Zizi

Zizi
183. Hmm Siapa Lagi Dia?


"Hantuuuuuu..."


Gubrak, gabruk, gubrak, gabruk...


Heboh orang berlarian melihat Zizi nongol di lorong lalu lenyap lagi, membuat kehebohan itu terlihat oleh Zia di dalam butik.


Zia dan Nancy menoleh ke arah kaca butik yang bisa melihat suasana di jalanan meski tak tahu secara pasti apa sebetulnya yang terjadi.


"Ada apa ya?"


Tanya Zia dengan suara bergumam.


Nancy menggeleng.


"Entahlah, mungkin ada artis."


Kata Nancy.


"Ah yah, mungkin ada Agnes Monica."


Ujar Zia.


"Atau Cinta Laura."


Kata Nancy.


Zia mengangguk.


Mereka kemudian melanjutkan acara melihat model gaun terbaru lagi, seorang pelayan datang untuk menanyakan apa yang tamu pelanggan mereka cari.


Zia dan Nancy kemudian meminta ditunjukkan gaun yang bagus untuk acara pertunangan dan sekaligus untuk pernikahan.


Pelayan pun dengan senang hati melayani mereka.


Di sekitar pusat perbelanjaan alam hantu Zizi yang tak sadar telah menyebabkan kesemrawutan di alam manusia tampak melenggang dengan santai mengikuti Maria yang melayang menuju butik paling besar di sana.


Tampak beberapa hantu melayang juga sambil bisik- bisik melihat Zizi.


"Lihat ada manusia."


Kata mereka heboh.


"Iya benar itu manusia."


"Kenapa manusia datang ke sini?"


"Mau apa dia?"


"Eh siapa dia?"


Para hantu itu terlihat dan terdengar kasak-kusuk melihat Zizi berkeliaran di sana.


Haiiish... Zizi mendesis.


"Apa kamu!"


Zizi tiba-tiba menggebrak hantu cowok bule yang berdiri di dekat toko sepatu dan bersandar di etalase besarnya.


"Tidak ada apa-apa."


Kata hantu cowok bule tersebut.


Zizi mantuk-mantuk, lalu masuk ke butik di mana Maria lebih dulu masuk.


Hantu cowok bule itu mengelus dadanya.


Kaget campur takut karena ada manusia masuk ke dunia mereka dan berkeliaran begitu.


"Selamat si..."


Seorang pelayan butik baru akan menyambut kedatangan Zizi yang dikiranya akan menjadi tamu pelanggan baru mereka lagi.


Namun, belum lagi kalimatnya selesai, ia yang kemudian menyadari yang masuk itu manusia saking terkejutnya sampai melompat nempel ke kaca.


"Man... Man... Manusiaaaaa..."


Hantu itu menembus butik di mana ia bekerja, sementara Zizi yang melihat hantu itu ketakutan jadi geleng-geleng kepala.


Maria melayang mendekati Zizi.


"Ada gaun bagus banget Zi, tapi harganya dua ratus tujuh puluh poundsterling."


Kata Maria.


"Ambilah, kenapa bingung."


Kata Zizi.


"Tidak apa-apa ya?"


Tanya Maria pada Zizi.


Zizi mengangguk santai sambil lihat-lihat butik hantu.


Ternyata tidak ada bedanya dengan butik manusia, mereka juga menyesuaikan mata uangnya.


"Ambil saja, dua, tiga, empat, sepuluh bila perlu."


Ujar Zizi lagi.


Maria pun akhirnya cihuy-cihuy.


Pelayan hantu yang tadi melayang ketakutan mengendap-endap di luar butik, wajah dan kedua tangannya menempel di kaca.


Zizi yang melihat hantu itu geleng-geleng kepala.


"Apaan sih dia?"


Gumam Zizi kesal.


Beberapa pelayan lain yang juga minggir-minggir takut Zizi dihampiri Maria sambil membawa gaun yang ia pilih.


"Kalian kenapa? Takut sama dia?"


Maria menunjuk Zizi yang mulai asik melihat gaun malam.


"Itu man... manusia kan?"


Tanya salah satu pelayan hantu.


Maria mengangguk.


"Ya dia manusia, Zizi namanya."


Kata Maria.


"Hah... Zi... Zizi?"


Mereka nyaris bersamaan dan tiba-tiba...


"Ada Ziziiiiiii..."


Semua pelayan itu malah tambah kabur.


Maria yang melihat para pelayan itu kabur jadi tepuk jidat.


"Lah, kenapa mereka Aunty?"


Tanya Zizi pada Maria masih dari tempatnya berdiri agak jauh dari Maria.


"Mereka takut kamu."


Kata Maria.


Haiiish... Zizi mendesis.


Untungnya, ada satu pelayan yang baru keluar dari ruangan staf, sepertinya ia baru ganti seragam.


"Hei, apa kau pelayan di sini juga?"


Tanya Maria mendekati hantu pelayan yang tengah membetulkan letak kerah seragamnya.


"Oh ya Nona."


Kata hantu pelayan itu ramah.


Maria senang dipanggil Nona.


"Saya mau beli beberapa gaun, tapi semua temanmu melarikan diri."


Ujar Maria.


Hantu pelayan itu tersenyum.


"Ada aroma manusia."


Kata hantu pelayan itu melayang.


Maria melayang mengikuti.


"Ya itu anak asuhku, Zizi."


Kata Maria.


"Zizi?"


Hantu pelayan menoleh ke arah Maria yang tampak mengangguk.


"Ya Zizi."


Ujar Maria.


Hantu pelayan itu tampaknya tak takut mendengar nama Zizi disebut, namun ia hanya sedikit terkejut.


Hantu pelayan itu melongok sebentar melihat ke arah Zizi yang asik melihat ke sana ke mari.


Teman-teman hantu pelayan itu tampak berjejer di luar butik sambil menempelkan wajah dan kedua tangan mereka di kaca.


"Mereka trauma dengan pelanggan manusia."


Kata hantu pelayan kemudian pada Maria.


"Ada pelanggan manusia juga di sini?"


Tanya Maria.


Hantu pelayan itu tersenyum.


"Belum lama, baru sekali itu, dia manusia setengah ular, sama seperti Nona Zizi yang setengah Naga."


Ujar hantu pelayan.


Maria meraih bahu pelayan itu.


"Siapa dia?"


Tanya Maria.


Hantu pelayan itu sejenak terdiam, seperti mengingat, lalu...


"Namanya kami lupa, tapi dia sangat cantik, rambutnya panjang, tubuhnya tinggi semampai, ia sangat anggun, tapi saat satu orang pelayan kami salah melayaninya, tiba-tiba ia mencekiknya hingga mati, dan..."


"Dan...?"


Maria menunggu kalimat itu diteruskan seperti para reader kalau menunggu othor meneruskan dongengan.


Wajah Maria masam semasam ketek anak balita yang baru lari-lari dan tidak mau mandi.


"Dia mengamuk di sini."


Hantu pelayan itu meneruskan.


"Siapa yang mengamuk?"


Tiba-tiba Zizi sudah berada di dekat hantu pelayan, membuat hantu pelayan sampai kaget nyaris melompat.


Haiiish... Maria mendesis.


"Kenapa kamu tiba-tiba di situ, apa kamu hantu!"


Omel Maria.


"Lah kalian kan hantu, kenapa takut Zizi tiba-tiba nongol macam hantu."


Zizi jadi keder.


"Ah iya, kenapa kamu takut?"


Maria malah jadi mengomel ganti ke hantu pelayan.


Hantu pelayan itu nyengir.


"Manusia setengah ular itu bisa membunuh kami, dan Nona Zizi, namanya juga sangat terkenal di dunia perhantuan, saat ia mengalahkan para vampire dan iblis kecil, semua hantu di seluruh negeri membicarakannya."


Zizi yang mendengar cengar-cengir,


"Ah biasa saja, itu baru sebagian prestasi ku."


Pongah Zizi.


"Dia bukan lagi muji, dia lagi cerita alasan kamu ditakuti hantu."


Kata Maria.


"Tapi dia tidak takut sama Zizi, itu berarti dia bisa merasakan aura Zizi yang cetar."


Ujar Zizi pula.


Maria geleng-geleng kepala.


"Kadang dia kalau kelewat PD memang ngeselin, maklumin ya."


Maria menepuk-nepuk bahu si hantu pelayan.


Hantu pelayan itupun tersenyum ke arah Maria dan Zizi.


"Manusia setengah ular, apa maksudnya dia keturunan dari ular?"


Tanya Maria masih penasaran.


Hantu pelayan itu tampak mengangguk.


"Ya, dia keturunan ular. Saya rasa, dia bukan dari kalangan biasa di alam manusia Nona."


Hantu pelayan itu ke arah Maria dan Zizi.


Tampak Maria dan Zizi saling berpandangan, lalu Zizi yang jadi ingin tahu lebih banyak bertanya...


**--------------**