
Hantu perempuan ngesot ngacir pontang panting membuat anak kecil yang juga turun di lantai yang sama dengan Zizi langsung tertawa.
"Tante hantu yang suka ketok-ketok pintu kamar tamu kabur, hahahaha..."
Anak kecil itu terpingkal melihat hantu kabur, selama ini, biasanya ia lihat manusia kabur lihat hantu, tapi hari ini ia lihat hantu kabur lihat manusia.
"Kamu ini, jangan bicara hantu-hantu terus, kasihan um dan tante nanti takut, ayuk cepat ke kamar, Papa nungguin."
Kata si Ibu muda pada anaknya yang terus memandangi Zizi dengan mata berbinar-binar.
Zizi menatap anak itu sambil tersenyum lalu melambaikan tangan.
"Jadi ingat saat kamu masih kecil ya Zi."
Kata Maria yang melayang di sekitar Zizi.
Zizi tergelak.
"Ada banyak anak kecil memiliki indra ke enam belakangan ini, sayangnya orangtuanya belum siap, sama seperti orangtua yang menakuti anaknya takut pada kucing, benci pada kucing, orangtua juga senang menakuti anaknya dengan hantu, itu yang sebetulnya bikin cara pandang mereka pada semua hal jadi berlebihan."
Kata Maria.
Zizi mengangguk setuju.
"Untung Zizi anaknya Mama dan Papa."
Gumam Zizi.
"Ya iyalah, semua anak juga anaknya Mama dan Papa, masa anaknya Papa dan Papa, siapa yang hamil nanti."
Maria komen dengan serius.
Shane yang mendengar jadi tak mampu menahan tawa.
Sedangkan Zizi hanya mendesis.
"Baru saja bijak banget, sekarang langsung bolot."
Kata Zizi.
Mereka kemudian menuju kamar yang dipesan Zizi.
Maria masuk lebih dulu karena tak perlu menunggu Zizi membuka kunci.
Zizi memasukkan kunci kartunya, lalu pintu dibukanya.
Suara debur ombak terdengar lagi begitu Zizi dan Shane masuk ke dalam kamar.
Zizi memasukkan kartu kuncinya pada tempat di dekat pintu, dan seketika lampu menyala, sementara Shane menutup pintu dan menguncinya dengan kunci di dalam.
"Zizi mau mandi dulu, nanti kalau makanannya sampai Kak Seng yang nerima ya."
Kata Zizi.
Shane mengangguk.
"Oh iya."
Zizi yang semula akan masuk kamar mandi kembali lagi.
"Kak Seng."
Panggil Zizi pada Shane yang sudah menjauhi depan pintu kamar mandi dan menuju sofa yang ada di dalam kamar.
"Kak Seng, di dalam ransel ada kantong darah segar yang Zizi bawa."
Kata Zizi.
"Zizi bawa satu, sepertinya masih baru, lebih baik Kak Seng minum sekarang, jangan nunggu lapar."
Lanjut Zizi.
Maria yang sebelumnya baru dari balkon kamar melayang masuk menembus dinding lalu nimbrung.
"Ada apa sih Zi?"
Tanya Maria.
"Itu kak Seng, kemarin Zizi bawa stok darah ular dari kulkas tapi cuma bisa bawa satu, ranselnya penuh sama cemilan."
Zizi nyengir.
Haiiish... Maria mendesis.
"Kamu ini sama suami begitu."
Maria menggelengkan kepalanya.
Shane dan Zizi menatap Maria.
Maria menatap keduanya sambil tertawa.
"Kalian ini sadar tidak, satu kamar berdua, yang dipesan kamar cocok buat bulan madu, tempat tidurnya mana satu doang."
Maria terpingkal.
"Kak Seng kan tidurnya ngegantung di plafon.
Kata Zizi.
"Dia sudah belajar tidur seperti manusia sejak kejadian di Gunung Salak."
Zizi menatap Shane.
Shane mengangguk.
"Sebetulnya saya juga sudah mulai terganggu aroma makanan manusia, hanya saja untuk memakannya belum bisa, masih muntah."
Kata Shane.
Zizi mendekati Shane.
"Apa efek minum darah Zizi saat itu masih berasa sampai saat ini?"
Zizi mengulurkan tangannya dan meraih wajah Shane, ia ingin merasakan apakah suhu Shane masih seperti saat dulu pertama ia meminum darah Zizi.
Zizi menatap kedua bola mata Shane yang biru. Merasakan suhu tubuh Shane yang hangat dari telapak tangannya yang ia letakkan di sisi pipi kiri Shane.
Maria yang merasa dua sosok ini hanya akan menjadikannya kecoak congek akhirnya memilih melayang kembali ke balkon, duduk di sana, menatap hamparan laut yang kini ombaknya bergulung-gulung.
Di kamar Shane tampak tertunduk, ia merasa tak kuasa lagi bertatapan dengan Zizi.
Shane tahu jika ia jatuh cinta luar biasa dengan gadis ini, ia berulangkali mengucapkannya, namun Zizi seolah mengabaikan saja.
Semua perlakuan Zizi padanya yang terkadang sangat manis seperti sekarang, kadangkala membuat Shane merasa melambung, namun di sisi lain, Shane takut jika Zizi sebetulnya hanya menganggap Shane seperti kakak saja.
Untuk Shane, tentu saja Zizi adalah satu-satunya gadis yang ia cintai. Sepanjang ia hidup sejak kecil, ia hanya menyukai Zizi.
Zizi yang tahu dan menerima keadaan Shane yang bukan lagi sebagai manusia, yang bukan hanya tahu Shane yang tampan saja.
Saat dulu Shane bersekolah, di mana banyak gadis cantik mengejarnya, Shane tahu jika mereka tak akan melakukannya jika tahu Shane bukan manusia.
Itu kenapa Shane hanya bisa fokus pada Zizi, karena buatnya, gadis di dunia ini pada akhirnya hanyalah Zizi, yang sudah jelas melihatnya sebagai manusia setengah monster.
Tapi...
Shane meraih tangan Zizi yang ada di wajahnya.
"Mandilah Nona, setelah itu makan lalu istirahat, saya akan tidur di sofa, jadi jangan khawatir, saya tak akan menyentuh Nona, tak usah cemas."
Kata Shane.
Zizi mengangguk sambil melepaskan tangannya.
"Zizi mandi dulu."
Kata Zizi, seolah tak peka dengan perang batin dalam diri Shane.
Shane mengangguk lesu.
Ya tak apa, aku kuat.
Aku ra popo. Batin Shane. Hihihi...
Zizi melangkah menuju kamar mandi, lalu masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Shane menoleh pada kaca jendela menuju balkon di mana wajah Maria nemplok di sana mengintip semua adegan menyebalkan Zizi yang tak peka.
Kaca jendela balkon yang hanya tertutup gorden tipis itu membuat wajah Maria terlihat jelas.
Maria kemudian melayang masuk menghampiri Shane.
"Kenapa kamu diam saja, aku yakin kamu sudah ingin memastikan status hubungan kalian."
Maria duduk di samping Shane.
"Entahlah Aunty, aku rasa Zizi memang hanya menganggapku Kakak dan bodyguard saja."
Lirih Shane.
Maria menepuk-nepuk punggung Shane.
"Aku rasa tidak, dia juga punya perasaan padamu, hanya saja dia terlalu bolot."
Kata Maria.
"Mungkin Zizi akan bersama Arya."
Kata Shane sambil menoleh pada Maria.
"Arya? Ah No..."
Maria menggeleng.
"Zizi sudah lama melupakan Arya sejak ada kamu, sejak di Inggris, Zizi sudah tak lagi menganggap Arya apa-apa, jika toh sekarang mereka dekat, itu tak lebih karena memang keluarga Zizi sudah menganggap Arya sebagai bagian dari mereka."
Shane tersenyum tipis.
"Ya, justeru itu akan membuat Arya mendapatkan restu dengan mudah. Dia tampan, memiliki karir bagus, dia memiliki banyak kelebihan, dan yang paling penting dia manusia."
Kata Shane sambil berdiri.
"Saya akan minum darah yang disediakan Nona Zizi di balkon saja Aunty, jika ada layanan kamar untuk mengantar pesanan Nona Zizi, Aunty panggil saya."
Ujar Shane yang terlihat gugup membuka ransel Zizi lalu mengambil kantong darah yang dimaksud Zizi.
Shane terburu keluar menuju balkon.
Maria menatapnya dengan iba. Jelas sekali vampire itu sedang sedih. Padahal Maria tahu persis Zizi pasti juga mencintai Shane.
Maria tak mungkin salah. Maria percaya diri.
**-------------**