Zizi

Zizi
140. Bradley Woods Lincolnshire


Sebelum Lycan itu menyerang, Shane melompat ke arah Lycan itu lebih dulu.


Dengan kuku-kukunya yang tajam, Shane mencabik tubuh sang Lycan.


Tampak Lycan tersebut melolong panjang, Shane kembali menyerangnya.


Bukan hanya mencabik kulit dan daging Lycan, Shane juga memukulnya dengan kekuatan penuh hingga Lycan yang ukuran tubuhnya tiga kali lipat dari Shane itu terhempas.


Melihat Lycan yang sebelumnya membuatnya tersungkur kini dalam keadaan payah, Shane bukannya berhenti malah semakin menjadi.


Shane kembali melompat, menghantam rahang Lycan itu, dan menghujamkan kuku-kukunya yang tajam ke dada sang Lycan.


Merobek kulit dan daging Lycan hingga mahluk besar itu sekarat.


Beberapa Lycan berdatangan, mereka melihat salah satu dari kelompok mereka kini terkapar tentu saja tak tinggal diam, para Lycan itu memburu Shane.


Lolongan-lolongan panjang mereka yang mengerikan terdengar di sepenjuru Bradley Woods Lincolnshire.


Shane yang melihat jumlah para Lycan yang sangat banyak dan tak mungkin ia hadapi sendirian akhirnya memilih melompat ke atas pohon dan secepat kilat menghindari mereka.


Para Lycan itu melolong sambil mengejar Shane.


Mereka benar-benar marah.


Mata mereka menyala-nyala, mereka terus mengejar Shane tanpa ampun.


Setiap kali posisi salah satu Lycan yang paling depan mendekati posisi Shane, Lycan itu melompat ke arah Shane namun serta merta Shane menendangnya sekuat tenaga hingga Lycan yang nyaris menangkapnya terhempas ke belakang mengenai teman-temannya.


Namun sayangnya, karena jumlah mereka yang sangat banyak, membuat Shane tetap tak bisa langsung lega.


Karena para Lycan yang lain, yang ada di belakang para Lycan yang berhasil Shane singkirkan tetap akan terus mengejar.


Shane semakin mempercepat lompatannya, ia mulai lelah namun ia harus terus bergerak, ia tak bisa menyerah di sini sedangkan semuanya baru saja dimulai.


Ia harus bisa melewati semuanya, sama sebagaimana Zizi bisa melewati ketujuh hutan saat menuju Merapi, kini Shane juga harus melakukan hal yang sama.


Ia tak boleh menyerah!


Tidak!!


Shane pun melompat dengan cepat hingga di atas pohon yang paling tinggi, mencoba melihat seberapa jauh lagi ia bisa melepaskan diri dari Bradley Woods Lincolnshire, saat tiba-tiba pohon yang dinaiki Shane di hantam dengan keras oleh satu Lycan yang ukurannya sangat besar.


Hantaman itu membuat pohon yang dinaiki Shane seketika ambruk.


Shane melesat cepat menghindar, namun Lycan itu melompat tak kalah cepat ke arah Shane.


Lycan yang ukurannya paling besar dari yang lain itu dengan tangannya yang berkuku-kuku tajam menyambar kaki Shane, lalu menariknya dengan kasar.


Tubuh Shane yang kecil kemudian dibanting ke tanah, jika Shane masih manusia pastinya ia sudah mati karena semua tulangnya patah bahkan mungkin remuk.


Shane meringis, tapi ia tetap bisa bangkit meski sedikit terhuyung.


Shane berdiri, tangannya bersiap dengan kukunya yang tajam-tajam.


Matanya menatap sekeliling yang kini sudah dipenuhi para Lycan.


Mereka menatap Shane sambil menyeringai.


Tak ada pilihan lain sekarang selain menghadapi mereka.


Shane tahu betul risikonya, tapi menyerah bukanlah pilihan untuk seorang pria.


Shane siaga.


Ia mencoba mencari siapa kira-kira dari mereka yang akan menyerangnya lebih dulu.


Para Lycan itu melolong, lalu memukul-mukul dada mereka seolah menunjukkan pada lawan mereka bahwa betapa kuat dan hebatnya mereka itu.


Meskipun para Vampire seringkali menganggap mereka hanya mahluk buangan, mahluk kelas rendah yang hanya pantas menjadi budak pekerja para Vampire, namun nyatanya, keberadaan mereka adalah ancaman paling mengerikan bagi Vampire.


Tak sedikit vampire yang mati di tangan mereka, bukan hanya di bunuh, namun juga ada dari mereka yang menjadi santapan Lycan juga.


Shane baru akan melompat untuk melakukan serangan lebih dulu, saat tiba-tiba sebuah belati melesat melewati Shane dan menancap di dada salah satu Lycan yang menghadang Shane.


Belati dari perak itu membuat Lycan yang terkena terlihat mengerang kesakitan.


Lycan itu bahkan langsung terlihat sangat kesakitan saat tersungkur ke atas tanah.


Shane dan para Lycan lain baru akan melihat ke arah datangnya belati itu, manakala sesosok bayangan melesat ke arah Shane, lalu meraih tangan Shane dan menariknya.


Bayangan yang jelas adalah sesosok perempuan itu menarik Shane dengan sangat cepat, gerakannya lebih cepat dua kali lipat dari Shane.


"Katerina!!"


Lycan itu meneriakkan nama sosok itu sambil berusaha mengejar namun jelas tak bisa seimbang dari segi kecepatannya.


Sosok bernama Katerina itu membawa Shane menjauhi Bradley Woods Lincolnshire.


Masuk ke sebuah hutan lain yang Shane bahkan tak tahu di mana saat ini.


Begitu para Lycan itu tertinggal sangat jauh, kecepatan Katerina pun akhirnya mulai berkurang.


Sampai kemudian mereka sampai di sebuah kastil kecil di balik bukit yang kanan kirinya adalah jurang yang menganga.


Katerina, gadis berambut blonde ikal panjang dan bergaun hitam pekat itu menarik Shane masuk ke dalam kastil itu.


Tanya Shane begitu tangan Katerina terlepas dari tangannya, dan mereka berdua kini berada di dalam kastil yang pintunya langsung ditutup rapat.


"Aku baru tahu ada Vampire sebodoh kau masuk ke dalam Bradley Woods Lincolnshire seorang diri."


Kata Katerina.


Shane yang dibilang bodoh langsung mendengus.


"Bodoh?"


Sinis Shane.


Katerina menyeringai.


"Tentu saja kau bodoh, sudah jelas di sana adalah tempat para Lycan, kau malah datang ke sana seorang diri, kau mau bunuh diri atau memang niat ingin menjadi santapan mereka secara cuma-cuma."


Katerina rasanya jadi ingin menertawakan Shane.


"Aku mencari Marthinus."


Ujar Shane.


Katerina menatap Shane.


"Kau mengenalnya? Mahluk campuran itu?"


Tanya Katerina.


Shane mengangguk.


"Ah dia sudah lama pergi, dia pergi entah ke mana, dia janji akan kembali di musim panas, mungkin nanti tak lama lagi, tapi entahlah jika dia mati terkubur salju."


Kata Katerina.


"Sepertinya kau juga mengenalnya."


Sindir Shane.


"Tentu saja aku mengenalnya, dia yang memberikanku tempat ini."


Kata Katerina.


"Kau kekasihnya?"


Tanya Shane.


Katerina yang ditanya begitu tertawa terbahak-bahak.


Apanya yang lucu? Batin Shane.


"Dia adalah Om-om, kau pikir seleraku seperti itu?"


Katerina yang jika dilihat memang masih belia, mungkin usianya tak jauh berbeda dengan Shane.


"Kau mau ke mana?"


Tanya Katerina.


Shane yang kemudian terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kastil itupun kembali memandang gadis vampire bernama Katerina itu.


"Ke kastil putri Ruthven. Kastil di mana obat penawar para vampire untuk kembali menjadi manusia disembunyikan."


Kata Shane.


Katerina tersenyum sinis.


"Kau ingin jadi manusia lagi?"


Tanya Katerina.


Shane mengangguk.


"Tentu saja."


Katerina menatap Shane dengan tatapan menyelidik.


"Kau pasti sedang jatuh cinta dengan manusia, hahahaha..."


Gadis vampire itu kembali tertawa seolah perasaan Shane adalah hal yang lucu.


"Kau tak akan mengerti, diamlah!"


Kesal Shane.


Sementara itu...


**-----------------**


(Othor ke mana nih kok nggak up siiih?



tuuuh... yaaa kaaaan, PR othor selain menghalu... 🤣🤣🤣🤣