Zizi

Zizi
167. Menuju Pulang


Marthinus dan Shane berjalan keluar dari kastil, beberapa Lycan yang tampak berada di sekitar kastil hanya menatap kepergian Marthinus bersama Shane.


Mereka yang berada di sana memang bagian dari kelompok Alarick Rolf, Ayah Marthinus yang dulu sempat tercerai berai lalu akhirnya sekarang telah kembali bersatu di bawah pimpinan Marthinus.


"Katerina akan aman di sini bukan?"


Tanya Shane yang bagaimanapun tetap merasa tak bisa jika bersikap sama sekali tak peduli dengan penolongnya.


Marthinus mengangguk.


"Mereka tak pernah menyentuh daerah ini, jangan khawatir."


Ujar Marthinus.


"Para Lycan itu tahu ada kau, mereka takut."


Kata Shane.


Marthinus tertawa.


"Bukan, karena sejatinya hutan ini sudah menjadi batas kekuasaan Rosalia Ruthven."


Ujar Marthinus begitu tawanya akhirnya reda.


"Be... benarkah?"


Shane terkejut.


Marthinus mengangguk.


"Jadi benar kastil Rosalia Ruthven ada tak jauh dari sini?"


Tanya Shane.


Marthinus tertawa lagi, tak menjawab, ia justeru menarik Shane melesat cepat melewati hutan belantara.


Hingga kemudian mereka sampai di tepi jurang, Marthinus melompat sama sekali tak kesulitan meski jaraknya yang begitu jauh.


Sampai di seberang, Marthinus terus bergerak dengan sangat cepat hingga Shane yang kemudian harus dipaksa mengikuti sedikit kewalahan.


"Kau harus banyak belajar bergerak cepat agar tak terlalu mudah diendus musuh."


Ujar Marthinus.


Shane tak menyahut, fokusnya hanya mengikuti Marthinus saja.


Hingga akhirnya mereka sampai di Bradley Woods Lincolnshire pada tengah hari, Marthinus bergerak terus tanpa berhenti.


"Lewati dan tak perlu berhenti, mengerti?"


Marthinus ke arah Shane yang menganggukkan kepalanya saja.


Keduanya terus melesat melewati setiap pohon yang ada di sana, salju mulai mencair di sekitar hutan.


Matahari memang hari ini mulai bersinar lebih cerah dari biasanya.


Menandakan musim dingin sebentar lagi akan segera berakhir.


Bradley Woods Lincolnshire, yang menyimpan cerita pahit tentang kematian Ayahnya, memang membuat Marthinus merasa cukup terbebani setiap kali berurusan dengan hutan tersebut.


Marthinus dan Shane yang bergerak cepat tanpa ada masa berhenti akhirnya sampai di ujung hutan.


Mereka melewati hutan tanpa kembali berurusan dengan para Lycan yang sempat memburu Shane sebelumnya.


Entah karena mereka para Lycan yang berada di sana tahu jika Shane bersama Marthinus hingga enggan mengganggu, atau entah karena mereka memang sedang berada di persembunyian mereka karena mengingat matahari yang pastinya cukup membuat mereka terganggu.


Shane mengikuti gerakan Marthinus yang terus menjauhi Bradley Woods Lincolnshire, hingga akhirnya gerakannya melambat begitu mereka telah mendekati jalan raya.


Lama, sudah cukup lama Marthinus tak lagi melihat jalan raya karena lebih memilih berada di dalam hutan.


Marthinus tak ingat secara pasti sudah berapa lama ia tak pernah menginjakkan kakinya di tepi jalan raya.


Marthinus menghentikan gerakannya sejenak, Shane mengikuti Marthinus yang kini menatap jalanan yang sepi.


Shane baru akan bicara, ketika ada sebuah truk terlihat melintas, truk yang sepertinya semula mengangkut barang dan kini terlihat kosong di belakangnya itu melewati Shane dan Marthinus.


Tiba-tiba Marthinus menarik Shane melesat cepat menyusul truk tersebut dan naik di atasnya tanpa permisi pada si pengemudi.


Shane menatap Marthinus karena benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan pamannya.


"Kau gila paman? ini tidak dibenarkan."


Kata Shane yang akan berdiri untuk minta ijin lebih dulu pada si pengemudi.


Tapi Marthinus malah seperti tak peduli, ia justeru terlihat nyaman saja merebahkan diri di atas bak truk sambil menatap langit hari ini.


Guncangan truk yang melaju tak membuatnya menikmati rasa santai setelah sekian lamanya.


"Duduklah, jika kau tiba-tiba muncul, pengemudi itu justeru bisa hilang konsentrasi dan bisa-bisa menabrak."


Kata Marthinus sambil menggunakan kedua tangannya untuk bantalan.


Shane menggelengkan kepalanya.


Ya, Marthinus yang keturunan Lycan tentu juga hidup dengan caranya yang berbeda.


Shane akhirnya mengalah menurut, toh sejujurnya ini juga cukup membantunya mengembalikan energi yang cukup terkuras setelah melewati begitu panjang perjalanan dari kastil Marthinus.


Shane duduk selonjor tak jauh dari posisi Marthinus merebahkan diri.


Cahaya matahari menerpa keduanya yang berada di bak truk yang terbuka.


"Kau tak apa terkena matahari selama ini, harusnya kau sadar karena kau bukan sepenuhnya Vampire, Shane."


Kata Marthinus.


Shane terdiam.


"Sejak kau kembali bersama Ayahmu, kau seharusnya sudah tahu kau berbeda dengan yang lain, kau meminum darah Ruthven bukan?"


Shane masih terdiam, hanya ingatannya saja yang melompat ke masa lalu, hingga akhirnya...


Marthinus lalu bangun dari posisinya dan memilih duduk.


Marthinus memandang Shane.


"Jangan pernah berpikir untuk kembali ke sana Shane, tak peduli seberapapun kau menginginkannya, abaikanlah. Jika kau ingin mati, maka datanglah padaku, biar aku yang membunuhmu, jangan bangunkan Rosalia Ruthven, dia akan membawa banyak bencana."


Ujar Paman Marthinus.


**---------------**


Zizi meneguk jus jeruknya yang segar di ruang makan.


Ia baru saja menghabiskan makan siangnya dengan lahap.


Satu potong daging panggang dan satu gelas jus jeruk, rasanya perutnya kini terasa begah.


Maria yang menemaninya di ruang makan, terlihat menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau seperti kipas angin Aunty?"


Tanya Zizi melirik Maria.


"Tidak apa, hanya heran kamu jadi doyan makan lagi begitu sampai di sini."


Mendengarnya Zizi jadi tertawa.


"Ya aku jadi mudah lapar sekarang."


Sahut Zizi.


Maria mendengus.


"Bukan sekarang mudah lapar, tapi yang lebih tepat adalah kamu sudah kembali mudah lapar."


Kata Maria.


Zizi jadi tertawa lagi.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba dari arah ruang depan, muncul Paman Nicx yang datang berkunjung.


Tampak ia membungkuk pada Nona mudanya.


Nicx menanyakan keberadaan Shane dan Nancy.


"Kak Seng belum kembali Paman Nicx."


Kata Zizi.


"Kalau Nancy, apakah dia saat ini juga tak ada di rumah Nona?"


Tanya Nicx.


Zizi belum menjawab manakala Maria melayang sambil berkata,


"Biar aku saja yang memanggilnya."


Zizi mengangguk, lalu bicara pada Nicx agar laki-laki yang sangat dipercaya Kakek Uyut dan juga Papanya itu.


"Tunggulah Paman, Bibi Nancy sedang dipanggilkan Aunty Maria.'


Nicx pun mengangguk.


Ia tentu tak pernah tahu bagaimana bentukannya Aunty Maria, tapi Nicx tak asing dengan nama itu karena sejak Zia dan Zion pindah tinggal di London, Nicx sering mendengar namanya.


Ya, tentu saja, Nicx tahu jika itu nama hantu.


Maria melayang mendekati kamar Nancy, dan tanpa permisi, hantu None Belanda itu melongok ke dalam kamar menebuskan kepalanya di pintu.


Kaget ada kepala yang tiba-tiba melongok, Nancy melemparnya dengan sandal.


Maria mengusap kepalanya yang terkena sandal Nancy.


Nancy yang begitu sadar itu adalah kepala Maria jadi terpingkal-pingkal sementara Maria kesal bukan main.


Maria menembus masuk ke dalam kamar, ia ingin membalas perbuatan Nancy manakala ia melihat rajutan di pangkuan Nancy.


"Kau sejak tadi bolak-balik di kamar untuk merajut?"


Heran Maria.


Nancy mengangguk sambil tersenyum.


Maria geleng-geleng kepala.


"Bisa-bisanya ada Lycan merajut, bahkan Hollywood saja tak akan sampai berpikir Lycan mau merajut."


Kata Maria.


Nancy meraih kotak didekatnya, untuk kemudian memasukkan rajutannya yang belum seratus persen selesai.


"Aku mencium aroma Nicx, dia datang?"


Tanya Nancy seperti menebak.


Maria mengangguk.


"Ya, dia mencarimu."


Ujar Maria.


Nancy bangkit dari duduknya, lalu menutup kotak berisi rajutannya.


Maria menatap kotak berisi rajutan Nancy.


"Jangan menyentuhnya Maria, itu untuk Nona Zizi."


Kata Nancy membuat Maria melongo.


**---------------**