
Andromeda Apartement diliputi energi yang hitam pekat macam kopi Mbah Kakung yang baru saja diseduh.
Brrrr... Aromanya mantap jiwa disandingkan sepiring singkong kukus kebul-kebul dan rokok tembakau campur cengkeh dilinting kulit jagung. Hihihi...
Nadia, yang diboyong alex tinggal di salah satu kamar kelas wahid di lantai sepuluh, kini tampak berdiri di balkon kamarnya.
Matanya menatap ke arah zombie hotel yang ada di seberang apartemen milik keluarga calon suaminya.
Nadia menghela nafas, lama nian ia tak pernah bertemu dengan keluarga Nyonya Zia dan Tuan Zion.
Ingin rasanya ia sowan, tapi ia khawatir mereka telah benar-benar melupakannya.
Nadia bukan tidak tahu jika Andromeda memiliki ambisi untuk menggulung kesuksesan Alpha Centauri.
Namun, tentu saja, bagi Nadia hubungannya dengan Alexander tak ada sangkut pautnya dengan semua itu.
Nadia menggenggam teralis besi di balkon kamarnya, angin malam berhembus membelai kulit wajahnya dan bermain sebentar dengan rambutnya yang panjang dan hitam pekat.
Nadia, gadis yang kini telah matang dan telah berbadan dua itu nyatanya memang secantik Nirmala, Ibunya.
Meski usianya sudah berkepala tiga, namun ia tampak masih cantik mempesona.
"Tidurlah, katanya kamu belakangan ini tak bisa tidur."
Kata Alex yang masih berada di tempat Nadia dan belum kembali ke unitnya sendiri.
Alex berjalan menghampiri Nadia, memeluk kekasihnya itu dari belakang.
Keduanya menatap ke arah yang sama, Zombie hotel yang dalam penglihatan Alex kini ada cahaya terang yang menyilaukan.
"Gadis itu ada di sana."
Suara Alex seperti gumaman.
Nadia mengerutkan kening, tampak ia menoleh ke arah Alex yang memeluk dari belakang.
"Gadis siapa?"
Alex menatap mata bening Nadia yang seolah mencurigainya telah berselingkuh atau semacamnya, yang tentu saja hal itu membuat Alex tertawa.
"Jangan cemburu dulu, ini tak seperti yang kamu pikirkan."
Ujar Alex.
Nadia pura-pura cemberut.
"Bagaimana seorang perempuan tidak cemburu kekasihnya menyebut gadis lain."
Kata Nadia mencubit perut Alex yang lantas tertawa lagi.
"Sudahlah, kamu tidurlah, aku akan menjaga di sini, aku pastikan tak akan ada lagi hantu yang berani penampakan di depanmu."
Ujar Alex.
Nadia menghela nafas.
"Sebetulnya aku bukan takut pada penampakan mereka, selama tidak terlalu mengerikan, aku bisa menghadapinya, tapi..."
Nadia menatap Alex.
Pemuda tampan itu tersenyum, mengusap wajah Nadia yang cantik.
"Tapi apa?"
Tanya Alex lembut.
"Tapi mimpi itu, mimpi ular terus menerus, bayangan ular, suara desisan ular, aku begitu takut."
Lirih Nadia bergetar.
Alex terlihat tetap biasa saja, meski dadanya bergemuruh, namun ia tetap berusaha tenang.
Andai Nadia tahun jika ular itu ada di sampingnya, apa yang akan ia lakukan?
Larikah?
Lari dari Alex kah?
Masih bisakah Nadia menerima Alex?
Masih bisakah Nadia mencintai Alex?
Alex lantas menarik tangan Nadia masuk ke dalam ruangan.
"Jangan dipikirkan terus, nanti kamu sakit, itu hanya mimpi buruk, jangan cemas."
Alex menghibur.
Nadia berjalan mengikuti Alex yang menariknya ke tempat tidur.
Kemudian Alex tampak menata tempat tidur untuk Nadia dengan telaten.
"Berbaringlah."
Kata Alex pada Nadia.
Nadia menurut, ia naik ke atas tempat tidur dan kemudian berbaring di sana.
Alex menyelimuti tubuh calon istrinya.
"Kenapa Natali tak jadi datang?"
Tanya Nadia.
"Dia baru terbang malam ini, tadi ia ketinggalan pesawat."
Ujar Alex.
Nadia tersenyum.
Alex meraih wajah Nadia dan mencium keningnya.
"Selamat tidur, mimpi indah, oke."
Kata Alex.
Nadia tersenyum manis.
Lampu ruangan dimatikan, dan diganti lampu tidur yang tak seberapa terang.
Alex kembali berjalan ke arah jendela kamar apartemen Nadia di mana dari sana cahaya terang yang menyilaukan di zombie hotel masih jelas terlihat.
Alex mengepalkan tangannya.
Meski suara Attala yang mengancamnya untuk tidak ikut mengusik Alpha Centauri terus terngiang, tapi nyatanya Alex sudah kadung penasaran dengan Jayapada di tangan Zizi yang ingin dimiliki Kakek Moyangnya si Jaka Lengleng.
Ah, haruskah aku nekat saja merebutnya sekarang? Batin Alex.
Tapi...
Alex melihat pantulan bayangan Nadia yang terbaring di atas tempat tidur.
Jika Alex kalah dan mati, lalu Nadia bagaimana?
Alex bimbang.
Apa harus menuruti Attala? Menunggu kejatuhan Alpha Centauri saja?
Yah, sudah jelas gadis itu bukan gadis sembarangan, Diki anak buah Alex yang merupakan salah satu terbaik saja mati dengan mudah menurut informan yang masih ada di Alpha.
Alex menghela nafas.
Menunggu Attala yang berhasil lebih dulu sama saja nanti ia akan terus berada di bawah kali Attala.
Tapi maju sendirian saat ini berisiko kalah dan bahkan bisa jadi mati konyol.
Alex benar-benar bingung.
**--------------**
Rumah besar dekat Bandara itu terlihat dijaga ketat bukan hanya pengawal dengan seragam Alpha Centauri, namun juga beberapa polisi yang dimintai tolong untuk menjaga Tuan Ardi Subrata juga.
Rombongan mobil Zion yang dipimpin Dimas dan dikawal Joni memasuki halaman rumah besar itu dan kemudian berhenti berjejer di pelataran.
Beberapa pengawal yang telah siap di depan rumah segera berlari ke arah mobil yang ditumpangi Zion.
Salah satu pengawal itu membukakan pintu mobil Zion, tampak laki-laki yang masih sangat tampan itu turun dan tersenyum pada para pengawalnya.
Zion berjalan menuju pintu utama, di mana di sana ada beberapa polisi juga yang membantu berjaga.
Zion menyalami mereka dan tentu saja menyampaikan terimakasih berkali-kali karena berkenan datang membantu mengamankan Kakeknya.
Setelah beramah tamah dengan petugas kepolisian, Zion meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah untuk menengok keberadaan Kakeknya.
"Tuan sedang beristirahat."
Paman Salim yang sengaja datang dari tempatnya mengelola yayasan Alpha Centauri terlihat menemui Zion yang akan ke kamar sang Kakek.
"Tapi beliau tak apa-apa kan?"
Tanya Zion cemas.
Paman Salim mengangguk.
"Dokter Rahmat memastikan kondisi beliau cukup baik, hanya saja jika harus ke Jepang, dokter Rahmat menyarankan untuk pergi besok sore atau lusa saja."
Kata Paman Salim.
Zion menghela nafas.
"Sudah ada kabar dari kak Ziyan, Paman?"
Tanya Zion yang kemudian memilih duduk di set sofa dekat kamar Kakeknya. Zion membuka jas nya dan membuka dasinya.
Paman Salim mengangguk.
"Tuan Ziyan sedang dalam perjalanan menuju Indonesia, mungkin besok subuh sudah sampai di sini."
Kata Paman Salim.
Zion menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam. Garis lelah tergambar jelas di wajahnya yang terpahat sempurna.
Zion sungguh tampan, membuat Othor tidak bisa move on. wkwkwk... (Aja pada brisik, awas gyeh yen protes).
"Anda sepertinya sangat lelah Tuan Zion."
Kata Paman Salim iba.
Zion mengangguk.
"Terus terang Paman, saya takut kali ini, sangat takut Alpha akan ambruk, dan Kakek, Zia, serta Zizi akan terluka."
Kata Zion dengan suara tergetar.
**----------------**
Note :
Maaf ya baru up, kerjaan numpuk gaes.
Eh buat CALON ADIK IPAR akoh yang juga selalu menemani Zizi, lam kenal yaaa...
Pudingnya ditunggu, hihihi...