Zizi

Zizi
209. Bersiap Pembersihan


Zizi terlihat kembali berdiri, ia melihat senjata di tangan Maria.


Haiiish... Zizi mendesis.


"Aunty, balikin itu, nanti Mbak Wati nyariin."


Kata Zizi pada Maria.


Pedang Jayapada pelahan menghilang dari tangan Zizi.


Maria menatap ulekan dan centong sayur di tangannya.


"Ini mau dipakai lagi? Udah kena ular."


Kata Maria.


Zizi geleng-geleng kepala.


"Ya udah bawa aja, biar nanti dibuang, daripada dipake Mbak Wati lagi."


Ujar Zizi akhirnya, yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar Papanya.


Zizi berjalan sambil mengambil hp, ia menelfon Paman Dimas.


"Ya Nona."


Jawab Dimas.


"Uyut gimana?"


Tanya Zizi.


"Aman Nona."


Sahut Dimas.


"Bawa ke rumah Bogor saja Paman, untuk para pelayan diungsikan ke hotel zombie saja, apa kamar hari ini penuh?"


Tanya Zizi.


"Sepertinya belakangan ini tak begitu ramai pengunjung Nona, jika untuk tiga kamar dengan dobel bed tentu saja ada kamar."


Kata Dimas


"Baiklah, suruh mereka bawa pakaian dan pergi ke hotel, sambil menunggu keputusan Papa, mereka akan pulang dulu atau bagaimana."


"Baik."


Jawan Dimas cepat.


Zizi memutus panggilannya.


Ia masuk ke dalam kamar Papanya yang berantakan.


Kamar yang telah ditempati Papanya sejak kecil kini hancur minah oh minah.


Maria melayang dengan ulekan dan centong sayurnya, yang jika manusia melihat, tentu saja mereka hanya akan melihat ulekan dan centong melayang sendiri.


"Berantakan sekali, Papamu bisa jantungan Zi."


Ujar Maria.


Zizi mengangguk.


"Pengawal itu bodoh atau bagaimana, menjelma ular di dalam kamar."


Maria geleng-geleng kepala.


"Mungkin dia pikir kamar Papa aman tak akan ada yang masuk."


Zizi mendekati jendela kaca besar dan membuka tirainya.


"Aku rasa, lebih baik semua pengawal Junior di introspeksi satu-satu Zi."


Kata Maria serius sambil mendekati Zizi.


"Introgasi Aunty, bukan introspeksi, kalau introspeksi itu Aunty, harus banyak-banyak introspeksi udah tua."


Zizi cekikikan, diliriknya Maria yang tampak siap menggetok kepalanya pakai centong sayur.


Zizi menghindar.


"Eits, mau Zizi keluarin Jayapada apa?"


Ancam Zizi sambil cekikikan.


Maria tentu saja langsung melengos.


Ia masih ingin hidup sampai nanti Othor tak menulis lagi, wkwkwk...


Zizi kemudian berjalan menuju keluar kamar lagi, Maria melayang mengikuti.


"Ke mana?"


Tanya Maria.


"Mengumpulkan semua pengawal."


Kata Zizi sambil kemudian menghubungi Dave untuk memerintah semua pengawal baru berkumpul di rumah Uyut.


"Sekarang Nona? Apa termasuk Vero, Daniel dan beberapa pengawal lain yang ada di Bogor?"


Tanya Dave.


"Ya, tentu, tanpa terkecuali."


Ujar Zizi tegas.


"Ada empat yang ikut Bang Joni mengawal Tuan Zion, saat ini masih dalam perjalanan dari Bandung."


"Tidak apa, nanti setelah sampai, mereka juga sekalian dikumpulkan."


"Baiklah."


Zizi setelah itu memutuskan panggilannya lagi untuk Dave.


Zizi kini menyisir setiap ruangan di lantai dua, setelah ia memastikan lantai tiga di mana tadi menjadi tempat perang sudah tak ada ular lain.


"Aunty coba pantau di atas plafon dan juga tangga rumah."


Kata Zizi.


Panggilan masuk terdengar ke hp Zizi.


Panggilan dari sang Papa.


"Zizi, kamu di Kemang?"


Tanya Zion.


"Ya Pa, Uyut sudah aman, Zizi minta Paman Dimas membawanya ke Bogor, di sana lebih aman, ada Paman Marthinus dan juga kelurga Zanuba."


"Ya Dimas baru saja melapor, kamu sendiri bagaimana nak? Tidak ada yang terluka bukan?"


Tanya Zion cemas.


Zizi tampak mendekati jendela kaca di lantai dua, terlihat Dave dan para pengawal menenangkan tetangga untuk kembali ke dalam rumah.


Sementara Mbak Wati dan pelayan lainnya siap mengungsi menggunakan mobil yang dibawa Paman Pandu yang sengaja dipanggil Dave untuk membawa para pelayan ke zombie hotel.


"Zizi baik-baik saja Pa, tenanglah, hanya ular jelmaan yang belum terlalu kuat."


Ujar Zizi.


Zion yang mendengarnya langsung bernafas lega.


"Papa langsung ke Bogor saja, supaya Mama tenang, lagipula sudah tak ada apa-apa di sini."


Kata Zizi.


"Ya, kamu nanti langsung pulang juga."


"Tidak Pa, Zizi akan mengintrogasi semua pengawal baru Alpha Centauri, ini akan butuh waktu lama. Zizi mungkin baru akan selesai malam hari, lalu akan langsung ke hotel."


"Zizi, kamu akan segera menikah."


Zion kembali cemas.


"Justeru karena Zizi akan menikah, jadi masalah ini harus selesai."


Kata Zizi.


Zion diam sejenak, membicarakan pernikahan Zizi membuatnya ingat Nadia yang akan menikah juga dengan Alex keturunan Heri Sapta.


Alex, apa dia juga termasuk yang memiliki darah ular? Seperti Zizi yang memiliki darah Naga?


"Pa, Papa..."


Zizi memanggil, membuat Zion terkesiap.


"Ah yah sayang, bagaimana?"


Tanya Zion.


"Papa diam saja, Zizi kira Papa tidur."


Kata Zizi.


Zion jadi terkekeh.


"Baiklah, tapi berjanjilah kamu hati-hati Zizi. Papa tidak mau terjadi apa-apa padamu."


"Ya Pa, Zizi akan selalu hati-hati, Papa tak usah khawatir, Zizi bersama Aunty, dan di sini ada Paman Dave serta beberapa pengawal lama yang sudah teruji."


"Baiklah, ini Paman Ziyan menelfon, dia sedang di Italia memaksa akan pulang ke Indonesia mendengar rumah Uyut dalam bahaya."


"Ah katakan saja pada Paman Ziyan semua sudah baik-baik saja Pa."


Kata Zizi.


"Ya, ini Papa angkat dulu sebelum gosong."


"Oke Pa."


Panggilan pun berakhir.


Zizi lantas kembali menyisir lantai dua, ia mendobrak setiap pintu ruangan yang ada di sana.


Menatap tajam ke setiap sudut ruangan, memastikan tak ada ular di dalam ruangan itu.


Ya Ular, jangankan ular besar, ular kadut atau ular duwel pun tak akan Zizi biarkan.


Pokoknya semuanya akan Zizi potong-potong memakai Jayapada.


Sampai akhirnya lantai dua tinggal menyisakan kamar Uyut yang belum diperiksa Zizi.


Zizi masuk kamar Uyutnya.


Aroma khas orangtua tercium di dalam kamar.


Zizi membawa langkahnya semakin masuk, hingga tiba-tiba, ia merasakan ada energi di dalam kamar itu, energi nya berasal dari ruangan lemari baju yang ada di belakang Zizi.


Zizi menoleh ke arah ruangan tersebut.


Ruangan itu pintunya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.


Zizi menaikkan alisnya, matanya menelisik.


Pintu ruangan itu semakin terbuka lebar, dan aroma khas orangtua tercium semakin pekat.


Zizi melangkah maju, tatapannya tertuju lurus ke arah ruangan tersebut.


"Siapa di sana!!"


Bentak Zizi.


Zizi melihat ke sampingnya, ada meja kayu jati dan di sampingnya guci besar terlihat berdiri, yang disampingnya lagi tampak tempat wadah stik golf Uyut.


Zizi meraih satu stik golf Uyutnya.


"Keluar kau!!"


Bentak Zizi lagi.


Zizi bersiap dengan stik golf nya, dengan langkah pasti Zizi memburu ruangan itu.


Baiklah jika tak mau keluar, aku akan paksa. Ini pilihan mu. Batin Zizi.


Dan...


**---------------**