
Gonjang-ganjing tanah di perkampungan itu membuat sesosok tinggi besar seperti kera keluar dari tempatnya beristirahat.
"Siapa yang berani mengganggu kedamaian tanahku!!"
Geram makhluk itu.
Ia berdiri di tengah perkampungan yang sepi ditinggalkan para lelembut yang memilih pergi dari sana.
Bersembunyi di tempat-tempat yang ada di sekitar hutan di dekat perkampungan tersebut.
Langkah kaki mahluk itu berdebam, terdengar begitu keras memekakkan telinga.
Mahluk itu terlihat sangat marah, dia semakin marah manakala melihat sinar terang kini semakin memenuhi wilayah kekuasaannya.
Mahluk tinggi besar itu menggeram. Sungguh ia tak menyangka jika ada yang mampu mengoyak pertahanannya.
Padahal, ia membuat pertahanan itu berkali lipat, bahkan lelembut lain tak bisa menjangkau tempatnya.
Tapi...
Darr!!!
Darr!!
Suara seperti ledakan besar terdengar memenuhi angkasa, disertai cahaya terang yang berpendar menyilaukan.
Makhluk yang kekuatannya hanya bisa sempurna di dalam kegelapan itu mengerang.
Ia segera melesat menuju ke arah para pengganggu itu datang.
Kakinya yang begitu besar membuat tanah seolah kembali berguncang manakala ia berlari sangat cepat.
"Zi... kau dengar? Suara itu sepertinya menuju ke sini, seperti drum-drum yang menggelundung."
Kata Maria.
Zizi mendengarkan suara itu baik-baik.
Ya suara seperti seorang raksasa ya berlari menuju ke arahnya.
Shane melompat ke atas pohon di sekitar tempat mereka berkumpul.
Dari sana Shane bisa melihat perkampungan yang berada tak jauh dari posisi mereka.
"Apa Kak Seng melihat sesuatu?"
Tanya Zizi.
Dan...
Braaaak!!
Tiba-tiba sesosok tinggi besar melompat ke arah mereka.
Beberapa pohon tumbang karena terjangan mahluk tersebut.
Zizi yang sempat terkena dahan pohon yang roboh, cepat bangkit dan melompat menghindari gerakan sosok mahluk tinggi besar seperti kera itu.
"Kau rupanya!!"
Mahluk itu menyeringai manakala melihat Zizi berdiri di depannya.
"Tak kusangka, nyalimu begitu besar hingga memburuku sampai ke sini."
Grandong, mahluk itu tertawa lepas.
Zizi terlihat tersenyum sinis.
Enak saja memburumu, dikira ganteng apa. Batin Zizi.
"Di mana Raja Dalu!! Serahkan dia padaku!!"
Kata Zizi lantang.
"Hahaha... bagaimana bisa gadis cantik sepertimu malah mencari laki-laki tua."
Haiish... Zizi mendesis.
Belum lagi Zizi menghajar mahluk berisik itu, Shane tiba-tiba melompat ke arah Grandong, ia mengepalkan tinjunya dan meninju Grandong dengan sekuat tenaga.
Tinju Shane berhasil mengenai wajah Grandong. Namun tak cukup membuat Grandong menyerah.
"Aunty, Mintul, pergilah cari Raja Dalu, biar mahluk ini aku yang tangani."
Kata Zizi.
Maria mengangguk.
Maria lantas menarik tangan Mintul dan mengajaknya secepat mungkin menuju wilayah kekuasaan Grandong untuk mencari Raja Dalu.
Zizi melompat dengan cepat dan lincah, sambil pura-pura melayangkan pukulan, namun begitu Grandong menghindar ternyata Zizi berputar dan menendangnya.
Grandong yang tak menyangka Zizi akan melakukan serangan semacam itu seperti terkejut, namun ia tak lantas menyerah begitu saja.
Iapun mengepalkan tangannya yang bahkan bisa meremukkan Zizi jika saja nanti bisa mengenai tubuh Zizi.
Zizi yang kini berdiri di atas dahan menyeringai.
"Majulah, jangan bentuk doang yang besar tapi nyali ciut."
Kata Zizi.
"Diam kau!!"
Bentaknya, yang kemudian langsung kembali menerjang Zizi. Dihantamkannya kepalan tangannya ke batang pohon di mana Zizi berdiri di atas dahannya.
Zizi melompat, bersamaan dengan Shane yang juga melompat untuk sama-sama menyerang Grandong.
Pukulan, tendangan, bahkan cakaran dari Shane terus dilancarkan keduanya ke arah makhluk besar yang masih berusaha bertahan meskipun sudah mulai limbung itu.
Sementara di wilayah kekuasaan Grandong, Maria dan Mintul sibuk menyisir tempat di sekitar perkampungan di mana banyak mahluk penghuni kampung bersembunyi.
Diantaranya ada seorang laki-laki kurus kering yang memakai gelang milik kerajaan Dalu.
"Diakah?"
Tanya Maria pada Mintul yang jauh lebih paham rupa Raja Dalu.
"Ah ya, kau benar Nobel."
Ujar Mintul.
Maria tampak lega.
Ia kemudian melayang mendekati laki-laki kurus kering yang bersembunyi bersama lelembut lainnya.
"Raja Tanah Dalu."
Maria begitu sampai di depan Raja Dalu memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.
Raja Dalu terkesiap melihat kedatangan Maria, hantu dengan rambut uban semua.
Namun Raja Dalu yang kemudian melihat Mintul akhirnya langsung berdiri.
"Minmin, kau kah ini?'
Tanya Raja Dalu begitu bahagia bisa bertemu Mintul lagi, yang artinya akan ada kabar tentang sang isterinya.
Mintul juga memberi salam.
"Bunga Petak, dimana dia? Di mana dia Min? Baik-baik sajakah dia?"
Tanya Raja Dalu.
Mintul mengangguk.
"Dia akan segera dilepaskan, dia pasti baik-baik saja."
Ujar Mintul.
Raja Dalu kemudian berkata pada para lelembut di sana.
"Haaaai kalian, penolong kita semua telah datang, sudah saatnya kita pergi dari perbudakan ini..."
Teriakan Raja Dalu disambut para lelembut yang semula bersembunyi dan hanya berani mengintip dari tempat mereka bersembunyi.
Para lelembut itu keluar dari tempat persembunyian, lalu melangkah menuju Maria dan Mintul.
Mintul yang tahu bulat digoreng... eh maksudnya tahu jalan menuju keluar dari tempat itupun akhirnya memimpin mereka semua, sedangkan Maria berada di barisan paling belakang mengawal pergerakan mereka, termasuk Raja Dalu yang berjalan paling belakang juga.
Tampaknya, sebagai raja ia masih memiliki sifat pemimpin yang baik.
Di mana saat dalam bahaya, maka ia akan berada paling depan, namun saat pada posisi seperti sekarang untuk keluar dari tempat yang berbahaya, ia mengalah di belakang.
Di tempat pertarungan Zizi kini mulai mengamuk meladeni Grandong yang tak juga mau menyerah.
Zizi yang sudah kesal akhirnya meraih liontin pada kalungnya, yang seketika dari dalam tubuh Zizi kini keluar seperti sinar terang keemasan.
Zizi melayang dan mengambang di udara.
Kedua tangannya diangkat ke atas dan sebilah pedang yang bersinar terang kini berada dalam genggaman tangan Zizi.
Makhluk besar seperti kera itu terpana.
Inikah penampakan Jayapada sekarang?
Mahluk itu berusaha merebut Jayapada dari Zizi.
Namun jelas saja Zizi menghindar dengan cepat.
Zizi mengayunkan pedangnya dengan lincah, ia berputar ke dengan gesit dan...
Clas!
Pedang itu berhasil menyabet lengan mahluk besar itu.
Berbeda dengan dulu pedang Jayapada saat melukai akan terasa membakar, kali ini yang terasa pada tubuh mahluk tersebut adalah seperti kekuatannya melemah.
Makhluk itu berusaha menerjang Zizi lagi, namun gerakannya semakin lamban, dan itu membuat Shane memanfaatkan kesempatan.
Shane melompat dengan cepat ke arah mahluk tinggi besar seperti kera itu, dan segera mencakar punggung mahluk itu.
Disusul tendangan dan pukulan bertubi-tubi ke arah sang mahluk yang kemudian terhempas sangat jauh.
Zizi memburunya, dengan Jayapada yang siap ditikamkan di dadanya, Zizi melesat mengejar mahluk macam kera tersebut.
Namun, saat Zizi menemukan mahluk yang kini sudah tak berdaya tersebut, tiba-tiba...
**-------------**