
"Ziiiii... Whoooiiiii, bangun."
Maria mengguncang tubuh Zizi yang tidur sudah macam sapi pingsan.
Zizi malas membuka matanya, dilihatnya Maria yang duduk sila di dekatnya.
"Aaah, masih ngantuk Auntyyy."
Zizi menutup wajahnya dengan bantal.
Haiiish...
Pok!!
Maria menabok bantal di atas wajah Zizi.
"Shane hari ini datang dengan Ibunya, Bang Dave dan Bang Dimas sedang jemput. Kamu malah molor terus."
Kata Maria kesal.
Mendengar Shane datang, Zizi langsung membuka bantal dari wajahnya, dan menatap Maria.
"Sungguh?"
Tanya Zizi curiga Maria hanya membohonginya.
"Serius, itu Marthinus malah sedang ikut Nyonya Zia ke gedung yang akan digunakan resepsi, bersihin energi negatif."
Kata Maria.
Zizi bangun dan duduk.
"Aku pikir hari ini yang datang Ali dan keluarganya."
Zizi garuk kepala.
"Dodol... dodol, Shane kan yang mau jadi pengantin sama kamu, ya kali mau nikah online."
Kesal Maria lagi.
Zizi nyengir.
"Iya juga ya."
Zizi lantas melompat turun dari tempat tidur tiba-tiba, membuat Maria nyaris terjungkal ke bawah.
"Buset dah, yang pelan, anggun dong Zizi, mau nikah masih saja pecicilan."
Maria mengomel.
Zizi cekikikan sambil lari ke kamar mandi.
Maria geleng-geleng kepala.
Mimpi apa sebetulnya kedua orangtuanya, punya anak seabsurd itu. Batin Maria.
"Whoi."
Zanuba tiba-tiba muncul dari dinding.
"Ini lagi bocah."
Maria melempar bantal ke muka Zanuba.
"Mana si putri molor Aunty?"
Tanya Zanuba.
"Sudah bangun, lagi di kamar mandi."
Kata Maria.
"Ooh kirain masih belum berhasil dibangunkan."
Zanuba melayang masuk dan duduk di atas sandaran sofa.
"Kayaknya baru kemarin main sama Zizi masih bocah, tiba-tiba sudah mau nikah, manusia cepet banget tuanya."
Kata Zanuba.
"Kamu yang kelamaan bayinya, mau dua puluh lima tahun saja harus nunggu dua ratus lima puluh tahunnya manusia, kelamaan."
Kata Maria.
"Kalau Zizi nikah tetap di sini Aunty?"
Tanya Zanuba.
Maria mengangguk.
"Tadinya aku ingin tinggal di London saja, yang orangnya mirip-mirip sama aku."
Kata Maria.
"Trus ya karena ternyata Zizi bakal punya anak lima dan keluarga ular itu masih belum tahu ke mana rimbanya, aku terpaksa harus tetap di sini."
Kata Maria.
Zanuba mantuk-mantuk.
"Tapi memang kasihan juga Zizi kalau tidak ada kita, dia kan sama sekali tidak punya teman manusia, satu-satunya teman manusia dia cuma Kak Arya, tapi Kak Arya sekarang tidak terlalu dekat."
"Ya kalau terlalu dekat nanti jadi berharap lagi, gimana sih, kamu mah dodol."
Kesal Maria.
Zanuba menatap Maria,
"Eh tapi aku ada bahan ghibah, mau dengar tidak Aunty?"
Tanya Zanuba.
"Apa?"
Maria jelas langsung semangat, jiwa keponya bergejolak langsung.
Zanuba cekikikan.
"Dasar emak-emak, kalau mau dengar gosip udah kayak denger kabar diskonan daster."
Tuiiiiiiiiing...
Bantal kembali dilempar ke arah Zanuba.
"Hihihihi... Hihihii..."
Zanuba cekikikan.
"Apaan cepet?"
Maria tak sabar.
Zanuba melayang pindah ke dekat Maria.
"Tadi malam,"
Zanuba suaranya sok bisik-bisik.
"Apa tadi malam?"
Maria menatap Zanuba dengan serius.
"Tadi malam aku lagi jadi tokek kan makan nyamuk, trus nemplok di dekat jendela kamar Kak Arya."
"Trus."
"Dengerin dululah,"
Zanuba jadi kesal Maria menyela.
"Oke lanjutkan."
Kata Maria.
"Kak Arya pulang kerja sekitar jam sepuluhan kan, trus dia telfonan sama cewek."
"Eh..."
Maria membulatkan matanya.
"Dia nanyain kabar Ibunya si cewek yang kayaknya habis dirawat di Rumah Sakit, trus ya ngobrol ini itu."
"Oh ya?"
Maria tampak senang mendengarnya, meskipun agak kaget juga mendengar Arya ternyata langsung ada cewek lain.
"Namanya kalau tidak salah..."
Zanuba diam sejenak, mencoba mengingat...
"Siapa... siapaaaa..."
Maria tak sabar.
"Ah... Namanya Putri, kayaknya dia kerja di minimarket, soalnya Kak Arya tanya dia pulang kerja dari minimarket besok jam berapa ke Putri."
"Oh ya?"
Maria terlihat benar-benar surprise.
"Jadi penasaran kan kayak apa si Putri itu, apa petakilan macam Zizi juga atau bagaimana."
Kata Zanuba, kecil-kecil jadi bigos.
**--------------**