
"Pa... ternyata mimpiku bener."
Kata Zia pada Zion, tampak Zion mengerutkan kening
"Maksudnya mimpi yang mana Ma?"
Tanya Zion.
"Mimpi tentang anak-anak kecil, yang beberapa hari lalu aku mimpi, yang semuanya petakilan, loncat sana sini kayak ulet pete."
"Ooooh... Maksudmu yang mimpi anak-anak Zizi?"
Tanya Zion.
Zia menganggukkan kepalanya.
Keduanya kemudian menatap Maria.
"Beneran begitu kata Eyang Sapujagad?"
Tanya Zia pada Maria seolah memastikan jika bisikan gaib Maria itu bersumber dari berita yang terpercaya.
"Iya Nya, Zizi sendiri yang cerita, dia dikasih tahu Nenek Bandapati."
Ujar Maria.
"Jadi Nenek sudah tahu?"
Tanya Zia.
Maria mantuk-mantuk.
Dan belum lagi zion bereaksi dan berkomentar atas berita soal calon cucu-cucunya itu tiba-tiba hp Zion seperti ada panggilan masuk.
Zion pun segera meraih hp nya dari dalam saku jas yang dia pakai.
Tampak nama Kak Aisyah di layar hp.
"Siapa Pa?"
Tanya Zia.
"Kak Aisyah."
Zion menjawab sembari memperlihatkan layar hp nya ke arah Zia.
"Pasti soal Ali."
Kata Zion.
Ia segera mengangkat panggilan Kakak iparnya tersebut.
"Ya Kak."
Zion sambil duduk di sisi tempat tidur kamar hotel, sementara Zia ikut disebelahnya, untuk ikut mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.
"Zion, Ali sudah dalam perjalanan menuju Indonesia, sepertinya ada hal yang mengganggunya belakangan ini. Ia ingin bertemu Zizi, tampaknya ia ingin minta tolong soal masalahnya, barusan Kakak telfon Zizi tapi tak ada jawaban, Zia juga sama tak dijawab."
Kata kak Aisyah.
"Aah ya, Zizi pasti masih istirahat."
Ujar Zion sambil menatap Zia di sebelahnya. Zion tampak kesulitan menjelaskan kondisi Zizi saat ini karena dia sendiri juga belum bertemu anaknya.
Melihat Zion yang seperti bingung, Zia akhirnya mengambil alih hp Zion.
"Kak ini Zia."
Aisyah yang mendengar suara Zia terdengar langsung menghela nafas lega.
"Zia, Kakak tak tahu kau sedang bersama Zion, Kakak menelfon Zizi tak ada jawaban, menelfon Zia juga sama."
Kata Aisyah.
"Iya Kak, kebetulan ada yang sedang terjadi di Zombie hotel, aku sengaja datang menemani Zion."
Kata Zia.
Lalu...
"Ada apa Kak? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Ali?"
Tanya Zia.
"Ya Zi, kau tahu bukan? Sejak pulang dari Jepang, Ali bisa melihat hantu, jika dulu ia sangat pemberani, sekarang sepertinya ia mulai harus membiasakan diri melihat hantu yang seram-seram."
Aisyah mulai bercerita.
"Ya aku tahu, aku juga dulu butuh waktu untuk membiasakan diri Kak."
Kata Zia.
"Dan belakangan ini, ia sempat bicara pada Eva, kalau dia sepertinya ada yang mengikuti."
"Apa katanya?"
Tanya Zia yang jadi ikut khawatir.
"Entahlah, Ali tak menyebutkan bentuknya, namun ia bicara pada Eva jika ia harus bertemu Zizi, ia takut mahluk itu akan menguasai dirinya."
Tutur Aisyah.
Zia terdiam.
"Seserius itukah?"
"Ya Zia, Kakak takut Ali akan kenapa-kenapa, tolong Zia sampaikan pada Zizi, jika Kak Aisyah sangat berharap Zizi membantu Ali."
Ujar Aisyah.
"Kak, jangan khawatir, kami semua pasti akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Ali, Kak Aisyah dan Kak Ziyan tenanglah, jangan terlalu dipikirkan."
Kata Zia.
"Ya Zia, rasanya Kak Aisyah langsung tenang jika sudah bicara dengan kamu."
Ujar Aisyah.
Zia tersenyum, meskipun saat ini ia tahu Aisyah tak bisa melihat senyumnya.
Setelah bicara beberapa hal lain terutama soal kabar Kakek Ardi Subrata, merekapun akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka di telfon.
Zia menyerahkan hp milik Zion lagi pada suaminya.
"Ali kenapa?"
Tanya Zion.
Zia menghela nafas.
"Sepertinya kekuatan Ali meningkat, ada mahluk yang mengejarnya tapi dia belum tahu bagaimana cara mengatasinya."
Kata Zia.
"Apa akan berbahaya?"
Tanya Zion.
Zia terdiam, ia menatap Maria, seolah meminta Maria yang menjelaskan dari posisinya sebagai hantu.
Maria melayang ke arah keduanya, lalu mencoba menjelaskan seperti apa yang diinginkan Zia.
"Kami bisa melihat energi manusia, siapa yang paling kuat di antara kalian dan siapa yang paling lemah. Biasanya yang lemah akan menjadi tumpangan kami para lelembut, seperti ikut makan, ikut berhubungan badan dan lain-lain. Sementara yang kuat, kami akan ikut menjadi abdinya atau justeru kami yang akan menggiring mereka menjadi abdi kami perlahan-lahan."
Zion mengerutkan kening, belum begitu memahami kalimat Maria.
Zia akhirnya membantu memperjelas.
"Manusia dengan energi kuat seperti Zizi dan Ali akan dikenali bangsa lelembut Pa, mereka ada yang jadi takut, ada yang ingin mencoba, ada yang ingin menantang, dan ada juga yang ingin menjadi pengikut. Salah satu contohnya adalah Aunty Maria ini yang ingin ikut Zizi sejak kecil."
Maria yang mendengar penjelasan Zia tampak mantuk-mantuk setuju.
"Namun, ada juga yang pada awalnya ia menjadi pengikut, tapi dia bersifat seperti parasit, dia menyerap energi manusia itu pelahan-pelahan, terutama saat manusia itu belum begitu stabil dalam mengendalikan energinya, seperti Ali ini. Dia punya energi kuat, tapi dia tidak siap begitu melihat wujud mereka dengan jelas, ia masih ada rasa takut, maka energi dia mudah diserap. Jika hal itu dibiarkan, dan yang mengikuti Ali ternyata pelan-pelan akhirnya lebih kuat dari Ali, maka Ali yang akan ia kuasai."
Ujar Zia lagi.
Dan Maria mantuk-mantuk lagi.
Zion terlihat bergidik.
Tapi, Zion jadi ingat saat dulu ia jadi hantu, saat di mana ia tak bisa dilihat banyak orang yang padahal lalu lalang di tempat Zion gentayangan.
Dua bulan Zion mencari orang yang bisa ia mintai tolong, tapi tak ada satupun yang bisa melihatnya.
Hingga akhirnya ia bertemu Zia.
Ya Zion ingat, saat itu ia juga merasakan ada energi yang berbeda ketika ada di dekat Zia.
"Nanti aku akan hubungi Zizi, kalau sekarang pasti dia masih tidur, kasihan jika harus dibangunkan, lebih baik Papa sampaikan saja pada Joni untuk menghubungi Dave, atau Pandu atau Agung untuk menjemput Ali nanti."
Kata Zia.
Zion pun mengangguk.
"Maria."
Zia menatap Maria.
"Kita cari hantu Dewi sekali lagi di sekitar hotel."
Kata Zia.
"Baik Nyonya."
Sahut Maria cepat.
Zion keluar dari kamar dan meminta Joni untuk menghubungi Dave agar ia menjemput Ali, setelah itu Zion sibuk menghubungi Dimas yang kini sedang menuju tempat kos Dewi.
Maria pun melayang keluar dari kamar mengikuti Zia yang juga keluar di belakang Zion.
"Apa kita ke atap hotel saja Mar?"
Tanya Zia.
Maria mantuk-mantuk.
Sebetulnya Maria sudah ke sana tadi, tapi tak masalah jika sang Nyonya ingin mencari keberadaan Dewi lagi.
Sementara itu, di Bogor, di rumah Zia dan Zion, si anak petakilan mereka yang tidur macam kebo kekenyangan itu saking lelapnya, jatuh dari atas tempat tidur ke atas karpet pun ia tak bangun.
Zanuba jin kecil yang duduk di atas meja sambil memperhatikan gaya tidur Zizi sampai geleng-geleng kepala.
"Jin kenyang saja tidurnya nggak sebegitunya deh, Zizi... Zizi..."
Zanuba bergumam-gumam sendiri.
**-------------**