Zizi

Zizi
75. Mampir Ke Warung


Zizi dan Shane serta Maria akhirnya keluar dari hutan ke lima.


Mata Zizi langsung mencari dua batu besar di luar hutan untuk keluar dari sana.


Setelah menemukan bebatuan yang dimaksud, Zizi segera menarik tangan Shane untuk bisa cepat keluar dari alam lelembut sebentar.


Menjadi manusia memang merepotkan, terutama manusia seperti Zizi yang sedikit-sedikit lapar dan gerah.


Zizi baru keluar dari alam lelembut saat ia melihat sorot lampu mendekat, untungnya Shane yang ada di belakang Zizi bergerak cepat.


Shane meraih tubuh Zizi dan melesat membawanya ke tepi.


Sebuah truk melintas sangat cepat, bertepatan Zizi dan Shane berada di pinggir jalan raya. Sementara Maria yang baru muncul, disambar truk yang melintas.


Untungnya Maria hantu, jadi truk itu menembus saja.


Haiiish... Zizi geleng-geleng kepala.


"Gila ini jalan keluar paling bodoh. Jalan keluar kok di tengah jalan raya."


Kata Zizi kesal.


Hari sudah gelap saat mereka masuk dunia manusia lagi. Kanan kiri mereka adalah hutan jati, sementara di tengahnya adalah jalan raya.


Maria melayang mendekati Zizi dan Shane.


"Kau tak apa Zi?"


Tanya Maria.


"Kalau nggak ada Kak Seng, aku sudah jadi kayak Aunty juga."


Kata Zizi.


Maria terpingkal.


Shane mengulurkan air mineral pada Zizi agar ia meminumnya.


Zizi menerima air mineral dalam botol yang diberikan Shane padanya, lalu sambil meneguk air dari botol, Zizi melihat ke arah di mana ia melihat ada warung berderet.


Jaraknya dari Zizi kini berdiri sekitar dua ratus meteran saja. Kelip lampu warung-warung itu lumayan semarak.


"Makan dulu ah, sekalian nanya penginapan sekitar sini, Zizi ingin mandi dan rebahan sebentar."


Ujar Zizi.


Mereka kemudian bergerak menuju ke arah tempat di mana lampu-lampu berkelip-kelip.


Beberapa sorot kendaraan yang melintas terlihat.


Kondisi jalan raya sudah cukup bagus, hanya saja kurangnya penerangan jalan sepertinya membuat para pengendara harus lebih hati-hati melintasi daerah itu.


"Kendaraan yang lewat sini pada ngebut."


Kata Maria.


"Pasti mereka takut."


Ujar Zizi.


"Jalan keluar tadi ada di tengah jalan raya, kenapa coba?"


Tambah Zizi lagi, lalu meneguk air mineralnya lagi hingga habis.


"Dari dulu pasti jalan keluar dari hutan ke lima memang di sana, namun manusia membuat jalan raya tanpa sadar tepat di mana pintu keluar hutan ke lima ada."


Kata Shane.


Zizi mantuk-mantuk membenarkan.


"Sepertinya ini jalan tembusan yang baru dibikin ya?"


Maria dan Shane menganggukkan kepala mereka karena sependapat.


"Ini makanya dunia manusia banyak kecelakaan, kadang mereka membangun jalan tanpa dilihat dulu, bersinggungan apa tidak dengan alam lain, lagipula ini harusnya hutan kan, dibangun jalan otomatis merusak sebagian alam lagi."


Kata Maria.


"Manusia diciptakan untuk menjaga bumi, tapi akhirnya merusak bumi. Macam sahabat yang merebut kekasih sahabatnya sendiri, ya kan Aunty."


Zizi cekikikan.


"Kamu mah korban film drama."


Maria geleng-geleng kepala.


Perumpamaan yang tidak jelas. Tapi kalau jelas pasti mereka sedang bicara dengan Zia bukan dengan Zizi. Ya kan? hihihi...


Batas hutan manusia akhirnya terlewati, berganti hamparan tanah sawah yang kering. Dua warung berdiri di sana, seperti warung tenda pecel lele, sekitar dua ratus meter lagi terlihat lampu-lampu beberapa rumah dari perkampungan kecil.


Ada juga di seberang jalan, yang sekitar seratus meter dari warung tenda berdiri sebuah pombensin juga ada di sana.


Zizi baru akan menuju warung tersebut, manakala ada satu mobil minibus mendekat ke arah warung juga.


Mobil berwarna silver metalik itu kemudian berhenti, dan tampak turun sebuah keluarga.


Sepasang suami isteri seusia Mama dan Papa Zizi, dan dua anaknya yang sepertinya seusia Ali, dan yang satunya masih kecil sekitar SD atau SMP.


Keluarga itu masuk ke warung tenda yang juga Zizi akan ke sana.


Zizi melihat plat mobil mereka D, jadi mereka kemungkinan dari Bandung.


Zizi berjalan mendekati warung, keluarga yang tadi baru masuk terlihat sudah duduk mengitari meja dan seorang perempuan dengan rambut disanggul membelakangi Zizi berdiri di dekat meja di mana keluarga itu duduk.


Zizi sejenak mengerutkan kening.


Agak terkejut Zizi melihat pemandangan di depannya.


Perempuan bersanggul yang membelakangi Zizi kakinya tak menapak tanah, punggungnya terlihat ada luka terbuka dengan darah mengalir dari sana, merembes ke pakaian yang ia kenakan, lalu menetes di tanah.


Zizi baru akan melangkahkan kakinya untuk lebih masuk lagi, saat seorang laki-laki gembul masuk ke dalam warung tenda dari arah lain.


Laki-laki gembul dengan wajah rusak separo, dan mata bolong satu itu melihat ke arah Zizi yang melihatnya sambil geleng-geleng kepala.


"Ternyata mahluk gaib pinter jualan juga."


Kata Zizi.


Mendengar suara Zizi, perempuan yang sedang menemui pelanggan untuk mencatat pesanan mereka tampak memutar kepalanya ke belakang.


Zizi melihat ke arah keluarga manusia yang tampak syok, bahkan ada yang sampai jatuh dari kursi.


"Pergi kalian, ini warung hantu."


Kata Zizi.


Keluarga itu langsung lari tunggang langgang masuk ke mobil mereka.


"Kau, mengganggu bisnis kami yang sedang sepi."


Kesal hantu perempuan pemilik warung.


"Lha kalian ini hantu kenapa bikin warung di dunia manusia, harusnya buka saja di alam kalian sendiri."


Kesal Zizi yang juga ikut jadi korban PHP.


Mereka cekikikan.


"Kalian pikir kalau manusia minta penglaris bangsa kami juga harus ikut beli itu uangnya dari mana?"


Tanya mereka.


Zizi melongo.


"Kamu itu bocah tidak tahu apa-apa, banyak orang minta dagangannya laris dikira yang beli manusia semua? Ya bangsa kami juga ikut beli. Kalian pikir manusia jika jualan sesuatu semua yang beli manusia juga? Hahahaha..."


Mereka tertawa.


"Kamu baru lahir kemarin sore, dibandingkan jempol kaki suamiku saja masih lebih tua jempol kaki suamiku."


Ujar si perempuan pemilik warung.


Maria akhirnya melayang menengahi.


"Aku juga hantu tapi tak tahu ada yang semacam kalian ini, jadi tak usah memancing emosi Nona Zizi."


Kata Maria.


Begitu mendengar nama Zizi, kedua mahluk itu melompat kaget naik ke atas meja.


"Jadi kau..."


Mereka menatap Zizi yang mendengus kesal habis dibandingkan dengan jempol kaki.


Apa banget kan? Zizi emosi.


"Sudahlah, kalian lanjutkan saja jualannya, kami tak akan ganggu."


Kata Maria.


Shane meraih tangan Zizi untuk keluar saja dari warung para hantu pedagang itu.


"Kalian harus lega, Zizi tak sampai membuat kalian ce..."


Belum lagi Maria menyelesaikan bicaranya, tiba-tiba...


Brak!!


Zizi menendang kayu penyangga tenda tempat jualan para hantu, walhasil tenda itu roboh.


"Ziziiii..."


Maria melayang keluar di mana Zizi nyengir puas.


Dua hantu itu keluar dari warung tenda mereka.


"Kita impas, kalian udah bikin Zizi kesel dibandingin jempol kaki."


Kata Zizi.


Kedua hantu itu garuk kepala.


Haiiiish... Maria mendesis.


Bocah ini memang ya.


Zizi kemudian melihat ada warung tenda lain tak jauh dari pombensin.


"Nah kalau itu punya manusia, ayo makan di sana."


Kata Zizi sambil akan melangkah menjauh, namun Shane menarik Zizi.


"Kasihan mereka warungnya roboh, setidaknya kasih ganti rugi Nona."


Kata Shane.


"Tapi mereka ngga bener, bikin warung tenda KW yang makan manusia kan kasihan manusia juga makan makanan mereka."


Kata Zizi.


"Yang mereka jual makanan bener Nona, yang mereka katakan juga benar, bahwa ada hubungan yang tak bisa dihindari atas sebagian manusia dengan mereka juga."


Ujar Shane.


"Kenapa Kak Seng tahu?"


Tanya Zizi.


"Karena para vampire juga ada yang bertahan hidup di tengah manusia dan hidup seperti manusia."


Zizi terdiam.


Ternyata serumit itu alam ini.


Zizi akhirnya mengambil ranselnya dari Shane, ada dompet miliknya di sana, Zizi mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu dibawanya ke warung yang roboh.


"Nih, buat ganti rugi."


Kata Zizi pada si laki-laki gembul yang sedang membetulkan tenda warungnya.


"Maaf."


Kata Zizi lagi.


"Jangan jual makanan yang tak bisa dimakan manusia."


Kata Zizi.


Mereka diam menatap Zizi.


"Kalau jual belatung, awas aku robohin lagi."


Zizi meraih tangan laki-laki gembul dan meletakkan uang di atasnya.


"Aku nggak tahu kalian butuh uang untuk jual beli juga, hahahaha..."


Zizi tertawa.


**-----------**


Catatan :


Kalian yang suka traveling, misal mau mampir warung jangan lupa baca doa, kadang ada sebagian mereka memang buka warung di pinggir-pinggir jalan.


Bukan hanya warung tenda sebetulnya, bahkan toko, kios dan juga los di dalam pasar.


Mereka memang sangat dekat dengan kita sehari-hari, hanya kita yang tidak tahu.


Have a nice day gaes