Zizi

Zizi
225. Kekalahan Lawan


Sementara itu, Zizi yang tak tahu Neneknya semburan apinya jadi bolak-balik padam gara-gara angin dan hujan deras yang diakibatkan oleh Jayapada tetap tampak terus mencoba membantai ular jelmaan Alex.


Zizi memburu Alex yang sudah terluka oleh pedangnya.


Alex yang terluka berganti rupa menjadi manusia lagi, dan berusaha melarikan diri ke arah rongga pohon yang merupakan pintu untuk masuk ke tempat Attala.


Zizi melompat ke arah Alex, dan tepat saat Alex sudah dekat dengan pohon yang berongga, Zizi menebaskan pedangnya ke arah Alex dari belakang.


Pedang mengenai punggung Alex, membuat Alex tersungkur ke tanah.


Zizi melompat lagi, mengacungkan pedangnya ke arah Alex.


"Kau harus menerima ini karena aku tahu kau sudah memakan banyak sekali korban, kau membunuh banyak manusia tak bersalah untuk menyerap energi mereka, kau biadab Alex!!"


Kata Zizi.


Tampak Zizi mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan begitu Zizi akan menusukkan pedangnya ke arah Alex, tiba-tiba sekelebat bayangan yang sangat cepat menarik tubuh Alex dan membawanya pergi.


Bayangan yang sama dengan yang membawa dua mata-mata di London yang Zizi tangkap.


"Hey!!"


Zizi berteriak keras.


Ia berusaha mengejar, namun puluhan ular besar menghadang.


Zizi terpaksa menghadapi ular-ular itu, ia melompat dan menebaskan pedangnya ke sana ke mari.


Ular-ular yang tak seberapa kuat namun jumlahnya sangat banyak itu jatuh bergelimpangan ke tanah.


"Neneeeeek... Kejar Alex!"


Teriak Zizi pada Bandapati yang sedang putus asa semburan apinya padam karena hujan dan angin.


Mendengar suara Zizi, sang Nenek segera melesat.


Zizi yang melihatnya berteriak lagi,


"Neeeeek, ke Utara! Bukan ke Barat, haiiiiish..."


Teriak Zizi sambil sibuk melawan ular-ular yang masih banyak.


Ciiiiiiit...


Bandapati mengerem terbangnya, lalu langsung berbelok ke arah utara dan terbang cepat mengejar Alex.


Dan saat Zizi masih berjuang sendirian, tiba-tiba...


"Zizi... Aku bawa bantuaaaaan."


Tiba-tiba Maria datang membawa ratusan hantu dalam berbagai merk.


Mereka menyerbu ke medan perang.


Ini tentu bukanlah kali pertama untuk Maria terlibat dalam perang melawan siluman.


"Ayoooo... Kalian sudah tinggal dan makan gratis di zombie hotel, sudah saatnya kalian membayar tagihan!"


Kata Maria memimpin pasukannya.


"Yaaaa... Seraaaaaang."


"Majuuuuu..."


"Hajaaaaaaarlaaaaah gaaaes..."


Para hantu itu sangat bersemangat, di antara mereka juga ada Nenek hantu penghuni lift hotel.


Ia terlihat membawa sapu.


Siluman-siluman ular itupun terlihat dikeroyok para hantu yang jumlahnya kini jauh lebih banyak.


Maria mendekati Zizi.


Tanya Maria.


"Nadia masuk ke dalam rongga pohon itu, sementara Alex dilarikan bayangan yang sama dengan yang ada di London."


"Nathali?"


Tanya Maria heran.


Zizi mengangguk.


"Apa dia ke indonesia?"


Tanya Maria.


Zizi menggeleng.


"Entah."


Maria lantas melihat ke arah rongga pohon di mana katanya Nadia masuk ke dalam sana.


Maria yang penasaran lantas melayang melesat ke arah rongga pohon yang tak jauh dari Zizi kini berdiri.


"Aku akan periksa, jika kau akan mengejar Alex, hati-hati Zi."


Pesan Maria.


Zizi mengangguk, lalu dengan cepat menyusul Bandapati mengejar Alex, karena siluman-siluman ular anak buah Jaka Lengleng kini sudah dihadapi para hantu yang dibawa Maria.


Maria melayang ke arah rongga pohon besar yang merupakan pintu penghubung dengan satu tempat yang Maria tak tahu.


Hantu None Belanda itu mencoba masuk, namun sebuah energi yang sangat besar seolah keluar dari sana dan menghantamnya dengan keras.


Maria terpental jauh ke belakang.


Maria menatap pohon itu.


Ada apa di sana? Jelas ini energi paling besar yang pernah ia rasakan.


Di tempat dan alam yang berbeda, Nyi Retnoasih masih duel dengan Jaka Lengleng.


Pertarungan mereka yang ada di atas kota Jakarta membuat hujan turun luar biasa deras dan disertai angin yang macam angin beliung.


Banyak atap kios kecil beterbangan dan air sungai menjadi meluap.


Beberapa pohon di pinggir jalan yang usianya sudah cukup tua menjadi roboh.


Retnoasih terus mendesak Jaka Lengleng yang sejatinya kekuatannya belum terlalu pulih.


Jaka Lengleng limbung setelah Retnoasih berulangkali menyerangnya dengan sabetan selendangnya yang semacam cemeti api.


Jaka Lengleng terhempas ke bawah, Retnoasih mengejar dan dengan cepat Retnoasih mengeluarkan sebilah keris yang dulu dipegang Zia.


Retnoasih tanpa menunggu lama langsung menancapkannya ke dada Jaka Lengleng.


Jaka Lengleng seketika menggelepar.


Panas seperti bara api yang ditimbulkan dari keris yang kini tertancap di dadanya, membuat Jaka Lengleng mengejang hebat.


Jaka Lengleng mengerang sangat keras, tubuhnya berguling-guling menahan sakit dan panas yang kemudian menjalari seluruh tubuhnya.


"Kau tak akan bisa memiliki Jayapada, karena aku sebagai anak dari sang empu, tak akan pernah mengijinkan mahluk-mahluk picik sepertimu menguasainya.


Kata Retnoasih.


Jaka Lengleng tampak mengerang semakin keras.


Dan dalam sekejap kabut pekat meliputi Jaka Lengleng.


Sampai kemudian Jaka Lengleng tampak tak lagi bergerak, Retnoasih pun mencabut keris itu dari dada Jaka Lengleng dan seketika tubuh siluman ular itupun menghilang.


**--------------**