Zizi

Zizi
202. Berpamitan


Pagi menjelang, Zizi telah siap kembali ke Indonesia bersama sang Mama.


Paman Nicx bahkan sudah siap menjemput sejak pagi buta sebelum Zia dan Zizi mandi.


Zia berpamitan dengan Nancy yang terlihat matanya berkaca-kaca melepas kepergian besannya.


"Saya pulang dulu Ibunya Shane, satu bulan lagi kita bertemu di acara pernikahan anak kita."


Ujar Zia.


Nancy mengangguk.


Kedua Ibu itu berpelukan.


Marthinus muncul bersama Shane.


Laki-laki tinggi besar dengan rambut pirang gondrong itu untuk pertama kalinya terlihat memakai blue jeans dan kaos oblong putih.


Ia terlihat seperti bukan mahluk jadi-jadian, sangat keren.


Zizi mengacungkan kedua ibu jarinya pada Pamannya.


"Paman, kau sangat keren."


Kata Zizi memuji.


Paman Marthinus tentu saja tersenyum senang mendapat pujian dari Zizi.


"Siapa dulu dong keponakannya."


Pongah Paman Marthinus.


Paman Marthinus memang selalu mengaku kakak adik Zion, jadi buatnya Nona Zizi adalah keponakan.


Zizi cekikikan.


Maria geleng-geleng kepala.


"Rambut keramas rambut."


Kata Maria julid.


"Keramas lah."


Kata Paman Marthinus pula.


"Ah sori Nancy, tadi detergennya aku pakai untuk keramas."


Paman Marthinus pada Nancy yang tentu saja langsung,


"Hah?"


"Lho kenapa keramas pakai detergen Paman?"


Tanya Shane heran.


"Lho busanya lebih banyak."


Sahut Marthinus.


"Yah, pastinya, lama-lama dia akan berendam pewangi laundry dibandingkan pakai parfum."


Ujar Maria tambah julid.


Zia jadi tertawa.


"Sudah tidak apa-apa, tapi nanti di Indonesia pakai shampo ya Paman, asisten rumah tanggaku bisa pingsan tahu ada orang keramas pakai detergen."


"Lha kepalanya panas."


Kata Maria pula.


Shane jadi mesem dan geleng kepala.


"Baiklah Nyonya, nanti saya pakai sampo kalo di Indonesia."


Marthinus lalu membantu menjinjing koper Zia dan Zizi keluar rumah.


Nicx membungkuk untuk keluar lebih dulu juga.


"Hati-hati di jalan Nyonya."


Ujar Nancy mengiringi langkah Zia yang menyusul Nicx.


Maria sendiri memilih melayang cepat dan menembus pintu.


Tampak Vero dan Daniel membantu Marthinus memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.


Maria mengawasi Vero.


Ah benarkah dia bukan mata-mata? Atau dia juga mata-mata tapi belum ketahuan. Batin Maria masih saja tak bisa berhenti curiga.


Hmm nanti setelah di Indonesia, akan aku minta Zanuba mengawasi. Tekad Maria pula.


Zizi yang berjalan di belakang Zia dan Nancy tampak bersama Shane.


"Kak Seng akan tinggal satu bulan tanpa Zizi, pastikan selalu hati-hati Kak."


Ujar Zizi.


Shane tersenyum sambil mengangguk.


"Zizi juga, jangan gegabah saat ada bahaya, jangan menghadapi sendiri, minta Paman Marthinus uruskan."


Kata Shane.


Zizi mengangguk.


"Belakangan tak banyak hantu mengganggu, sepertinya semua sedang aman."


Ujar Zizi.


"Kalau hantu kan memang jarang mengganggu Zizi, toh mereka sudah takut duluan pada Zizi."


Kata Shane, membuat Zizi nyengir.


Ah iya juga sih, bukankah justeru Zizi yang mengganggu mereka?


"Sepertinya Paman Jaka Lengleng sengaja menyimpan serangan lewat keturunannya dari bangsa manusia untuk kali terakhir setelah memastikan pedang Jayapada ada di tangan Nona."


Kata Shane.


Zizi mengangguk.


"Ya, Zizi sudah merasa aneh dengan Paman Jaka Lengleng saat di hutan ke tujuh, serangan yang ia lakukan seperti setengah hati, ia hanya mencoba melihat seberapa hebat pedang Jayapada sekarang."


Zizi terdiam sejenak, lalu...


"Tapi pedang itu sudah dibersihkan, dan tak boleh Zizi gunakan untuk membunuh manusia meski ia jahat."


Kata Zizi.


"Itu sebabnya Kak Shane ingin Zizi lebih hati-hati, jika ada bahaya biar Paman Marthinus saja yang urus. Jika salah, Zizi bisa kembali menggunakan Jayapada untuk membunuh manusia."


"Tapi jika mereka berbentuk ular sepertinya tidak apa Kak Seng."


Kata Zizi.


Shane terdiam.


Ia jadi ingat pertarungannya dengan ular di hutan kota.


"Rasanya sulit melepasmu dalam keadaaan seperti sekarang."


Zizi menatap Shane, Zizi yang selama ini selalu bisa menghadapi bahaya seperti apapun sampai dikhawatirkan, rasanya ini sesuatu yang sangat mengharukan bagi Zizi.


Shane meraih tangan Zizi dan menggenggamnya erat.


"Aku akan selesaikan study ku secepat mungkin, setelah menikah aku pastikan kita akan tetap bersama, tak akan ada bahaya yang aku ijinkan mendekatimu, meski hanya satu senti."


Janji Shane.


Zizi tersenyum.


Mereka lalu sampai di depan rumah, mobil terlihat sudah siap semua.


Ada empat mobil yang tampak sudah berada di depan rumah.


"Zizi, ayo kita berangkat."


Kata Zia yang akan masuk ke dalam mobil nomor dua.


Maria sudah duduk di atas mobil seperti biasa.


Meskipun ia sudah begitu cantik dengan gaun barunya, tapi tetap saja ia tak bisa menahan diri untuk duduk di atas mobil.


Zizi memeluk Shane sebentar.


Tak peduli semua yang melihat jadi terbatuk-batuk kecil.


"Zizi pulang dulu Kak Seng."


Kata Zizi pamit.


Shane mengelus kepala Zizi.


"Hati-hati, kasih kabar setelah sampai di Jakarta."


Pinta Shane.


Zizi mengangguk.


Pelukannya terlepas.


Zizi lantas bergegas menyusul Mamanya.


"Tidak pamit dengan calon mertuamu?"


Tanya Zia mengingatkan.


Zizi nyengir.


"Ooh iya, lupa."


Kata Zizi.


Zizi lantas balik ngeloyor lagi menuju Nancy yang berdiri di dekat pintu pagar.


Zizi memeluk Nancy.


"Terimakasih Bu, hadiahnya akan Zizi pakai."


Ujar Zizi.


Nancy mengangguk sambil tersenyum senang.


"Hati-hati di jalan Nona."


Kata Nancy.


Zizi mengacungkan dua ibu jarinya membentuk V.


Jiaaaah.. Maria geleng-geleng kepala.


"Calon mantu kutu kupret."


Maria komen.


Zizi lantas kembali lagi menuju mobil menyusul Mamanya. Di atas mobilnya Maria duduk santai.


Shane dan Nancy berdiri bersebelahan sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian rombongan mobil Zia dan Zizi.


Zizi menatap Shane yang semakin lama semakin tak terlihat dari kaca.


Sedih...


Ya, Zizi yang jarang sekali merasa sedih kini mulai merasakan rasa itu lagi, dan Zizi jelas tidak suka.


"Nanti kan ketemu lagi, tidak usah cemberut."


Kata Zia pada anaknya.


Nicx di belakang kemudi mengulum senyum.


"Banyak orang di perusahaan memuji Shane saat saya membawanya, dia memang pemuda yang cerdas dan auranya begitu bagus untuk jadi pemimpin Nyonya."


Kata Nicx memuji Shane.


Zia mengangguk setuju.


"Ya, Shane mirip dengan Kak Ziyan, aku yakin nanti saat ia resmi bergabung di perusahaan, ia akan disegani banyak orang meskipun ia baru."


"Tentu saja Nyonya, apalagi Shane menantu pemilik perusahaan."


Nicx terkekeh.


Zizi yang mendengar Paman Nicx dan Mamanya terus membicarakan kelebihan Shane tentu saja jadi merasa ikut senang.


Zizi merasa jika cintanya telah benar dalam memilih.


Sementara Maria di atas mobil tampak menikmati angin London yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.


Ah bolak balik ke Eropa, herannya Maria selalu lupa minta Zizi pergi ke Belanda.


Padahal Maria ingin juga melihat bagaimana Negri nya itu.


Hmm... Ide bagus jika nanti Belanda dimasukkan ke dalam list Negara untuk bulan madu Zizi dan Shane. Batin Maria.


"Kamu akan bulan madu ke mana Zi nanti?"


Tanya Zia pada Zizi.


Zizi terdiam, berpikir...


Lalu...


"Mama dulu sama Papa ke mana?"


Tanya Zizi.


"Ke Korea Selatan."


Sahut Zia.


"Ooh... Korea Selatan."


Zizi mantuk-mantuk, lalu...


"Ngg... Zizi ingin ke hotel wisata sajalah. Zizi ingin ke tempat Nenek Bandapati."


Kata Zizi, yang pastinya jika Maria dengar akan menyesalkan keputusan itu.


**----------------**