Zizi

Zizi
58. Aku Ra Popo


"Darah Bandapati, tak diragukan lagi ia memang Naga kecil dalam wujud manusia."


Gumam perempuan tersebut.


Zizi baru akan melompat untuk menghajar perempuan siluman itu, manakala tiba-tiba terdengar suara langkah yang sangat besar.


Zizi menoleh ke arah belakangnya, dan kini terlihat mahluk yang sangat besar berdiri di sana.


Mahluk itu seperti laki-laki tua pendek namun ukurannya sangat besar, kulitnya seperti lembek dan berlendir berwarna hijau.


Tangannya seperti kaki-kaki gurita yang menjulur ke arah Zizi.


Zizi melompat dengan cepat.


Mahluk itu tampak menyeringai, Ia kemudian menoleh pada Papa Jerry yang sekarat dan kini di gantung di dahan sebuah pohon besar.


Lidah mahluk itu menjulur ke arah Papa Jerry yang sekarat, air liurnya yang beraroma anyir tercium hingga ke tempat Zizi berdiri.


Zizi rasanya ingin muntah, apalagi saat kemudian makhluk itu seolah akan menyantap Papa Jerry.


Zizi melemparkan kayu dalam genggamannya ke arah mahluk itu dengan cepat, tampak ia melompat ke arah perempuan cantik jelmaan siluman gurita yang menjelma ratu kidul.


Zizi menarik rambutnya, membantingnya dengan keras lalu menghantamnya berkali-kali.


Mahluk seperti kakek tua dengan tangan macam gurita itu memekik melihat perempuan gurita di hadapannya kini sekarat di tangan Zizi.


Mahluk itu tampak marah, dan Zizi menyeringai puas.


"Kau mengajakku main-main, baiklah."


Kata Zizi, yang tak ingin membuang waktu, ia langsung berlari, melompat ke atas pohon dalam tiga kali lompatan, dan kemudian seperti terbang Zizi meloncat ke atas kepala mahluk itu.


Tangan gurita makhluk itu berusaha membelit tubuh Zizi, namun Zizi yang sangat lincah justeru menangkal tangan gurita mahluk itu, menariknya dengan kasar ke belakang, dan kemudian dengan gerakan cepat kembali menangkap tangan gurita mahluk itu lagi.


Zizi terus bergerak ke sana ke mari, bolak balik bolak balik, membuat mahluk itu matanya jadi juling.


Hingga lama-lama, Zizi menendang mahluk itu hingga terjungkal ke depan.


Tangan guritanya yang kini dikepang dua oleh Zizi jelas tak lagi bisa melakukan perlawanan.


Zizi cekikikan melihat siluman itu kemudian terus menggelinding, Zizi mengejarnya, mendorongnya dengan keras hingga sampai ke tepi tebing.


"Ampun Nona... Ampun."


Zizi menyeringai.


Jelas Zizi bukanlah Zia, Mamanya yang berhati lembut dan baik.


Zizi tak mau tahu, ditendangnya mahluk yang memohon ampun itu hingga terjun bebas ke bawah.


Zizi melambai dengan puas.


Zizi baru akan berbalik, membereskan perempuan jelmaan gurita saat angin besar tiba-tiba menerjang ke arah Zizi, membuat tubuh Zizi terpental dan tahu-tahu Zizi tepi pantai.


Pagi sudah menjelang, terlihat banyak orang berada di tepi pantai, dari pihak hotel, TNI, Polisi hingga petugas SAR bahkan juga berada di sana.


Zizi terbatuk karena menelan air laut.


"Itu lihat di sana!"


Terdengar suara berisik orang berlarian menuju tempat tak jauh dari Zizi kini mulai keluar dari air dan mulai berjalan ke bibir pantai.


Zizi yang basah kuyup terlihat menggigil, ia mengusap wajahnya yang basah oleh air laut.


Orang berduyun-duyun ke arah tempat yang tak jauh dari Zizi tiba-tiba muncul namun anehnya tak ada yang menyadari.


Fokus mereka lebih kepada tubuh laki-laki muda yang kini dalam kondisi mengenaskan.


Zizi menghela nafas.


Papa Jerry tak bisa selamat, tapi paling tidak mayatnya bisa kembali ke alam manusia.


Zizi kemudian melihat hantu Papa Jerry keluar dari lautan, ia terlihat pucat pasi macam orang linglung, mengikuti tubuhnya yang kini digotong petugas dan diikuti banyak orang yang ada di sana.


Mama Jerry dan Jerry terlihat berlari menyambut kedatangan jenazah Papa Jerry, mereka menangis histeris, sementara hantu kecil yang sebelumnya dijadikan tumbal terlihat minta digendong hantu papa Jerry.


Zizi berjalan terhuyung dengan tubuhnya yang basah kuyup, ia akan ke kamarnya di hotel, saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya.


"Nona."


Terlihat kini Shane berdiri menatap Zizi dengan mata berkaca-kaca.


"Saya mencari anda dari semalam."


kata Shane.


Zizi tersenyum.


"Aku baik-baik saja Kak Seng, jangan khawatir."


Kata Zizi.


Shane tanpa berkata apapun kembali menarik tangan Zizi dan kemudian memeluknya erat.


"Berjanjilah untuk tidak menghadapi apapun sendirian nona."


Zizi yang tubuhnya basah membuat baju dan tubuh Shane jadi ikut basah, tapi Shane tak peduli, buatnya setelah semalaman mencari Zizi yang tak jelas nasibnya membuatnya mau mati, dan kini bisa melihat Zizi baik-baik saja tentu adalah kebahagiaan yang tak ternilai.


"Zizi sudah menyelesaikan hutan kedua, kita tinggal lima hutan lagi. Ayo bersiap Kak Seng."


Kata Zizi yang kemudian melepaskan diri dari pelukan Shane.


"Nona."


Panggil Shane.


Zizi mengangguk.


Kedua mata mereka kini saling bertemu.


"Jika saya bisa menjadi manusia, apa kita bisa bersama?"


Tanya Shane.


Mendengar pertanyaan Shane tampak Zizi terkesiap.


"Jika kita bisa bersama, saya akan berusaha mencari penawarnya, bagaimanapun caranya."


Ujar Shane.


Zizi terdiam, ditatapnya wajah Shane yang tampan.


Kenangan saat baru pertama melihat Shane lima belas tahun lalu pun rasanya seperti kembali terlintas.


Begitupun dengan semua yang telah mereka lalui selama lima belas tahun itu.


Ya, lima belas tahun, tentu bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan, bahkan Zizi merasa ada rasa ketergantungan pada dirinya atas kehadiran Shane.


Shane menatap dalam-dalam mata Zizi yang bulat dengan bulu matanya yang lentik.


Kedua mata indah itu adalah salah satu yang paling Shane sukai dari Zizi sejak dulu.


Shane pelahan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zizi.


Zizi menutup kedua matanya pelahan.


Jantungnya berdegup lima kali lipat seperti nyaris melompat dan lari menyamai kuda pacu.


Shane meraih wajah Zizi dengan lembut, dan...


Blekutuk... Blekutuk... Blekutuk...


Shane dan Zizi dengan wajah yang kini hanya berjarak lima senti itupun berpandangan lagi.


Zizi kemudian tampak tersenyum kecil ke arah Shane, yang seketika membuat Shane mengerutkan kening.


"Maaf Kak Seng, itu suara perut Zizi. Rasanya setelah bertarung, Zizi lapar lagi Kak Seng."


Kata Zizi merusak suasana.


Shane menghela nafas, ia mengusap kepala Zizi lalu akhirnya menjauhkan wajahnya dari Zizi.


Bersamaan dengan itu Maria tampak melayang ke arah mereka sambil meneriakkan nama Zizi dengan semangat.


"Zizi... Kau kah itu?"


Maria bahagia luar biasa, ia menghambur ke arah Zizi dan memeluk anak asuhnya dengan senang.


"Apa yang terjadi semalam?"


Tanya Maria.


Zizi nyengir.


"Ceritanya panjang, nanti saja Zizi ceritakan, yang penting sekarang Zizi mau mandi dan makan, karena kita harus pergi ke hutan ketiga."


Kata Zizi.


"Hey, hutan ke dua dong Zi."


Maria mengingatkan.


Zizi menggeleng.


"Semalam Zizi berada di hutan ke dua, kita akan masuk hutan ke tiga nanti malam, dan sepertinya jika ditarik jalur yang sama, kita bisa menemukan jalan masuknya di perbatasan kota Aunty, jadi kita akan ke sana nanti malam, bersiaplah."


Kata Zizi.


Maria mengangguk.


"Tenang saja, Aunty selalu siap."


Zizi mengacungkan ibu jarinya, lalu berjalan menuju hotel seolah tak ada kejadian apa-apa sebelumnya.


Ah ya, aku ra popo. Batin Shane sabar.


**-------------**