
Di puncak Merapi di alam lelembut, Eyang terlihat duduk bersila seraya memejamkan matanya di dekat kawah besar yang di bawah sana terlihat menggelegak.
Asap tebal yang panas menyembur sesekali, disertai suara gemuruh yang mencekam.
Awan hitam tiba-tiba bergelayut di atas puncak Merapi itu, dan angin yang sangat kencang bergulung-gulung bagai ombak yang siap menghancurkan apa saja yang dilewati.
Seperti orang yang tengah bersemedi, Eyang menyatukan diri dengan alam yang mengamuk. Jayapada terlihat mengambang tepat di depan Eyang dan juga di atas puncak Merapi.
Pedang itu tampak bergetar.
Eyang pelahan membuka matanya, ditatapnya Jayapada yang kini mengeluarkan seperti asap hitam.
Eyang berdiri, dan dengan cepat meraih pedang itu lagi, membawanya melesat masuk ke dalam kawah.
Terdengar jeritan dan lolongan yang keluar dari Jayapada.
Semakin ke dalam, Jayapada bergetar semakin hebat. Pedang itu berusaha terlepas dari tangan Eyang, seolah ada banyak energi jahat di dalam sana yang tak mau dibersihkan.
Tapi, Eyang tak mungkin menyerah begitu saja. Tugasnya adalah memenjara seluruh energi jahat itu di dalam dasar kawah Merapi.
Sebagaimana orang-orang sakti yang bijak di jaman dulu menyimpan pusaka sakti tanah jawa dari masa lampau di Kawah Candradimuka.
Disimpan di sana agar tak perlu ada yang memiliki kembali karena amanah yang terlalu besar manakala seseorang memiliki sebuah pusaka dengan energi gaib yang tinggi.
Eyang semakin mendekati dasar kawah yang sangat panas. Asap panas membumbung tinggi disertai suara gemuruh yang luar biasa.
Sementara itu di atas sana, di langit tepat di atas puncak merapi hujan badai dengan petir menyambar tak henti-henti.
Eyang melemparkan Jayapada ke dalam kawah, lalu ia dalam posisi mengambang di atas tengah kawah kembali duduk bersila.
Mulutnya komat-kamit, sementara dari tubuhnya memancar cahaya putih yang sangat terang.
Jayapada meluncur masuk ke dalam kawah yang menggelegak.
Jeritan dan lolongan itu terdengar semakin keras.
Jayapada seolah terbakar, melepaskan seluruh energi jahat yang selama ini membungkusnya.
Kawah bergolak-golak menyambut datangnya Jayapada.
Pedang yang lebih dari seribu tahun lalu juga dibakar dengan api dari Merapi, dan diisi energi seekor Naga tertua itu kini membuat Merapi bergoncang.
Gempa terasa di sekitar puncak Merapi, bahkan bisa dirasakan dari tempat Zizi dan teman-temannya istirahat.
Zizi yang merasakan tanah lelembut berguncang, tampak cepat keluar dari pondok.
Lelembut dalam berbagai bentuk berlarian dari arah sekitar puncak Merapi.
Zizi menatap ke arah puncak Merapi yang bisa terlihat dari depan pondok pasanga kakek nenek ular.
Terlihat di sana seperti tengah terjadi perang lelembut yang dahsyat.
"Jayapada sedang dibersihkan."
Tiba-tiba suara Kakek ular terdengar dari belakang Zizi.
Zizi menoleh pada kakek ular itu.
Suara jeritan para lelembut yang melarikan diri dari amukan kawah Merapi atas energi jahat di dalam Jayapada kini memenuhi tanah lelembut.
Mereka berlarian menuju hutan ke tujuh, bersembunyi di sana, ada pula yang masuk ke telaga dan entah ke mana lagi.
"Kau tak melarikan diri Kek?"
Tanya Zizi.
Kakek ular menggeleng.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini akan berakhir dengan sendirinya setelah proses pembersihan Jayapada selesai."
Kata Kakek Ular.
"Kenapa lelembut takut gempa?"
Tanya Zizi.
Dari kecil Zizi memang selalu saja bertanya tentang apapun, terutama jika ia merasa penasaran.
"Mereka bukan takut gempa, namun takut panas magma di dalam sana menyembur dan muntah keluar berserta awan panas. Bangsa lelembut takut ikut terbakar, terutama mereka yang merasa memiliki energi jahat."
Tutur kakek ular menjelaskan.
Zizi kembali menatap puncak Merapi yang kini diselimuti asap hitam tebal.
Raungan terdengar dari sana.
Gemuruhnya bahkan mulai mengalahkan suara berisik dari jeritan para lelembut.
Sementara itu, goncangan bumi di alam lelembut semakin dahsyat.
Beberapa pohon di lereng-lereng Gunung satu persatu tumbang.
"Lebih baik di dalam saja Nona, anda diminta istirahat agar segera pulih."
Shane yang berdiri di samping Zizi mengingatkan.
Zizi menoleh ke arah Shane.
"Zizi penasaran, hehehe..."
Tampak gadis itu malah cengar-cengir.
Sementara itu, di atas atap pondok, Mintul dan Maria duduk sambil menatap puncak Merapi juga.
Maria bahkan nyaris tak ingin mengalihkan tatapannya barang sedetik dari sana, karena dialah yang selama ini mendampingi Zizi menggunakan pedang itu.
Sungguh, Maria bahkan tidak menyangka, jika energi jahat yang ada di dalam pedang tersebut sudah sedemikian besar.
Hingga kala dibersihkan, dampaknya sampai membuat alam lelembut menjadi berguncang.
Dan nyatanya, bukan hanya Maria dan juga para lelembut lain yang kini berada di sekitar Merapi.
Bahkan Tanah Dalu di mana Putri Arum Dalu tinggal di dalam kerajaannya pun ikut merasakan guncangan di dalam kerajaannya.
Begitu pula dengan rakyat tanah Dalu, yang salah satunya adalah mba pocong.
Ia keluar dari gubuknya, berdiri di sana seraya menatap langit yang kini mulai gelap ditutupi awan-awan hitam.
"Nona Zizi sudah bertemu sang Eyang, syukurlah."
Gumam Mba pocong.
Begitu juga Putri Arum Dalu yang keluar dari kerajaannya, dan melihat awan-awan hitam di langit yang membuat langit di tanah Dalu gelap meski belum datang malam hari.
Putri Arum Dalu merasa lega, karena ini pertanda Merapi mulai bekerja membersihkan seluruh energi jahat pada Jayapada.
Nona Zizi menyelesaikan misi besarnya, dia memang luar biasa. Batin Putri Arum Dalu.
Kawah Merapi kini melahap Jayapada seluruhnya, membungkus seluruh energi jahat di dalam pedang itu dengan hawa panas yang terus meningkat seiring bertambah banyaknya energi jahat yang terserap dari Jayapada.
Eyang masih komat-kamit dengan posisi bersila sambil mengambang di atas kawah.
Sinar yang begitu terang yang keluar dari tubuh Eyang semakin memenuhi kawah tersebut, sinarnya kemudian membumbung tinggi, menghalau pekat asap hitam tebal dan juga angin seperti tornado yang bergulung-gulung memporak porandakan seluruh tempat di sekitar puncak Merapi.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara lengkingan yang tinggi, yang tak lama berselang, terlihat seekor Naga yang sangat besar terbang melesat dari arah Utara menuju puncak Merapi.
Naga itu begitu sampai di puncak dan kemudian turun, langsung berubah menjadi seorang perempuan.
Perempuan itu tampak tersenyum.
Jayapada keluar dari dalam kawah, melayang ke arah Eyang.
Cahaya putih yang begitu terang itu kemudian seolah disalurkan oleh Eyang ke dalam Jayapada.
Perempuan yang tak lain adalah Bandapati itu kemudian melesat ke arah Eyang dan Jayapada.
Ia melakukan posisi yang sama sebagaimana Eyang. Tak lama ia juga terlihat mengeluarkan semacam cahaya kemerahan seperti api.
Cahaya kemerahan itu disalurkannya pula ke dalam Jayapada.
Yah...
Jayapada kini seolah terlahir kembali.
Dengan energi yang baru.
Energi dari Eyang Sapujagad dan juga dari Bandapati.
**-------------**