
Zizi menulis seperti petugas sensus.
Tangan wanita paruh baya yang kini membaca tulisan ceker ayam Zizi tampak gemetaran.
"Kamu... Bagaimana kamu kenal Sari?"
Tanya wanita itu menatap Zizi.
"Dia selama ini duduk memandangi mu Nyonya, dia khawatir anda terlalu capek. Dia ingin anda istirahat cukup dan jangan terlalu memforsir tubuh sendiri."
"Dia duduk di sudut ruangan ini."
Kata Zizi.
Membuat wanita itu terkesiap, begitu juga pelayan yang meminjami Zizi pulpen miliknya.
"Mak... Maksudnya..."
Wanita paruh baya yang kedua matanya terlihat berkantung seperti kebanyakan menangis dan kurang tidur itu tampak berdiri dari duduknya.
"Sini."
Zizi memanggil Sari, hantu anak pemilik rumah makan.
Sari melayang ke arah Zizi, dia memasang kepalanya yang tak bisa menempel di atas tubuhnya dengan benar.
"Saat hujan Ibu jangan lupa pakai switer, karena Ibu gampang flu. Kalau sudah maghrib, biarkan karyawan saja yang mengurus rumah makan. Jangan stres mengurusi Fian, kalau masih narkoba, masukkan ke rehabilitasi saja."
Kata Sari, dan Zizi menyampaikannya.
"Mayat Sari dikubur di belakang rumah oleh suami Bu, Sari menyesal tidak mendengarkan nasehat Ibu dan memilih kawin lari dengannya. Sari minta maaf. Sari sungguh minta maaf Bu."
Sari menangis darah.
Zizi kembali menyampaikan pesan Sari pada Ibunya.
Ibunya Sari juga menangis tersedu-sedu.
"Maaf Sari tidak menemani Ibu melewati masa tua, tidak bisa mengurus Ibu dan tidak bisa membahagiakan Ibu. Sari bahkan ingin mencium kaki Ibu juga tidak bisa lagi. Maaf Ibu."
"Ibu sudah maafkan Nak, Ibu sudah maafkan."
Suara Ibunya Sari bergetar.
Pelayan yang meminjami pulpen pada Zizi lantas menghampiri majikannya, untuk menenangkannya.
"Katakan di mana Ibu bisa menjemputmu, setidaknya biarkan Ibu menyelesaikan tugas Ibu sebagai orangtua Nak. Jika memang kamu sudah tidak ada, biarkan Ibu memakamkan mu dengan layak, dan Ibu bisa melaporkan orang yang membunuhmu."
Pinta Ibunya Sari.
Dari menoleh pada Zizi.
"Cepet kasih alamatnya, kamu mau tenang kan? Biar dimakamkan dengan benar, dan orang yang membunuhmu dikasih pelajaran."
Kata Zizi.
Sari akhirnya memberikan alamat rumah laki-laki yang membawanya pergi dan sempat menikahinya meski akhirnya membunuhnya.
Sari dibunuh karena laki-laki itu ternyata gemar main perempuan dan judi, mereka ribut besar, Sari ingin pulang membuat laki-laki itu gelap mata dan malah membunuhnya.
Zizi mencatatkan alamat yang diberikan Sari dan mengulurkannya pada Ibunya Sari.
"Besok saja Bu, ini sudah malam, sebaiknya Ibu istirahat seperti saran Sari."
Kata Zizi.
Ibunya Sari menatap Zizi.
"Terimakasih Nona."
Ucap Ibunya Zizi.
Zizi mengangguk.
"Zizi lapar, mau makan dulu boleh?"
Tanya Zizi.
"Ah ya tentu saja, silahkan Nona, silahkan..."
Ibunya Sari berkata sambil menyeka tangisnya.
Zizi baru akan berbalik untuk kembali ke mejanya, saat kemudian Ibunya Sari memanggil, membuat Zizi terpaksa memandang ke arah Ibunya Sari lagi.
Ibunya Sari terlihat terhuyung-huyung meninggalkan meja kasir dan menghampiri Zizi.
"Nona, apa Sari masih ada di sini?"
Tanya Ibunya Sari.
Zizi mengangguk.
"Bagaimana cara Ibu bisa melihatnya."
Tanya Ibunya Sari.
Zizi menghela nafas.
"Ibu ingin melihatnya... Ibu ingin melihatnya."
Kata Ibunya Sari.
Zizi akhirnya meraih tangan Ibunya Sari.
"Setelah lihat apa Ibu akan percaya semuanya? Ibu masih ragu jika apa yang Zizi sampaikan benar, ya kan?"
Ibunya Sari terdiam.
"Tak apa, Zizi akan ajak Ibu melihat Sari, tapi kalau pingsan urusan pelayan."
Kata Zizi.
Ish... Pelayan yang di dekat Ibunya Sari mendesis.
"Sini, kamu juga harus lihat, biar jadi saksi."
Kata Zizi.
Pelayan itu akhirnya menurut berdiri di dekat Ibunya Sari, memegangi tangan Ibunya Sari.
"Siap nggak Bu? Pejamkan mata dam buka saat Zizi bilang buka."
Tanya Zizi yang sudah tak sabar karena perutnya sudah sangat lapar.
Ibunya Sari mengangguk.
Zizi pelahan menyalurkan sedikit energinya untuk Ibunya Sari, membuatnya agar bisa melihat apa yang sekarang Zizi lihat.
"Buka."
Zizi memerintah.
Haiish... Zizi mendesis.
Pelayan lain berlarian ke arah majikan mereka.
"Apa yang terjadi, kau apakan Ibu Ratmini?"
Tanya pelayan laki-laki pada Zizi.
"Dia lihat hantu anaknya."
Kata Zizi tenang.
"Dia minta sendiri, jadi bukan salah Zizi."
Pelayan laki-laki itu menoleh pada pelayan yang tadi juga ikut melihat Sari.
Pelayan yang mengompol itu terduduk lemas di lantai sambil mantuk-mantuk dan wajahnya pucat pasi.
"Hantu Mbak Sari... Hantu Mbak Sari."
Pelayan itu bergumam-gumam lalu menyusul majikannya pingsan.
Para pelayan menggotong mereka.
Zizi melenggang ke mejanya yang telah siap menu yang ia pesan.
"Kamu mah ngerjain orang tua, kebangetan."
Kata Maria yang sedang menikmati aroma Sop Iga.
"Lha dia minta lihat sendiri kok, bukan Zizi yang suruh."
Kata Zizi.
Shane tersenyum.
"Sudah makan dulu saja Nona, sebentar lagi kita harus kembali ke alam lelembut."
Ujar Shane.
Zizi mengangguk.
Ia mulai dengan minum dulu, lalu mencari tempat cucu tangan, baru kemudian kembali ke mejanya untuk menyantap nasi dan ayam bakar lebih dulu.
"Nona Zizi."
Hantu Sari menghampiri Zizi.
"Apa lagi?"
Tanya Zizi di sela makannya.
"Terimakasih banyak, setelah sekian lama akhirnya pesanku bisa sampai pada Ibu. Terimakasih."
Kata hantu itu.
"Ya cuma gitu doang, nggak apa."
Sahut Zizi yang kemudian menggigit ayam bakarnya.
"Banyak hantu membicarakan Nona Zizi, sepertinya anda sangat beken di alam para hantu."
Kata Sari.
Zizi nyengir saja, terlalu sibuk menikmati makanannya.
"Ya sudah, selamat menikmati makan malamnya Nona."
Ujar Sari.
"Ya baiklah."
Zizi mantuk-mantuk saja.
Tampak kemudian Sari melayang menyusul Ibunya yang dilarikan ke Rumah Sakit.
"Apa Ibu itu akan baik-baik saja?"
Tanya Maria.
"Baiklah, ngga ada cerita orang mati cuma karena lihat hantu."
Kata Zizi.
"Iya juga sih."
Maria mantuk-mantuk.
"Tapi kalau siluman banyak Zi yang mati."
"Ya kan siluman memang sengaja, kalau hantu mah apa cuma nongol doang, Aunty selama jadi hantu pernah makan korban ngga? Enggak pasti."
Maria cekikikan.
"Ya paling jorogin atau nampol sedikit."
Ujar Maria.
Zizi mengangguk.
"Ah itu Miyangga juga kalau pas apes manusia ketemu dia bisa jadi korban keisengan sampai mati."
Zizi tampak mencomot satu potong ayam bakar lagi, yang pura-puranya pesanan Shane.
"Iya, dia suka tenggelamin manusia ke air."
Kata Maria.
"Herannya pada tahunya Kunti sama Pocong doang, padahal mereka hantu paling lemah, hahahaha..."
Zizi terbahak.
"Jadi inget Mbak Pocong, Zi, hahaha..."
Maria ikut tertawa.
Dan lagi-lagi, Maria lupa menyaring volume suara tawanya, walhasil suaranya terdengar seluruh ruangan di rumah makan, termasuk bahkan hingga Pombensin, minimarket dan toilet yang dijaga kuntilanak apes.
Semua celingak-celinguk mendengar tawa Maria.
Anak-anak kecil menangis, dan orang-orang yang ada di Rumah Makan berlari keluar.
"Aunty, ketawanya kayak pake toa."
Kesal Zizi sambil tetap makan di tempatnya.
**---------------**