Zizi

Zizi
49. Secuil Berita


Shane yang sudah mulai melempar para gadis siluman yang mengganggunya tampak melihat Zizi kini dikerubuti laki-laki mesum tentu saja langsung marah.


Ia melompat ke arah Zizi dan tanpa menunggu lagi, Shane menerjang para siluman laki-laki itu satu persatu.


Dan...


Para siluman laki-laki itu pelahan berdiri, mereka menatap parah pada Shane yang kini menarik Zizi agar berada di belakangnya.


"Jangan gunakan Jayapada Nona, anda sudah kesulitan mengendalikannya."


Kata Shane dengan tatapan lembut ke arah wajah Zizi.


"Tapi Kak Seng, biarkan Zizi tetap ikut melawan mereka..."


Zizi jelas tak mau diam saja.


Kini para penghuni desa itupun mengepung mereka.


Para laki-laki dan perempuan itu pelahan berubah menjadi semacam binatang mirip lintah besar.


Shane menyeringai, kukunya yang tajam sudah siap mencabik seluruh tubuh lintah-lintah itu.


Zizi menatap para lintah dan satu lintah paling besar.


Zizi yakin dialah ratunya, yang mereka temui pertama kali dan pura-pura terluka. Dia sengaja memancing manusia masuk ke dalam desa ini. Ya, jika yang terpancing manusia otak mesum, jelas mereka akan terjebak di sini.


Shane bergerak secepat kilat, melompat sembari menyambar setiap tubuh lintah yang mengepungnya, Shane mencakar dengan kukunya yang runcing dan tajam.


Pekikan terdengar dari mulut para lintah yang terluka, cairan seperti lendir berwarna hitam dan beraroma amis dan seperti ikan busuk tercium membuat perut kosong Zizi mual.


Shane terus berusaha melawan seorang diri, ia merasa harus segera menyelesaikan pertarungan ini agar Zizi tak perlu ikut bertempur.


Tapi...


Zizi nyatanya memang sulit di atur, gadis itu menghajar lintah-lintah jelmaan perempuan yan semula sudah menggoda Shane.


Zizi juga mengincar lintah terbesar yang kini seolah bersiap akan melarikan diri.


Zizi yang pernah belajar bela diri sejak kecil hingga dewasa dari Paman Joni sang pengawal, mengepalkan tangannya seraya melompat ke arah satu lintah dan meninjunya dengan keras.


Lintah-lintah jelmaan perempuan siluman itupun mengeroyok Zizi.


Zizi bergerak dengan lincah, sekuat tenaga mencoba melawan para lintah dan juga melawan dirinya sendiri yang seolah ingin berubah.


Shane tinggal menyisakan satu lintah lagi, terlihat Shane melompat ke atas tubuh sang lintah, menusuk tubuh itu dengan kuku-kuku tajamnya dan mencabik-cabik tubuh itu hingga lintah itu menggelepar hebat.


Tampak Shane memandang ke arah Zizi yang kini juga masih sekuat tenaga melawan para lintah yang tinggal tersisa lima potong.


Zizi menendang dengan keras muka lintah yang monyong, meninjunya dengan sekuat tenaga, melompat ke lintah lain seraya menendang kembali.


Shane tersenyum melihat Nona sekaligus kekasihnya itu bergerak dengan sangat baik, Shane jadi ingat saat dulu Zizi masih kecil di Inggris, setiap kali Zizi belajar beladiri di halaman belakang hotel, Shane akan naik ke pohon dan duduk di dahan sambil melihat Zizi latihan.


Zizi sering membuat Paman Joni sampai harus mengurut keningnya dengan semua tingkah absurd nya.


Shane tiba-tiba melihat satu lintah akan menyerang Zizi dari belakang, cepat ia melompat ke arah lintah itu, menariknya dan membantingnya hingga tak bergerak lagi.


"Kak Seng."


Zizi menoleh pada Shane yang hanya mengangguk.


Satu lintah lagi kini berhadapan dengan Zizi.


Lintah yang paling besar itu mulai terlihat ketakutan, ia pun pelahan berubah menjadi perempuan lagi.


"Ampuni saya... Ampuni saya."


Siluman lintah itu mengiba pada Zizi, ia bersimpuh dengan takut.


Zizi meninju wajahnya dengan kesal.


"Ini untuk kebohonganmu."


Kata Zizi.


Lalu Zizi mengepalkan tinjunya lagi.


Dan bukgh!!


Meninju wajah siluman lintah itu lagi.


"Dan ini untuk otak mesummu yang berani menggoda Kak Seng."


Kesal Zizi.


Mendengar Zizi bicara seperti itu Shane jadi tersenyum menatap Zizi.


Wajah cantiknya dari samping terlihat memerah menahan marah menatap siluman lintah.


"Ampuun Nona Zizi, ampun..."


Rintih siluman lintah itu.


"Berikan aku informasi yang kau janjikan, maka akan aku ampuni."


kata Zizi akhirnya.


Siluman lintah itupun mengangguk.


"Dan Aunty Maria, di mana dia? Kau celakakan dia? Jika terjadi sesuatu padanya, kau tak akan aku ampuni."


Siluman lintah itu menggeleng.


"Dia hanya berada di luar desa Nona, saya hanya sengaja memagari desa ini agar hantu tak ikut masuk."


Ujar siluman lintah.


"Apa kau sering membawa manusia masuk ke sini?"


Tanya Zizi.


"Ya."


Siluman lintah itu mengangguk.


"Banyak dari mereka yang dengan senang hati melakukannya Nona."


Zizi sejenak melihat ke sekeliling.


"Lewat mana kau keluar masuk dunia manusia?"


Tanya Zizi.


Siluman lintah itu tak menjawab.


Zizi menarik rambutnya dengan kesal.


"Jawab!"


Bentak Zizi.


"Batu besar di dekat pintu masuk desa ini Nona, ada jalan kecil di tengahnya."


Akhirnya siluman lintah itu menjawab.


Ya, jawaban yang sama dengan petunjuk dari Putri Arum Dalu.


"Baiklah. Sekarang berikan informasinya, lalu aku akan keluar dari desa mesum ini."


Kata Zizi.


Ia sudah tidak betah dengan aroma busuk yang menyengat dari tubuh lintah yang mati dihajar Shane.


Siluman lintah itupun kemudian menatap Zizi dan mulai memberikan informasi tentang ular besar yang sejak enam belas tahun silam menempati hutan ke tujuh menuju Merapi.


"Dia datang ke hutan ini dalam keadaan terluka parah. Ia mencari air kahuripan di tengah hutan ke tujuh. Di sana ia mendapatkan kekuatannya kembali, ia menyembuhkan diri dan ia juga menjadi penguasa para lelembut di sana."


Zizi menatap siluman lintah.


"Hutan ke tujuh dihuni banyak siluman ular perempuan, hutan itu jarang bisa terjamah siapapun karena hutan ke lima dan ke enam biasanya tak akan bisa ditembus siapapun. Hutan ke tujuh jauh lebih parah dari kami Nona, jika kau bilang kami mesum, mereka jauh lebih parah. Mereka juga sering keluar masuk alam manusia untuk mengambil tumbal, biasanya mereka para lelaki hidung belang dan beberapa lainnya yang sengaja mencari siluman macam kami untuk meminta pesugihan, kedudukan dan sebagainya."


Zizi bergidik membayangkan para manusia itu melakukan hal menjijikan dengan mahluk seperti mereka.


Ular, lintah, lalu entah apalagi yang lain.


Ya, mesum memang membuat orang jadi bodoh.


"Jika aku keluar ke alam manusia di sekitar sini, aku sampai di daerah mana?"


Tanya Zizi.


Siluman lintah kemudian menyebutkan nama jalan yang cukup Zizi sering lewati jika menuju ke Sukabumi.


"Baiklah."


Zizi mengangguk.


"Jadi intinya, seluruh jalur ini berbatasan dengan kerajaan segara kidul bukan?"


Tanya Zizi.


Siluman lintah mengangguk.


"Iya Nona, jika di alam manusia kita akan melihatnya jalur laut selatan dari pelabuhan ratu hingga nanti berujung ke Parangtritis, maka jalur kami akan langsung terhubung ke Merapi."


Zizi mengangguk mengerti.


Zizi menoleh pada Shane.


"Kak Seng."


Zizi memanggil Shane.


"Kita keluar ke alam manusia sebentar, Zizi lapar."


Kata Zizi.


Siluman lintah itu kemudian berdiri.


"Saat ini alam manusia pasti sudah mulai senja, sebentar lagi matahari akan tenggelam, itu waktu yang biasanya kami jadikan untuk masuk ke sana. Saya akan antar anda Nona, sebagai permintaan maaf dan terimakasih saya tidak dibunuh."


Kata siluman lintah.


Zizi pun mengangguk saja.


Ia berencana akan mencari penginapan, untuk istirahat sebentar dan juga makan.


**----------**