pindah dan tak perlu bertemu lagi denganmu."


Kata Arya akhirnya menyadari bicara dengan Zizi harus jelas.


Zizi kakinya menarik kursi meja belajar di dekatnya.


Ya bisa dibayangkan, di depan laki-laki yang sedang mengungkapkan patah hatinya pun Zizi masih bisa beraksi dengan kakinya.


Kursi itu ditarik mendekat, dan kemudian Zizi duduk di sana.


Menghadap Arya.


Menatap laki-laki berseragam polisi yang tampak begitu keren dan gagah.


"Kak Arya benci Zizi?"


Tanya Zizi lirih.


Nada suaranya seperti sedih, tapi mukanya biasa saja.


Arya menghela nafas lagi.


"Aku tidak bisa membenci gadis sepolos kamu Zi, tapi ini membuatku makin terluka."


"Kak Arya terluka?"


"Kak Arya tertembak?"


"Atau siluman ular itu? Kak Arya bertemu siluman ular?"


Zizi benar-benar juara dalam kontes bolot Internasional.


Arya mengurut keningnya.


Kata Arya putus asa.


Zizi matanya membulat.


Wajahnya yang cantik dan polos tampak berekspresi yang sulit diartikan oleh Arya.


Tapi...


Ah... Arya cepat mengalihkan tatapannya lagi. Wajah Zizi yang begitu yang tak pernah ia lihat pada gadis manapun.


Gadis lain yang pandai berwajah manis, berkata pura-pura, tersenyum ramah tapi palsu.


Zizi tidak begitu.


Gadis itu sangat apa adanya.


Dia polos. Dia tulus. Dia apa adanya.


Arya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku akan pindah, ini akan lebih baik untuk kita Zizi, kamu bisa bahagia dengan Shane, dan aku akan memulai hidupku lagi dari awal."


"Aku pernah menyukaimu Kak, sangat menyukaimu, tapi kamu mungkin tidak tahu."


Kata Zizi tiba-tiba.


Arya yang semula menundukkan pandangannya akhirnya menatap Zizi lagi.


Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.


"Aku selalu minta pulang ke Indonesia, karena aku ingin bisa bertemu Kak Arya."


Ujar Zizi.


Arya terdiam, matanya terasa panas...


"Sampai akhirnya Zizi sadar, bahwa Zizi tak seperti gadis kebanyakan. Zizi memiliki beban yang berat untuk ditanggung. Zizi juga harus menghadapi banyak sekali masalah dengan mahluk lain."


Zizi terdiam sebentar.


Berusaha keras untuk tidak mau menangis.


"Zizi mungkin tidak cerdas, kalau kata othor Zizi itu bolot, padahal dia yang bikin Zizi bolot. Tapi Zizi juga tetap punya hati. Kak Arya, buat Zizi adalah cinta pertama Zizi, mungkin ini terlambat, tapi tidak ada salahnya Kak Arya tahu supaya kak Arya mengerti kalau Zizi sebetulnya pernah menganggap Kak Arya sangat istimewa."


Arya tak kuasa menahan air matanya.


Satu titik bening menetes dari kedua matanya yang sayu.


"Maaf jika akhirnya Zizi memilih Kak Seng, bukan karena Kak Arya tidak istimewa buat Zizi, tapi ini karena takdir kita terlalu jauh berbeda Kak."


Lirih Zizi.


"Sampai mati, Zizi akan selalu menghadapi masalah dengan mahluk dari dunia lain, makin ke sana yang dihadapi makin berbahaya, Zizi tidak bisa menghadapinya seorang diri."


Arya terdiam.


Ia mencoba mencerna semua kalimat Zizi dengan baik.


"Zizi harap, Kak Arya akan bertemu gadis biasa yang benar-benar manusia. Gadis yang baik, gadis yang akan bisa bersama Kak Arya hidup normal."


Ujar Zizi tulus.


Arya kembali menitikkan air mata.


"Jangan benci Zizi, tidak usah terlalu jauh pergi dan menghindar, Mama dan Papa nanti akan sedih, karena untuk mereka, Kak Arya juga sudah seperti anak mereka sendiri."


Pinta Zizi penuh harap.


Arya tersenyum getir.


Mendengarkan kata-kata Zizi entah kenapa tiba-tiba ia merasa seperti hampir bersikap tidak dewasa dan juga sangat kolokan.


"Setelah menikah pasti Zizi tidak akan tinggal di sini, Kak Arya tugasnya kan di Bogor, tetaplah tinggal dengan Mama, biar dia tidak kesepian karena masih ada satu anak lagi di rumah."


Arya menatap Zizi yang matanya sudah berkaca-kaca tapi ia tahan agar tak sampai jatuh.


Gadis yang kuat, memang begitulah nyatanya sosok Zizi.


"Kak Arya bisa janji sama Zizi?"


Tanya Zizi.


"Janji apa Zi?"


"Takdir tak bisa menjadikan kita pasangan, tapi kita bisa jadi saudara kan Kak? Berjanjilah tetap jadi anak laki-laki untuk Mama dan Papa."


Dan...


Seketika semua kenangan tentang kebaikan Zia dan Zion pada diri Arya langsung terbayang oleh pemuda itu.


Cukup lama Arya diam, dan Zizi juga hening tak bersuara lagi, berusaha menahan air matanya tak jatuh dengan menatap sekeliling ruangan.


Lalu...


"Baiklah Zizi, baiklah Kak Arya janji."


Kata Arya akhirnya.


Zizi tersenyum lega menatap Arya.


Arya lantas memalingkan wajahnya sebentar.


"Jangan tersenyum semanis itu, nanti aku jatuh cinta lagi."


Keluh Arya.


Haiiiish... Maria dan Zanuba di luar mendesis.


Kedua mahluk itu ternyata mengintip dan menguping. Sangat tidak berakhlak.


**-------------**