
Sore sebelumnya di Bogor,
"Hari ini pulang cepet Ar?"
Tanya Andi teman Arya.
"Iya Bro, Pamanku ngajak pindahan."
Kata Arya sambil memakai jaket kulit warna hitamnya.
"Pindah? Ke mana?"
Tanya Andi.
"Jakarta."
Sahut Arya yang lantas meraih kunci mobil dan hp nya, lalu beranjak dari mejanya.
Beberapa rekannya terlihat masih sibuk dengan urusan kasus yang mereka tangani, sementara Arya pamit saja.
Andi yang mejanya bersebelahan dengan Arya tampak geleng-geleng.
"Aneh, bagus tinggal di rumah mewah, dekat kantor, malah pindah ke Jakarta."
Andi bergumam tak jelas sambil memperhatikan Arya yang menjauh menuju pintu keluar.
Arya yang tak mendengar gumaman Andi tampak melenggang menuju mobilnya, ia berniat akan mampir beli kebab sebentar di tempat langganannya untuk ia bawa pulang.
Arya masuk mobil, dan kemudian bergegas tancap gas dari sana.
Jalanan kota Bogor tak seberapa padat jika dibandingkan Jakarta, meskipun tetap saja di beberapa titik ada yang menjadi sumber kemacetan pula, namun hal itu masih lebih bisa ditolerir.
Arya terus membawa mobilnya meluncur di atas aspal jalanan kota hujan menuju tempat jualan kebab favoritnya, hingga kemudian ia melihat seorang gadis tengah berlari mengejar dua orang pemuda yang sepertinya baru mencopetnya.
Arya segera melesat membawa mobilnya mengejar dua pemuda yang dikejar gadis di belakang mereka.
Karena jalanan di tempat itu lumayan sepi, gadis itu memang tak bisa minta tolong siapapun.
Hingga dua pemuda itu kemudian masuk ke dalam gang sempit, Arya menepikan mobilnya, berhenti di bahu jalan dan kemudian bergegas turun.
Di atas sana senja mulai merayap di kaki-kaki langit, Arya berlari dan tampak gadis yang mulai kelelahan menangis sambil minta tolong.
"Uang Ibu... Uang Ibu, tolong itu uang Ibu..."
Kata gadis itu mengiba.
Arya tanpa banyak tanya langsung lari dengan cepat masuk ke dalam gang untuk mengejar dua pemuda yang terlihat membawa tas milik sang gadis.
Arya mengeluarkan pistolnya, dan sambil berlari Arya menembakkan pistol ke langit.
Doorrr!!
Baaaa!!
Eh bukan, maksudnya suara pistol.
Suara pistol meletus.
Dua pemuda yang berlari di depan Arya menoleh ke arah Arya.
"Berhenti!! Ini Polisi!"
Kata Arya.
Tapi, bukannya dua pemuda berandalan itu berhenti, mendengar kata polisi mereka tentu saja makin tunggang langgang karena takut.
Kedua pemuda itu tiba-tiba berpencar, Arya fokus pada yang membawa tas sang gadis.
Arya kembali berteriak,
"Berhenti kataku!!"
Arya yang melihat gelagat pemuda tersebut tak akan menyerah, akhirnya sekuat tenaga mengejar dan begitu sudah agak dekat, Arya melompat ke arah si berandalan tersebut.
Keduanya jatuh ke jalan, Arya dengan sigap langsung berusaha menguasai lawan.
Dikuncinya tangan berandalan itu, ditariknya tas milik sang gadis yang dicuri si pemuda.
Setelah itu, Arya baru akan menyeret berandalan tersebut, manakala tiba-tiba dari tikungan depan di mana di ujung sana kelihatannya adalah jalan buntu, muncul beberapa pemuda penuh tatto.
Mereka ada yang membawa samurai, dan ada pula yang membawa linggis, dan pipa-pipa besar.
Sementara itu, pemuda yang tadi membawa tas curian begitu Arya tampak terkejut dengan kedatangan gerombolan berandalan lain, tiba-tiba mendorong Arya ke belakang dengan sekuat tenaga hingga Arya hampir terguling.
Berandalan itu lantas buru-buru lari menjauh dari Arya, dan kemudian terlihat menghilang dari pandangan, bersembunyi entah ke mana.
Haiiish... Arya mendesis.
Sial!
Umpatnya dalam hati.
Para pemuda dengan senjata-senjata tajam di tangan mereka itu terlihat menyeringai menatap Arya yang kini sendirian.
"Hahaha... Dia pikir dia Himura Kenshin, yang bisa melawan banyak orang sendirian, berani-beraninya mengganggu kita."
Ah entah itu tatto atau korengan, atau bekas cacar air sebetulnya.
"Letakkan senjata tajam kalian! Angkat tangan!"
Kata Arya yang sudah kepalang tanggung terjun ke kolam jadi mandi saja sekalian.
Dan tentu saja, gertak sambalado Arya hanya disambut cengiran saja dari para berandalan itu.
Arya mengarahkan pistolnya ke arah para gerombolan pemuda yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Mereka terlihat berjalan mendekati Arya yang sendirian, hingga tiba-tiba, mereka tanpa basa-basi lagi, langsung saja menyerang Arya.
Senjata tajam yang mereka bawa diayunkan dengan begitu membabi buta.
Arya melawan sekuat tenaga dengan cara menghindari sebisa mungkin terkena senjata mereka.
Arya yang hanya sendiri, di keroyok orang sedemikian banyak dan membawa senjata tajam jelas saja seperti menjadi bulan-bulanan.
Hanya dalam waktu sepuluh menit Arya berusaha bertahan sambil sesekali menyerang balik, akhirnya Arya semakin terdesak.
Dan ketika Arya akhirnya jatuh ke atas jalan, dan salah seorang dari rombongan yang baru datang itu hendak menyabetkan samurai ke arah Arya, tiba-tiba, sebuah kaleng minuman soda yang sudah kosong melayang ke arah kepala berandalan itu.
Tung!
berandalan dengan samurai di tangan itu tampak terkejut, dia tampak celingak-celinguk.
"Siapa yang berani melemparkan kaleng minuman padaku!!"
Geram si berandalan.
"Hihihihi... Hihihihi..."
Terdengar suara perempuan cekikikan kemudian.
Para berandalan itu saling berpandangan satu sama lain.
"Kalian dengar itu? Kalian dengar itu apa hah?"
Tanya si berandalan yang hampir menyabetkan samurai miliknya ke arah Arya.
Para berandalan lainnya mengangguk, bersamaan dengan kemudian mereka melihat ke arah atap gedung kosong yang ada di belakang tembok gang buntu tersebut, di mana di sana tampak perempuan dengan wajah pucat pasi sedang memandangi mereka.
"Waaa... Kun... Kun... Kunciiiii..."
Berandalan yang membawa samurai lari terbirit-birit.
Anak buahnya melongo mendapati laki-laki yang mereka angkat jadi ketua karena bentukannya paling besar sangar dan garang, ternyata malah sekarang ketahuan takut hantu.
Arya terlihat menepuk-nepuk dadanya yang sesak dan masih sedikit terbatuk juga.
Hantu penunggu gedung kosong melayang ke arah Arya.
Arya menatap hantu itu,
"Terimakasih Tante."
Kata Arya meski lumayan takut juga sebetuknya Arya melihat bentukannya.
"Pergilah, jangan biasakan di tempat sepi sendirian anak muda, jangan juga pulang larut, kau memiliki energi aneh yang bisa menjadi incaran mahluk jahat."
Kata si tante hantu mengingatkan.
Arya mengerutkan kening.
Apa maksudnya sih?
Arya kan polisi, masa di kasih pesan begitu. Batin Arya.
Arya baru akan bertanya, manakala gadis yang tasnya dicuri datang dan kemudian melihat Arya lengannya terluka.
"Tuan, anda terluka."
Kata gadis itu melihat darah menetes cukup banyak dari lengan Arya.
Jaket Arya bahkan terlihat sobek terkena senjata tajam.
Arya memaksakan satu senyuman pada si gadis tersebut.
"Tidak apa-apa, hanya luka sedikit."
Ujar Arya.
Lalu Arya mengulurkan tangannya yang memegang tas milik gadis itu, tas yang berhasil di rebut Arya dari salah satu berandalan itu.
"Ini milikmu kan?"
Kata Arya.
Gadis itu tentu saja menangis haru.
"Tuan... Terimakasih... Te... Terimakasih."
**--------------------**