
"Hai, kau siapa!".
Bentak mereka.
"Lepaskan dia!!"
Zizi malah balik membentak.
"Apa urusanmu, kenapa kau datang-datang ikut campur urusan kami!"
Kata para dayang itu.
Zizi mengepalkan tinjunya.
Dan tentu saja Zizi melompat dengan gesit, meninju salah satu dayang yang tampak begitu anggun dan cantik.
"Aduh."
Dayang yang cantiknya 11 12 dengan Prinses Syahrini itu mengusap wajahnya yang kena tinju Zizi.
Sementara dayang-dayang yang lain menatap Zizi dengan marah.
🎶Turun turun sintren
Sintrene midadari nemu kembang
Yun ayunan
Nemu kembang Nyun ayunan
Kembang si jaya indra
Midadari temurunan
Turun turun sintren
Sintrene midadari nemu kembang
Yun ayunan
Nemu kembang Nyun ayunan
Kembang si jaya indra
Midadari temurunan🎶
Lagu itu masih terdengar bersama dengan musiknya pengiring yang terdengar seolah ada di sekitar tanah lapang itu.
"Zizi..."
Maria hendak melayang ke arah Zizi, namun para dayang yang sudah kepalang marah akhirnya mengamuk sejadi-jadinya.
Tawuran bar bar ala anak STM pun tak bisa dihindari.
Maria dan Shane yang menyadari ini kesalahan Zizi, tentu saja tak bisa sepenuhnya melawan para dayang itu.
Mereka tahu para dayang itu tak bersalah, yang salah di sini adalah Zizi yang selalu saja grusa grusu.
Zizi menendang para dayang yang mengeroyoknya.
Para dayang itu melesatkan selendang-selendang mereka pada Zizi hingga Zizi terlilit selendang.
"Lemparkan saja dia."
Kata salah satu dayang yang kini menjerat tubuh Zizi dengan selendangnya.
Zizi berusaha melawan, saat kemudian di dalam dirinya seolah akan keluar energi Jayapada, para dayang itu lebih dulu melempar Zizi ke tengah tanah lapang bersama gadis yang tadi tubuhnya terikat tali dan matanya ditutup kain hitam.
Zizi dan gadis itu kemudian ditutupi kurungan ayam berukuran besar yang kurungan ayam itu diselimuti kain hitam.
🎶Turun turun sintren
Sintrene midadari nemu kembang
Yun ayunan
Nemu kembang Nyun ayunan
Kembang si jaya indra
Midadari temurunan
Turun turun sintren
Sintrene midadari nemu kembang
Yun ayunan
Nemu kembang Nyun ayunan
Kembang si jaya indra
Midadari temurunan🎶
Lagu itu semakin ramai terdengar.
Zizi yang kesal karena ditutupi kurungan ayam langsung bangun dari posisinya yang meringkuk.
Selendang para dayang yang membelitnya telah lepas.
"Dasar para dayang tidak jelas, kamu tenanglah, aku akan menyelamatkanmu!"
Kata Zizi pada gadis yang terikat tali dan matanya ditutupi itu.
Zizi kemudian melihat di depan mereka ada kain, kebaya, bedak dan bermacam alat kecantikan lain, serta kacamata hitam.
"Apa ini?"
Zizi melempar barang-barang itu karena tak tahu maksudnya.
Belum lagi Zizi memahami situasi yang sebenarnya, Zizi bertambah merasa ada yang aneh.
Karena saat ini ia bukan hanya mendengar lagu Sintren dinyanyikan, namun juga aroma bunga tujuh rupa dan kemenyan yang semakin kuat tercium serta sorak sorai seperti suara manusia.
Zizi yang penasaran dan ingin segera memberi pelajaran lagi para dayang itu akhirnya berdiri dan menendang kurungan yang menutupi dirinya dan gadis yang juga meringkuk bersamanya dalam posisi terikat.
Zizi yang kini berdiri di tengah tanah lapang terkejut, begitu juga dengan semua yang melihat Zizi.
Pemandangan yang sama sekali berbeda kini ada di depan mata Zizi.
Ia bukan lagi berada di tanah lapang di dalam hutan, namun ada di tengah tanah lapang sebuah perkampungan manusia.
Zizi juga melihat laki-laki dengan baju setelan hitam yang membawa wadah berisi kemenyan dan kembang tujuh rupa.
Semua orang bingung menatap Zizi, pun juga Zizi yang lebih bingung.
"Kamu apa? Kamu siapa?"
Tanya laki-laki dengan setelan hitam yang membawa kemenyan.
Ia terlalu modern, dan apa tadi menendang kurungan sampai terpental hingga ke arah oara penonton.
Ah sungguh, bahkan dari jaman sebelum masehi, tak ada dayang prakayangan yang dipanggil sampai menendang kurungan.
"Lha malah kamu yang tanya, harusnya Zizi yang tanya ini apa? Kenapa ada orang diikat dan dikurung ditonton?"
Kesal Zizi.
Haiiish... Laki-laki dengan setelan hitam mendesis.
Dasar anak jaman now tidak tahu warisan budaya leluhur, bikin emosi jiwa.
Laki-laki berpakaian hitam dengan ikat kepala warna hitam dengan corak tulisan itu meletakkan wadah kemenyan dan bunga tujuh rupa.
Asistennya membantu gadis yang diikat tali dan matanya ditutup kain hitam.
Laki-laki berpakaian hitam itu kemudian melakukan gerakan khas pendekar silat yang akan berlaga.
Ciat... Ciat... Ciat...
Zizi mengangkat kedua alisnya.
Ni orang kenapa malah ngajak duel sih. Batin Zizi.
Zizi mengurut keningnya.
Zizi baru akan bicara, saat tiba-tiba dari arah penonton terdengar teriakan dan jeritan.
Beberapa penonton emak-emak dan gadis kesurupan.
Mereka berteriak-teriak sambil melotot, laki-laki berpakaian hitam itu jadi panik dan langsung menghambur ke arah para penonton yang kesurupan.
"Semua gara-gara kamu, mengacaukan saja."
Kata laki-laki itu membuat Zizi garuk-garuk kepala.
Salah Zizi apa, kan Zizi nolongin gadis yang mau dimakan para dayang hutan ke lima.
Zizi mengikuti laki-laki yang kini mencoba menolong para penonton yang kesurupan.
"Anak manusia itu merusak kesenangan kami, dasar anak nakal, anak akhlakles."
Kata salah satu emak-emak yang kesurupan.
Zizi cengar-cengir dikata-katai.
Penonton laki-laki yang ada di sana membantu laki-laki berpakaian hitam mengumpulkan para perempuan yang kesurupan.
Mereka semua di baringkan di tengah lapangan, lalu dimantra-mantrai.
Zizi yang kembali mengikuti duduk sila di dekat gadis kecil yang juga kesurupan.
"Zizi nakal."
Kata dia.
Zizi langsung menabok kepalanya.
"Diam. Balik sana ke hutan."
Omel Zizi.
"Zizi bocah nakal."
Kata anak itu lagi.
Haiish...
Zizi kesal mau nabok lagi, tapi tiba-tiba ada tangan yang menahan gerakan tangannya.
Aroma melati itu, Zizi kenal aroma itu.
Zizi mendongakkan wajahnya, dan benar tampak Nyai Retnoasih berdiri di sana.
Laki-laki berpakaian hitam yang komat kamit membaca mantra akhirnya terdiam manakala matanya menangkap sosok Nyai Retnoasih yang cantik luar biasa hadir di sana.
"Para dayang hutan ke lima yang baik, maafkan kekonyolan cucuku, dia tidak tahu jika kalian hanya sedang bermain bersama manusia."
Kata Retnoasih dengan suaranya yang lembut mendayu.
Para dayang yang merasuki penonton menatap Retnoasih.
"Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan cucuku, aku akan lakukan, cucuku hanya ingin melewati hutan ke lima, ijinkan saja dia lewat, dan kesalahannya biarlah aku yang akan mengganti."
Para dayang yang merasuki penonton satu persatu keluar, mereka kemudian sungkem pada Retnoasih.
"Gusti Retnoasih, kami tentu tak berani meminta apa-apa padamu setelah dulu kau menyelamatkan hutan kami dari para Gendruwo yang juga ingin meluaskan kekuasaan."
Kata salah satu dari mereka.
"Tapi anak ini bukankah sudah merusak kesenangan kalian hari ini?"
Para dayang itu menoleh pada Zizi yang nyengir sambil mengangkat kedua jarinya tanpa dosa membentuk V dan kemudian membentuk love macam artis Korea.
"Peace and love."
Kata Zizi.
Haiish... Mereka mendesis.
"Kami sungguh tidak tahu dia cucu anda."
Kata salah satu dari mereka lagi.
Retnoasih terkekeh.
"Ya dia memang sedikit berbeda, dia lebih mirip Ibuku."
Kata Retnoasih tertawa.
**----------------**
Catatan :
Sintren adalah salah satu warisan budaya di mana seorang gadis diikat dengan mata ditutup di masukkan ke dalam kurungan yang juga telah disediakan baju dan perlengkapan make up. Setelah dimantrai oleh seorang yang tahu bacaannya, begitu kurungan dibuka, gadis yang semula belum menggunakan makeup begitu keluar sudah cantik dan juga berganti pakaian.
Budaya leluhur ini bisa ditemukan di wilayah pesisir sekitar Cirebon dan Brebes. Hanya saja belakangan ini memang sudah semakin jarang ditemui.
Tentu bukan hanya sintren, namun juga jaran ebeg di Purbalingga, bahkan wayang kulit, wayang golek, tari-tarian tradisional dan sebagainya juga sudah mulai terkikis arus modernisasi.
Tahukah juga kita? Bahkan kitab-kitab jawa kuno yang berisi kisah tentang kemasyhuran leluhur Nusantara justeru yang bisa membaca adalah orang-orang dari Perancis dan Belanda?
Ini tugas kalian generasi muda dan juga emak-emak macam kita yang memiliki anak, mulai dari keluarga untuk lebih mencintai apapun yang ada di negeri kita sendiri.
❤️❤️❤️❤️❤️