
"Kak Arya hari ini bisa lihat hantu?"
Tanya Zizi pada Arya yang tampak agak merinding melihat si gadis hantu.
Si gadis hantu mendengus ditatap Arya sambil merinding.
Dia belum tahu kalau aku bunganya sekolahan. Gerutu di gadis hantu dalam hati.
"Siapa namamu?"
Tanya Arya pada si gadis hantu.
"Kuntilania."
Jawab si gadis hantu.
"Kuntilania?"
Arya garuk kepala.
"Kuntilanak bernama Nia."
Kata Zizi menjelaskan maksud si hantu.
"Nah tuh, si nona tajir melintir kesambar petir aja paham."
Kuntilania menjentikkan jarinya.
Plak!!
Zizi menabok kepala hantu bocah itu.
"Aduh mpok, copot nanti kepalaku!"
Omel si gadis hantu.
Sudah jelas kan ya, dia anak lahiran jaman now. Cara bicaranya saja pada orang yang lebih tua begitu, berani nyolot.
"Kamu nyumpahin aku kesambar petir, kamu tuh nanti kesambar petir sampe jadi popcorn."
Kesal Zizi.
"Ah enak tuh Nona tajir, jadi pengen makan popcorn aku."
Si gadis hantu mengelus perutnya.
Ia baru sadar sudah berapa hari gentayangan tidak pernah makan.
"Nanti minta traktir Kak Arya."
Kata Zizi seenaknya.
Haiiish...
Arya tampak bergidik karena si gadis hantu tampak tersenyum senang, saking senangnya bibirnya terlalu lebar tersenyum sampai sobek.
"Aduh... Kelewatan."
Si gadis hantu menepuk pipinya kanan kiri, membetulkan bentuk bibirnya lagi.
"Tiga hari lalu sepertinya memang ada laporan anak hilang, bisa jadi salah satunya adalah dia."
Ujar Arya pada Zizi.
"Ya tolong atur sajalah Ka, soalnya aku ada urusan yang lebih penting."
Ujar Zizi.
"Jadi kamu ngga ikut Kak Arya?"
Tanya Arya kecewa.
Zizi menggeleng.
"Bawa saja dia dan selesaikan kasusnya. Ah iya, tadi kata dia salah satu pembunuh wanita yang memangku boneka itu ada yang terjatuh ID card nya, coba Kak Arya beritahu petugas yang lain agar menyisir daerah sekitar mayat."
Kata Zizi.
Arya mengangguk.
"Ya baiklah, biar kak Arya urus semuanya."
Arya menyanggupi.
Zizi mengangguk lalu menoleh pada Shane, Maria dan Mbak pocong.
"Kita kembali ke tujuan sekarang Kak Seng, Aunty, mbak."
Zizi pada ketiga anggota tim absurdnya.
Kuntilania memperhatikan bola mata Arya saat menatap Zizi, lalu kuntilania terlihat cengar-cengir penuh arti.
Sebagai anak yang sudah duduk di bangku SMA, kuntilania sudah cukup ahli mengenali tatapan laki-laki bucin pada perempuan, dan ia tahu betul jika manusia bernama Arya itu bucin pada si Nona Tajir.
"Eh Bar A Er, mayatku dong ambil dulu, nanti keburu busuk."
Kata Kuntilania menyenggol lengan Arya yang malah asik bengong menatap Zizi.
"Oh eh iya..."
Arya tergagap.
"Huuu... Udah kelihatan bakal lama naik pangkat, oon sih."
Gerutu Kuntilania.
Arya kemudian pamit pada Zizi untuk bergabung dengan anggota kepolisian lainnya yang kini mulai sibuk memasang garis polisi.
Mayat wanita yang memangku boneka sudah dibawa turun oleh petugas lain.
"Ada satu mayat lagi di jurang bekas jatuhnya pesawat Sukhoi."
"Apa kamu bilang Ar?"
Teman Arya yang kini sedang memasang garis polisi di sekitar TKP memandang Arya dengan heran, begitu juga dengan yang lain.
"Laporan gadis SMA hilang, coba tanyakan informasinya ke kantor, aku butuh ditemani dua orang ke tempat jatuhnya pesawat."
Kata Arya lagi.
"Tahu darimana kau Ar?"
Tanya teman polisinya heran.
Ah tidak! Sebetulnya ini bukan kali pertama Arya bersikap seperti memiliki indra keenam. Kasus menghilangnya Nyonya Tien Mintje beberapa waktu lalu juga Arya terlibat penyelidikan dan hasilnya semua valid.
Kedua teman polisi Arya mengikuti Arya ke tempat di mana sebetulnya ditunjukkan Kuntilania.
Arya hanya tinggal mengikuti gadis hantu itu saja, sedangkan kedua teman Arya mengikuti Arya yang dikira memang tahu dengan sendirinya.
Sementara itu, di saat Arya dan kedua teman polisinya mengikuti Kuntilania ke tempat mayat si hantu itu dibuang, Zizi dan yang lain bergerak meninggalkan TKP wanita memangku boneka.
Zizi dan Shane berserta Maria dan mbak pocong kini menuju gerbang gaib.
Gerbang gaib menuju tanah Dalu di mana banyak lelembut yang merupakan rakyat kerajaan Dalu itu masih berada di tempat yang sama.
Di mana gerbang itu berada di antara rerimbunan pohon besar tua yang berada di tengah hutan yang agak jauh dari jalur pendakian.
Gerbang itu tak bisa dilihat manusia biasa jika memang ia tak dikehendaki bisa masuk.
"Kita temui Putri Arum Dalu lebih dulu, aku harus tahu, bagaimana cara memastikan yang nantinya kita selamatkan adalah Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak."
Ujar Zizi.
"Bukankah kau ke Merapi untuk membersihkan Jayapada Zi?"
Maria seolah mengingatkan.
Zizi mengangguk.
"Tapi dulu Zizi sudah janji, pantang buat Zizi menyalahi janji. Ksatria tak boleh mengabaikan janjinya!"
Kata Zizi.
Maria geleng-geleng kepala.
Begitulah memang bocah itu sejak kecil, tak bisa mengabaikan masalah orang lain, maunya semua dia tolong, bahkan kadang ia jadi sering mengabaikan keselamatannya sendiri.
Ya, Maria masih ingat saat Zizi sampai nyaris cedera karena berurusan dengan iblis kecil saat di Inggris.
Begitu juga saat masalah Amanda, Zizi juga hampir celaka.
Dan...
Ah rasanya tak bisa disebutkan satu persatu, apalagi jika itu berurusan dengan saudara sepupunya, si Eva dan Ali, sudah pasti Zizi akan selalu mengabaikan apapun asal bisa menyelamatkan mereka.
Zizi kini melangkah pelahan mendekati sebuah pintu gerbang yang seperti cahaya dengan kilau keemasan.
Diulurkannya tangan kanannya pada cahaya yang seperti gerbang itu.
Dan begitu tangan Zizi menyentuh cahaya itu, pelahan cahaya itu seperti terbuka.
Terlihat kemudian hamparan tanah Dalu yang subur dan indah.
Zizi melangkah masuk diikuti Shane dan Maria yang melayang di belakang Zizi, mbak pocong juga memantul dengan semangat dan jatuh di atas rerumputan yang hijau segar di pandang mata.
Mbak pocong pelahan berubah menjadi perempuan dengan gaun terusan sepanjang lutut dan rambut panjang sebatas bahu dan tampak bergelombang.
Zizi, Shane dan Maria menatap mbak Pocong yang kini menjadi seperti manusia.
"Kau berubah?"
Maria takjub.
Mbak pocong mengangguk.
"Para lelembut begitu masuk ke dunia mereka akan berubah seperti manusia pada umumnya."
Kata mbak pocong.
"Haiiish, jadi ngapain kamu nyiksa diri di alam manusia pake kostum begitu?"
Zizi geleng-geleng kepala.
"Lha kita mah ngikutin imajinasi liar manusia, kebeneran aku pertama dibayangin orang bentuknya pocong, ya udah aku jadinya pocong, coba pertama bayangin aku jadi kunti."
Kata mbak pocong.
"Ah kalau aku yang pertama bayangin ya kamu Babi lah."
Seloroh Maria terpingkal.
"Sialan, diinget terus sejarah tragis akoh."
Mbak pocong yang telah kehilangan seragam pocongnya langsung ngedumel.
Zizi dan Shane kini menatap jauh, di mana hamparan tanah luas dan barisan bukit terlihat di depan sana.
"Kalian siap?"
Tanya Zizi sambil tetap menatap barisan bukit di sana, yang nantinya ia akan lewati sebagai jalan pintas ke Merapi.
Dan...
Jaka Lengleng, si ular besar itu pasti ada di hutan belantara yang tumbuh di salah satu bukit itu.
Ia menunggu Zizi, dan pastinya Zizi harus menghadapinya.
**--------------**