Zizi

Zizi
196. Attala VS Alexander


"Attala cerewet sekali, kenapa jam segini harus rapat segala, menyebalkan!"


Alex menyetir mobilnya dari Andromeda Apartement menuju kediaman Attala di Pondok Indah.


Hari telah gelap dan gerimis mengguyur sejak habis maghrib.


Alex yang sebetulnya hari ini ingin pergi ke tempat Nadia, walhasil harus ditunda gara-gara Attala mengamuk sejak pagi.


Entah berapa kali Attala menelfon hanya untuk membentaknya dan meminta Natalia ke Indonesia sekarang saja.


Haiiish... Alex mendesis.


Alex masih terjebak macet, saat kemudian hp nya ada panggilan masuk.


Alex melirik hp nya, yang ia letakkan di tempat hp dalam mobilnya.


Natalia.


"Ya."


Jawab Alex begitu panggilan Natalia ia angkat.


"Kau di mana?"


Tanya Natalia.


"Aku? Di jalan, terjebak macet. Attala memintaku ke rumahnya sekarang juga. Dia memang sinting."


Kesal Alex.


Natalia terkekeh-kekeh.


"Kakakmu kan dari dulu begitu."


Kata Natalia.


"Kau ke Indonesia?"


Tanya Alex.


"Besok aku berangkat, Mam tak mengijinkan aku berangkat sekarang."


Kata Natalia.


"Mereka tahu kau membuat onar?"


Tanya Alex.


"No, aku saja heran Attala tahu itu ulahku."


Kata Natalia.


"Yah, Attala terlalu berbeda."


Kesal Alex lagi.


"Kau akan segera menikahinya bukan?"


Tanya Natalia.


"Nadia?"


Alex seolah balik bertanya.


"Ya."


Sahut Natalia.


"Tentu saja, dia tak mungkin kita lepaskan."


Ujar Alex.


"Harusnya aku juga mencari laki-laki yang energinya sama kuatnya dengan gadis itu. Aku mencarinya di sini, tapi sulit. Haruskah aku mencarinya di Indonesia?"


Tanya Natalia.


Mendengar pertanyaan Natalia, Alex tiba-tiba teringat sosok polisi muda yang beberapa hari lalu sempat bermasalah dengan drivernya di jalanan kota Bogor.


"Pemuda dengan energi sekuat Nadia, aku sepertinya ada satu kandidat untukmu, kau tertarik?"


Tanya Alex kemudian dengan senyuman miring macam menara Pisa.


"Di mana?"


Tanya Natalia.


"Ada di sini, datang saja dulu ke Indonesia, nanti aku akan tunjukkan."


Kata Alex.


"Aah baiklah, besok kau jemput aku."


Kata Natalia.


"Ya beritahu aku saat akan berangkat, mungkin aku akan ajak Nadia ikut serta menjemput."


"Hmm apa kau gila? Kita akan bicara soal Attala dan semuanya lebih dulu."


Omel Natalia.


Alex garuk kepalanya.


Ah yah, ia lupa...


"Oke, besok aku menjemputmu sendirian."


Kata Alex akhirnya meralat.


"Kapan jadinya pernikahanmu?"


Tanya Natalia.


"Bukankah aku sudah mengirimi mu surel? Dasar kau selalu malas baca."


Kesal Alex.


"Aku terlalu sibuk mengawasi mata-mata bodohmu."


Natalia emosi.


Alex tertawa.


Natalia terdiam sejenak, sepertinya ia sibuk mencari surat yang Alex kirimkan padanya, lalu...


Tanya Natalia.


"Ya."


Sahut Alex.


"Hmm... Pantas tadi Mam bilang kenapa terburu-buru, masih ada waktu beberapa hari lagi kata dia, aku tak bisa berpikir karena Attala membentakku sampai gendang telingaku nyaris pecah."


Alex kembali tertawa.


"Kau macam tak tahu dia saja. Aah, aku hampir sampai, besok kita lanjutkan lagi saja Nat."


Ujar Alex.


"Ya, baiklah."


Alex menutup sambungan telfon mereka, lalu mengarahkan mobil memasuki kawasan elite pondok indah di mana di sanalah tempat tinggal Attala sang kakak satu-satunya, yang menggantikan kedua orangtuanya sejak mereka meninggal.


Mobil Alex mendekati rumah dengan pagar tinggi menjulang yang kemudian di buka dua penjaga yang mengenali betul mobil mewah milik Alex.


Alex membawa mobilnya masuk ke halaman rumah super mewah itu, menyusuri jalan mobil yang diapit kanan kiri taman bunga.


Sampai di pelataran persis depan rumah, Alex menghentikkan mobilnya, ia turun disambut dua penjaga lain yang berdiri di dekat pintu.


Kedua penjaga itu membungkuk memberi hormat pada Alex yang melewati mereka.


Pintu utama rumah dibuka seorang penjaga pintu.


Penjaga tersebut juga membungkuk dengan sopan.


"Bang Attala di mana?"


Tanya Alex.


"Di ruangan biasa di lantai atas Tuan Alex, silahkan anda langsung saja ke tempat beliau."


Sahut si penjaga.


Alex berjalan ke arah anak tangga, di mana di sana duduk sebutir hantu anak SMP dengan seragam penuh darah.


"Sedang apa kamu di sini?"


Tanya Alex heran.


"Tadi saya dicomot dari jalan oleh Tuan pemarah itu, katanya diminta di sini dulu."


Jawab si hantu anak SMP.


"Kecil-kecil sudah jadi hantu, kamu pasti tidak punya cita-cita."


Kata Alex kurang kerjaan sambil berjalan naik ke lantai atas.


Haiiish... Si hantu anak SMP mengepalkan tangannya dan bersikap seolah ingin memukul kepala Alex dari belakang.


Tapi mana berani dia untuk benar-benar melakukannya, bahkan rasanya sebelum melakukannya Alex sudah lebih dulu menangkap tangannya dan memuntirnya.


Alex berjalan ke arah satu ruangan yang pintunya sangat besar dengan ukiran ular hitam bermata merah.


Ular yang sama dengan tatto di punggung pada seluruh keluarga Heri Sapta sebagai penegas jika mereka adalah keturunan dari Jaka Lengleng.


Tatto yang kemudian akan mereka berikan pada abdi mereka pula, hingga kelak para abdi itu tak akan bisa keluar dari lingkaran mereka begitu saja.


Alex lantas mengetuk pintu ruangan kakaknya, sebelum kemudian akhirnya ia masuk ke dalam ruangan tersebut.


Attala tampak duduk di kursi belakang meja kayu di mana ia biasa membawa banyak berkas dari kantor.


"Kak."


Alex melangkah mendekati sang kakak yang menatapnya dengan tajam.


Attala terlihat masih marah, meskipun tak setinggi pagi dan siang tadi.


Alex mengambil tempat di depannya, duduk di kursi yang ada di depan meja sang kakak.


"Apa sebetulnya yang ada di otakmu?"


Tanya Attala sinis.


Alex membalas menatap kakaknya.


"Aku sudah bilang, biar aku menghancurkan keluarga Ardi Subrata lebih dulu dan mengambil alih Alpha Centauri, kalian tidak usah melakukan apapun."


Kata Attala lagi.


"Tapi moyang kita terus mendatangiku, ia menginginkan Jayapada."


Kata Alex.


"Tanpa Jayapada, kekuatannya tak bisa mengalahkan pelindung keluarga Zion."


Lanjut Alex pula.


Haiiish... Attala mendesis.


"Itu sebabnya kau menyebar semua mata-mata bodohmu mengikuti keluarga Zion? Dan sekarang kau pasti sudah berhasil memancing kecurigaan mereka."


Kesal Attala.


Alex terdiam.


"Kalian mengincar anak Zion bukan?"


Tanya Attala pula.


Alex kembali menatap sang kakak dan tampak akhirnya mengangguk.


"Jika Zion mati, Ardi Subrata mati, menurutmu dan Alpha Centauri ada di tangan kita, menurutmu apa gadis itu tidak akan lebih mudah didapatkan?"


Tanya Attala.


Alex diam.


"Moyang kita hanya butuh kekuasaan di dunia lelembut, dan di dunia manusia, bisnis adalah yang paling memungkinkan untuk bisa jadi penguasa. Tak ada yang tidak takluk dengan uang. Jika kita berkuasa secara ekonomi, semua bisa dikendalikan."


"Tapi bisa saja perhitungan Moyang kita lebih teliti Kak? Jika menghancurkan Zion dan Ardi Subrata harus mengalahkan pelindungnya, otomatis kita juga butuh Jayapada."


Kata Alex.


Attala mendengus, lalu...


**------------**