Zizi

Zizi
69. Nyai Sintren


Angin sepoi-sepoi mendayu, Zizi tampak mengerjapkan matanya saat merasa ada air dipercikkan pada mukanya.


Zizi bangun dan kemudian duduk.


Tak sadar ia ternyata tidur pulas di atas rakit di dekat Shane yang menjaganya.


Zizi tampaknya kelelahan.


Maria yang memercikan air ke muka Zizi nyengir pada anak asuhnya.


"Mimpi apa sampe ngiler begitu."


Maria geleng-geleng kepala.


Zizi mengusap ilernya tampa jaim.


Lalu memasukkan tangannya ke sisi rakit untuk mengambil air sedikit dari danau.


Tampak kini mereka telah melewati kabut tebal yang selama perjalanan seolah melingkupi sekitar mereka.


Kini tampak di kejauhan sana sebuah Gunung berdiri gagah berjajar dengan barisan bukit menjulang seolah menunggu Zizi datang.



Hari masih cukup gelap, ketika akhirnya rakit menyentuh tepian danau.


"Kita sudah sampai di ujung hutan ke lima Nona Zizi."


Kata salah satu kera putih yang mengantar mereka.


Zizi akhirnya berdiri dari posisi duduknya.


Sambil berpegangan pada Shane, Zizi berjalan ke depan dan begitu sampai ke ujung rakit, ia melompat langsung ke daratan.


Shane tampak ikut melompat mengikuti Zizi dan kemudian berdiri di sampingnya.


Tampak mata tajamnya melihat sekeliling, memantau dengan waspada jika ada gerakan yang mencurigakan, atau bahkan berbahaya untuk Zizi.


"Kami hanya bisa mengantar sampai di sini, selebihnya anda sudah tahu harus ke mana, sesuai dengan petunjuk yang diberikan pemimpin kami."


Kata kera putih itu.


Zizi mengangguk.


"Ya baiklah, Zizi mengerti, sampaikan terimakasih pada Kakek, ah Zizi lupa selfi dengannya dan minta nomor WhatsApp."


Kata Zizi.


Haiiish... Maria mendesis.


"Nanti akan kami sampaikan. Jika tidak ada pesan apa-apa lagi, kami pamit sekarang Nona, hati-hati."


Kata kedua kera putih itu.


Zizi mengacungkan ibu jarinya dengan santai.


Kedua kera itu saling berpandangan, tentu saja mereka tak tahu makna dari ibu jari begitu.


Zizi akhirnya mengganti dengan kode OK menggunakan ibu jari dan telunjuknya, tapi mereka juga kebingungan lagi.


Ah sudahlah, jadul. Batin Zizi kesal.


Maria dan Shane mewakili Zizi membungkuk memberi salam, dua kera putih itu akhirnya pamit dan kemudian bergerak menjauh dengan rakitnya.


Zizi tampak menghela nafas.


Perutnya lapar lagi.


Ia kemudian memutuskan duduk dulu di salah satu batang kayu besar yang sepertinya dari pohon roboh di dekat danau.


Zizi duduk di sana dan meminta ranselnya pada Shane.


Zizi mengambil botol air mineral, lalu mengambil satu bungkus keripik kentang.


"Kamu ini mau bersihin pusaka masuk dunia siluman sempet-sempetnya bawa keripik."


Maria heran luar biasa dengan Zizi.


Zizi membuka bungkus keripiknya dan mulai menikmati keripik kentang favoritnya.


Keripik kentang rasa rumput laut.


"Daripada Zizi kelaparan, ini namanya pare pare."


Kata Zizi.


Maria dan Shane berpandangan.


Apa sih pare-pare.


Mereka jadi harus putar otak.


Dan...


Ah Prepare maksudnya.


Maria tepuk-tepuk jidat.


Maria kemudian melayang mendekati hutan di depan mereka.


Hutan itu tampak biasa saja. Tak terlalu banyak pohon besar, dan semaknya juga jarang.


Jika ada di dunia manusia, pasti hutan ini adalah hutan dalam kota, yang bisa untuk jalan-jalan kaula muda, atau bahkan untuk membuka wisata keluarga.


Zizi meneguk air mineral dari botol nya, sambil ikut menatap hutan ke lima yang akan mereka lalui lagi.


Zizi menghela nafas.


Sudah lelah sebetulnya Zizi, tapi perjalanannya telah separuh aku, eh maksudnya separuh jalan.


Tak mungkin Zizi menyerah di sini.


Gampang nantilah kalau sudah bertemu Eyang Sapujagad Zizi akan protes padanya, kenapa tidak bisa menemuinya jika langsung dari Merapi saja, kenapa pintu untuk menemuinya harus lewat alam siluman yang mengharuskannya melewati banyak hutan dengan macam bentuk siluman.


Shane dengan telaten mengambilkannya dari dalam ransel lalu membukakan bungkusnya sebelum diberikan pada Zizi.


"Makasih Kak Seng."


Kata Zizi dengan senyum manisnya.


Shane mengangguk.


Ah Shane jadi ingat masa lalu, saat dulu mereka masih ada di Inggris.


Zizi yang suka sekali mengikuti Shane saat ada di sekolah terutama saat jam makan siang.


Shane yang tidak makan tentu saja menjadi kesempatan Zizi untuk bisa makan dua porsi.


Zizi dan Shane selalu duduk berdua saja di aula tempat makan siang mereka.


Itu sebabnya, semua orang menganggap mereka pacaran sejak kecil, karena mereka hampir tak pernah berpisah, dari berangkat sekolah, istirahat sekolah, pulang sekolah, bahkan setelah sekolah, mereka akan selaku bersama.


Dan yang dilakukan Shane salah satunya adalah seperti sekarang, menemani Zizi menikmati makanannya dan Shane sudah merasa kenyang dengan hanya melihat Zizi makan.


Zizi sedang menggigit roti coklatnya, saat melihat Maria melayang ke arah mereka.


Maria yang sempat masuk ke dalam hutan seolah memastikan keadaan di sana terlihat akan melaporkan hal penting.


"Ada apa Aunty?"


Tanya Zizi dan Shane nyaris bersamaan.


"Dayang-dayang penghuni hutan ini, mereka sedang berkumpul di dekat tanah lapang tak jauh dari sini."


Kata Maria.


Zizi mengangkat kedua alisnya.


"Sepertinya mereka sedang ada semacam ritual atau apa dengan manusia."


Kata Maria.


Dan tak selang berapa lama setelah Maria mengatakannya, sayup-sayup terdengar tabuhan musik dengan nyanyian-nyanyian.


🎶Turun turun sintren


Sintrene midadari nemu kembang


Yun ayunan


Nemu kembang Nyun ayunan


Kembang si jaya indra


Midadari temurunan


Turun turun sintren


Sintrene midadari nemu kembang


Yun ayunan


Nemu kembang Nyun ayunan


Kembang si jaya indra


Midadari temurunan🎶


Suara-suara itu terdengar begitu ramai, makin lama makin keras, diiringi musik dan juga aroma bunga dan kemenyan yang mulai lamat-lamat tercium pula.


Zizi yang sudah menghabiskan roti sobek coklatnya akhirnya melompat turun dari batang pohon yang roboh ke arah danau.


Zizi kemudian mengajak Shane dan Maria untuk menuju para dayang penghuni hutan kini berkumpul.


Sebetulnya Shane ingin mengingatkan Zizi untuk tak perlu melihat apa yang tengah mereka lakukan, biarlah itu jadi urusan mereka, kepentingan Zizi sebetulnya hanyalah lewat saja dengan aman.


Tapi, manalah bisa Zizi dicegah, ia yang terusik rasa penasarannya tampak berjalan dengan cepat menuju tanah lapang di mana kini para perempuan cantik menari sambil bernyanyi riang mengikuti irama musik.


Mereka mengitari kurungan ayam berukuran besar di tengah lapangan.


Zizi dan Maria terlihat berdiri untuk kepo, melihat semuanya dari balik pepohonan yang tumbuh tak jauh dari tanah lapang itu.


Musik dan nyanyian itu terus terdengar, hingga kemudian seorang dayang dari mereka berjalan melenggak-lenggok ke arah kurungan.


Kurungan besar itu kemudian dibukanya, tampak seorang gadis di sana matanya ditutup kain hitam, tangannya diikat, kakinya juga diikat.


"Itu manusia kan?"


Zizi tampak panik.


Ia jelas tak bisa tinggal diam.


Manusia itu pasti akan di makan.


Dan sebelum Maria melarang Zizi ikut campur, Zizi lebih dulu melompat ke arah tanah lapang itu, mengagetkan para dayang penghuni hutan ke lima.


"Hai, kau siapa!".


Bentak mereka.


"Lepaskan dia!!"


Zizi malah balik membentak.


"Apa urusanmu, kenapa kau datang-datang ikut campur urusan kami!"


Kata para dayang itu.


Zizi mengepalkan tinjunya.


Dan...


**-------------**


(Kabooooooooooor othoor kabooooooooooor)