Zizi

Zizi
118. Kedatangan Sang Sepupu


"Hihihihi... Hihihi... Percuma kau minta tolong, enyahlah!!"


Tiba-tiba seperti ada yang mendorong Dewi dari belakang.


Hantu itu meluncur ke bawah, lalu mengambang seraya menengadahkan wajahnya melihat ke atas hotel kini berdiri sesosok perempuan yang rambutnya nyaris menutupi seluruh wajahnya.


Hantu Dewi cepat melayang menghindar, ia begitu ketakutan melihat hantu itu.


"Maafkan aku... Cukup... Maafkan aku..."


Hantu Dewi melayang menjauhi hotel zombie, memilih mengejar rombongan mobil Zion namun sudah tak terlihat lagi.


Aku harus bagaimana, aku harus bagaimana? Jasadku keburu membusuk, jasadku keburu membusuk. Tolong... Tolong...


Hantu Dewi menangis di tengah jalan raya.


Lalu lalang mobil yang melintas menembus tubuhnya yang transparan seperti ubur-ubur.


(Duh othor jadi pengin sarapan bubur)


**----------------**


Di kos Dewi, tampak Dimas akhirnya bertemu dengan Arya.


"Apa semua sudah dimintai keterangan Paman?"


Tanya Arya.


Dimas mengangguk.


"Mereka tak ada yang tahu Dewi pergi dengan siapa hari itu. Terakhir kali ia terlihat pergi dengan pacarnya pun sudah cukup lama, sekitar tiga mingguan yang lalu, setelah itu pacar Dewi katanya tak pernah ke sini lagi."


Ujar Dimas.


Arya melihat ke sekeliling, memastikan di sekitar sana ada CCTV atau tidak.


Hingga...


"Ada minimarket di depan sana, mungkin mereka punya CCTV Paman, kita coba minta tolong melihat rekaman empat hari lalu."


Kata Arya.


Dimas melihat minimarket yang benar memang ada tak jauh dari tempat kos khusus perempuan itu.


Dimas akhirnya pergi bersama Arya menuju minimarket tersebut.


Masuk minimarket Arya yang langsung mengambil sikap meminta tolong pada karyawan minimarket, dengan menunjukkan id nya sebagai polisi, Arya meminta kerjasama mereka agar kasus Dewi bisa menemukan titik terang.


Karyawan minimarket akhirnya mau bekerjasama setelah diyakinkan jika ini tak akan berdampak bahaya atau semacamnya.


Ya banyak orang memang enggan terlibat untuk memberikan kesaksian karena takut akan menerima banyak hal buruk, atau bahkan ancaman dari penjahat.


Arya dan Dimas diajak salah satu karyawan laki-laki menuju ruangan yang kemudian karyawan itu memutarkan rekaman empat hari lalu.


Rekaman dari jam 00.00 WIB.


Arya berdiri di samping kursi karyawan tersebut, matanya tajam mengawasi layar, begitupun dengan Dimas.


Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berlalu.


Hingga akhirnya menjelang subuh, terlihat Dewi keluar dari kos masih dengan setelan baju tidur.


Ia keluar dengan seperti berlari, lalu sempat terjatuh di dekat gerbang rumah kos.


Ia beringsut mundur seperti melihat sesuatu.


Dewi dengan susah payah kembali berdiri lalu berlari melewati minimarket dan sampai di tikungan Dewi tak bisa terjangkau kamera pengawas lagi.


Arya berpandangan dengan Dimas.


"Paman lihat sesuatu? Dewi sepertinya dikejar mahluk yang kita tak bisa lihat."


Kata Arya.


Dimas mengangguk.


Lalu...


"Apa kamu tak lihat apa-apa Ar? Bukankah kamu kadang juga bisa melihat?"


Tanya Dimas.


Arya menggeleng.


"Ini kan rekaman CCTV paman, aku juga hanya melihat apa yang CCTV lihat. Jika itu hantu, dia tak tertangkap di kamera."


Kata Arya.


Dimas mengangguk mengerti.


"Baiklah, terimakasih Dik atas kerjasamanya."


Kata Dimas.


Karyawan minimarket itupun mengangguk.


Arya membeli dua botol minuman ringan kaleng dan juga satu rokok untuk Paman Dimas.


Keluar dari minimarket Dimas kemudian menatap tikungan di mana Dewi terakhir kali terekam.


Mungkinkah ia di bunuh hantu?


Batin Dimas.


**-------------**


Rombongan mobil Zia dan Zion memasuki halaman rumah mereka, Zizi dari dalam bergegas menyambut kedua orangtuanya.


"Waah waah siapa ini..."


Zion tersenyum lebar melihat anak gadisnya berdiri sambil hormat saat Papa dan Mamanya turun dari mobil.


"Anak itu, dikira ketemu Pak Jokowi apa bagaimana pakai hormat segala."


Kata Zia.


"Masih bagus dia hormat Nya, Eyang Sapujagad di tabok."


Maria buka aib Zizi.


Mendengarnya jelas saja Zia sampai mendelik.


"Apaaa?!"


Maria cekikikan sambil menutupi mulutnya.


Haiiish... Zizi mendesis melihat Maria gelagatnya mencurigakan.


Zion memeluk Zizi dengan erat.


"Anak Papa akhirnya pulang dengan selamat, apa ada oleh-oleh buat Papa dari Merapi?"


Tanya Zion seraya melepaskan pelukannya lalu merangkul Zizi untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


"Hmm tadinya Zizi mau bungkusin grandong, tapi dia dibawa Emaknya. hihihi..."


Zizi cekikikan.


"Wah untung saja Emaknya membawa si anak bulu."


Zion tertawa penuh syukur.


"Zizi kamu kok sama Eyang Sapujagad begitu?"


Tanya Zia dari belakang Zion dan Zizi.


Zion dan Zizi menghentikan langkah mereka dan menunggu Zia menjajari keduanya.


"Hmm pasti tadi Aunty kan yang bilang Ma..."


Plak!


Zia menabok lengan Zizi.


"Awww, sakit Mama."


Zizi merengek.


Shane yang terlihat muncul dari dalam membungkuk memberi salam pada Zia dan Zion.


"Nah tu Kak Seng, dia kan saksi juga..."


Kata Zizi sambil melepas rangkulan tangan Papanya, lalu memilih mendekati Shane.


Shane yang masih canggung jika harus berdekatan dengan Zizi di depan Zia dan Zion jadi terlihat gugup.


"Gimana Kak Shane, Zizi bener nabok Eyang Sapujagad?"


Tanya Zia.


"Nabok tapi kan itu reflek Ma... Bukan tiba-tiba nabok."


Kata Zizi membela diri.


"Ya kan Kak Seng?"


Zizi menatap Shane yang kemudian mengangguk.


"Nah kan..."


Zizi senang.


"Tapi Zizi juga nonjok pemimpin siluman kera putih di hutan kemenyan Nyonya, hutan yang dulu dibakar Nenek Bandapati, hahahaha..."


Maria ngompori lagi.


"Iiikh Aunty embeeeer bocooooor..."


Zizi langsung melompat ke arah Maria.


Maria segera melayang dan melesat menembus dinding keluar dari rumah sambil terpingkal-pingkal.


Zizi kesal bukan main dikerjai Maria.


Sementara Zia langsung mengurut tengkuknya yang tegang.


"Aduh obatku Pa... Cepat aku muter-muter kepalanya."


Ujar Zia.


Zion akhirnya merangkul Zia untuk menuju ruang keluarga agar bisa duduk di sofa.


"Sudahlah, kamu kan tahu Zizi memang begitu, jangan dibawa tegang terus."


Kata Zion.


Mbak Ning terlihat tergopoh-gopoh muncul di ruang keluarga, menanyakan pada nyonya dan tuannya butuh apa.


Bersamaan dengan itu di luar sebuah mobil kembali memasuki halaman.


Terlihat Daniel buru-buru membukakan pintu mobil yang baru datang itu.


Seorang anak muda tampan mirip Zion turun dari sana, para pengawal membungkuk memberi salam pada anak muda itu.


"Tuan Muda Ali, selamat datang."


Daniel mewakili yang lain menyambut Ali.


Ali mengangguk seraya tersenyum ramah.


Ali kemudian mengikuti Dave masuk ke dalam rumah.


Zizi yang tadinya baru akan ke ruang keluarga begitu melihat Ali datang langsung heboh menyambut sepupunya.


"Hai brother Ali."


Zizi dan Ali berpelukan.


"Lega sekali bertemu denganmu Kak Zizi."


Kata Ali.


"Hahahaha...pastinya dooong."


Kata Zizi jumawa.


Ali dan Zizi pun saling melepas pelukan.


Ali berjabat tangan dengan Shane.


"Kak Shane, semakin tampan dan keren saja kak."


Puji Ali membuat Shane tersenyum malu.


**------------**