
Nancy keluar dari kamar untuk menemui Nicx yang mencarinya.
Nicx tampak berdiri di ruang makan menunggu Nancy manakala Nancy akhirnya muncul di sana.
"Ada apa Mister Nicx?"
Tanya Nancy.
"Tuan Zion menelfon untuk memintaku menjemputmu dan Shane."
Kata Nicx.
"Menjemputku dan Shane? Untuk keperluan apa?"
Tanya Nancy bingung.
Nicx tampak melirik Zizi yang menatap ke arahnya dengan tatapan menyelidik.
"Kalian tidak akan melakukan sesuatu yang aneh pada Bibi Nancy dan Kak Seng kan Paman Nicx?"
Tanya Zizi seolah menjadi over protektif pada Nancy dan Shane.
Sungguh Zizi tak mau ada sesuatu yang akan membuat Shane dan Ibunya kenapa-kenapa, apalagi jika hal itu terjadi hanya karena hubungan Shane dengan Zizi.
Nicx tampak tersenyum, dan tentu saja ia menggeleng.
"Tidak ada yang akan terjadi pada mereka Nona, jangan khawatir."
Kata Nicx masih dengan senyumannya.
Nicx lalu beralih pada Nancy lagi.
"Bisa kita pergi sekarang Nancy, hari sudah cukup siang dan aku masih ada banyak yang harus diurus, termasuk..."
Nicx menggantungkan kalimatnya, memilih tak meneruskannya karena ia tak mau Nonanya tahu lebih dulu.
Zizi mengangkat kedua alisnya menatap orang kepercayaan sekaligus sahabat Papanya itu.
Pasti ada hubungannya denganku. Batin Zizi.
Nancy yang merasa bahwa sepertinya ini benar hal serius, akhirnya mengajak Nicx untuk segera pergi sesuai apa yang diperintahkan Tuan Zion.
"Tak akan memakan waktu lama, tenang saja."
Kata Nicx.
Nancy mengangguk.
Ia lalu menengok ke arah Zizi yang masih duduk di kursi makannya meskipun acara santap siangnya telah selesai sejak tadi.
Maria melayang ke ruang makan.
"Nona, saya pamit pergi sebentar dengan Misteri Nicx."
Kata Nancy pada Zizi.
Zizi mengangguk pada Nancy.
"Kembalilah sebelum gelap Bibi Nancy, dan tolong antarkan Bibi Nancy pulang dengan selamat Paman Nicx."
Kata Zizi.
Nicx pun mengangguk.
Nancy kemudian berjalan mengikuti Nicx meninggalkan ruang makan dan keluar dari rumah Tuan Zion.
Zizi hanya mengikuti mereka sampai hilang di balik dinding pembatas ruangan depan dan ruangan dalam.
"Mau ke mana mereka Zi?"
Tanya Maria.
Zizi menggeleng.
"Entahlah, Paman Nicx sepertinya sengaja merahasiakannya, ia diminta Papa untuk membawa Bibi Nancy dan Kak Seng, tapi Kak Seng sedang tak ada di rumah."
Kata Zizi.
Maria yang kepo akhirnya memilih melayang menyusul Nicx yang keluar dari rumah bersama Nancy.
Nancy dan Nicx sudah masuk ke dalam mobil dan mobil Nicx bahkan sudah bergerak pelahan meninggalkan pelataran depan rumahnya Tuannya.
Maria melayang ke atas atap rumah.
Duduk di sana untuk memantau pergerakan mobil Nicx yang keluar dari komplek perumahan.
Ke mana Nancy di bawa pergi?
Apa ada sesuatu?
Maria bergumam sendirian.
Sepeninggal Maria dan Nancy serta Nicx, Zizi berdiri dari duduknya dan menyambar wadah buah yang ada di atas meja.
Ia mengambil segerombolan anggur yang menggiurkan.
Zizi lalu membawanya menuju lantai atas rumahnya.
Dua pengawal tampak berjaga di ruang depan.
Dua lainnya ada di luar.
Zizi menaiki anak tangga dengan malas.
Setiap kali melihat para pengawal muda yang semuanya bule itu, membuat Zizi malah jadi galau.
Zizi menyalakan TV, ia lalu memilih rebahan malas saja di sana.
Tak banyak yang bisa ia lakukan, dan lagi ia juga tak ingin melakukan apapun selain ingin menyusul Shane andai saja diijinkan.
Apa aku harus menyelinap sendiri saja nanti malam untuk pergi ke Bradley Woods Lincolnshire?
Ya...
Tentu saja Zizi toh tak takut apapun.
Vampire, Lycan, Dedemit, Hantu, Buto Ijo, Raksasa, semuanya Zizi tidak takut.
Zizi hanya takut Othor lewat pakai UFO lalu menyerempetnya.
**----------------**
Setelah melalui berbagai episode yang penuh dengan air mata dan keringat hingga tubuh berbau kecut, akhirnya Shane sampai di jalanan komplek menuju rumah Tuan Zion.
Shane berjalan layaknya manusia biasa bersama Paman Marthinus yang kadang lupa akan melompat.
"Tahan Paman, jangan melompat, masih terlalu banyak orang, jika mereka melihat, kau akan viral."
Kata Shane mengingatkan.
Paman Marthinus mengangguk.
"Ya Shane, maaf, aku terlalu bersemangat, sudah lama sekali sejak aku memutuskan pergi, kini aku merasa akan kembali bertemu keluargaku. Ya, anggaplah Tuan Zion itu adikku, hahaha..."
Paman Marthinus tertawa.
Tak sadar jika nafasnya memiliki aroma kematian.
Shane menggelengkan kepalanya, ia merasa sedang tenggelam dalam gunung kobis busuk saat Paman Marthinus membuka mulutnya terlalu lebar.
Shane menatap jalanan yang mulai bersih dari salju, ia sebentar lagi akan pulang, dan entahlah...
Entah apa yang akan ia ceritakan pada Ibunya nanti, kepergiannya beberapa hari ini nyatanya hanya menghasilkan banyak luka di tubuhnya.
Shane menyusuri jalan yang kini semakin dekat dengan rumah Tuan Zion.
Sementara Paman Marthinus tersenyum, Shane malah terlihat sedih, ia merasa telah gagal memenuhi janjinya pada Tuan Zion, padahal apa yang ia janjikan padanya adalah salah satu bukti keseriusannya pada Zizi.
Shane masih berjalan dalam keadaan tertunduk, saat ia tak menyadari sesosok perempuan berambut blonde yang duduk di atas atap terlihat memandanginya dengan tatapan haru.
"Shane... itu Shane."
Maria di atas atap seolah tak percaya melihat kedatangan Shane yang kini berjalan bersama Paman Marthinus.
"Ah mahluk campuran itu ikut pulang rupanya."
Kata Maria yang tanpa menunggu lama langsung masuk ke dalam rumah menembus atap rumah.
"Ziziiiii... Ziiiiiiii..."
Maria memanggil Zizi dengan suaranya yang sudah saingan kerasnya dengan suara kaleng kerupuk yang dulu ditabuh othor waktu masih kecil, bolak balik bolak balik di teras pas lagi panas-panasnya, sampai tetangga semua demonstrasi. Hahaha...
Zizi yang sedang rebahan di atas karpet sambil nonton kartun dan nyemil anggur tampak menoleh ke arah Maria yang turun dari atap.
"Ziii... cepat bangun!"
Kata Maria lebih bersemangat daripada Emak-Emak yang mau dapat sembako di kelurahan.
"Males ah, enakan tiduran."
Kata Zizi sambil asik makan anggur lagi.
Matanya melihat ke arah TV di mana saat ini terlihat menayangkan kartun dua Larva yang sedang ribut.
Haiiish...
Maria mendesis.
Ia menghampiri TV lalu mematikannya.
Zizi merengut.
"Aunty ini, kenapa gangguin sih."
Kesal Zizi.
"Bangun dulu, lihat siapa yang datang."
Maria tak kalah kesal.
Zizi akhirnya bangun dari rebahannya.
"Siapa memangnya? Paling Paman Nicx lagi mengantar Bibi Nancy."
Kata Zizi.
"Lihat duluuuuuu."
Maria gemas.
Ia sengaja tak memberitahu agar jadi surprise untuk Zizi, tapi malah yang ada Maria jadi macam sembelit perutnya.
Zizi bangun dengan malas, ia baru akan berdiri manakala ia mendengar suara di lantai satu.
Seperti ada yang datang.
Zizi menatap Maria yang senyum-senyum tak jelas.
"Siapa Aunty?"
Tanya Zizi berdiri.
Maria tak mau menjawab, ia melayang saja mendahului Zizi, membuat anak asuhnya kesal dan menyusulnya sambil bersungut.
Dan...
**--------------**