Zizi

Zizi
149. Mata Batin


Zizi menarik kerah belakang baju si hantu om bewok kembali ke tempat di mana Ali dan Maria berada.


"Ampun, salah saya apa ya?"


Tanya si hantu om bewok.


"Salahmu cengar-cengir lihatin sepupuku!"


Kata Zizi.


Ali menatap Zizi.


"Siapa Kak?"


Tanya Ali.


"Ni, tadi lihatin Eva sampai ngeces."


Kata Zizi.


"Hidiiih, nggak inget umur."


Kata Ali.


Zizi mantuk-mantuk.


"Ampun, tidak lagi-lagi, janji."


Kata hantu Om bewok.


"Iyalah, seusia anak sendiri naksir, nggak tahu malu."


Kesal Zizi.


"Mental rusak."


Kata Maria.


Zizi mantuk-mantuk lagi.


"Iya Non, Neng, Mbak, Teh, Mpok, Miss, pokoknya ampun..."


Ujar si hantu Om Bewok lagi.


Zizi menggelengkan kepalanya.


"Mau diampuni jelas tak semudah itu Alfonso!"


Ujar Zizi.


Hantu om bewok menaikkan kedua alisnya yang tebal.


"Lalu saya harus bagaimana? Apa harus menguras danau ini? Atau menyapu hutan? Atau mengelap semua daun di pepohonan?"


Tanya si hantu om bewok.


Zizi menggelengkan kepalanya lagi.


Lalu...


Tampak Zizi menunjuk danau di depan mereka.


"Katakan, siapa penguasa danau itu?"


Tanya Zizi.


Hantu om bewok tampak menciut ditanya begitu, wajahnya seperti semakin takut.


Haduh bewoknya doang yang sangar, padahal cemen. Batin Zizi.


"Danau ini terhubung dengan dua danau lain yang serupa, dan hutan itu juga, semuanya saling terhubung, jika Zizi benar, danau ini dikuasai Raja Ular, begitu kan?"


Zizi menatap tajam hantu om bewok.


Hantu itu lantas terlihat mengangguk gugup.


"I... Iya Nona..."


Zizi memandang Maria dan juga Ali.


"Hutan ke lima dan danaunya, lalu hutan dan danau di hotel wisata, serta danau dan hutan ini, jadi semuanya sama."


Gumam Zizi.


Maria melayang ke arah danau di depan mereka itu.


Energi yang terpancar dari sana benar sama dengan apa yang Maria rasakan selama tinggal di hotel wisata.


Maria takjub luar biasa.


Benar ternyata, jika tak ada hal yang kebetulan di dunia ini, dan meskipun di alam manusia kelihatannya letak hutan dan danau di hotel wisata dan komplek rumah Tuan Ziyan berbeda negara, nyatanya, di alam para lelembut danau dan hutan itu masih dalam satu jalur yang sama.


Maria menoleh ke arah Ali, lalu...


Pertanyaannya, kenapa Ali juga diburu? Kenapa dia juga dijadikan sasaran dan terlibat dalam urusan dunia lelembut seperti Zizi?


Jika melihat dari garis keturunan, Ali memang juga merupakan satu garis keturunan dengan Balasanggeni, yang itu berarti Ali juga masih merupakan keponakan Jaka Lengleng, si Raja Ular.


Apa dia sebetulnya memiliki sumber kekuatan Balasanggeni yang masih tersimpan dan belum muncul?


Tapi nenek moyang yang mana sebetulnya yang membuat perjanjian dengan mahluk aneh dengan mengorbankan tubuh Ali?


Sementara Maria masih sibuk berfikir tentang segala kemungkinan kenapa Ali jadi terlibat dengan masalah dunia lelembut, di tempatnya Zizi terlihat duduk bersila di atas tanah dekat danau.


Entah apa yang ia lakukan, namun yang jelas, tak lama setelah Zizi duduk sila dan memejamkan mata, begitu ia meletakkan kedua tangannya di atas tanah, tampak tubuh gadis itu bergetar.


Ali mundur beberapa langkah sambil menatap kakak sepupunya, hantu om bewok malah langsung lari melesat dan menghilang entah kemana.


Zizi dalam bayangan matanya yang terpejam, kini seolah melihat seorang perempuan berbaju model jaman dulu berwarna kelabu, rambutnya panjang sedikit ikal tergerai nyaris menyentuh pinggul.


Perempuan itu berjalan tanpa alas kaki, ia berjalan menuju danau dan menenggelamkan diri.


Di danau itu ia dililit seekor ular besar lalu dibawa ke alam lain.


Penglihatan Zizi mengikuti bayangan itu, penglihatan yang sejatinya milik Retnoasih itu membuat indra keenam Zizi terbuka sempurna.


Zizi seolah mampu melihat ke masa lalu, masa di mana dulu pernah terjadi sesuatu di sana...


Ular besar yang kemudian berubah menjadi laki-laki gagah itu menuntun perempuan yang ia bawa itu ke sebuah ruangan luas yang penuh ukiran emas.


Di beberapa sudut tampak berkilauan permata dalam berbagai warna dan bentuk.


Hingga kemudian mereka tiba di satu ruangan yang seperti kolam besar, di mana di sana tampak ribuan telur ular yang mulai menetas, sebagiannya sudah mulai merayap dan saling membelit.


Ular-ular kecil itu memenuhi kolam.


"Kau akan menjadi salah satu yang menyumbang keturunanku dari bangsa manusia."


Paman Jaka Lengleng meraih wajah perempuan itu.


Perempuan yang seolah tak sadar, yang tatapannya kosong dan menurut saja apa yang dilakukan Paman Jaka Lengleng.


Zizi menggelengkan kepalanya.


Ia menolak melihat adegan selanjutnya.


Ini Nenek Retnoasih ngajarin tidak benar, mengintip dua mahluk yang akan melakukan hal tidak senonoh.


"Hah."


Zizi membuka matanya, nafasnya tersengal-sengal.


"Ada apa Zi?"


Tanya Maria menghampiri Zizi.


Zizi menatap Maria, lalu beralih menatap Ali.


"Ular, Paman Jaka Lengleng, dia memiliki anak dari bangsa manusia."


Zizi berdiri terhuyung, Ali segera menangkap tubuh Zizi.


"Siapa?"


Tanya Maria.


Zizi menggeleng.


"Entahlah Aunty."


Kata Zizi.


Jiaaaah...


Maria tepok jidat.


"Aku tidak sanggup melanjutkan melihatnya."


Kata Zizi.


"Lah kenapa? Harusnya lihat saja, biar kita tahu siapa anak itu, dan memastikan ada hubungan apa semua ini dengan Tuan Muda Ali."


Zizi menatap Maria sambil garuk-garuk kepala.


"Bagaimana mungkin Zizi melihatnya?!"


Kata Zizi kesal.


"Ya kan kamu tadi bisa lihat."


Maria tak kalah ngotot.


"Zizi tidak mau!"


Zizi ngegas.


"Haduuuh, trus gimana kalau kamu lihat saja tidak mau?"


"Ya kita cari cara lain, jangan pakai cara Nenek Retnoasih, keterlaluan."


Gumam Zizi, yang jelas saja membuat Nenek Retnoasih ingin keluar dan menjitaknya berkali-kali.


"Memangnya apa yang Kak Zizi lihat? Apa terlalu seram?"


Tanya Ali.


Zizi menoleh pada Ali.


"Ya seram, sangat seram, lebih baik jangan dilihat, kita belum menikah, tidak boleh."


Kata Zizi sambil membersihkan tanah dari bagian belakang celananya.


Maria mengerutkan kening.


Apa sih yang dilihat anak ini?


Batin Maria penasaran.


Zizi kemudian melihat dua batu besar di antara danau dan hutan yang tadi pagi sempat ia sambangi ketika datang pertama kali dengan Eva.


"Kita masuk saja, lewat sana."


Ujar Zizi.


Zizi lalu menarik tangan Ali menuju ke sana.


Ali menurut saja.


Siapa perempuan tadi?


Kenapa ia dipilih Paman Jaka Lengleng untuk melahirkan anaknya ke tanah manusia?


Apa motivasinya?


Jika ia ada hubungannya dengan Ali, apakah?


Ah tidak mungkin!


Tidak mungkin Ali memiliki darah keturunan Paman Jaka Lengleng.


Perempuan itu bukan nenek moyang Ali dari Bibik Aisyah bukan?


Juga bukan dari keluarga Papa kan?


Atau...


Zizi rasanya kepalanya kini dipenuhi pertanyaan yang saling tumpang tindih.


**---------------**