
Sampai di desa terakhir, Zizi yang seolah akan mendaki melewati jalur pendakian. Titik yang Zizi pilih adalah jalur yang paling mudah di antara empat pilihan yang ada.
Ya tentu saja, tujuan Zizi nyatanya memang bukanlah semata untuk murni mendaki sebagai pecinta alam.
Meski sesungguhnya panorama yang disajikan Gunung dengan tinggi kurang lebih 2.100 m itu tak bisa dipungkiri sangat indah sebagaimana gunung yang lain di Nusantara.
Ah...
Kelak, saat semua sudah selesai, mungkin ide bagus jika Zizi mendaki Gunung hanya untuk menikmati suguhan alamnya yang indah. Bukan malah untuk berburu hantu, apalagi justeru untuk masuk ke alam mereka.
Matahari sudah mulai bersinar keemasan, beberapa pendaki lain juga ada yang terlihat baru akan berangkat.
Zizi membiarkan mereka berada di depan, hingga bila nanti Zizi akan menghilang di gerbang gaib, mereka tak jadi kaget.
Zizi yang menggendong ransel tampak menarik nafas, Shane kemudian mengambil alih ransel dalam gendongan Zizi.
"Biar saya saja yang bawa, Nona jalanlah lebih dulu, saya menjaga di belakang. Aunty dan Mbak karung tinju juga bisa di depan."
Mbak pocong yang masih saja disebut karung tinju tampak melirik Shane dengan kesal.
"Kenapa kau selalu menyebutku karung tinju!!"
Mbak Pocong protes keras.
Shane hanya tersenyum santai melihat Mbak pocong yang mangap-mangap kesal.
"Sudah jangan ribut, nanti Zizi belah jadi dua nih."
Kata Zizi pada mbak pocong dengan teganya.
Maria tertawa saja melihat Mbak pocong jadi cemberut.
Dasar Nona Zizi, beda banget sama Emaknya, pantas dipanggil Bocah Tengik sama suster ngesot. Batin Mbak Pocong.
Zizi terus berjalan mengikuti jalur normal seperti biasa, hingga kemudian Zizi melihat ada Nenek hantu yang berkelebat akan mengikuti para pendaki yang ada di depan Zizi, langsung Zizi mengambil batu berukuran agak besar dan melemparkannya pada si nenek hantu.
Pletak!!
Nenek hantu kaget luar biasa karena seumur-umur baru kali ini kepalanya ada yang melempar pakai batu.
Sapa nih. Batin Nenek hantu emosi. Kalau manusia dia pasti sudah harus tensi darah.
Nenek hantu celingak-celinguk hingga melihat rombongan aneh di belakang sana.
Satu manusia, satu pocong, satu hantu none Belanda dan satu lagi apa tuh, seperti manusia tapi nenek hantu tahu betul jika dia bukan manusia.
Tapi apa ya kira-kira?
Aah... nenek hantu dari dulu tinggalnya di Gunung, tidak tahu jenis mahluk lain selain hantu, manusia, siluman dan jin iprit.
Apalagi Nenek hantu juga adalah hantu keluaran jaman dulu, sudah tidak berproduksi, model lama, macam hp Siemens yang entah kemana sekarang.
Zizi dari tempatnya tampak nyengir jahil pada Nenek hantu, ia senang karena lemparan batunya tepat sasaran.
Nenek hantu mengusap bagian ubun-ubunya, rambutnya yang semua sudah penuh oleh uban tampak cetar membahana tanpa jambul.
Nenek hantu melihat Zizi yang makin dekat dan energinya lain dari manusia yang biasa ia lihat jadi memilih menghindar demi kelangsungan hidup di masa tuanya.
Ia ngibrit kocrat kacrit, masuk pohon yang selama ini menjadi apartemen gratisnya.
Zizi yang melihat nenek hantu masuk ke dalam pohon begitu melewati pohon itu iseng mendekat, lalu berbisik pada batang pohon.
"Ganggu pendaki lagi, aku semir rambutnya warna ijo pupus."
Ancam Zizi.
Setelah mengatakan itu ia menepuk si pohon.
"Baik-baik deh tumbuh, kalau ada yang mau menebang sembarangan bikin aja kesambet."
Kata Zizi pula.
Shane yang sudah terbiasa dengan kelakuan Nona nya hanya tersenyum tipis. Sementara mbak pocong tampak geleng-geleng kepala.
"Itu kan nenek hantu sudah dari jaman Prabu Siliwangi masih hidup, tua banget itu."
kata mbak Pocong.
"Kamu kenal?"
Tanya Zizi.
"Ya dia kan lumayan masyhur, lumayan pada takut juga hantu-hantu junior kayak aku terutama yang rentan dibuli, dizalimi, ditindas... huhuhuuu..."
Mbak Pocong malah curhat.
Kebiasaan dia selalu baper kalau sudah membicarakan keadaannya sebagai hantu yang tanpa kemampuan selain memantul dan menyundul.
Aah, sepertinya lumba-lumba saja bisa lebih baik hidupnya daripada pocong.
"Udah nggak usah mendramasisir."
Kata Zizi.
"Mendramatisir Zi."
Maria meralat.
Kebiasaan Zizi sejak anak-anak selalu ngomong belepotan, dan kalau sudah begini malah Maria dan Shane lebih tenang, karena sudah bisa dipastikan yang kini bersama mereka memang Zizi yang sejati.
"Nanti setelah misi selesai aku bikinin kain pocong pake lengan, biar tanganmu bisa gerak."
Kata Zizi lagi pada mbak Pocong, tentu saja mereka bicara sambil terus berjalan menuju gerbang gaib.
"Kain kafan pake lengan, yang jahit siapa?"
"Ya nanti cari aja tukang vermak keliling, kalau perlu kain kafannya kita kasih sablon gambar tengkorak biar keren, biar badas, biar keliatannya ni pocong mafia."
Kata Zizi membuat Maria terpingkal.
"Muka culun begitu jadi mafia, mati aja di seruduk Babi ngepet."
Maria membuka aib.
Zizi dan Shane menatap Mbak Pocong.
"Beneran mbak, kamu mati di seruduk babi?"
Tanya Zizi.
Haiiish... Mbak pocong langsung memantul jauh karena malu.
"Pantesan jadi pocong nggak ada wibawa sama sekali, matinya aja diseruduk babi."
Kata Zizi sambil geleng-geleng kepala.
Maria tampak masih tak puas-puas tertawa.
Zizi dan Shane serta Maria masih harus melalui perjalanan sekitar dua puluh menit lagi menuju gerbang gaib, manakala tiba-tiba terdengar suara jeritan anak-anak muda yang sepertinya adalah pendaki.
Zizi dan Shane sejenak saling berpandangan, sebelum kemudian Shane segera melesat lebih dulu memantau keadaan di sumber suara.
Zizi sendiri dengan dikawal Maria bergegas menyusul, namun belum lagi sampai, Zizi berpapasan dengan dua pendaki yang tadi ada di depan Zizi kini seperti akan kembali turun.
Dua pendaki yang dua-duanya perempuan itu terlihat pucat.
"Ada apa Teh?"
Tanya Zizi.
Pendaki perempuan yang ditanya tampak menghentikan langkah mereka sejenak untuk menjawab pertanyaan Zizi.
"Ada mayat di hutan, mayat perempuan duduk sambil mangku boneka, aduuh serem banget, bonekanya nangis sendiri, balik aja Teh, serem."
Kata dua pendaki perempuan itu bergidik, lalu segera pamit untuk balik arah.
Zizi yang mendengar jelas saja langsung penasaran.
Zizi pun segera berlari ke arah di mana tadi Shane memburu suara itu.
Dua pendaki perempuan yang tadi ditanya Zizi begitu melihat Zizi malah meneruskan perjalanannya jadi bingung.
"Kenapa dia malah tambah pergi ke sana?"
Tanya pendaki satu.
"Mungkin dia bolot."
Jawab pendaki dua.
"Kasian, cantik- cantik bolot."
Kata pendaki satu.
Dan Zizi yang dikatai cantik tapi bolot itu kini sudah melihat kerumunan orang, termasuk di sana juga ada mbak Pocong dan Shane.
Zizi mendekati kerumunan, dan begitu Zizi makin dekat, tiba-tiba boneka dalam pangkuan mayat si perempuan kembali menangis, yang sontak saja membuat mereka yang berkerumun di sana kaget dan ada yang saking ketakutannya memilih lari tunggang langgang.
Shane menatap Zizi yang kini makin dekat lalu menyeruak kerumunan yang masih bertahan.
Ya, tampak satu mayat perempuan duduk di atas tanah dengan bersandar di badan pohon.
Lehernya tampak nyaris putus, di pangkuannya terdapat satu boneka bayi yang kini menangis tak henti-henti.
Zizi menatap tajam boneka itu.
"Diam!!"
Bentak Zizi, membuat semua melihat ke arah Zizi dengan heran.
Dan...
Semakin heranlah pula mereka, saat boneka bayi itu kemudian berhenti menangis.
"Telfon polisi, atau hubungi pos jaga, cepat!!"
Kata Zizi gemas pada orang-orang yang hanya berkerumun dan malah sibuk foto-foto.
Seorang gadis bahkan ada yang sok foto selfi dengan latar belakang mayat tersebut.
Zizi yang gemas langsung menyambar hp gadis itu.
"Hei!!"
Gadis itu tak terima, ia melotot pada Zizi.
Tapi Zizi tak peduli, ia kini menghapus semua foto gadis itu dengan mayat."
"Kau!! Berani-beraninya hapus foto orang."
Geram si gadis selfi.
Zizi menyeringai.
"Kau bukan orang, kau monster, yang tega berfoto saat orang lain terkena musibah adalah Monster."
Sinis Zizi mengembalikan hp gadis itu dengan sedikit mendorongnya hingga nyaris jatuh.
**--------------**