
Rintihan yang seperti menahan sakit itu terdengar semakin jelas, Zizi semakin menajamkan matanya meski ia tahu tak akan bisa menangkap semuanya dengan baik karena bagaimanapun mata manusia sangat terbatas.
Hingga...
Di dekat semak belukar tak jauh dari Beringin tua yang sangat besar, tiba-tiba...
Tampak seorang gadis meringkuk di atas tanah, ia merintih menahan sakit.
Zizi segera menghampirinya, tak begitu jelas jika hanya mengandalkan penerangan cahaya bulan yang tak seberapa terang karena terhalang rimbun dedaunan pohon-pohon yang ada di sana, Zizi pun meminta ranselnya pada Shane.
Zizi kemudian mengambil senter kecil dan mengarahkannya pada sosok gadis itu.
"Tolong..."
Rintih gadis itu seperti memelas.
Zizi melihat tubuh sang gadis yang terkulai lemas. Gadis itu memakai kain jarik sebatas lutut dan kebaya jaman dulu.
Rambutnya panjang tergerai, wajahnya yang pucat masih terlihat cantik meski zizi hanya bisa melihatnya dari cahaya senter miliknya saja.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Zizi.
"Aku sedang bermain di alam manusia, lalu aku ditembak."
Ujarnya.
"Ditembak siapa? Trus kalian jadian?"
Zizi kumat bolot.
Haiiish... Maria mendesis.
"Zizi, lihat itu kakinya tertembak, tembakan peluru, bukan tembakan cinta."
Maria geleng-geleng kepala.
Mentang-mentang lagi kasmaran otaknya gesernya yang cinta-cintaan.
"Oooh, bilang dong tertembak, jangan ditembak, ya kan Kak Seng?"
Zizi menoleh pada Shane yang pura-pura menatap ke atas saja.
Zizi kembali ke gadis yang terluka.
"Di mana rumahmu?"
Tanya Zizi.
"Di balik bukit kecil dekat hutan ini."
Kata sang gadis.
"Lah jauh kah?"
"Tidak, hanya berbelok sedikit di depan, mengikuti jalan setapak tak lebih dari lima puluh langkah."
Zizi akhirnya mengulurkan tangannya pada sang gadis yang terluka itu.
"Ah kakiku terlalu sakit untuk berdiri, aku tak bisa."
Ujarnya.
Zizi mengerutkan kening.
Dia silukman jenis apa sih? Batin Zizi.
"Ngg... Tuan, bisa gendong aku?"
Si gadis siluman itu tiba-tiba bicara pada Shane.
Shane dan Zizi tentu saja langsung saling berpandangan.
"Aku akan sangat berterimakasih jika kalian bisa mengantarku pulang. Aku akan pastikan kalian bisa melewati hutan ini dengan tanpa ada yang berani mengganggu."
Ujar si gadis siluman itu.
"Bukankah kamu bilang rumahmu saja sudah keluar dari hutan ini?"
Si gadis siluman tertawa, tawanya menggema ke sepenjuru hutan belantara itu.
"Jika satu kesalahan dilakukan di hutan ini, maka dipastikan tak akan bisa selamat kalian keluar dari sini."
Ujarnya.
Zizi mengerutkan kening, lalu...
"Baiklah, aku sedang buru-buru, kami hanya perlu mengantarmu pulang saja bukan?"
Tanya Zizi.
"Jika Nona membutuhkan banyak informasi menuju Merapi, tentu saja saya bisa memberikannya, dan itu berarti anda harus bermalam di desa saya."
Zizi sejenak terdiam, sedikit terkejut ia mendengar siluman itu tahu jika Zizi akan menuju ke Merapi.
"Bagaimana bisa kau tahu tujuan kami?"
Gadis siluman itu tertawa lagi.
"Jauh sebelum kau masuk wilayah para lelembut, semua sudah mendengar."
Zizi terdiam, tak menyangka bahwa apa yang akan ia lakukan sudah jauh hari pada mahluk itu tahu.
Pantas saja, Ular besar itu...
"Hutan yang ada ular besar, di mana hutan itu?"
Tanya Zizi akhirnya.
Gadis siluman itu meringis.
"Bawa aku pulang dulu, aku akan katakan semuanya di sana."
Zizi menghela nafas.
"Angkat aku Tuan, gendong aku, karena aku tak bisa jalan."
Si gadis siluman itu kembali bicara pada Shane.
Zizi yang melihat Shane seperti aslinya keberatan tapi Zizi juga kadung penasaran ingin tahu di hutan mana ular besar itu menunggunya, akhirnya terpaksa menganggukkan kepalanya.
Maria melayang mendekati Zizi, ia tampak mengawasi Shane yang kini mengangkat tubuh gadis siluman itu pelahan, lalu menggendongnya di depan.
Gadis siluman itu terus menatap wajah tampan Shane, ia juga tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya ke leher Shane.
Maria yang melihat adegan itu jelas saja langsung naik daun, oh bukan naik emosi.
Ubun-ubunnya bahkan nyaris keluar bunyi teko yang airnya mendidih.
"Aku tampol saja dia."
Geram Maria yang sudah akan bersiap melayangkan tangannya, namun Zizi segera menarik ujung gaun Maria.
"Kenapa? Kau mau pacarmu direbut dia?"
Omel Maria pada Zizi yang kini tampak memandangi Shane yang sudah lebih dulu berjalan di depan mereka.
"Kita butuh informasi Aunty, tunggu sampai kita mendapatkannya, baru Aunty boleh memukulinya hingga jadi perkedel."
Ujar Zizi.
Maria mendengus.
"Tak sabar aku."
Kesal Maria.
Zizi kemudian mempercepat langkahnya mengejar ketertinggalannya oleh Shane.
Mereka kini sudah mulai melewati jalan setapak sesuai yang disebutkan si gadis siluman tadi.
Jauh, cukup jauh mereka berjalan.
Entah hitungan apa si gadis itu mengatakan bahwa langkah mereka tak akan lebih dari lima puluh langkah saja.
Maria melayang di sebelah Zizi seraya memperhatikan sekitar mereka yang terasa aneh.
Hingga akhirnya, sampailah mereka di ujung hutan, mereka keluar dan tampaklah sebuah perkampungan tempo dulu.
Kampung kecil yang bersih dan tertata rapi. Rumah-rumahnya hanya berupa bilik yang terbuat dari anyaman bambu, atapnya hanya dari jerami.
Dari celah-celah kecil rumah-rumah itu terlihat seperti cahaya yang berpendar menerangi dalam rumah.
Zizi menatap setiap rumah yang ada di sana sambil menghitung satu demi satu.
"Di mana rumahmu Nona?"
Tiba-tiba terdengar suara Shane bertanya.
Zizi yang sedang menghitung jadi lupa bilangan hitungannya tadi sampai berapa karena terkejut.
"Rumah yang ada di tengah, yang di depannya ada pohon pisang."
Kata gadis siluman itu pula.
Sejenak Shane mencari rumah yang dimaksud lebih dulu, setelah memastikan menemukannya, barulah ia meneruskan jalannya.
Zizi juga mengikuti di dekat Shane.
Dan saat langkah mereka memasuki desa tersebut, tiba-tiba dari dalam rumah-rumah itu muncul pasangan-pasangan muda yang usianya terlihat sama dengan gadis siluman yang dalam gendongan Shane.
Pasangan-pasangan itu menatap kedatangan Shane dan Zizi.
Mereka kemudian bergerak pelahan menuju jalanan meninggalkan rumah-rumah yang mereka huni.
Zizi mulai merasakan sesuatu yang tak beres, terlebih saat Zizi mulai sadar Maria tidak ada bersama mereka.
Dan gadis dalam gendongan Shane itu kini tampak mencoba menggoda Shane.
"Tuan, anda sangat tampan, puaskan kami semua malam ini Tuan..."
Gadis siluman tak ada akhlak itu tanpa rasa malu menyergap Shane, namun Shane tentu saja langsung menolaknya dengan keras.
Shane melemparkan gadis siluman itu dari gendongan.
Gadis siluman itu terlihat menyeringai, Shane menatap para gadis yang ada di desa itu semuanya juga menyeringai ke arah Shane.
Mata mereka begitu liar, sebagaimana gerak tubuh mereka yang begitu menjijikan dan murahan.
Tapi, bukan hanya Shane yang kini harus menghadapi siluman tak berakhlak, Zizi juga kini tampak siaga karena laki-laki di desa itu, yang semula berpasangan dengan para gadis yang mengejar Shane kini juga terlihat akan mengganggu Zizi.
"Berani maju satu langkah saja, aku akan musnahkan kalian semua!"
Ancam Zizi pada para laki-laki yang kini menatap Zizi dengan tatapan otak kotor.
Zizi yang seumur-umur baru bertemu siluman model begini bukannya takut malah perutnya mual.
"Kemarilah manis, akan kami layani anda semalaman."
Kata salah satu dari mereka.
"Lihatlah bibir nya, tubuhnya... wah kemarilah Nona Zizi."
Ujar salah satu dari mereka lagi.
Zizi jelas saja bergidik.
"Dasar mesum, otak kotor, jorok, banyak sampahnya, sini aku cuci biar bersih!"
Marah Zizi.
Shane yang sudah mulai melempar para gadis siluman yang mengganggunya tampak melihat Zizi kini dikerubuti laki-laki mesum tentu saja langsung marah.
Ia melompat ke arah Zizi dan tanpa menunggu lagi, Shane menerjang para siluman laki-laki itu satu persatu.
Dan...
**----------------**
Rencana mau nerbitin judul baru bulan depan...
hayuk ghibah bersama lagi hahaha